Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pulang


__ADS_3

Alex menatapi jalanan yang sedang dikerumuni banyak orang. Ia juga penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Semakin dekat ia menghampiri kerumunan itu, semakin terdengar suara musik yang merdu. Orang-orang mulai merekam, hal itu membuat Alex semakin penasaran.


Setelah dilihat, ternyata mereka sedang mengerumuni gadis muda yang menari-nari dengan biola.


Gadis itu terus berputar-putar ke sana kemari sambil memainkan biolanya. Ia tersenyum manis ke segala arah agar semua orang melihatnya.


Alex terpana, apalagi saat melihat rambut panjang gadis itu terurai di udara. Wajah mudanya terus menenangkan hati orang di sekitarnya.


Sambil menelan ludah, Alex mengangkat ponselnya. Ia berpikiran untuk mengabadikan senyuman gadis itu di ponselnya. Belum sempat ia menyalakan kamera, tangannya terus bergetar hebat. Ternyata jantungnya memang sedang berdegup kencang, ia tidak pernah setertarik ini pada seorang gadis, ia tidak tahu harus bagaimana. Nafasnya bahkan sampai terputus-putus hanya untuk menangkap senyuman itu ke dalam ponselnya.


Saat itulah Tesla datang menghampirinya, membuatnya terkejut. "Ada apa kau ini? Sampai terengah-engah begitu? Pakai terkejut segala lagi! Seperti orang yang baru ketahuan menonton video porno," ujar Tesla.


"Ti...tidak! Pikiranmu jauh sekali! Lagian siapa yang berbuat bejat seperti itu di tengah jalanan ramai?" tanya Alex, ia membantah tuduhan Tesla.


"Kalau begitu mari kita lihat, apa yang sebenarnya kau saksikan," ujar Tesla kemudian memeriksa kerumunan. Setelah tahu ada gadis muda yang sedang menari-nari dengan riang gembira di tengah kerumunan itu, ia pun terdiam.


"Ke..... kenapa, Tesla?" tanya Alex keheranan. "Alex, ikut aku sebentar," ujar Tesla, ia langsung menarik lengan Alex dan mengajaknya ke asrama.


Mereka berhenti di depan kamar Alex. "Buka pintunya," ujar Tesla singkat, ia terus menundukkan wajahnya. "Ke... kenapa Tesla? Ini kamarku," ujar Alex.


"Sudahlah! Bukakan saja!" desak Tesla. Akhirnya Alex membuka kunci kamarnya. Tesla pun menariknya masuk ke dalam dan menutup pintu kamar. Ia pun menyudutkan Alex pada dinding.


"Tesla? Tesla! Ada apa ini? Kau menakutiku!" ujar Alex panik. Tesla pun menunjukkan wajahnya yang dipenuhi kilatan listrik. Seolah mengamuk, ia langsung memukul dinding tepat di sisi wajah Alex dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Entah karena listrik yang merambat ke tubuhnya atau karena takut, Alex langsung terduduk di hadapan Tesla, ia masih tidak mengerti apa yang terjadi.


"Apakah aku tidak cukup untukmu? Apakah gadis monyet itu lebih baik dariku?" tanya Tesla tiba-tiba. Dengan wajah merahnya, matanya tampak semakin berkaca-kaca. Alex masih tetap tidak mengerti.


Semakin sakit hati menatap keluguan Alex, Tesla pun akhirnya pergi keluar kamar. Ia masuk ke dalam kamarnya sendiri sambil mendobrak pintu. Ia pun langsung berbaring di kasurnya dan menangis tak henti-henti.


Tiba-tiba jendela kamarnya terbuka, Ray sudah duduk di sana sambil melihatnya terus menangis.


"Bukankah sudah kubilang? Sangat sulit untuk meyakinkan laki-laki yang lebih muda darimu. Usiamu sekarang sudah hampir dua puluh tahun, sedangkan Alex masih genap lima belas tahun. Kau ibarat seorang kakak baginya. Apalagi gadis yang di jalanan itu tampak sebaya dengannya. Karena pikirannya masih sama dengan usianya, normalnya ia akan tertarik dengan gadis itu," ujar Ray.


Bukannya tenang, tangisan Tesla semakin menjadi-jadi. Ia bahkan melempar bantal ke arah Ray.


"Aduh! Aku hampir jatuh loh!" ujar Ray sambil menangkap bantal itu. Meskipun begitu Tesla tetap menangis tak henti-henti. Akhirnya Ray mencoba menenangkannya.


Setelah Tesla tertidur di pelukannya, ia pun membaringkannya di kasur lalu pergi lewat jendela.


"Ray, kau tahu apa yang sedang terjadi pada Tesla?" tanya Alex khawatir. "Bukan apa-apa kok, tapi Alex! Ada beberapa hal yang ingin kuluruskan! Aku tidak ingin bermusuhan denganmu hanya karena perkara ini," ujar Ray serius.


"A... ada apa? Apakah ini mengenai Tesla?" tanya Alex. "Sepertinya kau sudah paham garis besarnya. Nah, bagimu Tesla itu apa?" tanya Ray.


"Teman baikku, ia selalu membantuku ketika kesusahan, tapi yang tadi itu......" Alex masih tidak mengerti kenapa Tesla marah padanya.


"Alex! Aku tahu kau baru berusia lima belas tahun! Aku tahu, jika dibandingkan denganku, usia kita terlampau jauh, tapi apakah kau akan terus bersikap bodoh seperti ini? Dengan fisikmu yang besar, kau tidak bisa berlagak seperti anak kecil lagi! Orang-orang yang baru bertemu denganmu pasti menganggapmu sebagai seorang pria berusia 25 tahun keatas! Kau juga harus beradaptasi dengan sekitarmu!" ujar Ray.


Alex pun terdiam sejenak, meskipun sudah lama ia bergaul dengan Ray, ia masih dianggap anak kecil baginya. Ia juga membenci kenyataan itu.

__ADS_1


"Jadi, apa yang harus kulakukan? gimana caranya agar Tesla tidak marah padaku lagi?" tanya Alex.


"Jika kau ingin berbaikan dengannya, terimalah perasaannya! Bukankah sudah kubilang jauh-jauh hari? Dia sangat menyukaimu! Kau tidak akan menolaknya setelah lama berteman dengannya kan?" tanya Ray.


"Jadi kau tidak bercanda saat itu? Tapi kenapa Tesla tidak pernah mengatakannya langsung? Ini semua membuatku bingung!" ujar Alex.


"Wanita mana yang berani menyatakan perasaannya pada pria secara terus terang? Meskipun agak menyebalkan, Tesla tetaplah gadis biasa. Ia masih menjaga etikanya, ia juga tidak ingin dianggap sebagai wanita yang berani merayu seorang pria, meskipun yang ia cintai itu usianya beberapa tahun lebih muda darinya," ujar Ray. Alex pun akhirnya mengerti sebagian besar maksud Ray.


"Temuilah gadis itu! Kudengar beberapa hari lagi kau akan dipulangkan untuk melanjutkan sekolah di rumah. Setidaknya sebelum kau pulang, hubungan kalian berdua sudah membaik," ujar Ray.


Akhirnya Alex pun berdiri tegak dengan tatapan serius. Ia memantapkan diri untuk menemui Tesla. Sayangnya saat itu juga tiba-tiba pakaiannya robek, sekujur tubuhnya sudah dipenuhi bulu harimau yang lebat. Tekadnya hancur seketika.


"Mana bisa aku pergi dengan penampilan begini!" keluh Alex, Ray hanya bisa tertawa melihatnya berubah secara tidak sadar.


"Tidak apa-apa! Pergilah dengan wajah harimaumu itu. Kupikir itu akan membuat suasana hati Tesla menjadi tenang," ujar Ray. Akhirnya Alex pun keluar dengan penampilan seperti itu.


Ia pergi ke kamar Tesla dan mengetuk pintunya. "Tesla, kau di dalam?" tanyanya. Beberapa menit ia menunggu, namun tetap tidak ada jawaban.


Tesla yang ada di dalam pun terbangun. Dalam keadaan setengah sadar, ia langsung mencuci muka dan membukakan pintu. Setelah melihat wajah harimau di hadapannya, ia segera menutup kembali pintunya.


"Tesla, apakah kau masih marah? Aku minta maaf! Aku benar-benar tidak tahu," ujar Alex. Tesla tidak menjawab, ia hanya bersandar di daun pintu.


"Tesla, kumohon! Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?" tanya Alex. Meskipun Tesla tetap diam.


"Tesla! Ayolah! Beberapa hari lagi aku akan pulang! Aku tidak bisa terus seperti ini! Tesla, kumohon keluarlah sebentar!" pinta Alex.

__ADS_1


Akhirnya Tesla membukakan pintu. Alex langsung menarik lengannya keluar agar ia tidak bisa mengunci diri di dalam kamar lagi.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya Tesla terkejut. Alex langsung memeluknya. "Tidak apa-apa kok, aku hanya ingin seperti ini lebih lama. Jangan mengurung diri di dalam kamar, Tesla!" ujar Alex. Tidak lama kemudian Tesla pun merasa tenang di pelukannya.


__ADS_2