
Seperti biasa, Alex berlatih dengan Ray hingga senja tiba. Hal itu membuat Tesla sangat kesal, bahkan seharian ini rambutnya tampak mengembang ke atas disertai kilatan listrik.
"Bisakah kita melakukan hal ini di akhir pekan saja?" tanya Alex. "Ada apa? Kau takut dengan singa betina yang terus menunggumu di pinggir lapangan itu?" tanya Ray.
"Se..... sebenarnya bukan itu yang kukhawatirkan. Setelah lama datang ke Amerika, aku menyadari bahwa diriku ini sangat kurang dalam pendidikan. Padahal kupikir akan mendapatkan pendidikan yang bagus di sini. Bukankah sekolah-sekolah terbaik berada di tempat ini?" tanya Alex.
"Tidak usah pedulikan itu! Percayalah! Sekolah adalah hal yang membosankan. Hanya duduk beberapa menit saja, kau pasti ingin beranjak keluar dari ruangan. Orang seperti kita tidak akan bisa bertahan di satu ruangan tempat bernafas puluhan orang. Kau mungkin akan menghancurkan perabotan kelas dengan tubuhmu yang tiba-tiba membesar," ujar Ray.
"Kenapa hal itu bisa terjadi? Aku tidak mengerti! Seolah tubuh ini bukanlah milikku," ujar Alex kesal.
"Percuma saja kau mengeluh seperti itu. Yang perlu kau lakukan adalah menghindari hal seperti itu terjadi. Jika kau kehilangan kendali, entah apa saja yang akan kau lakukan pada sekitarmu. Kau tidak boleh tertekan," ujar Ray.
"Bagaimana aku tidak tertekan? Yang kulakukan setiap hari hanyalah seperti ini saja! Aku butuh sesuatu yang baru! Aku ingin mengeksplorasi dunia ini! Aku ingin memuaskan semua rasa penasaranku!" ujar Alex dengan nada tinggi. Ray hanya menghela nafas pasrah.
"Mau bagaimana lagi, masa-masa remaja memang tidak bisa dihindari semua orang! Baiklah, aku akan berhenti mengajakmu latihan seperti ini. Kupikir juga kau sudah siap melakukan berbagai misi, bukan sekedar misi pada bumi ini, namun pada bumi lainnya," ujar Ray.
"Bu... bumi lainnya? Apa maksudmu? Apakah dunia lain yang pernah kau ceritakan itu? Apakah hal seperti itu benar-benar ada?" tanya Alex tidak percaya.
"Kau pikir aku bercanda?" tanya Ray. "Tentu saja! Semua hal yang kau katakan selalu dipenuhi dengan candaan! Aku bahkan tidak tahu kapan kau akan berbicara serius padaku," ujar Alex. Ray pun tertawa.
"Baiklah, maaf jika membuat kepercayaanmu padaku begitu tipis, tapi kali ini aku berbicara serius! Kemarilah, ikuti aku," ujar Ray.
"Bagaimana dengan Tesla?" tanya Alex. "Coba suruh dia pulang. Katakan padanya bahwa kau akan pergi selama beberapa hari," ujar Ray.
"Mudah sekali kau menyuruhku begitu! Kau pikir menghadapinya adalah hal yang mudah?" tanya Alex kesal. Ray menepuk bahu Alex. "Berjuanglah, anak muda!" ujar Ray kemudian pergi seolah tidak mau tahu.
"Hei! Hei! Tunggu aku!" ujar Alex. Ia pun dengan terburu-buru menghampiri Tesla yang sedang kesal.
__ADS_1
"Ma... maaf, Tesla! Ada kondisi mendesak, aku harus pergi selama beberapa hari. Kumohon, kali ini saja!" ujar Alex. "Kau mau ke mana lagi? Aku ikut denganmu!" ujar Tesla.
"Tidak bisa, Tesla! Tunggulah beberapa hari ini saja!" ujar Alex. "Itu yang selalu kau katakan! Kau pikir sudah berapa kali kau mengatakan itu padaku?" tanya Tesla. Alex pun tidak bisa menyangkalnya.
"Tapi ini benar-benar mendesak, Tesla! Sebelum Ray pergi menjauh, aku harus menyusulnya!" ujar Alex.
Tesla tampak berkaca-kaca, sudah lama ia menanti keduanya selesai berlatih, namun ia tidak pernah bisa menghabiskan waktu bersama Alex. "Aku sudah muak," ujar Tesla kemudian berbalik badan.
"Tesla, kumohon! Kali ini saja!" ujar Alex. "Pergilah! Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!" ujar Tesla.
"Tidak bisa begini, Tesla! Aku tidak ingin kau membenciku!" ujar Alex. "Pergilah! Dia sudah semakin jauh!" teriak Tesla, ia langsung menghilang dari pandangan Alex setelah berhasil menyilaukan matanya dengan kilatan petir.
Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Alex pergi menyusul Ray dengan penuh gelisah. "Ada apa dengan raut wajahmu?" tanya Ray.
"Apakah perlu ditanyakan? Kau membuatku dibenci olehnya!" ujar Alex kesal. "Biarkan seperti itu, kau tidak boleh membiarkan keegoisanmu terpenuhi hanya untuk seorang wanita. Kekuatan besar yang kau miliki bukanlah untuk kebahagiannya, masih banyak orang diluar sana yang tertindas tanpa kau sadari. Mereka lemah, tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki waktu luang, tidak sepertimu yang bisa tersenyum tiap hari karena seorang wanita. Mereka bahkan sangat kesulitan hanya sekedar untuk tersenyum," ujar Ray.
"Apakah misi kali ini adalah menyelamatkan seseorang?" tanya Alex. "Bukan seseorang, Alex! Tapi orang-orang, kita akan menolong orang-orang yang terkekang di luar sana," ujar Ray sambil berhenti melangkah.
Tentu saja Alex yang menghilangkan sikap waspadanya membuatnya tak bisa berkutik. Ia terjun ke kawah itu dengan wajah kebingungan.
"Eh? Ray? Kenapa?" Alex tidak mengerti, ia hanya mendapati wajah Ray yang berekspresi dingin sedang menatapnya dari pinggir jurang. Alex langsung memejamkan matanya, ia pikir hidupnya akan berakhir saat itu juga.
"Apakah kau tertidur? Sampai kapan kau akan terus memejamkan matamu?" tanya Ray. Alex pun segera membuka mata karena terkejut, ia tidak menyangka masih mendengar suara Ray di dekatnya. Setelahnya ia menunjukkan muka masam padanya.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau bukanlah wanita, tidak usah bersikap manis seperti itu, menjijikkan," ujar Ray. "Kukira kau hendak membuangku begitu saja, aku sempat pasrah bahwa hidupku akan segera berakhir," ujar Alex.
Ray pun tertawa. "Kau ini..... bisakah berhenti bercanda? Kupikir yang kau lakukan itu tetlalu berlebihan!" tegur Alex. "Benarkah? Kupikir anak-anak remaja sering melakukan hal seperti ini," ujar Ray.
__ADS_1
"Remaja yang mana? Di negaraku hal seperti itu bukan lagi bercanda, tapi lancang! Seharusnya kau tidak lupa dari mana aku berasal!" ujar Alex. "Baiklah, aku minta maaf. Setelah ini aku akan bersikap serius," ujar Ray, meskipun begitu wajahnya mengatakan sebaliknya. Alex menjadi sulit untuk memercayainya.
Tak lama setelah mereka berdua terus berjalan, Alex pun baru sadar kalau ia berada di lingkungan yang berbeda.
"Di mana ini? Kupikir tadi berada di tempat yang gelap dan suram, kenapa tampak sangat biru di sini ? Apakah kawah Abyss terhubung dengan bongkahan es di bawah tanah?" tanya Alex.
"Kau pikir kita berada di dalam es? Mana ada matahari di bawah tanah!" ujar Ray sambil tertawa.
"Tapi kenapa langit-langitnya berwarna biru pekat? Atau mataku yang bermasalah?" tanya Alex. "Baiklah, akan kuberitahu sekarang. Selamat datang di bumi lainnya, Alex. Atau mungkin kau bisa menyebutnya sebagai bumi Atlane," ujar Ray.
"Atlane?" Alex masih bingung. "Yeah, Atlane! Seperti kita menamai bumi kita dengan sebutan Earth, bumi ini bernama Atlane," ujar Ray.
"Jadi kita berada di planet bernama Atlane?" tanya Alex. "Planet? Maksudmu benda bulat yang biasa dibicarakan di sekolah itu?" tanya Ray.
"Aneh sekali!" ujar Alex sambil terus menatap Ray. "Apanya yang aneh? kenapa kau menatapku begitu? Ada sesuatu di tubuhku?" tanya Ray keheranan.
"Setelah kupikirkan semuanya, aku mendapatkan kesimpulan yang sangat tepat. Biar kutanyakan satu hal! Ray, pernahkah kau bersekolah?" tanya Alex. Ray pun tertawa.
"Kau serius menatapku untuk menanyakan hal itu? Tentu saja aku tidak bersekolah! Untuk apa duduk di sebuah ruangan sambil mendengarkan dongeng yang diceritakan orang-orang? Aku berasal dari bumi lain dan di sana tidak mengenal yang namanya sekolah. Yang ada hanya pendidikan untuk para bangsawan dan itupun tidak dilakukan dengan mengumpulkan banyak anak pada satu ruangan," ujar Ray.
Alex pun menepuk dahi. "Jadi, intinya kau tidak pernah bersekolah kan? Tidak kusangka aku bisa salah dalam pergaulan! Keluargaku bisa marah jika mengetahui hal ini!" ujarnya.
"Kukira bumi Earth tidak mengenal status sosial apapun, kukira tidak ada diskriminasi di sana. Kenapa keluargamu marah jika bergaul dengan orang yang tidak bersekolah?" tanya Ray.
"Ini bukan masalah status sosial atau bukan! Yang namanya orang bodoh dan orang pintar itu jelas sangat jauh perbedaannya! Siapapun bisa menyadarinya!" ujar Alex.
"Heh? Jadi kau pikir aku ini adalah orang yang bodoh?" tanya Ray. "Tepat sekali! Gelarmu saja yang tinggi di Guardian sampai orang-orang tidak menyadari betapa bodohnya dirimu," jawab Alex.
__ADS_1
"Oh! Kita sudah sampai!" seru Ray kemudian bergegas berjalan ke depan. "Hei! kau dengar aku?" tanya Alex. "Maaf, aku tetlalu fokus melihat jalan," ujar Ray, langkah kakinya terlalu cepat, membuat Alex tergesa-gesa menyusulnya.
Keduanya pun berhenti setelah seseorang datang menghampiri mereka. Alex benar-benar terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya. Wajahnya benar-benar tidak asing, membuatnya merasa bernostalgia. "Alesse?" ia mencoba memastikan.