Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Liburan berakhir


__ADS_3

Sandy tampak kelelahan, setelah Levy mengajak mereka ke tempat-tempat dengan pemandangan indah, Salsha terus menariknya ke sana kemari untuk berfoto-foto.


"Salsha, aku sudah tidak kuat lagi! Kumohon! Istirahat sebentar!" ujar Sandy kepayahan. "Apa-apaan? Dengan badan sebesar itu, kenapa kau tidak kuat berjalan?" tanya Salsha keheranan.


"Ini bukan berjalan! Kau menarik lenganku ke sana kemari sambil berlari! Justru karena badanku sebesar ini, jadi sangat berat!" ujar Sandy, ia sudah tidak tahan lagi dan hampir tumbang, ia langsung merangkulkan lengannya pada pundak Salsha.


"Hei! Kau sangat berat!" ujar Salsha hendak melepaskan lengannya, namun ia tidak bisa karena lengan Sandy terlalu berat.


Sandy hanya bisa tertawa melihat gadis itu tidak bisa menyingkirkannya. "Nah, kau harus tanggung jawab karena sudah memaksaku berlari ke sana kemari. Kau harus menuntunku, kau tidak bisa pergi-pergi lagi," ujarnya.


Salsha hanya bisa pasrah, ia tidak bisa melepaskan lengan Sandy yang sudah melekat di bahunya.


"Baiklah-baiklah! Aku akan menuntunmu, jadi kita pergi sekali lagi," desak Salsha. "Ah! Tidak, aku sudah kelelahan!" ujar Sandy.


"Mereka berdua ini benar-benar luar biasa!" ujar Sanay sambil menggeleng kepala, ia berharap bisa melakukan hal yang sama pada Alesse, sayangnya anak itu sangatlah dingin dan tidak peka.


"Kau tidak berpikiran untuk melakukan hal yang sama seperti Salsha kan?" tanya Alesse tiba-tiba, hal itu membuat Sanay terkejut, bahkan wajah hampir memerah. "Mana mungkinlah! Aku sudah biasa merangkulmu seperti ini, seperti adikku sendiri," ujar Sanay sambil merangkul bahu Alesse.


"Bukan berarti aku membencimu, aku hanya tidak tertarik dengan hubungan seperti itu," ujar Alesse.


"Mungkin memang belum waktunya," ujar Sanay. "Apa maksudmu?" tanya Alesse. "Kau tahu? Kebanyakan orang bisa berubah jika ia sendiri yang menginginkannya," ujar Sanay.


"Begitu kah? Aku mendapatkan pelajaran berharga dari perkataanmu itu. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kuinginkan. Terkadang hanya rasa iri yang muncul di benakku saat melihat orang lain memiliki apa yang tidak kumiliki, namun aku tidak terlalu ingin memilikinya juga," ujar Alesse.


"Perkataanmu absurd sekali! Kalau kau tidak terlalu menginginkannya, aku bisa membantumu mencari keinginanmu itu," ujar Sanay.

__ADS_1


"Aku sangat berterima kasih jika kau bisa melakukannya," ujar Alesse. "Kalian berempat lupa kalau ada satu orang lagi di antara kalian? Kenapa aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berbicara?" tanya Kaa kesal.


"Maaf, kukira tidak ada yang ingin kau katakan lagi," ujar Alesse. "Jadi, apa? Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Salsha.


"Untuk misi kali ini telah selesai, sepertinya Raya Stephen sudah memberantas semua basecamp para pengikut Warden, nama Aliansi Mehy dan Gordon sudah tidak terdengar lagi di sana, sebaiknya kalian pulang sebelum waktu liburan kalian habis," ujar Kaa. Ia pun langsung membukakan gerbang antar dunia dengan pengendaliannya.


Saat mereka hendak melangkah masuk ke dalam pusaran itu, Sandy sempat terhenti. "Kau tidak ikut kami?" tanyanya.


"Aku? Untuk apa? Rumahku bukan di sana," ujar Kaa. "Bukankah kau bilang kalau kau tidak punya tempat kembali?" tanya Sandy.


"Yeah, meskipun begitu, aku tidak bisa selamanya bersama kalian, lagian kalian lebih banyak berbicara tanpa mengajakku," ujar Kaa.


"Sepertinya kau mudah sekali tersinggung," ujar Alesse. Kaa pun tertawa. "Mana mungkin orang berusia ratusan tahun tersinggung dengan hal seperti ini nak, aku hanya memiliki banyak pekerjaan yang harus kulakukan sekarang, sedangkan kalian masih terikat dengan orang tua dan kehidupan sekolah kalian," ujar Kaa.


Ia pun menggiring anak-anak itu agar segera masuk ke dalam pusaran anginnya. "Eh! Tunggu dulu! Ini kita langsung ke Bumi?" tanya Sanay.


"Terserah kalian," ujar Kaa sambil tertawa. "Hei, Jawara belum ikut bersama kami! Gimana caranya dia pulang?" tanya Sanay.


"Dia tidak bisa masuk ke pusaran yang dibuat Kaa, pusaran itu hanya akan menembus di tubuhnya," ujar Alesse. "Benar sekali, aku hanya bisa membuka gerbang untuk makhluk hidup. Aku berbeda dengan gerbang yang asli," ujar Kaa.


"Fantasi selalu berbanding terbalik dengan sains, seharusnya memindahkan benda mati itu lebih mudah daripada makhluk hidup bernyawa. Dalam sains, kemungkinan rekayasa ruang dan waktu akan mempengaruhi komponen suatu benda, seharusnya benda mati tidak masalah jika dipindahkan, namun makhluk hidup ada kemungkinan tidak bisa bertahan lama jika sel-sel dalam tubuhnya berubah atau rusak," ujar Alesse.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, sebaiknya kalian segera masuk ke dalam gerbang sebelum pusaran anginku memudar. Aku tidak bisa membuat gerbang seenak jidat, energiku hampir habis, aku akan terjebak di dunia ini jika tidak bisa membuka gerbang untuk sementara waktu," ujar Kaa.


Akhirnya keempat anak itu pun masuk ke dalam pusaran. Secara tidak sadar, mereka sudah berada di ruang kelas sekolah.

__ADS_1


"Kenapa kita malah berada di sini?" Salsha keheranan. "Mungkin letak gerbangnya memang tidak akurat," ujar Alesse.


"Lalu gimana dengan Levy dan Jawara? Mereka masih berada di dunia lain," ujar Sanay.


"Tenang saja, Levy sudah menyimpan navigasi untuk planet Nova, ia tahu di mana letak gerbang yang bisa memindahkan dirinya ke Atlane, setelah itu ia akan membawa Jawara bersamanya ke Bumi," ujar Alesse.


Akhirnya mereka pun pergi ke rumah masing-masing.


Begitu pula dengan Alesse, ia mengenakan sepatu rodanya untuk meluncur ke rumah. Sesampainya di depan rumah, ia mendapati kedua orangtuanya tampak berwajah pucat, mereka langsung menyambut kedatangannya dengan penuh gembira.


"Ya ampun! Alesse! Dari mana saja kau?" tanya Andin sambil memeluk anak itu erat-erat.


"Loh? Kenapa ibu tanya? Kan sudah kubilang, aku sedang liburan sama teman-teman," ujar Alesse.


"Liburan macam apa? Ibu tidak bisa menghubungimu!" ujar Andin. "Duh, kalau masalah itu... aku minta maaf, ponselku tiba-tiba rusak," ujar Alesse.


"Kenapa tidak mengabari ibu lewat telepon umum?" tanya Alesse. "Aku lupa nomor telepon rumah," ujar Alesse. "Ya ampun! Ada-ada saja kau ini!" ujar Hendra kemudian memeluk anak itu.


"Kenapa kalian sangat kurus sekali?" tanya Alesse keheranan. "Kami sangat kesepian di sini, tidak ada kau dan Alex," ujar Andin.


"Kalau kalian tidak nafsu makan karena hal itu, sepertinya aku harus memasak makanan yang enak agar nafsu makan kalian kembali," ujar Alesse.


"Tidak perlu, biar ibu yang masak! Kau pasti lelah setelah liburan," ujar Andin. "Aish! Tenang saja! Aku ingin mencoba beberapa resep makanan yang aku dapatkan selama liburan," seru Alesse. "Hmm! Benar juga! Katanya kau pergi berlibur ke luar negeri bersama temanmu yang kaya itu. Tapi restoran mana yang mau berbagi resep makanan secara cuma-cuma?" tanya Hendra penasaran.


"Siapa bilang aku mendapatkan resep ini dari restoran?" tanya Alesse. "Jangan-jangan... kau berlibur ke pedesaan di luar negeri? Seperti apa rasanya di sana? Apakah menyegarkan? Ada padang rumput luas yang dipenuhi domba?" tanya Hendra penasaran.

__ADS_1


"Ada semua, pemandangan di sana benar-benar bagus," ujar Alesse. "Oh, jadi itu alasanmu tidak bisa menghubungi kami!" Andin menyimpulkan.


"Ya..... yeah, begitulah," ujar Alesse, ia merasa lega karena mereka tidak terlalu mencurigainya.


__ADS_2