
Mitos, sebuah cerita yang tidak diketahui asal-usulnya, menyebar cepat dikalangan masyarakat karena begitu menarik untuk didengar.
Mitos adalah awal dari segalanya. Awal yang menuntun manusia untuk berpikir, menelusuri sebab akibat yang ada dan terjadi di dunia ini.
Alasan terjadinya hujan, kenapa gunung meletus, penyebab terjadinya gempa bumi, kenapa siang terang sedangkan malam gelap, dan lain sebagainya. Mitos membungkus semua pertanyaan itu untuk menggiring manusia agar berpikir kritis.
Mitos mengajarkan kepada kita bahwa segala fenomena yang terjadi di dunia ini ada untuk kita telusuri penyebabnya, jika itu adalah hal buruk maka kita harus cari solusinya, jika itu hal baik maka kita harus cari tahu bagaimana cara mempertahankannya ataupun memicunya.
Fenomena di dunia ini ada bukan dibiarkan berlalu saja. Ada pesan tersirat yang ingin disampaikan darinya. Pesan yang membimbing manusia untuk hidup berbeda dari binatang, untuk membimbing manusia menuju peradaban yang tak terbatas.
Alesse menutup buku kusam itu. Kata pengantar yang dijabarkan membuatnya sangat tertarik hingga akhirnya ia melanjutkan bacaannya.
Cerita sebab akibat fenomena alam di dunia ini diceritakan sedemikian rupa dengan bau fantasi di buku itu. Pikiran Alesse pun semakin terbuka hingga berinisiatif untuk mencari sebab akibat yang sebenarnya.
Ia tidak membaca buku itu dengan cepat, ia membaca satu cerita lalu mencari kebenarannya dengan membaca buku lain di perpustakaan.
Cerita pertama yang ia baca adalah asal-usul hujan. Setelah berhari-hari mencernanya, ia pun pergi ke perpustakaan dan mencari alasan di balik terjadinya hujan.
Akhirnya ia pun mengetahui banyak hal, mulai dari penguapan, sirkulasi air, peresapan air, jenis hujan, ramalan cuaca, dan lain sebagainya. Secara tidak sadar ia mempelajari berbagai ilmu pengetahuan karena membaca dongeng yang disajikan dalam buku kusam itu.
Beberapa tahun lamanya, ia pun sudah menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, kimia, biologi, antropologi, psikologi, sosiologi, dan berbagai bidang lainnya. Tentu saja ia menyelesaikan hal itu di usianya yang sepuluh tahun.
Meskipun begitu, orang tuanya tetap tidak menyadari hal itu. Alesse selalu tampak dia m di rumah. Kedua orang tuanya pun teralihkan perhatiannya kepada Alex, adik Alesse yang memiliki kemampuan aneh. Adiknya terkadang bisa berubah menjadi anak harimau yang menggemaskan, hal itu yang membuat orang tuanya selalu memperhatikannya.
Alesse juga sebenarnya sangat penasaran dengan perubahan yang dimiliki Alex, apalagi karena pertumbuhannya terlampau sangat cepat. Secara tidak sadar tinggi Alex sudah mencapai hidungnya dan itu membuatnya merinding ketakutan.
Akhirnya ia meminta kepada kedua orang tuanya untuk memisahkan kamarnya dengan adiknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari libur pun tiba. Alesse yang pendiam langsung mampir ke perpustakaan kusam seperti biasanya.
"Hai tukang penasaran! Sepertinya kau tidak bosan-bosan datang ke sini! Mungkin sudah 1789 kali kau datang ke sini," sapa penjaga perpustakaan itu, namanya adalah Irawan.
"Paman juga tidak bosan-bosan menghitung kehadiranku di sini," sapa Alesse kemudian sambil tersenyum. Sejauh ini ia hanya mengeluarkan ekspresinya di tempat ini. Ia juga berbicara banyak dengan Irawan.
__ADS_1
Sejak pertama kali bertemu dengannya, yaitu lima tahun yang lalu. Alesse sering bertanya kepadanya tentang sebab akibat fenomena alam yang terjadi di dunia ini.
Irawan juga merupakan kutu buku sehingga dapat menjawab rasa penasaran Alesse dengan mudah. Akan tetapi setelah lama dihujani pertanyaan yang merepotkan, akhirnya ia menyuruh Alesse mencari sendiri.
"Hari ini mau baca tentang apalagi?" tanya Irawan. "Rekayasa perangkat lunak," ujar Alesse. "Ya ampun! Aku menjadi merasa berdosa karena telah membuatmu menjadi kutu buku juga," ujar Irawan.
"Tidak apa-apa, aku sangat menikmatinya. Kalau saja ada laboratorium di sini, mungkin akan lebih efektif pelajaranku," ujar Alesse.
"Hmm! Sepertinya caramu berbicara sudah semakin baik! Kau berbicara layaknya orang dewasa! Benar-benar luar biasa!" ujar Irawan.
Alesse mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Itu adalah sebuah ponsel keluaran terbaru, hal itu membuat Irawan terkejut.
"Da.... dapat dari mana benda itu? Bukankah sangat mahal?" tanya Irawan sambil tak berhenti menatap ponsel itu.
"Aku membelinya," ujar Alesse singkat. "Ti... tidak mungkin! Meskipun kau punya uang, tidak ada toko yang akan mau melayani anak kecil sepertimu untuk barang yang sangat mahal!" ujar Irawan.
Alesse tampak sebal karena malas menjelaskan lebih detail, namun agar tidak dikira mencuri, ia pun menjelaskannya. "Kukira paman ini pintar, kenapa masih bertanya dengan hal sederhana seperti ini? Zaman sudah berubah, paman! Kita bisa memesan barang apa saja lewat internet! Dengan begitu toko tidak akan tahu kalau aku ini orang dewasa atau bukan," ujar Alesse.
"Anak kecil bisa berpikir sejauh itu? Benar-benar luar biasa! Lalu, kau dapat barang dari mana?" tanya Irawan penasaran.
"Bukankah rumahmu di desa pelosok? dari mana internet, komputer, dan sebagainya? Kukira keluargamu tidaklah kaya, jangan-jangan..... warnet?" tebak Irawan.
"Benar sekali! Banyak di sini warnet yang bisa diakses, karena aku selalu pergi ke tempat acak, peretas tidak akan mudah menemukanku!" ujar Alesse.
"Baiklah, aku mau membaca! Paman jangan ganggu!" Alesse langsung pergi ke sofa di sudut ruangan.
Tidak lama kemudian seekor anak harimau atau lebhi tepatnya manusia setengah harimau masuk ke dalam perpustakaan dengan tergesa-gesa. Irawan tidak menyadarinya karena tubuhnya yang kecil.
Alesse pun terkejut bukan main saat melihat harimau itu menghampirinya. "Alex? Kenapa kau di sini? Apa yang kau lakukan?" tanya Alesse panik, ia tidak ingin Irawan mengetahui wujud adiknya itu.
Sayangnya Alex langsung memeluknya lalu menangis dengan keras. "Sst! Alex! Kau tidak boleh menangis di sini! Kau tidak boleh berisik!" ujar Alesse sambil mengusap-usap kepala anak itu agar dia tenang.
Alesse pun terkejut saat menyadari kalau Irawan sedang melihatnya. "Benda apa itu? Kenapa suaranya keras sekali?" tanya Irawan keheranan. Ia tertarik dengan ekor Alex yang terus bergerak-gerak.
"Ini bukan benda! Dia adikku!" ujar Alesse. "Adik? Boneka berbulu itu?" Irawan pun menghampiri keduanya. Ia tidak tahan dengan ekor Alex dan akhirnya memegangnya. Secara spontan Alex langsung menggigit lengan Irawan.
__ADS_1
"Tidak sopan loh! Jangan sembarangan menyentuh barang orang atau paman akan celaka!" tegur Alesse. "Aku sudah celaka! Hei, bisakah kau hentikan benda ini? Dia masih menggigit tangan paman dengan kuat!" ujar Irawan agak ketakutan.
"Alex, lepaskan! Dia bukan orang jahat kok," ujar Alesse. Alex pun melepaskan gigitannya dan bersembunyi di belakang Alesse. "Ekornya sangat menggoda! Sepertinya paman baru saja menemukan sesuatu yang tidak biasa," ujar Irawan.
"Respon paman tampak biasa saja untuk sesuatu yang tidak biasa," ujar Alesse. Ia penasaran kenapa Irawan tidak terkejut.
"Sebentar lagi daerah ini akan terkenal karenanya. Elementalist sangat jarang loh di Indonesia!" ujar Irawan. "Memang sangat merepotkan! Kenapa kau keluar dengan pakaian seperti ini? Siapa suruh?" tegur Alesse sambil mengapit pipi Alex dengan kedua tangannya.
Alex tampak sebal, ia membalas Alesse dengan menggelitiknya, mereka berdua tampak sangat melekat satu sama lainnya. Hal itu membuat Irawan iri.
"Alesse, bolehkah paman menyentuh adikmu? Sebentar saja!" ujar Irawan. "Pedofil?" Alesse memasang wajah prihatin. "Bukan! Paman hanya penasaran seperti apa bulu anak itu," ujar Irawan.
"Alex, bolehkah paman itu menyentuh kepalamu sebentar saja?" tanya Alesse. Alex mengangguk dengan wajah ragu, ia memegang baju Alesse erat-erat.
"Tidak apa-apa, jangan takut," ujar Alesse. Irawan pun mencoba meraba kepala Alex dan mengusap-usap telinganya. "Jadi ini telinga beneran?" Irawan terkesan saat melihat telinga itu tiba-tiba bergerak sebelum ia benar-benar menyentuhnya.
"Jika para wanita melihat ini, mereka mungkin akan memperebutkannya loh," ujar Irawan. "Dia sudah sering dikejar-kejar tante-tante mengerikan. Lagian salah dia sendiri memakai pakaian terbuka," ujar Alesse.
"Itu seleranya sendiri, ia memang suka memakai pakaian seperti itu. Tidak sepertimu yang suka memakai pakaian yang tertutup rapat. Awalnya aku juga heran denganmu, seperti pendeta saja," ujar Irawan.
"Peduli apa paman?" tanya Alesse kesal. "Kau tidak penasaran gimana adikmu bisa seperti itu?" tanya Irawan.
"Itu tidak sesuai urutan! Aku belum menyelesaikan buku mitosku," ujar Alesse. "Buku aneh yang paman berikan padamu itu? Bukankah buku itu tidak bisa dibaca? Tulisan di dalamnya tampak aneh," ujar Irawan.
"Bisa kok, aku sangat mudah sekali membacanya," ujar Alesse. "Eh? Yang benar saja? Atau paman yang salah lihat?" Irawan keheranan. "Mungkin," ujar Alesse. Ia tidak menceritakan bagaimana ia bisa membaca tulisan asing di buku kusam itu. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa membaca buku itu.
Akhirnya Alesse menghentikan bacaannya dan membawa Alex pulang ke rumah. Andin dan Hendra sudah menunggu di depan rumah dengan wajah keheranan.
"Kenapa ayah dan ibu membiarkannya keluar dengan pakaian seperti itu?" tanya Alesse kesal. "Dia merasa tidak nyaman dengan pakaian tertutup, dia juga ingin bebas bermain dengan teman-temannya loh! Kalau bajunya terlalu menutupinya, ia tidak bisa bergerak bebas," ujar Hendra.
"Kalau begitu tidak perlu bermain! Aku saja terus memakai pakaian seperti ini, kenapa dia tidak bisa?" tanya Alesse kesal, ia sangat tidak terima waktu membacanya terganggu.
Mendengar pembicaraan mereka, Alex pun langsung menangis tak henti-henti, ia merasa bersalah. Sayangnya hal itu semakin membuat Alesse kesal.
Andin pun segera menghampiri Alex dan menenangkannya. "Sebaiknya ayah jangan membiarkan Alex pergi jauh-jauh! Sekali dia berubah, orang-orang akan tergoda untuk menangkapnya!" ujar Alesse kemudian pergi. Ia masih berniat untuk membaca buku di perpustakaan.
__ADS_1