
Alesse pun dapat melihat teman-temannya sedang berkumpul di reruntuhan istana. Ia pun keluar dari Levy untuk bertemu mereka.
"Ya ampun Alesse! Ada apa denganmu? Kenapa bajumu sampai gosong begitu?" tanya Sanay terkejut. "Bu.. bukan apa-apa," ujar Alesse, saat itu juga ia terjatuh tak sadarkan diri.
Meskipun tidak tersambar petir, ia masih terkena sengatan listrik yang menyebar dari kilatan petir itu, hal itu membuatnya syok hingga jatuh pingsan.
Beberapa jam kemudian Alesse pun tersadar dengan pakaian khas bangsawan berwarna jingga.
"Kenapa pakaianku jadi aneh begini?" tanya Alesse keheranan. Sayangnya teman-temannya lebih keheranan daripada dirinya sendiri. Ia pun ingat kalau pakaian yang sedang ia kenakan sama persis seperti pakaian Baraq, bahkan warna rambut dan matanya juga berubah menjadi jingga.
Setelah memeriksa wajahnya di cermin,ia pun merasa lega. "Ada apa Alesse? Kau baik-baik saja?" tanya Sanay khawatir.
"Aku baik-baik, syukurlah hanya warna rambut dan mataku yang sedikit berubah," ujar Alesse. Sayangnya Sandy sedikit menertawakannya.
Alesse langsung menatapnya dengan tatapan tajam. "Mencurigakan sekali!" ujar Alesse. "Jangan hiraukan dia, Alesse!" ujar Sanay sambil menatap Sanay sebal.
"Wajahnya sangat mengusik pikiranku! Sebenarnya ada apa?" tanya Alesse pada Sandy.
"Bu... bukan apa-apa, hanya saja, kau tampak seksi sekali saat pingsan tadi," ujar Sandy. Sanay pun langsung memukulinya, sayangnya Sandy hanya membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri?" tanya Alesse pada Kaa.
Akhirnya Kaa mengambil ponsel Sandy yang ada di meja. "Kenapa kau ambil ponsel Sandy?" Alesse keheranan.
Tanpa menjawab, Kaa langsung menunjukkan sebuah foto. Tampak seorang pria dengan baju gosong dan robek-robek terbaring di dipan.
"Siapa ini? Kenapa kalian memasukkan pria asing ke......" Alesse langsung terkejut saat melihat pakaian yang pria itu kenakan.
"I... ini aku?" tanya Alesse terkejut. Tawaan Sandy semakin menjadi-jadi. "Lihatlah tubuh yang kekar ini! Lebih mirip Alex daripada dirimu," ujar Sandy.
"Lagian, kenapa penampilanmu selalu berubah-ubah, Alesse? Kukira hanya rambut dan baju saja, kami hampir tidak mengenalimu saat kau keluar dari Levy dengan tubuh kekar itu," ujar Salsha.
"Oh! Bukankah itu tubuh Gord? Ternyata kau langsung meniru tubuhnya lebih cepat! Sekarang kau meniru tubuh Baraq," ujar Geni.
"Loh? Di mana Baraq? Kenapa aku tidak melihatnya di sini? Bukankah seharusnya ia mengalami hal yang sama denganku?" tanya Gord.
"Dia masih berada di alam bawah sadar, bersama Aqua," ujar Alesse. "Aqua? Siapa itu?" tanya Gord.
"Kau sering melihatnya kok, saat aku berubah menjadi manusia serba biru," ujar Alesse. "Oh, jadi saat warna rambut dan matamu biru, kau sedang meniru tubuh Aqua? Wajahnya cantik sekali," ujar Gord.
Selagi mendengarkan mereka berdua berbincang-bincang, tiba-tiba Sanay menepuk bahunya. "Ada apa dih, Alesse? Kenapa kau selalu termenung begitu? Membuatku takut saja!" ujar Sanay khawatir.
__ADS_1
"Bukan apa-apa kok," ujar Alesse. Teman-temannya semakin curiga terhadapnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau kembali dengan pakaian gosong? Apa yang terjadi di sana?" tanya Sandy.
Alesse pun terdiam, ia masih merinding saat membayangkan petir menyambar ke seluruh tubuhnya.
"Raya Stephen," ujar Alesse. "Apa? Raya Stephen? Ada apa dengannya?" tanya Salsha. "Aku diserang olehnya," ujar Alesse.
"Yang benar saja! Kau mungkin salah lihat!" ujar Salsha. "Serius! Aku menyaksikannya membantai pasukan pengikut Warden tanpa ampun, mereka semua langsung hangus terbakar, bahkan bau daging panggang pun tercium di mana-mana," ujar Alesse.
"Ia membakar orang-orang itu?" tanya Kaa penasaran. "Tidak, ia menyambar mereka semua dengan petirnya! Aku masih beruntung bisa melarikan diri darinya," ujar Alesse.
"Ini benar-benar tidak masuk akal! Lagian kenapa ia menyerangmu?" tanya Salsha keheranan.
"Lah! Namanya saja otak otot, ia benar-benar bodoh dan susah sekali diajak bicara. Belum sempat aku menjelaskan siapa aku, tapi dia langsung melesatkan tinju petirnya tanpa ragu," ujar Alesse kesal.
"Kau mungkin salah lihat! Ray tidak mungkin melakukan hal seperti itu!" ujar Salsha. "Lihatlah gadis ini! Kenapa juga kau membela pria itu? Dia bukan siapa-siapamu! Alesse jelas-jelas melihatnya menyerangnya," ujar Sandy. Pada akhirnya Sandy dan Salsha menjadi ribut sendiri.
"Ia jelas-jelas Ray, pria itu mengenakan kacamata hitam yang biasa dipakai oleh Ray," ujar Alesse.
"Kacamata hitam harusnya belum ada di dunia ini, mereka mengenal kacamata hanya untuk keperluan penglihatan saja," ujar Kaa.
"Apa maksudmu? Ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?" tanya Alesse penasaran. "Dih, mengerikan sekali! Seperti bisa membaca pikiran orang lain saja!" ujar Kaa.
"Jadi, apa yang kau sembunyikan, Kaa? Apa alasan pria itu menyerang Alesse?" tanya Sandy, ia juga tampak penasaran.
"Yeah, sebenarnya tidak ada hal khusus yang aku sembunyikan, aku hanya bergurau," ujar Kaa sambil tertawa.
"Hmm! Mencurigakan!" ujar Sandy. "Sudah waktunya! Kaa, bisakah kau membawa kami ke Nova?" tanya Alesse.
"Mau apa kau ke Nova?" tanya Kaa. "Nova? Tempat apa lagi itu?" tanya Salsha. "Kalian lihat saja sendiri nanti," ujar Alesse.
Akhirnya Kaa pun mulai menggerakkan kedua tangannya, membuat garis-garis angin yang mulai jelas hingga membentuk pusaran.
"Nah, sudah!" ujar Kaa. "Terlihat tidak meyakinkan! Ini berbeda dengan gerbang yang kau buat sebelumnya," ujar Sandy.
"Warna anginnya memang berbeda karena dunia ini sangatlah tandus! Itu yang membuat angin di sini tampak kusam," ujar Kaa.
Akhirnya Alesse langsung masuk ke dalam pusaran tanpa ragu. Beberapa anak lainnya mengikutinya. Mereka pun akhirnya sudah berdiri di tengah-tengah kota begitu saja.
"Ki... kita pulang? Kita kembali ke bumi!" seru Salsha. "Bukan, ini Nova," ujar Alesse. "Wah! Kampung halamanku! Entah kenapa keberadaanku terasa sangat kuat di sini!" seru Geni.
__ADS_1
"Keberadaan legenda Hoodie Merah sudah digantikan orang lain! Jangan banyak omong kosong!" ujar Alesse. "Bukan itu! Aku benar-benar merasa hidup di sini! Bahkan aku bisa menyiramkan seember air ini pada tubuhku!" seru Geni sambil mengambil ember penuh air yang ada di samping toko, ia langsung mengguyur tubuhnya dengan seember air itu.
"Ah! Segarnya!" seru Geni. "Apa yang kau lakukan, Alesse?" tanya Sanay keheranan, anak-anak yang lain juga menatap Alesse dengan penuh tanda tanya.
Alesse pun tersadar kalau tubuhnya sudah basah kuyup. Ia bahkan baru sadar kalau kedua tangannya sedang mengangkat sebuah ember.
Karena terkejut, ia pun menjatuhkannya. "Apa yang terjadi ini? Kenapa malah tubuhku yang basah?" Alesse kebingungan, ia mencoba bercermin pada kaca toko, saat ini penampilannya menyerupai Geni.
"Hei, Geni! Barusan kau mengendalikan tubuhku? Gimana caranya?" tanya Alesse. "Entahlah, aku tiba-tiba berpikir bahwa aku mampu melakukannya," ujar Geni.
"Ini sangat berbeda dengan Aqua! Saat ia mengendalikan tubuhku, aku bahkan tidak memiliki kesadaran sama sekali! Aku tidak bisa melihat apa yang sedang ia lakukan! Tapi, saat kau yang mengendalikan tubuhku, aku dapat melihatnya dari sudut pandang pihak ketiga," ujar Alesse.
"Hmm! Sepertinya ini sangat rumit! Aku juga tidak tahu kenapa bisa mengambil alih tubuhmu secara tiba-tiba," ujar Geni.
Alesse mencoba berpikir keras, akhirnya ia pun menemukan sebuah hipotesis. "Sepertinya aku tahu! Saat Aqua mengambil alih tubuhku, itu saat berada di Atlane! Sedangkan kau bisa mengambil alih tubuhku saat berada di Nova!" seru Alesse.
"Kesimpulan yang menarik!" ujar Geni. "Berarti aku bisa mengendalikan tubuhmu saat berada di Grock?" tanya Gord.
"Jangan berpikiran untuk melakukannya! Aku tidak ingin melihat tubuhku setengah telanjang di hadapan teman-temanku lagi!" ujar Alesse.
"Hmm! Benar sekali, sepertinya tubuhmu akan berubah sesuai dengan orang yang mengambil alihnya," ujar Geni.
"Nah, bukan masalah kan? Mau telanjang atau tidak, yang terlihat adalah bentuk tubuhku sendiri," ujar Gord.
"Tetap saja! Aku tidak ingin teman-temanku melihatku berubah menjadi om-om yang setengah telanjang!" ujar Alesse kesal.
"Om-om? Aku tidak setua itu! Usiaku bahkan baru tujuh belas tahun!" ujar Gord. "Tujuh belas tahun jidatmu! Kau seperti pria bongsor berusia tiga puluh tahun lebih!" ujar Alesse.
"Aku juga heran! Gimana caranya bisa tumbuh secepat itu? Dari tujuh belas sampai tiga puluh adalah jarak yang sangat jauh!" ujar Geni.
"Dia mirip seperti Alex, dia juga memiliki pertumbuhan yang cepat," ujar Alesse. "Penyebabnya apa? Aku tidak terlalu mengerti!" ujar Geni.
Alesse berpikir sejenak, ia mencoba membandingkan Alex dengan harimau. "Aku sepertinya tahu, pertumbuhannya mungkin hampir sama seperti binatang, apalagi Alex lebih banyak memakan daging daripada sayur-sayuran," ujar Alesse.
"Wah! Sepertinya pria ini hampir sama sepertiku! Aku bahkan tidak pernah memakan sayuran sedikit pun. Setiap aku menelan daun, pasti akan kumuntahkan lagi, jadi setiap kali lapar, aku selalu pergi berburu," ujar Gord.
"Oh! Jadi itu rahasianya bisa memiliki tubuh sebesar itu? Sebaiknya aku mencobanya! Hanya memakan daging saja, aku ingin memiliki tubuh yang kekar!" seru Geni.
"Sayang sekali, kau tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Lagian apa bagusnya hanya memakan daging untuk mendapatkan tubuh yang besar? Justru itulah alasan penuaan bisa terjadi dengan cepat. Wajar saja pria bongsor ini terlihat seperti berumur tiga puluh tahun lebih," ujar Alesse.
"Berarti usianya juga semakin pendek dong?" tanya Geni. "Kalau itu aku belum tahu, kasus pertumbuhan manusia layaknya harimau belum pernah kuteliti," ujar Alesse.
__ADS_1