
Akhirnya semua cerita mitos yang ada di buku kusam itu selesai. Kali ini Alesse mencoba memeriksa beberapa halaman berikutnya, ia tidak lagi menemukan sketsa wajah yang mirip dengannya.
"Gimana caranya itu menghilang? Sepertinya buku ini benda ajaib!" Ia menyimpulkan. Saat sedang melamun, tiba-tiba halaman dari buku itu mulai terbuka. Sebuah peta tampak tergambar jelas di dalamnya terdapat.
Alesse terus memperhatikan peta itu dan mendapati beberapa titik hitam. "Titik-titik ini.... sepertinya tempat retakan Abyss berada!" ujarnya.
Ia pun mulai memeriksa beberapa titik sambil menelusurinya di internet. Titik-titik hampir akurat dan tertera di pencarian. Sayangnya masih tersisa dua tempat lagi yang belum ada di mesin pencarian. Kedua titik itu juga tampak berbeda dengan yang lainnya. Kedua titik itu berwarna biru dengan bentuk hampir menyerupai pusaran.
"Hmm! Mungkin sebaiknya kuperiksa! Kejadian seperti dulu.... tidak akan terulang lagi karena aku sudah mempelajari berbagai beladiri!" ujar Alesse sambil mengulurkan kepalan tangannya di depan cermin. Ia pun terdiam sejenak saat menatap dirinya di cermin itu.
"Apa-apaan perasaan ini? Seperti bukan diriku saja," ujar Alesse keheranan. Ia pun segera bersiap-siap dengan lebih matang dari sebelumnya. Ia pun mulai berjalan ke luar rumah menuju ke lokasi pertama yang ada di buku itu.
Setelah sampai ke lokasi pertama, ia pun langsung duduk dan menenggak air minumnya. "Sialan! Kenapa begitu melelahkan sekali? Padahal kalau dibandingkan dengan yang dulu, seharusnya jarak segini masih lebih dekat!" keluhnya.
"Ini semua gara-gara buku aneh ini! Terlalu berat!" ujar Alesse sambil menutup buku itu dengan keras. Tiba-tiba buku itu mulai mengeluarkan cahaya. Tidak lama kemudian buku itu menyusut dan masuk ke dalam ponsel Alesse.
"Apa-apaan tadi itu?" Alesse langsung memeriksa ponselnya. Ia dapat melihat semua tulisan yang ada di buku itu beserta sketsa di dalamnya.
"Argh! Kenapa tidak dari tadi?" ujar Alesse kesal. Ia pun melanjutkan perjalanannya ke letak yang lebih detail dari titik biru yang ada di peta itu. Sayangnya ia tidak mendapatkan apapun.
"Apa-apaan ini? Tidak ada apa-apa! Apakah ada yang salah dengan peta ini? Atau jangan-jangan karena ia masuk ke dalam ponsel, menjadikannya tidak akurat?" Alesse terus mencoba memperbesar peta itu namun tidak menemukan petunjuk apapun.
Tiba-tiba titik biru pada peta itu berubah menghitam layaknya titik-titik pada lokasi lainnya.
"Loh? Loh! Kenapa ini? Kenapa warna dan bentuknya berubah?" Alesse keheranan. Seketika sebuah cahaya melingkar muncul di udara.
Karena penasaran, Alesse mencoba mendekati lingkaran itu. Beberapa detik kemudian, berbagai benda pun keluar dari dalamnya menimpa Alesse.
"Argh! Apa lagi ini?" Alesse semakin kesal, ia pun segera menyingkir dari benda-benda itu dan menyadari bahwa yang menimpanya adalah barang-barang rongsokan. Cahaya yang melingkar itu pun menghilang.
__ADS_1
Alesse belum mengamati apapun mengenai cahaya itu, dan itu membuatnya kesal. Ia pun menendang barang rongsokan itu, namun tersengat listrik.
"Mengejutkan saja! Kenapa ada aliran listrik di sampah-sampah ini?" Alesse penasaran, ia pun mengorek-ngorek tumpukan sampah itu dan menemukan sebuah tongkat yang terus mengeluarkan kilatan listrik.
Ia bingung bagaimana caranya ia mengambil benda itu. Akhirnya ia melepaskan bajunya yang terlanjur kotor untuk membungkus tangannya agar tidak tersengat listrik.
Setelah berhasil dipegang, kilatan listrik itu langsung menghilang. Sayangnya tongkat itu menjadi sangat berat hingga ia menjatuhkannya.
Tongkat itu tiba-tiba mulai berubah bentuk dan membesar. Beberapa detik kemudian, benda itu sudah tampak persis seperti Alesse.
"Apa ini? Kenapa benda ini tiba-tiba berubah menjadi aku? Lalu kenapa telanjang juga?" Alesse keheranan.
"Itu karena aku hanya memindai fisik biologis dari objek saja, pakaian tidak termasuk," ujar benda itu. "Hih! Berbicara? Suaramu bahkan sama denganku! Ini lebih mengerikan daripada menatap Alex yang terus tumbuh menjadi pria dewasa," ujar Alesse.
"Individu bernama Alex tidak terdaftar di dataku, apakah Admin berkenan untuk membagi informasi tentang individu ini?" tanya benda itu.
"Apa? Admin? Kenapa kau memanggilku Admin?" tanya Alesse. "Karena Admin yang mengaktifkanku. Selaku Administrator, Admin memiliki wewenang untuk memberikan perintah apapun," ujar benda itu.
"Argh! Bahasamu jelek sekali! Tidak perlu menggunakan kata 'Alesse' ketika berbicara langsung denganku! Kita bisa menggunakan kata Kau, Kami, Kita, Kalian, dan yang lainnya!" ujar Alesse semakin kesal.
"Baiklah, perintah diterima, lalu nama apa yang akan kau berikan padaku?" tanya benda itu. Gaya bahasa yang ia gunakan semakin fleksibel dan lebih berekspresi, hal itu membuat Alesse nyaman mendengarnya.
"Hmm! Ternyata kau mudah paham beradaptasi! Kalau begitu kupanggil Jawara saja," ujar Alesse.
"Baik, Jawara. Sekarang itu adalah nama untuk unit seri A04 ini......" tiba-tiba Jawara terdiam panjang.
"Laporan ditolak! Mengulangi tindakan....." Jawara kembali diam. "Laporan ditolak! Mengulangi tindakan...." Brnda ituterus mengulangi perkataan yang sama lalu terdiam panjang.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Aneh sekali!" ujar Alesse. "Sepertinya pabrik telah memutuskan server dari unit ini. Sekarang status unit ini dinyatakan terbuang karena kondisi cacat. Apakah kau juga akan menonaktifkan unit ini?" tanya Jawara.
__ADS_1
"Memangnya bagian mana yang cacat?" tanya Alesse. "Fungsi dari unit ini adalah meniru berbagai benda yang diperintahkan Administrator melalui Neuro Transmiter, Perintah yang diberikan berupa gambaran dan pengalaman Administrator mengenai benda-benda yang ingin ditiru seperti komponennya, kerapatannya, dan massanya," ujar Jawara.
"Loh? Kenapa hal itu disebut cacat?" tanya Alesse penasaran. "Pabrik memberikan keterangan bahwa perintah menggunakan pengalaman Administrator sangat tidak efektif. Alasannya adalah karena mayoritas individu yang disebut manusia ini tidak banyak yang mempelajari tentang komponen, kerapatan, dan massa suatu benda," ujar Jawara.
"Memang sih, kebanyakan orang lain tidak tertarik mempelajari hal itu," ujar Alesse. "Jadi? Apakah kau akan menonaktifkan unit ini?" tanya Jawara.
"Tidak perlu! Ini menunjukkan bahwa hanya aku yang dapat menggunakanmu!" ujar Alesse sambil menyeringai lebar.
"Aku merasa tersanjung karena bisa digunakan," ujar Jawara. "Baiklah! Pertama, bisakah kau pindai dari sampah-sampah ini? Apakah ada barang berguna lagi?" tanya Alesse penasaran.
"Menurut pemindaian default, tidak ada yang bisa digunakan dari limbah logam ini," ujar Jawara. "Pemindaian default? Jadi aku juga bisa mengatur pemindaian yang ada padamu?" tanya Alesse. "Tentu saja, namun untuk melakukan hal itu, membutuhkan tahapan yang rumit. Inilah kenapa pabrik tidak merekomendasikan unit ini karena tidak bisa melakukan perubahan instan," ujar Jawara.
"Tenang saja! Kau belum tahu tentangku? Mari kita uji coba saja seberapa sulit menggunakanmu!" ujar Alesse. "Mode Perubahan bentuk aktif!" ujar Jawara kemudian berubah bentuk menjadi tongkat.
Tongkat itu langsung menempel di bagian punggung Alesse. "Sepertinya ini bisa dibawa kemana-mana! Bahkan bisa berubah menjadi seringan ini!" ujar Alesse. Ia pun langsung mengambil tongkat itu dan menodongkannya ke depan. Ia mencoba membayangkan komponen mesin cuci mulai dari lapisan luar, hingga berbagai kabel dan generator yang ada di dalamnya.
Akhirnya tongkat itu mulai bergetar dan berubah bentuk. Hasilnya pun sangat mengejutkan, benda itu berhasil berubah menjadi sebuah mesin cuci.
"Sepertinya ini sangat luar biasa! Jika orang-orang tahu ini, mungkin akan dianggap plagiasi produk elektronik!" ujar Alesse kemudian teringat sesuatu.
"Aku sampai lupa! Kalau seperti ini tidak mungkin bisa digunakan! Kita membutuhkan listrik!" ujarnya. "Baiklah Jawara! Sudah selesai!" ujar Alesse. Mesin cuci itu langsung kembali menjadi Jawara.
"Bagaimana? Apakah itu berhasil?" tanya Jawara. "Kau tidak bisa mengingatnya saat aku merubahmu?" tanya Alesse. "Bukan tidak ingat, benda yang kau buat tidak terdefinisi di dataku, sebenarnya apa yang kau buat?" tanya Jawara.
"Oh, itu mesin cuci," ujar Alesse. Karena sudah merasa puas, akhirnya ia mengajak Jawara pulang. Robot itu tampak tertarik saat melihat kendaraan yang terus berlalu-lalang di jalan raya.
"Alesse, sepertinya benda bernama mesin cuci ini sangat berguna bagi manusia!" ujar Jawara. tiba-tiba. Alesse sempat keheranan karena Jawara menyebutkan mesin cuci padahal ia sedang melihat mobil dan motor yang sedang berlalu-lalang.
"Jawara, kita masuk ke dalam hutan lagi sebentar!" ujar Alesse sambil menarik lengan Jawara. Kali ini ia merubah Jawara menjadi sebuah mobil.
__ADS_1
"Sudah selesai! Kau bisa kembali ke wujud aslimu," ujar Alesse. "Menurutmu, apa yang aku buat tadi?" tanya Alesse. "Mesin cuci," ujar Jawara. Alesse menepuk jidat.
"Pantas saja kau dibuang, ternyata memang serumit ini! Kau seperti bayi yang baru lahir saja! Tidak semua benda yang memiliki generator adalah mesin cuci, Jawara!" ujar Alesse. "Baiklah, akan kuingat," ujar Jawara.