Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Busur es


__ADS_3

"Hari ini rasanya sangat malas," ujar Alesse. "Sepertinya tinggi badanmu sudah kembali normal," ujar Jawara. "Benarkah? Syukurlah jika begitu," ujar Alesse sambil merebahkan diri di lantai kamarnya.


"Kau akan masuk angin jika terlalu lama berbaring di bawah situ," ujar Jawara. "Ini sangat nyaman karena dingin! Aku jadi ingin ke kulkas," ujar Alesse sambil beranjak dari posisi tidurnya.


Ia tidak sengaja menatap cermin dan mendapati perubahan pada wajahnya. "Yah, ini bukan kembali seperti semula. Ini tubuh Aqua, bukan tubuhku," ujar Alesse, ia tampak biasa saja seolah sudah memprediksinya.


Karena tidak peduli, ia pun langsung pergi menuju kulkas dan membuka pintunya. Ia langsung memasukkan kepalanya pada sebuah kotak dalam kulkas itu.


"Alesse, apa yang kau lakukan? Itu berbahaya," ujar Jawara. "Bisakah kau diam sebentar? Aku ingin berada di sini lebih lama," ujar Alesse dengan lemas.


Beberapa menit kemudian Andin datang dan terkejut. "Ya ampun Alesse! Sedang apa kau di situ?" tanya Andin sambil segera mengeluarkan kepala Alesse dari kulkas.


"Aku ingin sesuatu yang dingin," ujar Alesse. "Aduh! Tubuhmu panas sekali! Sepertinya demam! Lalu, sejak kapan kau menyemir rambutmu lagi? Kemarin merah, sekarang biru. Besok-besok saat berangkat sekolah jangan berpenampilan seperti ini loh!" tegur Andin. Ia pun menelepon Hendra untuk membawa Alesse periksa di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Alesse menjumpai Irawan yang juga sedang periksa. "Loh? Ada apa ini? Orang yang mengoperasi lambungku juga butuh ke rumah sakit, kukira kau tidak butuh bantuan orang lain, semoga saja kau bisa cepat dewasa setelah mengalami hal ini," ujar Irawan.


"Oh, Irawan! Kau di sini juga?" sapa Hendra. "Begitulah, tidak kusangka akan bertemu dengan Alesse lagi di sini. Ngomong-ngomong kenapa ia datang ke sini?" tanya Hendra.


"Entahlah, Andin menemukannya sedang tidur dengan kepala masuk ke dalam lemari es," ujar Hendra.


"Hobimu aneh sekali, Alesse! Lalu sejak kapan kau memperhatikan penampilanmu? Sampai menyemir rambutmu segala," tanya Irawan. Alesse tidak menjawab, hari ini ia merasa malas untuk menanggapi perkataan orang lain.


Setelah kembali ke rumah, ia merasakan ada sesuatu yang menghilang darinya. "Apalagi Alesse? Kau tampak penuh masalah hari ini!" ujar Jawara.


"Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain saat di rumah sakit tadi," ujar Alesse. "Apakah itu adalah masalah yang besar?" tanya Jawara. "Tidak terlalu sih, aku sudah terbiasa tidak membaca pikiran orang saat berada di dunia lain," ujar Alesse.


Tidak lama kemudian Hendra datang untuk mengejutkan Alesse, saat itu juga Alesse langsung terkejut bukan main, bahkan nafasnya sampai tersendat.

__ADS_1


"Ada apa Alesse? Tidak seperti biasanya kau kaget seperti ini," ujar Hendra. Andin yang melihat itu langsung menghampiri.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Andin. "Aku tidak berbuat apapun, tiba-tiba dia jadi seperti ini," ujar Hendra. "Kalau ia terkena serangan jantung bahaya! Kau ini ada-ada saja!" tegur Andin. Ia mencoba menenangkan Alesse yang sedang sesak nafas itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ternyata aku tidak terlalu biasa tanpa kemampuan membaca pikiran, kejadian tadi siang benar-benar mengerikan! Kukira bakal mati kehabisan nafas tadi. Lagian kenapa kau tidak memberitahuku kalau ayah menghampiriku?" tanya Alesse.


"Aku sedang menilai seberapa penting kemampuan itu bagimu, hari ini aku tidak bisa mempercayai semua perkataanmu, kepribadianmu sangat berbeda dari biasanya," ujar Jawara.


"Jadi, gimana hasilnya? Apakah itu sangat penting?" tanya Alesse. "Tentu saja Kemampuan itu mempengaruhi kinerja otakmu selama ini. Kau memang tidak terlalu merasakan dampaknya di dunia lain karena jarang berinteraksi dengan orang-orang. Tapi di bumi ini banyak yang mengenalmu, ada orang tua, saudara bahkan teman. Kau tidak akan bisa memprediksi tindakan mereka lagi," ujar Jawara.


"Ternyata semengerikan itu? Lalu apa solusinya? Gimana caranya agar aku bisa terbiasa dengan kondisi seperti ini?" tanya Alesse.


"Aku akan membantumu perlahan-lahan, setidaknya aku bisa memberitahumu saat seseorang mencoba mengendap-endap dan mengejutkanmu," ujar Geni.


"Kau baru muncul setelah hal itu terjadi! Benar-benar sampah!" ujar Alesse. Beberapa menit kemudian Hendra menengok ke daun pintu kamarnya.


"Bu.... bukan apa-apa, kau baik-baik saja kan? Masih ada yang sakit? Masih sesak nafas?" tanya Hendra khawatir. "Aku baik-baik saja kok," ujar Alesse.


"Itu pakaian lusuh apa? Kenapa kau pakai baju begini? Seperti penyihir saja," ujar Hendra.


"Bukan apa-apa, sedang bosan saja," ujar Alesse. "Sebenarnya ayah penasaran dari dulu, itu ponsel kau dapat dari mana? Lalu gimana caranya kau mendapatkan uang ayah yang direbut preman? Bahkan uangnya kelebihan," ujar Hendra.


"Lah? Kukira ayah sudah lupa itu. Padahal sudah dua tahun yang lalu loh," ujar Alesse keheranan, tidak bisa membaca pikiran ayahnya membuatnya harus berhati-hati saat bicara.


"Itu tidak penting. Sepertinya kau banyak menyembunyikan sesuatu. Apa masalahnya?" tanya Hendra.

__ADS_1


Alesse pun meletakkan kepalanya di kasur, seperti orang malas. "Ayah, pernahkah kau merasa iri pada sesuatu?" tanya Alesse merubah topik pembicaraan. "Tentu saja sering! Rekan-rekan kerja ayah kebanyakan memiliki rumah yang besar dan mewah, bahkan memiliki beberapa. Mobil pun bukan main-main harganya," ujar Hendra.


"Itu masih wajar, setidaknya bisa dicapai jika ayah mencoba berbagai usaha. Sayangnya aku iri pada sesuatu yang tidak pernah bisa dicapai," ujar Alesse. Beberapa detik terasa senyap, bahkan Hendra ikut terdiam karena antusias dengan perkataan Alesse. Baru kali ini ia mendengar anaknya berkeluh-kesah.


"Ayah..... kenapa hanya Alex yang memiliki keistimewaan seperti itu? Elementalist, kenapa hanya dia? Kenapa aku tidak? Sampai bertahun-tahun aku mencoba meneliti manusia yang dijuluki Elementalist ini, namun tidak pernah menemukan apapun. Sepertinya tidak ada cerita yang menarik dalam hidupku, tidak seperti Alex," ujar Alesse.


"Tenang saja nak, keistimewaan setiap orang itu berbeda-beda, kau pasti memiliki sesuatu yang menjadi kelebihanmu. Itu pasti! Kau berbeda dengan Alex yang hanya memiliki otak otot saja, kau anak yang cerdas! Jangan berkecil hati! Kau adalah seorang kakak bagi Alex, itu sudah jadi bukti bahwa kau lebih unggul darinya," ujar Hendra.


Setelah menenangkan Alesse, ia pun keluar dari kamar. Seketika Alesse duduk termenung di meja belajarnya.


"Wah, kau datang lagi ke sini? Apakah sudah bosan hidup?" tanya Aqua yang sudah berada di atas kasur sambil melempar jarum es ke dinding.


Alesse langsung menyadari bahwa kamarnya berubah menjadi biru gelap. "Aku masih ingin melamun, tapi sepertinya tidak bisa di sini," ujar Alesse. "Kalau kau melamun di sini, mungkin kau akan mati," ujar Aqua. Alesse tampak semakin galau.


"Jadi seperti ini Alesse Jawara yang asli? Bisa merasa gelisah juga?" tanya Aqua tidak percaya.


"Aku seperti kehilangan jati diriku sejak bersangkutan dengan dunia lain. Bahkan buku kusam mengatakan bahwa Alesse Jawara yang asli sudah mati terjebak dalam es," ujar Alesse.


"Tidak usah pedulikan apakah kau sudah atau masih hidup, hidup ini sederhana. Jika kau mulai bosan, kau bisa mencoba memanah," ujar Aqua.


"Apa hubungannya?" ujar Alesse keheranan. "Coba saja, kau akan mengerti," ujar Aqua. "Aku tidak mengerti!" ujar Alesse. "Dangkal sekali pikiranmu! Mari, biar kubimbing! Pejamkan matamu," ujar Aqua sambil menghampiri Alesse. Ia memegang kedua tangan Alesse.


"Bayangkan air mengalir deras dari jantungmu menuju ke ujung jarimu. Ini adalah dasar yang membuatku bisa membidik dengan benar," ujar Aqua.


"Aku tidak merasakan apa-apa," ujar Alesse. "Tenanglah, membidik sesuatu sama seperti kau merencanakan semua hal untuk menggapai tujuanmu," ujar Aqua. Suaranya semakin menggema.


Alesse langsung membuka matanya karena Aqua menggerakkan tangannya secara paksa. Saat itulah ia melihat busur yang terbentuk dari kristal biru safir berada di genggaman tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memegang benang tipis yang terkait pada kedua ujung busur itu.

__ADS_1


Karena terkejut, ia langsung melepaskan benang itu, membuat sebuah anak panah muncul dan melesat ke tembok. Bongkahan es pun tumbuh dan mencuat ke berbagai arah dari anak panah yang menancap itu.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin merubahku menjadi busur es, Alesse?" tanya Jawara. "Bu... bukan apa-apa kok," ujar Alesse. Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2