Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Persaudaraan II


__ADS_3

Tesla langsung menguap, ia tampak pucat dan sangat kelelahan. "Loh? Ada apa ini? Kau sakit?" tanya Hendra.


"Bukan apa-apa, ini hanyalah Jetlag, seharusnya di Amerika sekarang masih malam," ujar Tesla. "Jetlag? Apa itu?" Alex sendiri tidak mengerti apa maksudnya.


"Kau yang sudah berkali-kali pulang ke rumah tidak tahu itu apa?" tanya Alesse yang tiba-tiba menyuguhi teh hangat untuk mereka berdua. "Minumlah, ini akan membuatmu merasa tenang dan mudah untuk tidur," ujar Alesse kepada Tesla.


Tesla pun mengangguk, ia tidak menyangka akan begitu canggung berhadapan dengan Alesse. Ia sempat merasa bersalah karena mengiranya sebagai seorang gadis.


"Menurutku Jetlag tidak berlaku untuk Alex, soalnya dia pengendali Alam," ujar Tesla. Alesse hanya diam mendengar perkataan Tesla.


"Begitukah? Maaf, aku tidak tahu-menahu tentang Elementalist dan cara kerjanya," ujar Alesse.


Akhirnya Alex pun menuntun Tesla menuju kamar setelah menyeduh teh. Sebelum sampai di daun pintu kamar, Andin tiba-tiba mencegat.


"Pria tidak boleh asal masuk ke kamar wanita," ujar Andin. Alex hanya terdiam, ia tidak berpikir sejauh itu karena Tesla selalu seenak jidat masuk ke dalam kamarnya.


Akhirnya Andin menggantikan Alex menuntun Tesla ke kamar.


"Bagus sekali! Dia tidur di kamarmu. Sekarang, kau tidur di mana?" tanya Alesse. Alex bingung hendak menjawab apa, ia tidak nyaman jika meminta Alesse untuk mengizinkannya tidur bersamanya.


"Tidak perlu dipikirkan, sudah pasti kau tidur di kamarku kan," ujar Alesse, ia juga tidak ingin banyak berdebat dengan Alex.


Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam kamar Alesse.


Alex yang baru pertama kali masuk merasa sangat terkesan, baru kali ini Alesse memperbolehkannya masuk ke dalam kamarnya.


"Aku tidak menyangka akan melangkah ke dalam kamar ini," ujar Alex. "Sudah terlambat, bahkan ayah dan ibu beberapa kali masuk ke kamarku," ujar Alesse.


Tak lama kemudian, lemari yang ada di sisi kanan Alesse hendak rubuh. Alex pun segera menahannya dengan satu tangan, ia mengembalikannya ke posisi semula.


"Tanganmu itu..... luar biasa sekali, ya," ujar Alesse. Alex tampak terdiam dengan wajah agak murung.


Alesse terus memerhatikan ekspresinya, ia pun berbalik badan membelakangi Alex karena matanya tiba-tiba berubah menjadi biru.


"Apa yang mengganggumu, Alex? Kau merasa kecewa akan sesuatu?" tanya Alesse. Alex hanya diam.

__ADS_1


"Tidak perlu disembunyikan, Alex. Aku memang bukanlah Alesse yang kau kenal, aku tidaklah sama dengan Alesse yang kau kenal. Kau juga mengetahuinya kalau Alesse yang asli sudah mati, ia tidak akan kembali padamu lagi," ujar Alesse.


Pada akhirnya Alex pun jujur apa adanya. "Sepertinya aku terlalu banyak berharap. Alesse yang dahulu meskipun merasa gemas denganku, ia selalu blak-blakan dengan perasaannya. Terkadang ia sangat membenciku, menganggapku aneh, dan mengerikan. Tapi aku suka sifatnya yang seperti itu. Meskipun ia benci, ia terus bersamaku apapun yang terjadi," ujar Alex.


"Yeah, jelas berbeda denganku yang selalu menghindarimu. Lagi pula aku bukanlah kakakmu. Kau sendiri yang menghdupkanku. Haruskah aku memanggilmu ayah? Secara teknis, kaulah yang memicu kehidupanku, kau yang membuatku berada di dunia ini," ujar Alesse.


"Tidak, aku tidak menginginkan hal itu. Kau adalah Alesse! Meskipun berbeda dengan Alesse yang sebelumnya, kau tetaplah Alesse," ujar Alex.


"Mudah sekali kau mengatakan hal itu. Sayangnya aku tidak mudah menerimanya. Semakin ke sini menganggapmu sebagai adik juga terasa sangat aneh bagiku," ujar Alesse.


"Kau akan terus jadi kakakku, Alesse! Kau adalah pria dewasa yang sangat memotivasiku. Kau adalah kakak yang terbaik!" ujar Alex. Alesse terdiam sejenak.


"Kalau kau mau menganggapnya begitu, mau gimana lagi? Sepertinya aku juga harus menerimanya," ujar Alesse sambil tersenyum pasrah. Alex sempat terkejut melihatnya tersenyum.


"Kau..... barusan tersenyum?" tanya Alex. Senyuman Alesse langsung luntur, ia enggan mengakuinya. "Tidak, aku tidak tersenyum sama sekali," ujar Alesse.


"Bohong! Aku barusan melihatmu tersenyum!" ujar Alex. "Kau ini...... Benar-benar menyebalkan ya," ujar Alesse. Alex pun tertawa.


Hendra dan Andin hanya bisa mendengar tawaannya dari luar dan itu membuat mereka merasa senang. "Ternyata Alesse juga akrab dengan Alex, aku baru tahu," ujar Hendra. "Sebaiknya kau tidak menghancurkan kedekatan mereka berdua," ujar Andin memperingatkan.


Alex yang tidak punya kegiatan lain pun akhirnya mulai pergi ke lapangan. Seperti biasanya setiap ia pulang ke rumah, ia selalu berlatih di tanah lapang. Ia bisa melakukan itu dengan maksimal karena udara di sekitar rumahnya masih segar.


"Hei, Alex! Apa yang barusan kau lakukan?" tanya Hendra keheranan saat melihat pakaian anaknya itu robek-robek di berbagai bagiannya.


Alex hanya menggaruk-garuk kepala lalu masuk ke dalam kamar, ia mendapati Alesse sedang menatap jendela.


"Apa yang kau pakai itu? Kenapa kau memakai tudung kepala? Lagian, kenapa serba biru?" tanya Alex.


Alesse tidak menggubris perkataannya, ia masih menatap langit jingga dari jendela.


Alex pun menghampirinya sambil menepuk bahunya, ia pikir Alesse sedang melamun. Alesse pun menoleh seketika ke arahnya, membuatnya terkejut.


"A..... Alesse? Ada apa dengan warna matamu?" tanya Alex. "Namaku Aqua, bukan Alesse," ujar anak bertudung kepala itu kemudian kembali menatap ke luar jendela.


Alex tidak mengerti apa maksudnya, sayangnya ia tidak memiliki kesempatan kedua untuk memeriksa kembali warna mata Alesse karena anak itu sudah kembali menatap jendela.

__ADS_1


Akhirnya Alex memutuskan untuk menunggunya selesai menatap jendela, sayangnya hingga matahari terbenam pun anak itu masih menatap jendela, Alex bahkan tidak berani menyalakan lampu kamar. Ia membiarkan cahaya rembulan menghujani ruangan lewat jendela itu.


"Alesse, apa yang sebenarnya kau lihat?" tanya Alex. Anak itu tetap bergeming. "A... Aqua, apa yang sedang kau lihat?" tanya Alex.


"Langit, pohon, dan bulan, tidak ada hal khusus," ujar anak itu. Alex makin tidak mengerti pembicaraan itu mengarah ke mana.


"Alesse, sudah cukup! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba namamu Aqua?" tanya Alex, ia sudah tidak sabar karena sikap dingin anak itu.


"Mungkin karena isi pikirannya sedang tidak stabil," ujar Aqua.


"Apa maksudnya, Alesse? Isi pikirannya? Kenapa kau membicarakan dirimu sendiri seolah sedang membicarakan orang lain?" tanya Alex.


"Karena aku bukanlah Alesse," ujar Aqua kemudian berbalik badan. Alex pun semakin yakin kalau mata pada anak itu berwarna biru.


"Aku bukanlah Alesse! Aku bukan anakmu," ujar Aqua. "Alesse bukan anakku, dia kakakku!" ujar Alex.


"Secara fisik dia memang bukan anakmu, raganya memang milik Alesse Jawara yang dilahirkan oleh orang tuamu, namun jiwanya lahir karena dirimu, kau yang memantik kehidupan pada raga kosong ini," ujar Aqua.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan tentang jiwa ini. Yang jelas...... kenapa kau mengaku namamu Aqua? Sebenarnya ada apa ini. Alesse? Apa masalahmu?" tanya Alex.


"Aku harus mengatakan berapa kali kalau aku bukanlah Alesse? Asal kau tahu saja, ada lebih banyak jiwa lagi yang bersemayam di tubuh ini. Aku hanyalah salah satunya. Aku bisa mengambil alih karena jiwa Alesse yang baru itu sangat rentan, bahkan usianya tidak lebih dari sepuluh tahun," ujar Aqua.


"Kenapa kau membicarakan tentang jiwa? Memangnya hal itu bisa dilihat dengan kasat mata?" tanya Alex.


"Kami yang pengendali air tentu saja bisa. Jiwa itu ibarat seperti air yang mengisi sebuah wadah. Apabila wadah tersebut tidak sampai terisi penuh olehnya, maka jiwa lain bisa saja ikut mengisinya, itulah keadaan Alesse sekarang ini. karena jiwanya terlahir tidak sesuai dengan ukuran wadahnya," ujar Aqua, ia pun kembali menatap jendela sedangkan Alex terus terdiam untuk mencerna perkataannya.


Tak lama kemudian pakaian serba biru yang melekat di tubuh Alesse tiba-tiba lenyap.


"Loh? Apa yang baru saja terjadi? Kenapa aku duduk di depan jendela?" Alesse tampak kebingungan.


Alex juga terus memperhatikannya. Matanya kembali hitam, bahkan rambutnya tidak biru lagi. "Kau sedang apa di situ, Alex?" tanya Alesse.


Alex tidak menjawab, ia hanya menghampiri Alesse lalu memeluknya. "Kau adalah kakakku, Alesse! Entah apapun yang terjadi, entah seperti apa kenyataannya, entah apa yang dikatakan orang, kau tetap kakakku," ujar Alex.


"Aneh sekali! Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu? Eh.... tunggu dulu! Kau...... berkeringat seperti ini malah memelukku? Kau bercanda?" tanya Alesse, ia segera menyingkirkan tubuh besar Alex.

__ADS_1


"Oh, maaf! Aku sampai lupa mandi," ujar Alex sambil menggaruk-garuk kepala. "Kau ini ada-ada saja! Jangan berpikiran untuk memelukku lagi! Aku bukan anak kecil!" ujar Alesse.


"Iya-iya!" ujar Alex tertawa, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Alesse tetap bertubuh kecil meskipun ia mengaku bukan anak kecil.


__ADS_2