Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kaa


__ADS_3

Mereka berempat terdiam saat melihat wajah yang tampak tidak asing bagi mereka. Mereka masih bingung dengan suasana itu dan memilih diam sambil memperhatikan anak itu.


"Alesse? Siapa itu?" tanya anak itu keheranan, ia pun melirik ke arah Probe. "Wah! Siapa ini? Wajahnya sangat mirip denganku!" ujar anak itu.


"Alesse! Kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tak kunjung pulang setengah tahun lamanya?" tanya Sandy sambil mengguncang-guncang tubuh anak itu.


"Benar sekali! Apa yang kau lakukan di sini? Lalu benda apa yang ada di kepalamu itu?" tanya Salsha.


"Apakah itu... sayap? Kenapa ada sayap kecil di kepalamu? Apalagi cuma satu," ujar Sanay keheranan.


Anak itu segera menyingkirkan tangan Sandy dari tubuhnya. "Tunggu dulu! Memangnya kalian mengenalku? Kalian siapa?" tanya anak itu keheranan.


"Ini kami! Teman-temanmu!" ujar Sandy. "Biar kuluruskan! Sepertinya kalian salah orang! Namaku Kaa, bukan Alesse," ujar anak itu.


"Omong kosong apa ini? Kau jelas-jelas Alesse!" ujar Sandy. "Apa jangan-jangan.... kau hilang ingatan?" tanya Sanay.


"Dia memang bukan Alesse, kalian salah orang," ujar Probe. "Apa maksudmu Probe? Lihatlah! Wajahnya sama persis denganmu! Mana mungkin bukan Alesse!" ujar Sandy.


"Aku tahu kalau wajahnya memang benar-benar mirip, tapi dia bukan Alesse! Sama sekali bukan Alesse! DNA nya tidak menunjukkan kecocokan dengan DNA Alesse," ujar Probe.


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan, namun aku bukanlah orang yang kalian kenal. Namaku Kaa, aku sedang mencari orang yang meninggal secara tidak wajar. Ia mati membeku," ujar anak itu.


"Namamu Kaa? Nama yang aneh sekali!" ujar Salsha. "Jika kau mencari orang yang mati membeku, bukankah gadis itu juga mati membeku?" tanya Probe sambil menunjuk bongkahan es yang bercahaya itu.


"Aku tahu! Tapi menurut bukuku bukan gadis itu, dia bukan seorang Chron," ujar Kaa. "Chron? Apalagi itu?" tanya Sandy keheranan. Akhirnya Kaa menjelaskan panjang lebar.


"Jadi maksudmu gadis ini bukan Chron?" tanya Sandy. "Benar sekali, seharusnya Chron punya benda seperti sebuah catatan, contohnya seperti buku milikku ini," ujar Kaa sambil menunjukkan buku kusam miliknya.

__ADS_1


"Tunggu dulu! Buku itu..... Alesse juga memilikinya!" seru Sanay. "Buku seperti ini? Kau yakin?" tanya Kaa. "Benar sekali! Hampir sama, namun miliknya lebih tebal," jawab Sanay.


"Memangnya apa isi dari buku kusam itu?" tanya Salsha. "Entahlah, tulisannya tidak bisa kubaca, aku juga tidak tahu aksara apa yang digunakan dalam buku itu," ujar Sanay.


"Memang buku seperti ini hanya bisa dibaca oleh pemiliknya, orang lain tidak bisa membacanya," ujar Kaa. "Aku jadi ingin bertemu dengan teman kalian itu," ujar Kaa.


"Sayangnya ia menghilang sejak lama, kami belum pernah menemukannya," ujar Sandy. "Apakah teman kalian ini menghilang sejak tujuh tahun yang lalu? Kalau iya, sudah dipastikan ia meninggal karena beku dalam es," ujar Kaa.


Sandy tampak emosi saat Kaa mengatakan hal itu. "Teman kami belum mati! Lalu apa katamu? Tujuh tahun yang lalu? Omong kosong! Bahkan lima bulan yang lalu kami masih sempat berbicara dengannya!" ujar Sandy dengan suara keras.


"Tapi tunggu dulu! Tujuh tahun yang lalu? membeku dalam es? Alesse juga pernah mengalami hal itu!" seru Probe.


"Apa maksudmu Probe?" tanya Sandy keheranan. "Kalian tahu kan? Alesse dua tahun lebih tua dari kalian. Ia mengalami koma selama dua tahun setelah ditemukan terjebak dalam es tujuh tahun yang lalu," ujar Probe.


"Whoa, kebetulan yang tidak terduga sekali! Kalau begitu teman kalian bukanlah orang yang sedang kucari, orang yang kucari sudah mati. Ia hanya memiliki nasib yang sama, terjebak dalam es," ujar Kaa. Ia pun pergi setelah tidak tertarik dengan mereka lagi.


"Baru lima bulan saja kalian sudah meributkannya, aku yang mencari orang mati selama tujuh tahun ini juga biasa-biasa saja kok," ujar Kaa.


"Sepertinya berbeda dengan tempatmu, di tempat kami, menghilang dalam sepekan tanpa kabar itu bukanlah hal yang wajar. Melihat pakaian yang sedang kau kenakan, peradaban di tempatmu dengan tempat kami sangat berbeda jauh, di tempat kami, untuk memberikan informasi dari ujung timur hingga ujung barat hanya membutuhkan waktu sekejap mata," ujar Probe.


"Heh? Benarkah? Berarti kalian bukan berasal dari sini? Kupikir si pria berbadan besar itu adalah ras Dracal loh," ujar Kaa.


"Ras Dracal? Apa itu?" tanya Sandy penasaran. "Kau tidak tahu? Ras Dracal adalah ras manusia bertanduk," ujar Kaa.


"Kau bisa melihat tanduk yang selama ini kusembunyikan?" tanya Sandy terkesan. "Tidak juga, tapi aku sangat paham ciri-ciri dari ras Dracal," ujar Kaa.


"Ras Dracal, sepertinya banyak yang tidak aku ketahui tentang diriku sendiri," ujar Sandy. "Aku juga sempat terkesan karena menyaksikan manusia iblis dan manusia biasa berteman. Normalnya mereka akan saling berselisih," ujar Kaa.

__ADS_1


"Manusia iblis dan manusia biasa? Jadi maksudmu Sandy adalah manusia iblis sedangkan aku dan Salsha adalah manusia biasa?" tanya Sanay.


"Benar sekali! Jangan-jangan kalian semau juga tidak tahu?" tanya Kaa. "Tentu saja! Di tempat kami tidak ada perbedaan ras yang aneh seperti itu," ujar Sandy.


"Yeah, Dracal memang manusia iblis yang paling mudah berbaur dengan manusia biasa, ia hanya perlu menyembunyikan tanduknya. Lain ceritanya jika itu adalah manusia setengah binatang, penampilan mereka berbeda jauh," ujar Kaa.


"Ras manusia setengah binatang? Sepertinya banyak sekali ras yang tidak kami ketahui!" ujar Probe, ia tampak antusias mendengarkan pembicaraan Kaa.


"Kau ini jenis manusia yang aneh! Aku tidak pernah melihat manusia sepertimu! Kau ini ras apa?" tanya Kaa pada Probe. "Dia bukan manusia," ujar Sanay.


"Loh? Kalau bukan manusia, terus apa?" tanya Kaa keheranan. "Dia hanya lempengan besi," ujar Sandy sambil membuka laci yang ada di perut Probe.


"Kaktus? Sepertinya memang banyak hal yang tidak kuketahui juga dari kalian! Aku ingin mendengar cerita lebih banyak!" seru Kaa.


"Tunggu dulu! Kau belum menceritakan pada kami soal ras-ras yang ada di dunia ini!" ujar Probe.


"Oh, itu! Sepertinya kalian juga perlu tahu dari dasarnya! Sebenarnya manusia ini dibagi menjadi dua, manusia iblis dan manusia biasa. Pada manusia biasa ada beberapa ras, seperti manusia normal, Elf, Dwarf, dan Titan. Sedangkan ras yang ada pada manusia iblis adalah Dracal, Dark Elf, Vey, dan manusia setengah binatang," ujar Kaa.


"Banyak hal yang tidak kita ketahui di antah berantah ini, pantas saja Alesse tidak kunjung pulang! Ia pasti menggila dan terus mencari tahu," ujar Sanay.


"Berarti, kemungkinan Alesse baik-baik saja! Mungkin kita bisa kembali tanpa mencemaskannya," ujar Probe. "Tapi tetap saja akan susah untuk menghadapi Alex, tidak mungkin kau selamanya menyamar menjadi dirinya," ujar Sandy.


"Benar sekali! Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Probe. Ketiga anak lainnya langsung melirik ke arah Kaa.


"Daripada menyibukkan diri untuk mencari mayat selama bertahun-tahun, bukankah alangkah baiknya kau ikut dengan kami? Kau bisa menyamar menjadi Alesse dengan sempurna," ujar Sandy.


"Benar sekali! Dia manusia, lebih efektif daripada lempengan logam. Alex sudah pasti terkelabui," ujar Salsha.

__ADS_1


"Eh? Klian ingin aku melakukan apa?" tanya Kaa. "Menyamar menjadi Alesse! Kau bisa kan? kau tidak ada kerjaan kan?" tanya Sandy. Kaa tidak bisa menyangkal perkataannya, dengan terpaksa, ia pun ikut bersama mereka berempat.


__ADS_2