Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
The Red Hoodie


__ADS_3

"Apakah mereka gila? Lihatlah kerumunan ini!" ujar Alesse terkejut. Ia tidak menyangka keramaian yang ditimbulkan oleh satu orang dapat membuat kepadatan dalam radius satu kilometer.


"Sepertinya penggemar anak itu sangatlah banyak!" ujar Jawara. "Ayo Jawara! Kita harus menghampirinya lebih dekat!" ujar Alesse, Ia pun keluar dari Levy.


"Jawara, apakah kau bisa membuat tubuh yang terpisah dari Levy? Sepertinya melihatmu terus berubah dari bentuk manusia ke bentuk Levy itu sangat merepotkan! Kita harus bersembunyi di tempat yang sepi hanya untuk memberimu waktu saat berubah," keluh Alesse.


"Tidak bisa, Jawara dan Levy adalah unit yang berbeda, bukan satu kesatuan. Levy dirancang dengan sistem mekanik sedangkan Jawara dirancang menyerupai organisme manusia," ujar Jawara.


"Heh? Membosankan!" keluh Alesse. "Aku sarankan kau buat unit terpisah untuk Levy ini, tidak menggunakan partikelku," ujar Jawara.


"Benar sekali! Meskipun ini tidak di bumi, sepertinya alat elektronik di sini lebih canggih!" seru Alesse. Secara tidak sadar, ia sudah terpisah dari Jawara karena kerumunan orang-orang.


"Argh! Kenapa jadi begini?" Alesse kesal, ia pun mencoba untuk mendekati orang yang dijuluki Hoodie Merah itu.


Sayangnya setelah beberapa jam berdesak-desakan dengan keramaian, ia tak kunjung sampai ke tempat anak itu, melainkan semakin menjauh karena orang-orang terus mendorongnya ke belakang. Akhirnya ia pun duduk di sisi jalan untuk beristirahat.


"Ada apa Alesse? Kau tampak letih begitu," ujar Jawara. "Orang-orang mendorongku ke sana kemari, membuatku tak berdaya," ujar Alesse dengan nafas terputus-putus.


"Kalau kau mau, aku bisa membuka jalan untukmu," ujar Jawara. "Gimana caranya?" tanya Alesse. "Tubuhku ini sangat kuat, mereka tidak akan mampu mendorongku ke belakang. Jika aku terus maju, sedangkan kau tetap berada di belakangku, mungkin kita bisa sampai ke tempat anak itu," ujar Jawara.


"Kalau sampai ada orang yang terinjak olehmu bisa bahaya!" ujar Alesse. "Tenang saja, aku akan berusaha berhati-hati," ujar Jawara.


Akhirnya Alesse pun berjalan di belakang Jawara. Ternyata tidak semudah yang ia kira, ia masih harus berpegangan pada pinggang Jawara kuat-kuat agar tidak terlepas darinya.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua tidak mendapati anak itu. "Kemana perginya bocah itu? Kukira ada di sini tadi!" ujar Alesse kesal.


"Sepertinya ia memiliki jadwal wawancara di sebuah restoran. Ia baru pergi sekitar lima menit yang lalu," ujar Jawara.


"Argh! Yang benar saja! Kita masih harus keluar dari kerumunan ini agar kau bisa berubah menjadi Levy tanpa ada yang melihat!" keluh Alesse.


"Maafkan aku, sebaiknya kau berusaha untuk bertahan beberapa menit lagi," ujar Jawara. "Hmm! Baiklah!" ujar Alesse pasrah.


Setelah keluar dari keramaian, mereka berdua pun langsung pergi menuju ke restoran. Mereka sampai sebelum Si Hoodie Merah itu datang.


"Nah, dengan begini kita bisa langsung bertemu dengannya!" seru Alesse. Ia pun menunggu hingga keramaian datang.


"Alesse, sepertinya remaja itu juga memiliki wajah yang sama denganmu," ujar Jawara. "Serius? Dulu si Gadis Berjubah Biru mirip denganku, sekarang Si Hoodie Merah juga mirip denganku?" Alesse tidak percaya.


Si Hoodie Merah itu langsung menuju ke meja dapur sebagai pembukaan. Ia memulai sebuah trik dengan menyalakan kompor lalu mengendalikan api itu sehingga melayang di udara layaknya seekor naga.


Orang-orang pun bertepuk tangan meriah. "Heh? Elementalist api? Baru kali ini aku melihatnya secara langsung! Di Atlane aku belum pernah menemukan Elementalist api," ujar Alesse.

__ADS_1


Saat Si Hoodie Merah itu meminta untuk diambilkan pisau, tiba-tiba salah seorang langsung datang dengan pisau di tangannya, namun ia malah menikam perut Si Hoodie Merah itu lalu melarikan diri. Semua orang tampak heboh melihatnya.


"Akhirnya hal seperti ini terjadi juga! Jawara, bawa remaja itu pergi bersamaku!" ujar Alesse. Ia merubah sepatunya menjadi sepatu roda lalu meluncur ke luar restoran.


Jawara langsung mengangkat tubuh Si Hoodie Merah yang tak berdaya itu dan mengikuti Alesse keluar restoran.


Orang-orang terus mengejar mereka berdua. "Alesse, sepertinya kita akan terkejar! Lebih baik aku mengangkat tubuhmu juga," ujar Jawara.


"Baiklah," ujar Alesse. Jawara pun mengangkat Alesse dengan tangan kirinya lalu berlari dengan cepat.


Ia langsung bersembunyi di gang sempit lalu berubah menjadi Levy. Alesse pun segera memasukkan remaja itu ke dalam Levy.


"Akhirnya kita berhasil lolos dari mereka!" ujar Alesse lega. Sayangnya remaja itu terus menarik lengan bajunya, membuatnya ikut berlumuran darah.


"Sepertinya dia sekarat," ujar Jawara. Alesse pun membaringkan remaja itu pada sebuah meja.


"Sepertinya perlu banyak jahitan di perutnya. Darahnya sudah menggenang di mana-mana," ujar Alesse.


Ia pun mulai membersihkan badannya lalu memakai pakaian baru, setelah itu ia mengambil beberapa peralatan operasi dan meletakkannya pada sebuah meja kecil.


"Kita mulai sekarang, Jawara!" ujarnya. Seketika lengan-lengan besi bermunculan dari atap, membantu Alesse mengoperasi luka Si Hoodie Merah.


Sepuluh menit berlalu, Alesse berhasil membersihkan genangan darah dan menjahit luka dari pisau itu.


Remaja itu terus memandangi wajahnya selama beberapa detik. "Siapa kau? Kenapa wajahmu......" Remaja itu tidak bisa melanjutkan perkataannya karena luka di perutnya masih terasa.


"Aku bukan siapa-siapa, yang penting lukamu sekarang sudah dijahit, seharusnya itu akan sembuh dalam beberapa hari," ujar Alesse.


"Aneh sekali! Ini tidak sesuai dengan takdir yang dituliskan di buku kusam!" ujar remaja itu. "Buku kusam? Kau memilikinya juga?" tanya Alesse penasaran.


"Tentu saja, aku selalu membawanya ke mana-mana," ujar remaja itu. Ia pun mengambil tas yang ada di sisinya lalu menunjukkan buku itu.


"Kau tidak akan bisa membacanya, hanya aku yang bisa membaca ini," ujar remaja itu. "Aku tahu, aku juga memiliki buku yang sama seperti itu," ujar Alesse sambil menunjukkan ponselnya.


"Itu... ponsel? Kukira buku," ujar remaja itu. "Tidak, ini memang buku," ujar Alesse. Layar ponselnya pun mulai bercahaya sedangkan buku kusam itu keluar darinya.


"Wah! Itu terlihat sama persis! Kita memiliki banyak kesamaan yah! Siapa namamu?" tanya remaja itu.


"Alesse, namaku Alesse," jawab Alesse. "Begitu kah? Alesse? Namaku Geni, salam kenal," ujar remaja itu kemudian kembali tertidur.


"Sepertinya ia kehabisan banyak darah, hal itu membuatnya menjadi sangat lemah," ujar Jawara.

__ADS_1


Alesse pun duduk termenung,ia mencoba membuka buku kusam milik Geni, namun tetap tidak bisa membacanya. Ia mencoba berpikir tentang arti dari semua fenomena ini, ia masih bertanya-tanya kenapa ia memiliki buku kusam yang menceritakan kisah mereka.


"Tidak ada hal yang istimewa dari buku ini!" ujar Alesse sambil mencoba menutup buku itu, namun tak kunjung tertutup.


"Ada apa, Alesse?" tanya Jawara. "Ini.... tidak mau tertutup! Aneh sekali!" ujar Alesse. Buku itu pun terbuka lebar dengan cahaya menyilaukan dari dalamnya. Seketika tubuh Geni tertarik ke dalamnya hingga tak tersisa.


"Whoa! Kemana perginya remaja itu?" Alesse keheranan. "Semua partikel tubuhnya terserap ke dalam buku itu! Aku tidak tahu apa artinya ini," ujar Jawara.


Buku itu pun langsung menghampiri Alesse dan masuk ke dalam tubuhnya lalu lenyap begitu saja.


"Apa yang terjadi, Alesse? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Jawara. "Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut karena buku kusam itu tiba-tiba menembus ke dalam tubuhku," jawab Alesse.


"Apa maksudnya ini? Kejadian di Atlane berulang lagi di sini, buku milik mereka langsung lenyap setelah masuk ke dalam tubuhmu," ujar Jawara. Ia bahkan menunjukkan citra gambar saat buku itu perlahan-lahan menembus ke dalam kulit Alesse lalu lenyap seperti gula yang larut dalam air.


"Apakah benar terlihat seperti ini pada sensormu? Aneh sekali! Padahal aku tidak merasakan apapun selain merinding," ujar Alesse.


"Permisi? Kalian siapa? Kenapa aku berada di dalam ruangan aneh ini?" tanya seorang remaja berwajah suram. Alesse langsung terkejut melihat wajah pucatnya.


Remaja itu paham persis kalau Alesse sempat ketakutan melihat wajahnya, ia pun menutupi kepala dengan Hoodie Merah yang ia kenakan agar wajahnya tidak terlihat.


"Jawara, bukankah yang seharusnya di sini adalah Si Hoodie Merah? Kenapa ada orang lain di sini?" bisik Alesse. "Aku juga tidak tahu bagaimana remaja itu muncul di dalam sini," bisik Jawara.


"Ehm, anggap saja kami sedang memberimu tumpangan gratis! Di mana rumahmu?" tanya Alesse.


Remaja itu pun menyebutkan alamat rumahnya. "Bukankah ini alamat Si Hoodie Merah?" bisik Alesse kepada Jawara. "Entahlah, sebaiknya kita antarkan saja ia ke alamat itu," saran Jawara.


Akhirnya Alesse menerbangkan Levy hingga ke alamat tujuan. "Loh? Rumah besar itu tidak ada? Kemana perginya?" Alesse keheranan.


"Itu rumahku," ujar remaja itu sambil menunjuk sebuah rumah sederhana di pinggir jalan gang. Akhirnya Alesse mempersilahkannya untuk turun.


"Jangan katakan pada siapapun bahwa kau pernah menaiki kamar terbang ini, oke!" ujar Alesse kepada remaja itu. "Tenang saja, aku tidak memiliki siapapun untuk mendengarkan ceritaku," ujar remaja itu kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Benar-benar aneh! Padahal aku yakin bahwa rumah mewah itu ada di sini! Bukankah kita juga memasukinya?" tanya Alesse, ia masih tidak mengerti apa yang terjadi.


"Sepertinya ada yang baru saja berubah! Informasi tentang ketenaran Legenda Hoodie Merah telah hilang! Aku menelusuri beberapa kata kunci di mesin pencarian, namun tidak menemukan apapun tentang Legenda Hoodie Merah di bidang olahraga, ataupun acara memasak. Legenda Hoodie Merah hanya ditemukan di situs permainan, bahkan wajahnya tidak tertera di sini! Hanya sebuah profil anonim," ujar Jawara.


"Maksudmu dunia ini berubah?" tanya Alesse. "Mungkin saja, bersamaan dengan lenyapnya Si Hoodie Merah yang kita kenali, sepertinya hal-hal yang berkaitan dengan Legenda Hoodie Merah di sini menghilang," ujar Jawara.


"Mungkin saja remaja tari adalah Hoodie Merah pengganti? Keadaannya sangat sesuai dengan cerita yang disebutkan dalam buku kusamku! Wajahnya pucat seperti tidak pernah terkena sinar matahari, lalu ia hanya seorang maniak gamer, ia tidak tertarik dengan hal-hal lain! Sepertinya begitu!" Alesse menyimpulkan.


"Kasus yang sama dengan seorang gadis yang tiba-tiba bersama dengan kita di dekat pelabuhan, sepertinya ia juga gadis berjubah biru pengganti," ujar Jawara.

__ADS_1


"Hmm! Sepertinya aku tahu sebagian besar dari fenomena ini! Mungkin keberadaan kita membuat cerita tentang mereka berubah sesuai dengan isi buku kusamku!" ujar Alesse.


"Jika demikian, apa rencanamu?" tanya Jawara. Alesse pun mencoba memeriksa buku kusamnya. "Ada empat cerita lagi! Mungkin kita akan menemukan fenomena seperti itu empat kali lagi! Untuk saat ini kita ikuti saja arahan dari buku kusam ini! Lihatlah, titik hitam di peta Nova pun muncul! Sepertinya ini bisa mengarahkan kita untuk pulang ke rumah!" seru Alesse.


__ADS_2