
"Alesse, besok aku harus kembali ke Amerika," ujar Alex. Alesse tampak tidak peduli dengan hal itu, ia sedang sibuk merakit sesuatu di mejanya. Sebenarnya itu adalah miniatur kubus melayang yang ia gunakan untuk memodifikasi Levy tanpa menggunakan tongkat petirnya.
"Alesse? Kau dengar aku?" tanya Alex. "Iya, aku dengar," ujar Alesse. "Kalau begitu, maukah kau berlatih denganku sore ini?" tanya Alex.
Alesse tidak menjawab, ia terus merakit kubus itu, membuat Alex terdiam di tempat menunggu jawabannya.
Akhirnya ia selesai merakit itu semua. "Oke! Aku akan melakukannya. Lalu, ini untukmu," ujar Alesse sambil melempar kubus itu pada Alex.
Alex pun meraih kubus itu dan tidak sengaja menekan sebuah tombol yang ada padanya. "Eh, loh? Benda apa ini, Alesse? Kenapa bisa tembus pandang seperti ini? Seperti sihir saja!" ujar Alex terkesan.
"Aku tidak percaya sihir. Yang kulakukan hanyalah memanipulasi optik dengan beberapa lapisan kaca," ujar Alesse.
"Aku tidak tahu sains bisa sehebat ini," ujar Alex. "Makanya kau perlu belajar lebih giat lagi," ujar Alesse. "Sudah kuduga, kau benar-benar jenius, Alesse!" ujar Alex.
"Tidak usah banyak memberiku pujian, kau membuatku merasa kenyang karena pujian itu. Lagian ini tidak seberapa, ada hal lain yang ingin kutunjukkan. Mari latihan," ujar Alesse sambil mengeluarkan tongkat petir yang ada di belakang punggungnya.
"Sejak kapan benda itu ada di punggungmu?" tanya Alex. "Bukankah sudah kubilang, ini hanyalah manipulasi optik, mungkin ada beberapa benda lainnya di tubuhku yang tidak kau sadari," ujar Alesse.
"Baiklah! Ini semakin membuatku bersemangat untuk latihan! Mari kita lihat seperti apa kekuatan sains," ujar Alex.
"Omong kosong apa yang dikatakannya? Membandingkan kekuatan elementalist dengan sains? Kalau ia hendak membandingkan itu, seharusnya yang jadi lawan bukanlah kau, melainkan pria dengan tubuh yang sama besarnya seperti dirinya," ujar Geni.
"Kau ini bodoh kah? Sains ada untuk orang-orang seperti kita, membuat katrol yang dapat menyetarakan orang-orang lemah dengan orang-orang yang terlahir kuat," ujar Alesse.
Setelah persiapan, Akhirnya mereka berdua pun pergi ke lapangan. Tesla tampak tertarik melihat keduanya hendak berlatih.
Setelah berada di tempat, Alex langsung memasang kuda-kuda sedangkan Alesse merubah tongkat petirnya menjadi busur.
"Hal apalagi yang kau sembunyikan, Alesse? Kenapa tongkat itu tiba-tiba berubah menjadi busur panah?" tanya Alex keheranan. "Bukankah sudah kubilang? ini hanyalah manipulasi optik. Siapa tahu benda yang saat ini kau lihat hanyalah lempengan kaca," ujar Alesse.
"Kalau kau mengatakan hal itu, pasti benda itu tidak hanya sekedar kaca, itu pasti hal yang luar biasa!" ujar Alex semangat, ia langsung bergerak cepat menghampiri Alesse seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Alesse pun merubah sepatunya menjadi sepatu roda, membuatnya meluncur dengan cepat menghindari serangan Alex.
"Heh? Lumayan juga anak itu. Ia tetap tenang meskipun Alex berlari ke arahnya sambil mengintimidasinya," ujar Tesla.
"Lambat!" ujar Alex, ia mengeluarkan cakarnya dan mengayunkannya ke belakang. Sayangnya Alesse langsung menunduk, ia memanfaatkan tubuh kecilnya untuk menghindar.
"Gerakanmu semakin halus, aku bahkan tidak bisa menemukan sedikit celah. Tapi, bukankah ini saatnya kau menyerang?" tanya Alex.
__ADS_1
Akhirnya Alesse meluncur hingga jarak antara dirinya dengan Alex menjadi lebih jauh. Saat itulah ia menggunakan busurnya untuk memanah.
Alih-alih menghindar, Alex malah menangkis anak panah itu. "Serangan seperti itu tidak akan mempan padaku!" ujar Alex. "Heh? Benarkah? Aku meragukan hal itu," ujar Alesse. Akhirnya Alex sadar kalau tangan yang ia gunakan untuk menangkis itu kini membeku, bahkan terus merambat ke lengannya. Akhirnya ia memutuskan untuk memotong lengan itu.
Tesla tampak khawatir dengan apa yang dilakukannya. "Hmm, sepertinya itu sangat sakit," ujar Alesse. "Tenang saja, ini bukan apa-apa, " ujar Alex, ia menyambungkan kembali tangannya setelah pembekuan itu berhenti.
"Sesuai dengan harapanku dari seorang elementalist. Regenarasimu benar-benar tidak masuk akal. Bahkan tangan yang putus pun masih bisa pulih kembali?" Alesse hanya bisa menggeleng kepala karena terkesan.
Akhirnya kali ini ia merubah busur panahnya menjadi sepasang cakram yang membara pada mata pisaunya. Ia pun melemparnya ke arah Alex.
Alex langsung menangkisnya, hal itu membuat cakram tergeletak di tanah meskipun tangan Alex sempat terbakar.
"Kalau kau hanya menyerang dari jarak jauh, bisa gawat loh! Mari kita lihat, apakah kau bisa mengatasi ini juga?" Alex pun mendekati Alesse, ia hendak menghapus jarak yang dibuat oleh Alesse.
Seketika cakram yang tergeletak di tanah itu kembali ke tangan Alesse, ia merubahnya menjadi tongkat petir untuk menahan lengan Alex.
Ia terus menahannya hingga sepatu rodanya terus bergerak mundur tanpa henti. Alesse tidak bisa langsung merubah telapak sepatunya, hal itu akan membuatnya mengalami patah tulang, akhirnya ia bergerak ke arah yang berbeda untuk menghindar dari tekanan Alex.
"Hei, kalian berdua! Makanan sudah jadi! Ayo makan!" ujar Tesla, ia sudah tidak begitu tertarik karena Alesse jelas kalah tenaga dari Alex.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri latihan mereka. Alex langsung pergi ke tempat makan sedangkan Alesse kembali ke dalam kamar, ia tampak sibuk memeriksa sepatu rodanya dan mencoba mekanisme baru yang akan ia terapkan pada sepatu itu.
"Masih ada hal yang perlu kulakukan sebelum lupa. Kenyang hanya akan membuat daya ingatku semakin berkurang," ujar Alesse.
"Aku tidak menyuruhmu makan sampai kenyang, setidaknya isi perutmu terlebih dahulu. Energimu sudah banyak terkuras," ujar Geni.
"Sepertinya ia sangat membenci kekalahan," ujar Rasya. "Kau tidak kalah, Alesse! Tidak ada yang tumbang! Hasilnya seri! Bahkan kau lebih baik karena tidak mendapatkan luka apapun di tububmu," ujar Geni.
"Tentu saja aku tidak akan terluka! Ia membatasi diri agar tidak melukaiku. Bahkan sebelum ia mengerahkan semua kekuatannya pun aku sudah kewalahan," ujar Alesse, ia sangat benci mengakui hal itu.
"Makanlah, Alesse! Kau adalah kehidupan kami semua! Jika kau mati, lalu apa yang terjadi pada kami selanjutnya?" tanya Geni.
Alesse hanya terdiam sambil menggerutu, ia tampak seperti anak kecil yang kesal karena kalah dalam permainan.
"Jiwamu tidak sedewasa kepalamu, Alesse! Jangan memelihara emosi yang seperti itu!" Geni memperingatkan, sayangnya Alesse memilih menutup telinga meskipun hal itu sia-sia.
Gord merasa iba terhadapnya, ia pun mencoba memegangi pundak Alesse, namun ia malah tersedot ke dalam tubuhnya.
Dalam sekejap ia berada dalam tubuh Alesse dan merasakan kalau tubuh itu menjadi semakin besar hingga merobek pakaian yang Alesse kenakan.
__ADS_1
Ia dapat merasakan betapa laparnya tubuh itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kamar. Ia membungkus dirinya dengan Gorden.
"Hei, anak muda! Kemarilah!" ujar Gord pada Alex. Alex pun menghampirinya. "Ada apa, Alesse? kenapa kau membungkus tubuhmu dengan Gorden?" tanya Alex.
"Nak, bisakah kau pinjamkan baju padaku?" pinta Gord. Alex sempat terkejut mendengar suara Gord yang menggelegar.
"Kau bukan Alesse? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alex. Ia pun langsung mengambil baju yang ada di kopernya dan memberikannya pada Gord.
"Terima kasih," ujar Gord kemudian mengenakan baju itu. Alex terdiam melihat sikapnya. Berbeda dengan Rasya yang suka menggoda, Gord tampak seperti sosok ayah. Alex yang berhadapan dengannya merasa seperti sedang berhadapan dengan seorang kakak.
"Wah, ternyata muat juga!" ujar Gord sambil menepuk lengan dengan tinjunya. Melihat Alex yang sedang terdiam, Gord mencoba melambaikan tangan di depan mata Alex.
"Nak? Kau baik-baik saja? Apa yang salah dengan wajahku?" tanya Gord. "Bu... bukan apa-apa kok," ujar Alex. "Kalau begitu, mari kita makan. Aku sangat kelaparan," ujar Gord sambil merangkul bahu Alex, ia tampak begitu akrab seperti saudara kandungnya sendiri.
Setelah sampai di tempat makan, Alex merasa heran karena ibu dan ayahnya tidak terlalu terkejut saat melihat Gord.
Bahkan saat Gord langsung duduk di kursi, Andin dan Hendra tampak tidak peduli, mereka langsung melanjutkan makan mereka.
Tesla pun tampak keheranan sambil terus menatap Gord dengan penuh curiga. Meskipun penasaran, ia memutuskan untuk tidak bertanya karena Andin dan Hendra sibuk menikmati makanan.
Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Begitu pula dengan Gord dan Alex.
"Hmm! Aku merasa sangat kenyang," ujar Gord sambil membentangkan tubuhnya di kasur. "Tempat tidur ini sangat empuk sekali! Makanan tadi juga terasa sangat luar biasa," ujarnya.
"Makanmu banyak juga. Tidak baik tidur setelah makan loh!" Alex memperingatkan. "Tidak perlu kaku begitu, sesekali kau juga harus menikmati hal yang ingin kau lakukan," ujar Gord.
"Jadi.... apakah kau juga salah satu kepribadian dari diri Alesse?" tanya Alex. "Begitulah. Anak itu tampak begitu bertekad sampai mengabaikan rasa laparnya. Ngomong-ngomong, jangan sampai kau beritahu tentang kepribadian ini pada kedua orang taumu. Mereka akan sangat khawatir," ujar Gord.
"Eh? Memangnya mereka belum mengetahuinya? Bukankah mereka tampak biasa saja saat kau bergabung dengan makan malam kita tadi?" tanya Alex.
"Mereka hanya berpikir bahwa tubuhnya saja yang berubah, mereka tidak tahu kalau kepribadiannya juga ikut berubah," ujar Gord.
"Kau tampak cukup bersahabat dari pada kepribadian lainnya yah," ujar Alex terkesan. "Hmm? Begitukah? Mungkin karena aku adalah satu-satunya orang bodoh di antara mereka semua. Asal kau tahu saja, pikiranku ini sangatlah sederhana. Aku juga tidak tertarik untuk memerhatikan tingkah laku orang lain," ujar Gord.
"Andai saja Alesse bisa memiliki sedikit saja dari pola pikirmu, ia pasti bisa menjadi orang yang sangat menyenangkan," ujar Alex.
"Semua orang punya kelebihan dan kelemahan, kau tidak bisa menuntut seseorang agar sesuai dengan keinginanmu," ujar Gord.
"Kupikir kau tidak lah bodoh. Orang bodoh mana yang bisa mengatakan hal bijak itu?" tanya Alex. Gord pun tertawa, ia hendak berbicara, namun tidak bisa karena terus tertawa. Melihat hal itu Alex pun malah ikut tertawa juga.
__ADS_1