Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pergi


__ADS_3

Berbulan-bulan mereka tak kunjung mengetahui keberadaan Alesse. Gord pun merasa tidak nyaman karena terus tinggal di rumah itu, ia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan sesuatu yang dapat memberikan kejelasan tentang keberadaan Alesse.


Pada akhirnya hal yang terbesit dalam pikirannya adalah pergi menuju ke dunia lainnya, mencari kebenaran tentang keberadaan Alesse.


Sayangnya ia tidak tahu apa yang harus ia katakan agar Andin dan Hendra mengizinkannya pergi.


Pada akhirnya saat makan malam tiba, karena wajah gelisahnya Hendra pun berhenti makan. "Ada apa Gord? kenapa kau tampak sangat gelisah?" tanya Hendra.


"Ma... maaf karena membuatmu kehilangan selera makan, mungkin memang sebaiknya aku makan di kamar saja," ujar Gord kemudian beranjak dari kursinya.


"Tidak perlu, Gord! Beritahu kami saja. Apa masalahmu?" tanya Hendra. "Kupikir sebaiknya kami mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Alesse. Tapi kami tidak bisa mencari tahu di bumi ini," ujar Gord.


"Maksudmu, kau akan pergi dari rumah ini?" tanya Andin. "Benar sekali! Kupikir ini adalah satu-satunya cara, setidaknya kami ingin berusaha mencari tahu daripada menghabiskan waktu terlalu lama di rumah ini," ujar Gord.


Sayangnya Andin tampak tidak setuju dengan keinginannya, ia tidak ingin hal buruk menimpa tubuh Alesse dan semakin memperburuk keadaan.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin! Jika memang tidak berhasil, kami akan kembali dan menunggu seperti yang selama ini kami lakukan," ujar Gord.


"Mungkin itu yang terbaik, sayang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika hanya terus menunggu," ujar Hendra.


"Tapi....," Andin masih tidak bisa merelakannya. "Aku akan berjanji untuk terus melindungi tubuh ini! percayalah," ujar Gord. Akhirnya Andin pun mengiyakannya.


"Kau sudah merencanakan hal itu dengan jiwa lainnya?" tanya Hendra. "Sudah, kami bahkan berdiskusi dengan Baraq melalui tulisan, meskipun sebenarnya agak sulit untuk berbicara dengan Aqua, ia tidak pernah membalas tulisanku," ujar Gord.


"Jika kau bisa mempertanggungjawabkan perkataanmu itu, maka aku akan mengizinkanmu pergi," ujar Hendra. "Percayalah, jika kami tidak menemukan petunjuk apapun, kami akan kembali lagi ke sini dan menunggu bersama kalian," ujar Gord.


Setelah Andin dan Hendra merasa yakin, akhirnya keduanya membiarkan Gord pergi dari rumah. Ia pergi menuju bukit Balai Hitam tempat Alesse biasa pergi ke antar bumi lainnya.


Ia pun langsung terjun ke dalam retakan Abyss dan berakhir di dunia yang sangat redup. "Meskipun ini kedua kalinya, ini sangat menyeramkan," ujar Gord sambil terus melangkah, mencari gubuk penanda yang digunakan Alesse sebagai tempat gerbang antar dunia muncul.


Akan tetapi baru beberapa langkah ia berjalan, ia menemukan banyak sekali mayat berserakan. Antara manusia dan monster-monster iblis, mereka semua tampak tergeletak dengan luka sayatan.

__ADS_1


"Ini bukan tebasan pedang! Orang gila mana yang tak lelah menggunakan pisau untuk membunuh ratusan orang ini?" Gord benar-benar keheranan. Akhirnya ia berusaha waspada di area sekitar sambil terus berjalan menuju gubuk penanda itu.


Akhirnya setelah seharian berjalan, ia berhasil menemukannya, namun ia tampak begitu kelelahan hingga jatuh tergeletak di depan gubuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rasya membuka matanya, ia sedang terbaring di hamparan rumput yang lembab. Ia tidak tahu harus melakukan apa dan memutuskan untuk berjalan lurus.


Setelah terus berjalan, ia menjumpai beberapa orang dalam perjalanan. Ia pun menghampiri rombongan itu untuk bertanya.


"Ada apa anak muda? Apa yang membuat pemuda rupawan sepertimu tampak kegelisahan?" tanya salah seorang. Romobongan itu tampak terkagum-kagum dengan wajah Rasya yang tampan.


Rasya masih terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak bisa langsung mengatakan bahwa dirinya hendak mencari cara agar Alesse bisa kembali ke tubuhnya, hal itu hanya akan membuat orang-orang kebingungan.


"Jika ragu apakah kami bisa menjawab pertanyaanmu, kau bisa membawakan pertanyaanmu itu pada sang Pertapa. Ia mengetahui segala hal. Bahkan jika kau mencari cincin yang ada di dasar lautan, ia akan menunjukkan jalannya padamu," ujar salah seorang dari rombongan.


Rasya malah semakin ragu dengan rekomendasi rombongan itu, akhirnya ia pun pergi meninggalkan mereka setelah membagikan mawar.


"Huh! Perumpamaan mereka berlebihan sekali! Bahkan bisa menunjukkan cincin di dasar lautan? Omong kosong sekali! kalau itu benar, dunia ini mungkin sudah hancur besok," ujarnya. Ia pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah pemukiman.


"Wahai pemuda, sebaiknya kau pergi dari sini," ujarnya. "Heh? Kenapa begitu? Sia-sia wajah tampanmu jika kau mengusir tamu di hari pertama," ujar Rasya sambil memegangi tangan pria itu.


Wajah pria itu menjadi semakin pucat, tatapan Rasya dengan ekspresi aneh itu tampak mengerikan baginya, ia pun langsung berlari meninggalkannya.


"Hmm, pria tidak tahu diri! Mereka bisa seenaknya menatap gadis seperti itu, setelah ditatap dengan cara yang sama mereka ketakutan? Pada akhirnya laki-laki dan perempuan sama saja," ujarnya.


Tak lama kemudian seorang gadis cantik datang berlalu di hadapan Rasya, membuat kelopak mawar yang ada di kepalanya berguguran.


Gadis itu pun berhenti berjalan lantaran melihat kelopak mawar beterbangan di sekitarnya. Ia pun menengadahkan tangannya untuk mendapatkan selembar kelopak mawar itu.


"Wahai gadis cantik, wajahmu seindah mawar yang beterbangan ini," ujar Rasya sambil memegangi tangan gadis itu. Seketika sang gadis tersipu malu, apalagi ia terpana dengan ketampanan Rasya.

__ADS_1


Rasya langsung merubah kelopak mawar yang ada di tangan gadis itu menjadi sekuncup mawar. "Wah! Cantik sekali!" seru gadis itu kegirangan. "Benar sekali! Secantik dirimu," ujar Rasya sambil mencium tangan gadis itu.


"Hei! Apa yang sedang kau lakukan pada tunanganku?" tanya salah seorang pria dengan suara berat. Saat orang-orang mulai berwajah pucat karena takut pria berbadan besar itu berulah, Rasya justru tampak tenang sambil menatapnya dari atas sampai bawah.


"Wah! Sungguh pria yang jantan sekali," ujar Rasya. Pria itu tidak sadar kalau Rasya sedang menjabat tangannya. "Tanganmu sangat kekar sekali! Bagaimana caranya agar bisa memiliki tubuh seperti ini?" tanya Rasya sambil meraba-raba lengan hingga perut pria itu.


Seketika itu juga pria itu memukul wajahnya, membuat hidungnya berdarah. Sayangnya Rasya tampak tidak jera, ia justru bangkit sambil tersenyum pada pria itu.


"Hish! Apa-apaan pemuda ini? Kenapa dia tersenyum padaku?" Pria besar itu tampak merinding saat Rasya semakin dekat menatapnya.


"Kau..... sangat kuat ya," ujar Rasya sambil mengusap-usap kepalan tangan pria itu. Pria itu semakin berkeringat, ia pun segera mengajak tunangannya untuk pergi. "Jangan dekat-dekat pemuda itu! Dia benar-benar mesum!" ujarnya, membuat semua warga menjaga jarak dari Rasya.


Hingga larut malam tiba, pada akhirnya Rasya tidak menemukan apapun. Ia berhenti di sebuah hutan dan mencoba tidur di sebuah batang pohon. Ia menggunakan tanaman merambat untuk melilit dirinya agar tidak terjatuh.


Keesokan harinya Gord mengambil alih tubuh Rasya. Karena tubuhnya lebih besar, lilitan dari tanaman merambat itu menjadi sangat kencang.


Beberapa wanita yang hendak mandi di sungai sekilas melihatnya masih tak sadarkan diri dengan tubuh terlilit tanaman.


Bukannya menolong, para wanita malah menikmati pemandangan itu. Mereka saling berbisik-bisik hingga tertawa.


Akhirnya Gord pun terbangun karena suara tawaan mereka. "Loh? Kenapa aku mengambil alih tubuh ini lagi?" Gord masih kebingungan, apalagi saat ini tubuhnya sudah dalam posisi terbalik dan terjerat tanaman rambat itu.


"Wah, lihat! Sangat erotis sekali! Tubuh pria itu lumayan juga!" bisik salah seorang wanita. Akhirnya pandangan Gord semakin jelas, ia tidka menyangka sedang menjadi tontonan banyak wanita yang hendak mandi.


"Hei! Hei! Apa yang terjadi di sini! Tolong! Tolong aku!" ujar Gord panik, sayangnya ia berhenti berteriak karena melihat senyuman para wanita itu. Mereka terus menikmati penderitaannya di atas pohon.


Tak lama kemudian seorang pria pun datang. "Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian berhenti di sini?" tanya pria itu. Para wanita tidak menjawab, mereka langsung berlalu menuju ke sungai.


Saat memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, pria itu pun menepuk jidat lantaran melihat kondisi Gord yang sangat konyol. "Kenapa kau bisa terjerat di atas sana? Siapa yang berbuat iseng seperti ini?" tanya pria itu.


Gord tak bisa menjawab, lehernya tercekik oleh tanaman itu hingga membuatnya terasa pusing dan panas.

__ADS_1


"Hei! Kau baik-baik saja kah?" tanya pria itu kemudian segera memanjat pohon. Setelah ia memotong tanaman itu, Gord langsung terjatuh ke tanah karena lemas.


Pria itu pun menghampirinya. "Hei! Bertahanlah!" ujarnya panik lalu menggantungkan lengan kanan Gord di bahunya untuk membantunya berdiri.


__ADS_2