Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Misi


__ADS_3

"Apaan sih, Sandy!" ujar Alesse kesal karena Sandy terus menatapnya, ia berusaha mengulurkan celana pendeknya agar menutupi lututnya. "Kau keren sekali Alesse! Apakah ini juga termasuk teknologi dari Kuark itu?" tanya Sanay.


"Alesse mengenakan celana pendek benar-benar hal yang langka!" ujar Sandy sambil mengambil gambar Alesse dengan ponselnya.


"Jadi seperti ini caranya pria bermain, suka mengatakan bahwa perempuan aneh karena selalu mengambil gambar hal-hal yang menurut mereka tidak penting, tapi mereka sendiri suka menyimpan gambar-gambar yang vulgar! Aku yakin, dia ini akan terus mengambil gambar ketika melihat gadis cantik telanjang di jalanan," ujar Salsha sebal.


"Aku tidak berniat seperti itu kok, aku hanya mengambil bukti bahwa Alesse juga mengikuti trend-trend remaja saat ini. Mungkin aku bisa menirunya kapan-kapan. Sejak memiliki tubuh besar ini, aku tidak pernah mengenakan celana pendek. Mungkin sesekali aku akan mencobanya," ujar Sandy.


"Ja... jangan! Kakimu banyak bulunya! Menjijikkan!" ujar Salsha. "Lah, kan kakiku, apa masalahmu?" tanya Sandy. "Dih! Kubilang menjijikkan, yah menjijikkan! Jelek tahu!" ujar Salsha sambil menjitak kepala Sandy.


"Kalian berdua ketika didekatkan seperti ini pasti selalu berisik! Apa masalah kalian berdua sebenarnya? Seperti tikus dan kucing saja," ujar Kaa. Akhirnya mereka berdua pun diam.


"Kita sudah sampai Kaa, sepertinya banyak orang yang sedang berlatih di sini," ujar Alesse. Ia berhenti di atas benteng yang tampak baru di bangun itu.


"Sepertinya ada beberapa manusia iblis yang dikurung di dalam sana," ujar Kaa. "Perlukah kita turun sekarang? Mereka semua harus diberi pelajaran!" ujar Sandy.


"Jangan gegabah! remaja sepertimu yang tidak pernah mengikuti pelatihan militer seperti ini tidak akan sanggup menghadapi mereka, bahkan aku juga tidak yakin bisa mengalahkan mereka," ujar Kaa.


"Kalau begitu kita suruh Jawara saja yang pergi ke bawah sana," ujar Alesse. Akhirnya Jawara pun diturunkan, sedangkan mereka terus mengawasi dari dalam Levy.


Jawara langsung menembus benteng musuh dan membuat sedikit keributan, namun setelah itu tubuhnya terjebak dalam es. Orang-orang yang tahu betapa kuatnya tenaga robot itu langsung menyemburkan air bertubi-tubi lalu membekukannya.


"Apakah dia akan baik-baik jika dibiarkan seperti itu? Dia mungkin bisa rusak loh!" ujar Salsha.


"Sanay, coba sambungkan komunikasi dengan Jawara," ujar Alesse. "Baiklah," ujar Sanay sambil mengutak-atik monitor di Levy.


Beberapa menit kemudian sebuah notifikasi muncul. "Ada apa Alesse?" tanya Jawara. "Kau baik-baik saja di sana?" tanya Alesse.


"Aku baik-baik saja, tapi beberapa bagian tubuhku mulai berhenti berfungsi," ujar Jawara. "Orang-orang itu benar-benar bar-bar! Hanya untuk melawan satu orang saja sampai segitunya," ujar Salsha.


"Selagi mereka kelelahan menyerang robot itu, bukankah lebih baik kita menyelamatkan orang-orang yang dikurung?" tanya Sandy.

__ADS_1


"Boleh-boleh saja! Mau turun sekarang?" tanya Alesse. "Baiklah, kita turun sekarang juga," ujar Kaa.


Akhirnya mereka pun turun dari Levy, Alesse langsung merubah kendaraan kubus itu menjadi pemukul baseball.


"Hati-hati! Sebisa mungkin jangan ketahuan," ujar Kaa. Mereka pun berlari ke dalam benteng. Sayangnya baru beberapa menit berjalan, seseorang sudah menyadari keberadaan mereka.


"Sial, ini diluar perhitunganku!" ujar Alesse kesal. "Semuanya, berpencar!" teriak Kaa.


Sanay langsung mengikutinya sedangkan Sandy segera mengangkat tubuh Salsha dan membawanya pergi.


"Hei, tunggu dulu! Alesse masih di sana!" ujar Sanay panik, namun Kaa langsung menarik lengannya. "Kita harus berpencar agar memperlambat pergerakan mereka!" ujar Kaa.


Alesse segera mengaktifkan sepatu rodanya lalu meluncur di hamparan paving yang datar itu.


"Mereka tidak akan bisa mengejarku!" serunya. "Awas! Ada yang hendak membidikmu di kanan atas!" ujar Geni. Alesse pun langsung menghindar.


"Akhirnya kau muncul juga! Aku sangat terbantu!" ujar Alesse. Sayangnya seorang pria sudah menantinya di depan sana. Pria itu langsung mengendalikan air lalu menyiramnya ke arah paving, seketika genangan air yang tertahan oleh paving itu membeku. Semua orang, bahkan Sandy, Salsha, dan Sanay terjatuh karena paving yang licin, sedangkan Kaa masih sempat mengeluarkan sayapnya dan melayang di udara.


"Wah! Wah! Lihat ini! Ada pengendali api yang berani menghadapi kami? Bukankah kita di pihak yang sama? Kenapa kau membantu makhluk-makhluk terkutuk itu? Mereka adalah iblis yang membuat kerusakan di dunia ini!" ujar pria itu kemudian membanting Alesse ke paving.


Tubuh Alesse yang ringan pun membentur paving dan menimbulkan suara nyaring, membuat Salsha dan Sanay yang menyaksikan itu langsung menjerit karena terkejut.


Alesse pun tidak berdaya, bahkan ia mulai batuk berdarah. "Aduh, sepertinya kau bisa mati jika terus begini! Tidak kusangka kau dibanting saat menggunakan tubuhku, pasti sangat ringan sekali," ujar Geni.


Tak lama kemudian, pria itu menyirami air ke arah Alesse bertubi-tubi. Alesse tak bisa bernafas karena air itu terus mengalir ke wajahnya. Ia merasa seperti tenggelam, tidak bisa berbuat apapun. Beberapa menit kemudian tubuhnya mulai membeku.


"Alesse? Alesse? Kau masih hidup?" tanya Geni. "Entahlah, tubuhku terasa sangat dingin sekali! Aku jadi mengantuk," ujar Alesse.


"Hei! Kalau kau tertidur, kau bisa mati!" ujar Geni. "Kau hanya bicara omong kosong saja! Kalau khawatir, seharusnya kau bantu aku dari tadi!" ujar Alesse kesal, pikirannya masih terus berjalan, namun tubuhnya perlahan membeku.


"Geni, ini gawat, aku tidak bisa terus begini! Aku akan tertidur!" ujar Alesse panik. Saat itulah penglihatannya berubah menjadi biru gelap, seolah matanya terbungkus oleh es.

__ADS_1


"Loh? Di mana ini? Aku... bisa bergerak?" Alesse keheranan karena ia bisa berdiri. "Tentu saja di alam bawah sadarmu! Sepertinya kau tertidur tadi," ujar Aqua. "Mungkin aku akan mati jika terus begini," ujar Alesse.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Aqua. "Kau tidak bisa menyaksikannya?" tanya Alesse keheranan. "Tentu saja! Memangnya apa yang bisa kulihat di tempat ini? Tidak ada apa-apa," ujar Aqua.


"Sepertinya tubuhku membeku dalam es, aku sempat kedinginan dan mengantuk, seketika aku berada di sini," ujar Alesse.


"Kalau begitu biar kuambil alih tubuhmu," ujar Aqua. "Ambil alih seperti apa? Memangnya hal yang seperti itu bisa dilakukan?" tanya Alesse.


"Kau pikir aku terjebak di dalam sini hanya berdiam dan melempar es ke dinding? Meskipun terkadang aku bersikap tidak peduli, aku juga mencari tahu apa saja yang bisa kulakukan di sini," ujar Aqua.


"Baiklah! Anggap saja begitu, tapi gimana caramu mengendalikan tubuhku? Memangnya pernah kau lakukan sebelumnya?" tanya Alesse.


"Tentu saja! Saat kau tertidur di malam hari, aku menggunakan tubuhmu untuk pergi merendam di air sungai, aku sangat bosan saat itu," ujar Aqua.


"Merendam di air sungai? Saat malam hari? Kapan tepatnya kau melakukan hal itu?" tanya Alesse.


"Mungkin.... sekitar tiga hari yang lalu," ujar Aqua. "Jadi yang membuat tubuhku demam adalah kau? Pantas saja aku merasa seluruh badanku sangat panas hingga ingin masuk ke dalam kulkas," ujar Alesse.


"Jadi? Perlukah kuambil alih sekarang? Selagi kau tak sadarkan diri," ujar Aqua. "Baiklah, terserah kau saja," ujar Alesse.


Seketika Aqua menghilang dari hadapannya seperti air yang menguap. Alesse hanya bisa berdiam diri di tempat serba biru itu sambil sesekali melempar jarum es yang Aqua buat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Alesse!" teriak Sanay panik, Sandy dan Salsha langsung memalingkan wajah karena tidak tahan melihat tubuh Alesse yang terbungkus dalam es.


Sanay pun langsung menghampiri bongkahan es itu dan mencoba untuk menghancurkannya.


"Jangan Sanay! Tubuhnya bisa ikut hancur jika kau memecahkannya seperti itu!" ujar Kaa sambil mencegat tangan Sanay yang hendak memukuli bongkahan es itu.


"Kita harus mengeluarkannya! Dia bisa mati jika terus berada di sana!" ujar Sanay memaksa, Sandy pun ikut menghampiri dan mencegatnya.

__ADS_1


Pria yang membekukan Alesse itu langsung tertawa. "Lihatlah! Dua manusia iblis itu bahkan mencegahmu untuk menyelamatkannya. Kenapa kau sampai ikut memihak mereka juga? Bergabunglah denganku dan aku akan menyelamatkan anak malang ini. Waktunya tidak banyak lagi, ia akan segera mati membeku," ujar pria itu.


__ADS_2