Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pintasan menjadi Elementalist


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Geni merasa warna rambutnya yang merah mulai luntur menjadi hitam, ia segera bercermin untuk menyaksikan apa yang terjadi.


Saat itulah tiba-tiba dirinya terlempar seolah baru saja keluar dari tubuh Alesse. Ia mendapati Rasya dan Gord sedang berdiri di hadapannya.


"Sudah kuduga, ia hanya merasukinya saja," ujar Rasya. "Heh? Apa yang kalian bicarakan? Merasuki apa? Apa yang baru saja..... kulakukan? Loh..... kenapa aku tidak ingat sama sekali? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kita sudah berada di kamar ini?" tanya Geni keheranan.


"Kau tidak ingat apa saja yang kau lakukan? Berarti kau tidak ingat saat merasuki tubuh Alesse?" tanya Gord. "Berarti yang sejak tadi kita ajak bicara adalah Alesse?" Rasya mencoba menyimpulkan, ia menatap Alesse berharap ia memberikan penjelasan. Akan tetapi Alesse tampak enggan berbicara, ia langsung melanjutkan aktivitasnya.


"Kenapa dia diam saja?" bisik Gord. "Mungkin ia merasa malu karena telah membeberkan rahasianya pada kita. Mau bagaimana lagi? Saat itu ia tidak ingat bahwa dirinya adalah Alesse, namun setelah Geni berhenti merasukinya, ia pun sadar. Mungkin pikirannya sedang menggila sekarang karena membeberkan semua isi hatinya pada kita," ujar Rasya.


"Apakah terjadi hal separah itu saat aku merasuki tubuhnya? Tapi anehnya aku tidak ingat apapun, kupikir hal terakhir yang kulakukan adalah memeluknya dari belakang, secara tiba-tiba saja aku terpental dan mendapati tempat dan waktu yang berbeda. Sudah berapa lama sejak aku merasuki tubuhnya?" tanya Geni.


"Seharian," ujar Rasya. "Lama sekali! Apa saja yang ia lakukan di saat seperti itu?" tanya Geni. "Tidak ada yang istimewa, ia hanya bertingkah seperti dirimu yang selalu enerjik dengan semangat membaramu itu, ia bahkan bisa mengendalikan api," ujar Gord.


"Benarkah? Serius? Alesse bisa mengendalikan api?" tanya Geni penasaran. Ia langsung menghampiri Alesse untuk memastikan bahwa perkataan Gord memang benar.


Sayangnya Alesse tidak memberikan pernyataan apa-apa, ia sibuk dengan rakitan yang ada di meja belajarnya.


"Hei, Alesse! Kenapa diam saja? Coba tunjukkan padaku bagaimana caranya kau mengendalikan api!" seru Geni.


"Aku tidak bisa mengendalikan api," jawab Alesse singkat. "Bohong! Lalu apa yang kau tunjukkan pada kami tadi?" tanya Rasya. Alesse tampak malas menjelaskannya, namun Geni terus mendesaknya agar menjawab.


"Baiklah! Aku tidak yakin apakah kalian akan paham atau tidak. Aku memilih untuk tidak bergantung pada pola pikir Elementalist. Sesuatu yang praktis seperti itu hanya akan mendangkalkan pikiran manusia. Meskipun aku berpotensi menjadi Elementalist, aku sendiri yang menolak menjadi Elementalist, jadi... saat ini dan seterusnya aku tidak tertarik untuk belajar mengendalikan api dan segala macam," ujar Alesse.


"Kenapa seperti itu, Alesse? Pengendalian ini sangatlah berguna! Ini pasti akan banyak memudahkanmu! Bukankah orang-orang bilang kalau kau adalah Warden? Lalu bagaimana caramu menghadapi dunia ini? Bahkan Dark Warden tampak unggul pada semua jenis pengendalian," ujar Geni.


"Aku sudah punya solusinya," ujar Alesse tersenyum. "Apa?" tanya Geni. "Kalian bertiga. Tentu saja ada tiga orang lagi selain kalian," ujar Alesse.


"Kami? Kenapa kami adalah solusinya?" tanya Gord. "Aku menyadari sedikit setelah Geni keluar dari tubuhku. Saat kalian mengatakan bahwa Geni merasukiku, sebenarnya aku merasakan hal yang aneh, seolah aku memiliki pengalaman yang harusnya dimiliki oleh Geni, namun perasaan itu lenyap kembali setelah Geni keluar dari tubuhku," ujar Alesse.


"Jadi? Bagaimana maksudmu menjadikan kami sebagai solusi untuk menghadapi Elementalist?" tanya Geni.


"Kalian cukup berlatih dengan pengendalian kalian, sedangkan aku tidak perlu repot berusaha menjadi Elementalist, dengan begitu pola pikirku tidak akan terganggu," ujar Alesse.

__ADS_1


"Wah, aku tidak tahu sistem kita ini begitu efisien! Apakah begini jadinya jika fantasi digabung dengan sains?" tanya Geni.


"Kalau begitu biar kucoba!" seru Rasya, ia tiba-tiba menghampiri Alesse dan mencium keningnya. Saat itulah tubuhnya melebur bagaikan asap.


"Apa yang barusan ia lakukan?" tanya Alesse keheranan, itu terjadi sangat cepat hingga ia tidak menyadari kalau Rasya mencium keningnya.


"Ehm, kupikir sebaiknya kau tidak tahu. Rasya selalu bertindak dengan caranya sendiri yang aneh dan menjijikan," ujar Gord.


Tak lama kemudian Alesse merasakan sakit yang sangat dahsyat di kepalanya. "Ada apalagi ini? Kepalaku...... Rasanya mau meledak!" ujarnya panik.


Saat ia menatap telapak tangannya, itu terlihat kian membesar. "Kenapa ini? Rasanya ruangan ini semakin menyusut," ujar Alesse.


"Bukan menyusut, tubuhmu saja yang semakin membesar," ujar Geni.


Akhirnya tubuh Alesse berhenti membesar. Penampilannya berubah drastis dan serba hijau.


"Jangan-jangan....... Rasya berhasil merasukinya?" tanya Gord. "Ada apa? Kau memanggilku?" tanya Alesse.


"Apa maksud kalian? Tubuh Alesse? Tubuh yang sangat jantan ini tentu saja milikku," ujar Alesse.


"Jadi yang mana? Kau Alesse atau Rasya?" tanya Gord. "Aku..... Aku adalah...... Aku siapa?" Alesse malah bertanya dengan wajah penasaran.


"Hei! Hei! Situasi macam apa ini? Kenapa sangat membingungkan?" tanya Geni. "Sebelumnya juga seperti ini saat kau merasuki Alesse," ujar Gord.


"Tapi aku tidak ingat melakukan sesuatu yang aneh, itu terasa sangat singkat karena aku hanya memeluknya lalu terpental dari tubuhnya," Geni.


"Mungkin saja hal yang sama terjadi pada Rasya. "Jadi...... Aku adalah Alesse?" tanya Alesse kebingungan.


"Tepat sekali, siapa lagi jika bukan?" tanya Gord. "Apakah kau yakin? Aku tidak pernah berpikir Alesse akan menunjukkan ekspresi kebingungan meskipun tubuhnya berubah menyerupai Rasya. Ekspresi datarnya adalah sesuatu yang abadi," ujar Geni.


"Itu karena Rasya merasukinya. Sebelumnya, saat kau merasukinya, ia juga mengatakan hal aneh tentang ingatanmu yang terus menerus masuk ke dalam kepalanya," ujar Gord. "Benarkah? Praktis sekali! Jadi itu alasan ia bisa mengendalikan api? Karena memiliki ingatanku?" tanya Geni.


"Mungkin saja," jawab Gord.

__ADS_1


"Jadi.... Gambaran dan khayalan menjijikkan di kepalaku ini adalah ingatan Rasya?" tanya Alesse, wajahnya tampak begitu pucat seolah baru saja melihat sesuatu yang membuatnya mual.


"Ekspresimu bagus sekali! Benarkah kau adalah Alesse? Menurutku bukan," ujar Geni.


"Rasa jijik ini ..... Sudah pasti aku adalah Alesse! Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya!" ujar Alesse sambil berlagak percaya diri.


"Hei, Gord! Apa maksud perkataannya itu? Memangnya Alesse bisa tertipu?" tanya Geni. "Oh, itu.... Saat kau merasukinya, ia hampir menceritakan rahasianya sendiri pada kami," jawab Gord.


"Wah! Rahasia apa? Sepertinya menarik!" seru Geni. Ia menghampiri Alesse dengan mata berbinar-binar. "Hei, sepertinya kau bukanlah Alesse! Coba pikirkan saja! Tidak mungkin Alesse begitu santai begini, seingatku dia adalah anak yang sangat kaku," ujar Geni.


"Aku tidak akan tertipu dengan perkataanmu. Ngomong-ngomong, sepertinya kau keliru! Aku bukanlah orang yang kaku. Bukankah begitu, Gord?" tanya Alesse sambil merangkul bahunya. "Ehm, kenapa tatapanmu begitu? Kau membuatku takut," ujar Gord, ia langsung menghindar dari Alesse.


Alesse pun tersadar dan mencoba menampar wajahnya sendiri. "Aku pasti sudah gila! Apa yang sedang kucoba pikirkan?" ujarnya gelisah.


"Hei, tunggu dulu! Kenapa kau bisa menyentuh tubuh Gord? Bukankah seharusnya tubuh kami saat ini tidaklah nyata sampai bisa disentuh?" tanya Geni. "Benar sekali! Aku sampai tidak menyadarinya! Entah kenapa pola pikir Rasya yang menghujani kepalaku membuatku semakin lengah dengan keadaan sekitar! Ini membuatku tidak bisa fokus!" ujar Alesse gelisah, wajah tampak serius.


"Tuh kan, sudah pasti dia Alesse! Rasya tidak mungkin menunjukkan wajah serius seperti itu," ujar Gord.


"Jadi apa maksudmu lengah dengan keadaan sekitar? Kenapa pola pikir Rasya membuatmu tidak bisa fokus?" tanya Geni.


"Karena ini seperti otak yang dipenuhi pikiran pornografi, benar-benar menjijikkan!" ujar Alesse. Geni pun tertawa. "Wajahmu tampak serius di situasi yang paling aneh! Itu benar-benar membuatku geli!" ujar Geni.


"Cobalah gunakan pengendalianmu! Aku sangat jarang berjumpa dengan mereka dan itu membuatku penasaran," ujar Gord.


"Pengendalianku?" Alesse terdiam sejenak, ia pun mengambil sehelai rambut dari kepalanya dan mulai berkonsentrasi. Saat itu juga rambut itu tumbuh menjadi setangkai bunga mawar.


"Oh, jadi ini rahasia Rasya bisa terus menerus memunculkan bunga mawar! Kukira ia membawa sebuket bunga mawar di balik bajunya," ujar Geni.


"Benar-benar cara yang instan untuk menjadi Elementalist! Bahkan aku bisa menguasainya tanpa belajar," ujar Alesse.


"Bagaimana? Kau tertarik, bukan?" tanya Geni. "Tertarik jidatmu! Justru ini adalah hal mengerikan yang dapat menumpulkan pola pikirku! Hal praktis seperti ini membuat manusia tidak memiliki semangat untuk membangun peradaban. Manusia akan tetap bodoh jika bergantung dengan hal ini," ujar Alesse.


"Benar sekali, di bumi Nova, Elementalist adalah hal yang sangat jarang. Bahkan hampir seperti cerita-cerita fiksi layaknya superhero. Pantas saja peradaban di bumi-bumi lainnya tampak terbelakang!" Geni menyimpulkan.

__ADS_1


__ADS_2