Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Surat dari Kaa


__ADS_3

Ray kembali ke rumah dengan rasa puas, ia langsung berbaring telentang di sofa ruang tamu. Malfoy pun datang berkacak pinggang.


"Kau seperti seorang ibu yang hendak mengomeli anaknya! Pemandangan macam apa ini? Menyebalkan!" ujar Ray sambil memalingkan wajahnya dari Malfoy.


"Kau..... pergi ke dunia lain dengan pakaian seperti itu? Kenapa kancing dekat kerahmu itu robek? Lalu resleting celanamu itu..... apakah kau sengaja membiarkan itu terbuka atau kau memang bodoh?" tanya Malfoy.


Ray pun terkejut dan langsung memeriksanya, ia tampak malu sambil menutup resleting celananya. "Argh! Baju mahalku ini! Ah! Wanita ganas benar-benar merepotkan!" keluh Ray.


"Kau berbuat apa saja di sana? Bukankah kau harus mencari tahu keberadaan Warden?" tanya Malfoy.


"Santai saja! Kita perlu memastikan, apakah Alex seorang Warden atau bukan. Jika ternyata bukan, kita bisa mengajaknya pergi bersama ke dunia lain," ujar Ray.


"Maksudmu, aku juga bisa ikut ke sana?" tanya Malfoy semangat. "Tentu saja, tidak bisa kenapa?" tanya Ray keheranan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, ia terkejut karena mendapati dua ratus panggilan tak terjawab. "Kecerobohanmu memang bukan main! Tidak ada tandingannya! Aku heran, kenapa banyak wanita yang menyukai pria bodoh sepertimu?" ujar Malfoy sambil menggeleng kepala.


"Halo? Roger? Maaf karena baru bisa dihubungi, aku lupa menyerahkan ponselku pada Malfoy saat pergi," ujar Ray.


"Baiklah, Alex sudah datang ke sini. Ia siap menjadi pemimpin latihan untuk angkatan selanjutnya dari para Elementalist," ujar Roger.


"Oh? Alex sudah datang? Kalau begitu aku akan pergi ke sana," ujar Ray. Ia segera bersiap-siap dengan berganti baju.


"Mandi!" perintah Malfoy. "Nanti, setelah pergi berjumpa dengan anak itu," ujar Ray."Mandi dulu!" desak Malfoy. "Nanti! Setelah aku pergi ke sana, tubuhku pasti berkeringat lagi!" ujar Ray.


Akhirnya tubuh Malfoy berubah membesar, ia langsung mengangkat Ray dengan tangan kanannya. Setelah berada di cengkeramannya, Ray tidak berani melawan, ia hanya pasrah sambil menunggu pria itu menurunkannya kembali.

__ADS_1


"Aku pulang," ujar Tesla, ia terkejut melihat tubuh ayahnya itu. "Wah! Sudah lama sekali aku tidak melihat ayah seperti ini! Mirip dengan Alex!" ujar Tesla sambil menempelkan pipinya di punggung Malfoy lalu mengusap-usapnya seperti seekor kucing.


"Tesla, jangan dekat-dekat, nanti terkena kuman! Kakakmu ini belum mandi!" ujar Malfoy. "Hih! Menjijikkan! Dasar aneh! Seorang pria masih harus dipaksa oleh ayahnya untuk mandi?" Tesla menggelengkan kepala.


"Baiklah! Baiklah! Aku akan mandi! Turunkan aku sekarang!" ujar Ray. Ia pun langsung pergi ke kamar mandi. "Apa yang salah dengannya? Setelah lama menghilang, datang-datang menjadi orang aneh," ujar Tesla.


Setelah selesai mandi, Ray langsung pergi ke asrama, tempat Alex tinggal. Ia terus mengawasi Alex dari kejauhan. Ia pun langsung mengejutkannya saat berjalan ke pusat kota.


"Ray! Akhirnya setelah sekian lama!" Alex tampak senang meskipun awalnya ia terkejut. "Gimana dengan Tesla? Apakah ia baik-baik saja di rumah?" tanya Alex penasaran.


"Sepertinya kau lebih penasaran dengan adikku daripada aku sendiri," ujar Ray kecewa. "Bukan begitu! Karena aku sudah tahu kau bisa pergi menemuiku seperti ini, pasti kau baik-baik saja. Lagian untuk apa aku penasaran dengan seorang pria aku tidak tertarik, aku hanya penasaran dengan kabar ayahku dan kakakku saja," ujar Alex.


"Kejam sekali! Apakah aku perlu membuatmu tertarik juga?" tanya Ray. "Tidak perlu repot-repot," ujar Alex sambil bergegas menjauh dari Ray, ia sudah merasakan firasat buruk saat pria itu mengatakan hal yang aneh.


"Argh! Kau mengabaikanku lagi?" keluh Ray, secara tiba-tiba ia berputar lalu melompat hingga posisi tubuhnya terbalik, ia berdiri dengan kedua tangannya. Saat itu juga perhatian semua orang tertuju padanya.


"Kau benar-benar gila, kau pikir aku akan peduli dan menghentikanmu?" tanya Alex, ia hanya diam di tempat lalu menjauh perlahan dari kerumunan orang-orang.


"Hei, ayolah! Orang yang baik tidak akan mengabaikan temannya," ujar Ray sambil berdiri dengan satu tangannya lalu memiringkan badannya seperti orang yang sedang terbaring santai di sofa.


Mau tidak mau Alex terpaksa mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi. "Sepertinya seharian ini aku dianggap sebagai barang angkutan," ujar Ray.


Alex pun menurunkan Ray di atap sebuah gedung. "Akhirnya aku menang! Kau tidak mungkin mengabaikanku, terima kasih untuk tumpangannya juga," ujar Ray.


Alex pun teringat dengan surat yang Kaa berikan kepadanya. "Ray, aku disuruh untuk memberikanmu surat ini," ujar Alex sambil menyodorkan secarik kertas kepada Ray.

__ADS_1


"Apa-apaan? Surat cinta? Kekanak-kanakan sekali! Apakah gadis kecil juga sangat menyukaiku?" tanya Ray.


"Bukan seperti itu,aku juga tidak tahu apa isinya, mungkin ini hanya coretan abstrak," ujar Alex.


Ray pun mencoba memeriksa secarik kertas itu dan terkejut, ia langsung menarik kerah Alex. "Kau, bagaimana caranya kau menulis ini? Apakah jangan-jangan kau ini.... Warden? Sudah kuduga! Ternyata kau orangnya!" ujar Ray dengan amarah.


Alex tidak mengerti apa yang membuatnya marah. "Tu.. tunggu dulu Ray! Aku tidak bisa bernafas!" ujar Alex. "Tidak usah berlagak lemah! Aku tahu semua niat jahatmu!" teriak Ray.


"Tunggu dulu Ray! Bukan aku yang menulis hal itu! Aku tahu kau marah! Tapi sungguh, itu bukan tulisanku!" ujar Alex. Ray pun melempar Alex ke sudut dinding hingga membuatnya terbatuk-batuk.


"Lalu siapa? Siapa yang menulis ini padamu? Tidak mungkin ada orang di dunia ini yang mengetahui tulisan itu!" ujar Ray.


"Ada, ada yang tahu selain kau! Orang itu yang menyuruhku untuk memberikan surat itu padamu!" ujar Alex.


"Siapa? Siapa yang memberikan ini?" tanya Ray penasaran, wajahnya semakin mengerikan, bulu-bulu juga terus bertumbuhan di sekitar rahangnya.


"Aku..... aku tidak bisa memberitahumu siapa yang menulis surat itu," ujar Alex. Ray semakin tidak mengerti, sekali lagi ia menghampiri Alex dan mencekik lehernya.


"Siapa? Siapa orang itu?" tanya Ray dengan tatapan buasnya. "Itu adalah...... tulisan kakakku!" ujar Alex, ia menyerah karena Ray tampak mencoba membunuhnya.


"Kakakmu?" Ray semakin tidak mengerti, ia terdiam dengan tangan yang masih mencekik leher Alex.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Tesla dari kejauhan, ia langsung menyambarkan petir ke arah Ray.


Secara spontan Ray langsung menghindar, membuat Alex terlepas dari cengkeramannya. Ia langsung pergi karena tidak ingin berbicara.

__ADS_1


Tesla pun langsung menghampiri Alex dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. "Apa yang terjadi Alex? Kenapa kau seperti ini?" ujarnya khawatir, ia mencoba memeriksa leher Alex yang tampak memar itu. Alex pun langsung batuk berdarah, membuat tangis Tesla semakin menjadi-jadi.


"Te... tenang saja Tesla! Ini akan sembuh dalam sekejap! Aku tidak akan mati kok, Ray tidak mencoba untuk membunuhku," ujar Alex. "Dalam keadaan seperti ini kau masih membelanya? Jelas-jelas ia hendak membunuhmu!" ujar Tesla kesal. Ia pun menuntun Alex untuk berdiri dan turun dari atap.


__ADS_2