Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Petunjuk


__ADS_3

Kaa tampak benar-benar putus asa saat mencari keberadaan dua anak itu. Ia tidak seperti Ray yang bisa melihat jejak makhluk hidup dengan pengendaliannya. Ia hanya bisa mengira-ngira kemana salah satu dari kedua anak itu pergi.


Meskipun sudah berusaha untuk terbang setinggi mungkin, ia hanya mendapati hamparan tanah yang hitam legam.


Ia tidak sanggup menatap bumi yang telah rusak itu, kepalanya diliputi rasa takut, bersalah, dan menyesal. Ia pikir tidak seharusnya mengandalkan Ray yang memiliki emosi tidak stabil. Ia pikir keputusannya saat itu adalah salah besar.


Dalam keterpurukan itu, ia sampai lupa bahwa dirinya harus mengikuti jejak dari kedua anak itu.


Saat duduk termenung di tengah hamparan tanah yang gosong itu, tiba-tiba seseorang muncul entah dari mana asalnya.


"Menyedihkan sekali kau ini. Aku seperti melihat anak kecil yang terlantar ditinggalkan orang tuanya," ujar orang itu.


Suaranya sangat tidak asing karena itu adalah suara seorang gadis. "Alice?" Kaa mencoba memeriksa wajah gadis yang mengajaknya berbicara.


"Apakah kau merindukanku sekarang? Kupikir aku tidak memiliki kesan yang kuat hingga kau bisa mengingatku," ujar Alice.


"Kau....benar-benar misterius!" ujar Kaa. "Kenapa kau berpikir demikian?" tanya Alice. "Kau selalu muncul dan menghilang tanpa alasan yang jelas! Benar-benar di luar prediksi," ujar Kaa.


"Yeah, mau gimana lagi? Aku punya kehidupan di tempat lain, bukan di sini," ujar Alice. "Di mana?" tanya Kaa. "Sebenarnya bukan di mana, tapi kapan," jawab Alice.


"Apakah kau Chron penjelajah waktu? Itu adalah kemampuan yang sangat langka di antara para Chron!" ujar Kaa.


"Kau sedikit keliru, tapi aku memang penjelajah waktu. Kupikir kau sedang dalam keadaan genting, kenapa kau tampak santai begini?" tanya Alice.


"Ya ampun! Aku lupa! Ada dua pemuda yang tersesat di antah berantah ini! Aku harus menemukannya," ujar Kaa.


"Hmm, antah berantah ini? Bukankah ini ulah Dark Warden bodoh itu? Sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya! Ia hanyalah perusak, bahkan Grand Chaos di masa depan pun tidak pernah membuat kekacauan seperti ini," ujar Alice.


"Grand Chaos? Siapa itu? Apakah muncul sosok baru lagi di masa depan selain Warden dan Chron?" tanya Kaa.


"Oh, aku lupa! Mungkin di masa ini kalian menyebutnya sebagai raja iblis," ujar Alice. "Ra... raja iblis? Maksudmu yang memegang kendali seluruh manusia ras iblis?" tanya Kaa. "Yeah, benar," jawab Alice.

__ADS_1


"Kau bercanda?" tanya Kaa. "Aku mengatakan yang sebenarnya! Dia adalah kakekku... tunggu... sepertinya bukan! Dia adalah kakek ibuku," jawab Alice.


"Aneh sekali! Jika begitu, maka kau juga manusia ras iblis! Sangat mengherankan sekali mendengar orang ras iblis yang menentang Dark Warden, biasanya mereka memiliki loyalitas yang kuat terhadap sosok yang mulia dari ras mereka," ujar Kaa.


"Kau sebut Raya Stephen sebagai sosok yang mulia? Aku tidak keberatan dengan Dark Warden lainnya, bahkan seratus atau seribu tahun yang akan datang, namun untuk orang seperti Raya Stephen.... aku hanya melihat kegagalan dan kekecewaan yang besar. Maaf sekali karena aku membocorkan sedikit kesan dari masa depan terhadapnya, kuharap kau bisa mengubah takdir dirinya yang mengecewakan itu," ujar Alice.


Kaa tampak sangat murung, ia pikir juga mustahil untuk menyadarkan pola pikir Ray. "Jadi, ini tujuanmu datang kepadaku? Agar aku tidak berpihak padanya lagi? Memangnya kau tahu apa tentang anak itu? Dia tidak punya siapa-siapa yang mendukungnya hingga saat ini! Satu-satunya teman yang memercayainya pun kini telah lenyap, bahkan ia tidak percaya bahwa temannya telah tiada. Dia tidak ingin memercayainya! Bukankah hidup ini terlalu kejam baginya?" tanya Kaa.


"Kau salah, Kaa! Aku datang ke sini bukan untuk itu. Tapi dua pemuda yang kau maksud itu.... aku datang ke sini untuk membantumu mencari mereka," jawab Alice. "Bukankah kau tadi melarangku untuk bergaul dengannya?" tanya Kaa.


"Sejak kapan aku mengatakan hal itu? Aku hanya memperingatkanmu gara tidak terlalu berpihak padanya. Jangan sekali-sekali kau memihaknya ketika dia salah," ujar Alice.


"Aku tahu betul harus seperti apa dalam menyikapinya! Aku hidup ratusan tahun lebih lama darimu!" ujar Kaa.


"Justru karena itu! Sejak tadi kita berbicara, kurasa kau hampir menganggapnya sebagai anakmu sendiri," ujar Alice.


"Baiklah! Baiklah! Aku akan lebih berhati-hati! Jadi, bagaimana cara kita menemukan Alex dan Sandy?" tanya Kaa.


Tak lama kemudian seseorang muncul begitu saja dari langit, membuat Kaa terkejut.


"Kau memanggilku?" tanya orang itu. Kaa terus memerhatikannya karena ia merasa tidak asing dengan orang itu.


"Jawara, bisakah kau mencari lokasi dua anak itu?" tanya Alice. "Lokasi telah ditemukan," ujar orang itu dengan ekspresi datarnya.


Alice pun mengeluarkan sayapnya yang megah, membuat Kaa terpana sesaat. "Tunggu apalagi? Jangan bilang, kau tidak bisa terbang dengan sayapmu?" tanya Alice.


"Oh, ba.. baiklah!" ujar Kaa. Ia pun mengikuti Alice terbang ke suatu tempat, namun ia memiliki banyak sekali pertanyaan terhadapnya dan orang yang berada di sampingnya itu. Ia hanya bisa diam karena tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.


Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya mereka menemukan Alex sedang terbaring di tengah hamparan tanah gosong, ia tampak tak sadarkan diri.


"Jawara, kau bisa mengangkatnya?" tanya Alice. "Baik," jawab orang itu kemudian berubah wujud menjadi pria kekar dengan punggung yang lebar. Ia langsung mengangkat Alex ke punggung kanannya.

__ADS_1


"Kita ke tempat selanjutnya," ujar Alice. Kaa semakin penasaran dengan orang yang sedang bersama Alice itu, namun lagi-lagi tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.


Mereka sampai di tempat Sandy berada dan kondisinya sama seperti Alex, ia sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Kau tunggulah di sini, sepertinya beberapa saat lagi rombonganmu akan datang," ujar Alice, ia sudah hendak pergi.


"Tu.. tunggu, Alice!" ujar Kaa, rasa penasarannya membuat mulutnya gatal untuk bertanya, ia bahkan sempat menahan lengan Alice kuat-kuat.


"Oh, ma... maaf! Aku tidak bermaksud menyakitimu," ujarnya gugup. "Sikapmu aneh sekali! Ada apa sebenarnya?" tanya Alice.


"Ka.. kau... Siapa kau sebenarnya? Selama puluhan tahun ini aku tidak mengerti, tapi kenapa kau selalu muncul di saat aku kesulitan dan terus membantuku?" tanya Kaa.


Alice pun tersenyum. "Aku datang ke sini karena kau yang menyuruhku," jawab Alice. "A.... aku? Apa maksudmu? Aku tidak ingat pernah menyuruhmu melakukan sesuatu," ujar Kaa.


"Bukan kau yang sekarang, tapi ribuan tahun yang akan datang," ujar Alice. "Ri... ribuan tahun? Apakah aku bisa hidup sampai ribuan tahun?" tanya Kaa, ia tidak terlalu suka mengetahui kenyataan itu. Hidup ratusan tahun saja sudah membuatnya tersiksa.


"Hmm? Bukankah kau penasaran? Kalau begitu hiduplah selama mungkin! Teruslah bertahan hidup apapun yang terjadi, lalu...... aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi di masa ini, tapi...... jika kau bertemu denganku ribuan tahun setelah ini..... tolong ingatkan aku untuk membantu dirimu dari masa ini," ujar Alice.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" tanya Kaa. Alice tampak kesal karena ia terus bertanya. "Maka dari itu, hiduplah sampai ribuan tahun lamanya! Temukan jawabanmu! Aku juga tidak mengerti kenapa kau menyuruhku melakukan banyak hal merepotkan ini," ujar Alice sambil berusaha mempertahankan senyumannya.


"Kupikir terlalu lama sampai ribuan tahun, aku tidak yakin apakah aku sanggup hidup selama itu," ujar Kaa.


"Pastikan kau sanggup melakukannya! Barang kali kau menemukan sosok yang sangat berarti bagimu ribuan tahun kedepan," ujar Alice. Kaa pun tertawa mendengar perkataannya.


"Sosok yang sangat berarti? Lelucon apa lagi ini? Aku sudah hidup selama ratusan tahun, namun tidak ada orang seperti itu dalam hidupku! Usia mereka terlalu singkat! Tak ada siapapun yang bisa mengisi hatiku," ujar Kaa.


"Siapa tahu di masa depan pola pikirmu akan berubah! Kau tidak akan tahu jika kau belum mencobanya," ujar Alice sambil membelai wajah Kaa.


Kaa pun menelan ludah karena bimbang. "Mencoba untuk hidup selama ribuan tahun? Hanya untuk sebuah pertanyaan yang tak terjawab ini?" Kaa merasa ragu.


"Aku yakin bukan hanya hal sepele itu yang akan kau dapatkan! Percayalah! Kau bahkan sampai bertekuk lutut saat berhadapan denganku untuk pertama kalinya di masa depan," ujar Alice.

__ADS_1


"Kau ini... jangan bilang sosok berarti bagiku yang kau maksud adalah dirimu sendiri?" tanya Kaa. "Tidak akan seru jika aku menjawabnya, kau bisa temukan jawabanmu sendiri," ujar Alice. Karena Ray dan Atlas telah terlihat dari kejauhan, ia pun menghilang begitu saja dari hadapan Kaa, menyisakan Sandy dan Alex yang masih tak sadarkan diri.


__ADS_2