
"Apakah kau harus muncul dengan cara seperti itu?" tanya Alesse, Kaa baru saja membuat barang-barang yang sudah susah payah ia tata menjadi berantakan.
"Aku sedang kegirangan! Rupanya cucuku masih hidup!" ujar Kaa. "Maksudmu gadis dalam bongkahan es itu? Kupikir Jawara sudah mencoba memindainya, ia sudah mati!" ujar Alesse. "Tidak, aku lebih percaya kemampuan Alex dalam hal ini," ujar Kaa. "Oh? Jadi dia yang menyadari bahwa gadis itu masih hidup? Yeah, mau gimana lagi? Kita tidak bisa terus mengandalkan teknologi yang masih terus berkembang ini. Pasti banyak yangvluput dari kesalahan," ujar Alesse.
Tak lama kemudian Geni masuk ke dalam kamar dengan beberapa camilan. "Sejak kapan kau berada di rumah ini? Aku tidak melihatmu dari pagi!" ujar Alesse.
"Yeah, jika aku memberitahumu, mungkin kau akan memenggal kepalaku. Aku sengaja bersembunyi sampai..... setidaknya bisa menikmati makanan ini. Aku tidak keberatan jika kepalaku terpenggal setelahnya," ujar Geni.
"Lihatlah akibat dari apa yang kau lakukan, Alesse! Tak lama lagi hingga dirimu yang lain berpikiran sepertinya! Kau harus memperlakukan orang-orang itu dengan hati-hati!" ujar Kaa mengingatkan.
"Benar sekali, Alesse! Kau harus berhati-hati! Kau tidak bisa melarang kami memakan semua ini," ujar Geni sambil terus mengunyah camilan itu.
"Baiklah, aku angkat tangan! Aku tidak peduli lagi apa yang akan kalian lakukan," ujar Alesse. "Benarkah?" Suara Gord terdengar dari luar jendela.
"Kau juga dari tadi berada di sini?" tanya Alesse. "Loh? Aku tidak tahu Geni juga berada di sini. Kupikir hanya aku yang keluar," ujar Gord tidak menyangka. "Ma... maaf, aku merahasiakannya dari kalian berdua," ujar Geni sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ini bukan candaan, Geni! Apakah kau akan terus bersikap egois seperti ini?" tegur Gord. Lagi-lagi Geni dibuat murung olehnya, ia pun menjatuhkan camilan yang sedang ia makan. Saat itu juga pakaiannya tiba-tiba berubah warna menjadi biru langit, begitu pula dengan rambut dan warna matanya.
"Kalian semua menyebalkan! Kalian pikir aku ingin hidup dengan cara seperti ini? Lalu kau siapa berhak menegurku? Kau bukan ayahku! Aku tidak punya orang tua! Selama ini aku terus menahannya karena kupikir akan baik-baik saja. Tapi bukankah kalian berlebihan? Jika kalian merasa direpotkan, merasa tidak nyaman, lalu bagaimana denganku? Apakah kalian tidak penasaran dengan perasaanku juga? Apakah perasaanku tidak perlu dipertimbangkan?" tanya Geni dengan mata yang berkaca-kaca.
Alesse, Kaa, dan Gord terdiam meskipun Geni terus berkeluh kesah. Mereka masih bingung dengan penampilan Geni yang tiba-tiba berubah drastis.
Geni pun mulai terisak dan menangis. Setiap air matanya mengalir, itu langsung berubah menjadi api biru dan mengenai matanya. Ia berkali-kali merintih kesakitan.
"Hei, Geni! Tenanglah! Air matamu akan berubah menjadi api! Berhentilah menangis!" ujar Gord, ia khawatir dengan apa yang terjadi pada Geni.
Sayangnya anak itu tidak bisa mengendalikannya. Tiap kali air mata keluar, itu membuat matanya terasa seperti kebakar. Ia terus berlarian tak terkendali karena pedih di matanya. Gord hendak menyusulnya, namun Kaa mencegatnya.
"Kalian tetaplah di sini, biar aku yang menolongnya. Bukankah kalian tidak boleh ketahuan oleh orang tua Alesse?" ujar Kaa kemudian pergi mengejar Geni yang terus berlari tanpa arah ke luar rumah.
__ADS_1
Pada akhirnya Geni berhenti di sebuah sungai, namun matanya masih terus mengeluarkan kobaran api biru. Karena rasa sakit yang terus menerus datang, ia tidak bisa berkutik lagi dan terdiam di pinggir sungai.
"Siapa di sana?" tanya Geni, kobaran api di matanya semakin menjadi-jadi, membuatnya berteriak kesakitan. "Tenanglah! Ini aku, Kaa! Kau harus tenang agar api itu bisa dikendalikan!" ujar Kaa.
"Apa yang kau inginkan? Apakah kau akan menceramahiku seperti mereka? Aku sudah muak!" ujar Geni dengan nada tinggi. Kobaran api di matanya semakin menjadi-jadi. tentu saja ia merasa kesakitan dengan itu.
Kaa pun langsung menghampirinya dan menahan kedua pundaknya. "Tenanglah, Geni.... kau bukanlah orang yang buruk. Cukup jadi dirimu sendiri, tidak perlu memaksakan diri untuk orang lain," ujar Kaa.
Caranya berbicara membuat Geni merasa tenang. Tentu saja karena Kaa sudah sering menghadapi anak-anak yang tantrum dan suka mengamuk.
Saat itulah kobaran api di mata Geni mulai redup hingga akhirnya padam. "Sudah... tidak sakit lagi!" ujar Geni terkejut. "Jika masih terasa panas, mungkin kau bisa membasuh wajahmu di sungai itu," ujar Kaa.
Geni pun mencoba untuk mengambil air dengan kedua tangannya, namun ia terkejut saat melihat pantulan wajahnya dari permukaan air.
"Si... siapa itu?" tanya Geni sambil mencoba menjauh dari permukaan air. "Itu adalah dirimu," ujar Kaa. Geni pun mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali.
"Aku tahu ini! Kau mengajakku ke bumi Abyss? Kenapa?" tanya Geni penasaran. "Ada sesuatu yang hanya bisa dilakukan olehmu, aku membutuhkan bantuanmu," ujar Kaa.
Akhirnya mereka berdua pun sampai di bumi Abyss sebelum Geni sempat menyadari perpindahan mereka. "Aku tidak pernah bisa terbiasa dengan ini," ujarnya. "Tidak perlu terbiasa, kupikir ini adalah bagian menarik dari gerbang antar dunia. Sekeliling kita yang tiba-tiba berubah sebelum kita menyadarinya, bukankah itu indah?" tanya Kaa. "Benar sekali! Lalu, kita mau ke mana?" tanya Geni. Kaa pun menunjuk bongkahan es yang menyala di kejauhan.
"Oh? Gadis es itu? Jangan-jangan..... kau ingin aku melelehkannya? Aku sering melihat film-film dan bacaan novel. Kudengar orang yang beku seperti itu bisa dihidupkan kembali asalkan bagian tubuhnya tidak ada yang rusak! Jika aku tiba-tiba melelehkannya, mungkin kita tidak bisa mengharapkan hal itu!" ujar Geni khawatir.
"Tenang saja! Gadis itu cukup tangguh meskipun terjebak di dalam sana selama bertahun-tahun!" ujar Kaa. "Dih! Kenapa kau terdengar bangga sekali? Memangnya ia siapa bagimu?" tanya Geni. "Apakah kau belum mengetahuinya? Padahal aku sering menceritakan ini pada Alesse.
"Maaf, aku bukan orang yang suka memerhatikan pembicaraan orang lain, apalagi jika itu bukanlah hal yang menarik," ujar Geni.
"Baiklah, mungkin kau bisa mengeluarkan semua kemampuanmu untuk melelehkan es itu. Maaf, mungkin kita butuh seharian untuk melelehkannya," ujar Kaa.
"Kurasa tidak akan selama itu," ujar Geni sambil tersenyum, ia dapat mengeluarkan api biru dari telapak tangannya.
__ADS_1
"Sejak kapan kau bisa mengendalikan itu?" tanya Kaa. "Kau pikir aku akan diam saja saat api terus membakar mataku? Aku juga berusaha mengendalikan dan meredupkannya," ujar Geni.
"Baiklah, jika itu memang bisa membuat pekerjaan ini lebih cepat silahkan saja," ujar Kaa. Akhirnya Geni mulai mengeluarkan api biru dari telapak tangannya ke arah bongkahan es itu.
"Kenapa itu tampak berbeda dari api yang pernah dibuat oleh pengendali api lainnya, ini tidak berkobar, ini seolah seperti air yang memancar deras dari sebuah lubang," ujar Kaa terkesan.
"Ini bukanlah api biasa, di peradaban kuno mungkin jarang kalian melihat api seperti ini, tapi di peradaban modern, api seperti ini bisa ditemui di bengkel mana saja," ujar Geni, ia bahkan dapat merubah-rubah warna api itu sesuai kehendaknya.
"Aku baru tahu warna api bisa sangat beragam," ujar Kaa. "Tentu saja, api akan berubah warna jika terdapat mineral yang menjadi bahan bakarnya dan itu juga sangat beragam. Aku hanya.... kau tahu? Meniru reaksinya saja, jadi aku tidak memerlukan mineral untuk mendapatkan warna api yang berbeda," ujar Geni, ia sendiri ragu bahwa Kaa akan mengerti apa yang coba ia jelaskan.
Lama mereka berbincang-bincang hingga tak sadar bahwa es yang ada di hadapan mereka sudah meleleh sepenuhnya, hanya tersisa gelembung air yang menyelimuti tubuh gadis itu.
"Kupikir sudah waktunya untuk membangunkannya," ujar Geni. Akhirnya Kaa mencoba menyentuh gelembung air itu dan memegang tangan Anne.
Gadis itu mulai membuka matanya, akan tetapi ia belum sadar sepenuhnya. "Anne, Selamat datang kembali!" ujar Kaa kemudian menarik lengan gadis itu, membuat gelembung air itu pecah.
"Kakek? Itukah kau? Apakah ini mimpi?" Gadis itu masih lemas. Ia langsung tertidur kembali. "Mungkin akan lebih baik dia tidur di tempat yang nyaman," ujar Geni.
"Kau benar, gadis ini harus kembali pada keluarganya, tapi......." Kaa agak ragu untuk mengajak Geni pergi bersamanya ke rumah Atlas.
"Tenang saja, aku bisa kembali ke rumah Alesse sendirian. Kau cukup mengantarkannya pada ayahnya," ujar Geni. "Terima kasih atas pengertianmu, Geni! Apakah kau yakin akan baik-baik saja saat ke sana sendirian?" tanya Kaa.
"Aku akan baik-baik saja," ujar Geni, ia hendak berbalik badan, namun tangan Anne tiba-tiba menggapai lengan kanannya. "Kau.... bukankah anak yang waktu itu? Meskipun sedikit berbeda, aku masih sangat ingat wajah itu!" ujar Anne.
"Tenanglah, Anne! Kau harus beristirahat, kita akan membicarakannya setlah kau pulih," ujar Kaa.
Akhirnya Geni pun pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali ke rumah Alesse. "Aku pulang," ujar Geni sambil membuka pintu kamar, Gord sudah menunggunya dan menyambutnya dengan pelukan. "Syukurlah kau baik-baik saja, kami sempat khawatir karena matamu terus mengobarkan api. Apakah itu sangat menyakitkan?" tanya Gord.
"Kami? Kupikir hanya kau yang mengkhawatirkanku. Alesse tidak mungkin melakukannya," ujar Geni. "Kau tidak perlu memikirkan anak itu," ujar Gord. "Aku baik-baik saja. Aku meminta maaf karena telah membuat kegaduhan, tapi...... bisakah kau berhenti memelukku? Kenapa kau selalu bersikap seperti ini padahal kau sendiri bukanlah ayahku?" tanya Geni. "Oh, maaf!" Gord pun melepaskan pelukannya. Ia merasa lega karena suasana hati Geni sudah membaik.
__ADS_1