Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Teenagers


__ADS_3

Beberapa tahun telah berlalu, saat ini Alesse berada di bangku SMP. Tentu saja ia sekelas dengan adiknya karena dua tahun jeda sekolah saat ia dalam keadaan koma.


Kehidupan di SMP ini berbeda dengan SD. Para remaja yang sedang tumbuh berkembang mulai menyukai lawan jenisnya dan bahkan sebagian ada yang mencari pasangan untuk berpacaran.


Di SMP juga banyak para remaja yang mengidolakan seseorang yang terkenal. Pada masa itu yang paling digemari oleh pra remaja adalah tokoh-tokoh besar pemimpin Guardian.


Yang paling populer di antara mereka adalah Raya Stephen, seorang Elementalist yang dapat mengendalikan semua jenis material. Ia paling banyak digemari oleh para remaja, terkhusus bagi perempuan.


Karena fisik yang bagus dan wajahnya yang rupawan, ia sangat memikat bagi perempuan. Meskipun begitu, kemampuannya pun tidak kalah jauh membuat pemuda menggemarinya.


Terkhusus Alex, setelah ia mendapatkan ponsel dari Alesse, ia selalu menelusuri berbagai hal tentang Raya Stephen sambil sesekali meniru penampilannya.


Dengan fisik yang besar itu, ia bisa mengikuti gaya Raya Stephen yang ideal dengan mudah. Apalagi saat ini pertumbuhannya sudah semakin cepat. Meskipun baru duduk di bangku SMP, ia sudah tampak seperti seorang pria berusia 25 tahun keatas.


Karena penampilannya yang yang sangat mirip dengan Raya Stephen, banyak siswi SMP dan SMA yang tertarik dengannya.


Para gadis itu terkadang menyapanya di jalan menuju sekolah ataupun mengintip jendela kelas saat pelajaran.


Tentu saja hal itu membuat Alesse sangat kesal. Kehidupannya tidak bisa berjalan dengan tenang karena Alex selalu ada di sampingnya, bahkan ia duduk sebangku dengannya.


Inilah alasan yang membuat Alesse malas untuk berangkat sekolah. Ia memilih belajar di luar sambil mengikuti beberapa seminar profesor ataupun perkuliahan lapangan.


Untuk bergabung di seminar-seminar itu tentu saja tidak mudah, ia harus menyamarkan wajahnya dengan kacamata dan memberikan lipatan pada kelopak matanya agar orang-orang tidak sadar kalau ia adalah anak SMP.


Ia pun terkenal di kalangan para profesor dan dosen karena sangat antusias mengikuti seminar yang mereka adakan. Tidak seperti para mahasiswa yang tampak hanya ingin mencari nilai atau bahkan karena terpaksa, Alesse banyak berpartisipasi dalam praktikum dan memberikan beberapa gagasan ide jeniusnya.


Akhirnya para profesor dan dosen tertarik dengannya, namun Alesse menolak banyak tawaran mereka. Oleh karena itu ia dikenal sebagai Dasar Lautan, sangat luar biasa namun tak tereksplorasi sepenuhnya. Meskipun ia sangat mencolok di antara profesor dan dosen, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui identitas aslinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alesse terbangun dari tidurnya, ia terus mengusap-usap wajahnya ke bulu-bulu yang menjadi bantalannya. Secara tidak sadar, ia mencium bau keringat.


"Hei Alex! Kau sangat bau!" ujar Alesse. "Lagian kenapa kau tidur di sini? Aku bukan kasurmu loh!" ujar Alex sambil mengangkat tubuh Alesse yang terbaring di dadanya.


"Hei, kalian berdua! Bisakah kalian hentikan ini? Kenapa setiap pagi ayah selalu melihat pemandangan aneh seperti ini?" tanya Hendra keheranan.


"Kenapa ayah? Ini bukan salahku! Alesse yang suka tidur di atasku terus menerus!" ujar Alex. "Kau dari awal memang tidak salah apa-apa Alex, ayah hanya iri karena tidak bisa berbaring di kasur yang sangat halus ini," ujar Alesse sambil merekatkan tubuhnya di perut Alex.


"Hei! Jangan di situ! Aku tidak bisa bernafas!" ujar Alex. "Alesse! Sebaiknya jangan tidur di situ! Dia semakin hari semakin bertambah besar, sedangkan kau tetap kecil seperti itu, bisa-bisa ia memakanmu loh! Kalau tidak mau tidur sendirian, ayah mau menemanimu kok," ujar Hendra.


"Sepertinya ia bukan ingin tidur denganku," ujar Hendra. Alesse pun menjadi semakin kesal. "Baiklah! Baiklah! Aku akan tidur sendirian! Aku tidak berharap tidur bersama kalian berdua! Aku hanya mencari kasur yang halus saja!" ujar Alesse kesal kemudian keluar kamar Alex.


Ia segera mandi dan sarapan, ia tidak ingin pergi ke sekolah bersama Alex karena hal itu akan merepotkannya. Apalagi hari ini Alex sedang dalam bentuk manusia setengah binatangnya. Sudah pasti banyak yang akan mengerumuninya.


Alesse pun segera keluar rumah sebelum Alex selesai mandi. Sayangnya saat di pertengahan jalan, Alex sudah menyusulnya.

__ADS_1


"Hei, Alesse! Kau kejam sekali! Harusnya kau tunggu aku! Padahal aku bisa menggendongmu sampai sekolah, kenapa harus repot-repot jalan kaki?" tanya Alex keheranan.


"Kau ini mandi atau tidak sih? Cepat sekali! Bahkan belum terhitung dengan waktumu menghabiskan sarapan," ujar Alesse kesal.


"Oh, kalau itu....... bukankah aku sangat cepat? Hebat bukan?" ujar Alex bangga. "Aku tidak sedang memujimu, bodoh! Mana ada manusia yang mandi dan sarapan dalam waktu tujuh menit," ujar Alesse.


"Ada kok! Aku," ujar Alex. Tiba-tiba suara jeritan muncul dari gerbang sekolah. Para siswi SMP dan SMA langsung mengerumuni Alex, mereka bahkan memintanya untuk foto bersama.


Alesse tampak kesulitan bergerak karena para siswi itu saling dorong mendorong untuk memperebutkan Alex. "Ya ampun! Mau gimana lagi? Boneka besar yang bisa berjalan dan berbicara, mustahil para gadis tidak tertarik dengan hal itu," ujar Alesse kesal sambil membersihkan tasnya yang dipenuhi debu.


Pada saat itu pun ia melihat seorang siswi berlalu begitu saja di hadapannya. "Apa-apaan gadis itu? Ia tidak tertarik dengan Alex kah? Aneh sekali!" ujar Alesse.


Ia pun masuk ke dalam kelas lalu membuka buku kusamnya. Sayangnya sudah tinggal beberapa halaman lagi yang belum ia baca.


"Menyedihkan sekali! Sepertinya buku ini akan selesai dalam beberapa hari. Itupun karena aku sengaja membacanya dan memahaminya dengan sangat perlahan," ujar Alesse. Ia pun membuka sebuah halaman dan menemukan sketsa wajahnya.


"I.... ini bohong kan? Tidak mungkin ini wajahku!" ujar Alesse berkeringat. "Terakhir kali kulihat-lihat buku ini, seharusnya tidak ada sketsa seperti ini sebelumnya!" ujarnya ketakutan, ia langsung meletakkan buku itu di atas meja.


"Itu tidak mungkin aku!" ujarnya. Akan tetapi tiba-tiba ia tertarik untuk melihat kaca. Ia ingin memastikan kalau sketsa itu berbeda dengan wajahnya.


"Itu jelas bukan kau! Karena saat ini kau adalah Alesse yang palsu." Suara bisikan terdengar di telinga Alesse.


"Si... .... siapa kau? Apa maksudmu dengan Alesse palsu ini?" tanya Alesse keheranan. "Alesse yang asli sudah mati," ujar bisikan itu.


"Apa? Mati? Omong kosong apa ini? Aku masih hidup!" ujar Alesse. "Jiwamu memang tetap hidup, namun tubuhmu sudah pernah mati sekali. Sekarang kau hidup sebagai reinkarnasi dari Alesse Jawara," ujar bisikan itu.


"Begitukah menurutmu? Secara keseluruhan, ingatan selalu melekat pada jiwa, tapi apakah kau tahu? Sebenarnya tubuhmu juga menyimpan sebagian ingatan. Karena Alesse yang asli sudah mati, tentu saja jiwanya tidak akan mengingat apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bukankah kau penasaran bagaimana kau bisa mati?" tanya bisikan itu.


"Sudah kubilang! Aku tidak mati!" ujar Alesse. "Lalu? Apakah kau ingat bagaimana dirimu bisa terbaring di rumah sakit selama dua tahun? Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai harus terbaring di sana? Pernahkah orang tuamu memberitahu hal itu? Kalau begitu biar kubantu mengingatnya," ujar bisikan itu.


Tiba-tiba buku yang ada di hadapan Alesse menjadi bercahaya. Akhirnya Alesse dapat melihat kilas balik mengapa ia terbaring koma di rumah sakit. Ia pun menjadi ingat saat seorang gadis tiba-tiba saja menusuk kedua telinganya dengan es, namun gadis itu segera menyiram air ke kedua telinganya dan seketika lukanya sembuh tanpa bekas. Sayangnya belum selesai sampai di situ si gadis tampak memeluknya, seketika itu bongkahan es membungkus mereka berdua.


"Aku? Mati? Membeku? Lalu gimana caranya aku hidup kembali?" tanya Alesse. "Tanyakan saja pada adikmu, sekarang kau sudah kembali menjadi Alesse yang asli, banyak hal yang harus kau lakukan mulai sekarang," ujar bisikan itu.


"Hei Alesse! Alesse! Alesse! Kau baik-baik saja?" tanya Alex. "Oh? Alex kah? Aku baik-baik saja," ujar Alesse dengan wajah datarnya.


Tiba-tiba telinganya dihujani banyak suara. Suasana di dalam kelas itu menjadi sangat ramai di telinganya, namun ia berusaha menahannya.


Setelah semua siswa masuk ke dalam kelas, suara ramai pun semakin menjadi-jadi di telinganya.


"Alex, sepertinya aku sedang tidak enak badan," ujar Alesse. "Sudah kuduga akan seperti ini! Siapa suruh jalan kaki ke sekolah, biasanya juga kugendong!" Suara Alex terdengar jelas di telinga Alesse, namun mulut Alex tampak tidak bergerak.


"Alex, tadi kau bilang apa?" tanya Alesse memastikan. "Aku tidak bilang apa-apa kok," ujar Alex. "Si Alesse kenapa lagi hari ini? Ekspresinya dingin sekali!" Lagi-lagi suara Alex terdengar di telinga Alesse.


"Alesse? Perlukah kuantarkan ke UKS?" Alex menawarkan. "Sepertinya aku harus menggendongnya ke sana!" Suara Alex tidak berhenti muncul meskipun mulutnya sudah tidak bergerak.

__ADS_1


"Alex! Apakah kau berpikiran akan menggendongku ke UKS?" tanya Alesse. "Eh? Memangnya kenapa?" tanya Alex. "Anak jenius memang mengerikan, ia seolah tahu apa yang aku pikirkan!" Suara Alex kembali terdengar dengan mulut tertutup.


"Sudah kuduga! Sepertinya aku memang bisa mendengar isi pikirannya! Tapi kenapa?" gumam Alesse. "Ada apa Alesse? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Alex. Alesse hanya diam, ia pun beranjak dari kursinya sedangkan Alex menuntunnya ke UKS.


Sepanjang jalan, Alesse terus mendengarkan apa yang sebenarnya tidak bisa didengarkan oleh orang lain. Meskipun begitu, ia tidak terlalu terkejut, ia langsung berpikiran bagaimana cara menggunakan kemampuan itu dengan baik.


Akhirnya ia pun sampai ke UKS. Ia langsung duduk dengan ekspresi dinginnya. "Aku akan kembali ke kelas. Istirahatlah!" ujar Alex.


"Tunggu!" ujar Alesse. Alex pun berhenti di tempat lalu menghadap Alesse. "Ada apa? Jangan bilang kau ingin tidur di atasku," ujar Alex. Alesse pun tersenyum dingin.


"Tidak kok! Aku hanya perlu tahu sesuatu," ujar Alesse. "Apa itu?" tanya Alex, ia sangat penasaran karena Alesse tampak sedang menundukkan wajahnya.


"Hei, Alex! Apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku terbaring di rumah sakit? Kenapa aku bisa terbaring di sana?" tanya Alesse sambil mengangkat wajahnya.


Wajah dinginnya membuat Alex terkejut. "A.... ada apa ini? Kenapa ia penasaran dengan hal itu?" ujar Alex dalam hati. Tentu saja Alesse dapat mendengarnya.


"Kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?" tanya Alex keheranan. "Jawab saja apa yang aku tanyakan, jangan berbohong! Kau tahu kalau orang jenius tidak bisa dibohongi kan?" ujar Alesse.


Dengan penuh keringat, akhirnya Alex menjawab. "Se.... sebenarnya kau ditemukan dalam keadaan membeku. Kau terjebak dalam bongkahan es," ujar Alex. "Kenapa kau ragu-ragu memberitahuku hal itu? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" Alesse semakin menyudutkan Alex.


Alex bingung hendak menjawab apa, karena Alesse terus menyudutkannya, ia terus menjaga jarak hingga jatuh terduduk di lantai.


"Hei, Alex! Tatap mataku! Kenapa kau menghindar?" tanya Alesse dengan ekspresi dinginnya.


"Alex, kira-kira jika orang membeku di dalam es, apakah ia masih hidup? Tidak bisa bernafas, apalagi jantungnya tidak berdetak. Kau pikir masih bisa hidup?" tanya Alesse.


"Mu.... mungkin tidak," ujar Alex. Alesse semakin dekat dengan wajahnya. Membuatnya tidak bisa berbohong.


"Kenapa kau menambahkan kata mungkin? Lima hari loh! Lima hari tanpa bernapas dengan aliran darah yang terhenti, kau pikir masih hidup?" tanya Alesse sekali lagi.


"Tidak mungkin!" ujar Alex terpaksa. "Hmm! Kudengar kau yang pertama kali mengatakan bahwa aku masih hidup. Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanya Alesse. Akhirnya Alex menyerah.


"Baiklah! Baiklah! Aku mendapati tubuhmu masih utuh sepenuhnya, belum ada yang rusak! Jadi aku berpikiran untuk menggerakkan sirkulasi darah dan aktivitas organ lainnya dengan pengendalianku. Beberapa menit kemudian organ-organ itu mulai beraktivitas dengan sendirinya," ujar Alex.


"Nah! Begitu dong! Kutanya baik-baik susah sekali!" keluh Alesse. Suasana tegang tadi berubah hangat kembali. "Kau....tidak marah?" tanya Alex.


"Kenapa aku marah? Kau menghidupkanku lagi! Itu luar biasa! Tapi bukankah itu beberapa tahun yang lalu? Dari mana kau tahu tentang sirkulasi darah dan aktivitas organ lainnya?" tanya Alesse.


"Tentu saja aku tahu, setiap hari bertemu dengan orang-orang, aku bisa merasakan kehidupan dari tubuh mereka," ujar Alex.


"Tapi, Alesse! Sepertinya kau juga seorang Elementalist!" Alex menambahkan. "Kata siapa?" tanya Alesse keheranan.


"Sepertinya ada luka parah dari kedua telingamu. Tapi itu tampak langsung sembuh seketika," ujar Alex. "Apa maksudmu sembuh seketika?" tanya Alesse.


"Seperti ini!" Alex menancapkan bolpoin ke telapak tangannya. "Hei! Kenapa kau melakukan hal itu? Berbahaya loh! Tanganmu baik-baik saja?" tanya Alesse sambil memeriksa telapak tangan Alex. Ia terkejut karena luka pada telapak tangan itu perlahan menghilang.

__ADS_1


Ia pun teringat bagaiman gadis pengendali air itu juga menyirami kedua telinganya sehingga ia langsung sembuh tanpa bekas. "Sepertinya kau hanya mengada-ada! Aku tidak pernah mendapatkan luka di kedua telingaku!" ujar Alesse.


"Benarkah? Padahal aku sangat yakin loh!" ujar Alex. "Sudahlah, kau kembali ke kelas! Aku mau istirahat!" ujar Alesse.


__ADS_2