Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kembali ke rumah


__ADS_3

"Seharusnya kau meminta Sang Pertapa untuk mengajari cara mengendalikan api, kenapa malah langsung pergi?" tanya Geni.


"Aku akan cari sendiri daripada bergantung pada otak otot itu! Lagi pula, kenapa tidak kau saja yang mengajariku? Bukankah lebih efisien?" tanya Alesse.


"Aku tidak berpikir sejauh itu," ujar Geni. "Kau ini bodoh kah?" tanya Alesse. "Baiklah, selagi dalam perjalanan pulang, mungkin sebaiknya kita mulai berlatih mengendalikan api! Tidak kusangka aku akan menjadi seorang guru yang akan mengajarkan Alesse!" seru Geni. "Tidak usah bersikap menyebalkan," ujar Alesse.


"Baiklah, pertama coba rasakan aliran panas pada tubuhmu, kita akan menciptakan api lewat pembakaran lemak yang ada di tubuh, lalu menyalurkannya ke oksigen yang tersebar di udara ini, seharusnya sangat mudah jika kau paham hukum fisika dan kimia," ujar Geni.


Alesse mencoba semua arahan Geni, namun tidak terjadi apapun, ia merasa hanya melakukan hal konyol dan sia-sia.


"Ini tidak bekerja! Sudahlah, aku tidak ingin melakukan hal konyol ini lagi," ujar Alesse. Geni tampak murung karena Alesse langsung menyerah begitu saja. Ia berharap bisa merasuki tubuhnya lalu mengarahkannya agar bisa mengendalikan api dengan mudah.


Hanya iseng belaka, saat Alesse sibuk memeriksa monitor Levy, ia mencoba memeluknya dari belakang. Saat itulah tubuhnya tiba-tiba melebur bagaikan asap.


Seketika tubuh Alesse mulai berubah, warna rambut, hingga pakaiannya menjadi serba merah.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba...." Alesse tampak kebingungan, saat berbalik badan untuk meminta penjelasan, Geni sudah tidak ada di hadapannya.


"Loh? Kemana perginya Geni?" tanya Alesse. "Entahlah, kupikir ia hendak memelukmu tadi, tiba-tiba tubuhnya lenyap," jawab Rasya.


Karena merasa tidak penting, akhirnya Alesse mengabaikannya, ia kembali memeriksa layar monitor.


Tak lama setelah mengetik dan menggerakkan tuas, tangannya bergerak secara tidak sadar. Itu terangkat hingga ia merasa keheranan.


"Ada apa ini? Kenapa tanganku tiba-tiba....." belum selesai berbicara, ia dikejutkan dengan kobaran api yang tiba-tiba memancar dari telapak tangan. Ia pikir tangannya akan terbakar hingga panik.


Setelah api itu padam, Alesse kembali menatap dua orang yang tampak keheranan terhadapnya. "Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau bisa panik dan kewalahan seperti itu. Kupikir meskipun kau ditusuk garpu ataupun terbakar, akan tetap menunjukkan ekspresi datar dan mengatasi masalah itu dengan tenang," jawab Gord.


"Benar sekali, aku sampai harus menahan tawa karena melihat tingkah konyolmu itu," ujar Rasya.


Alesse juga merasa heran dengan refleks yang ia keluarkan, ia merasa begitu asing. "Tu... tunggu dulu! Ada apa ini? Kenapa banyak ingatan yang tiba-tiba masuk kepalaku?" Alesse langsung duduk karena merasa kepalanya pusing.


"Ada apa Alesse? Kau baik-baik saja?" tanya Gord. "Ingatan ini....... apakah ini ingatan Geni? Kenapa ingatan Geni masuk ke dalam kepalaku? Apa sebenarnya ini?" Alesse makin kebingungan. "Ini...... membuat kepalaku terasa akan meledak! Ingatan ini seolah-olah aku yang mengalaminya sendiri!" ujar Alesse.


Setelah lama merintih kesakitan, tiba-tiba ia terdiam. "Alesse? Kau kenapa lagi?" tanya Rasya. "Alesse? Apakah aku Alesse?" tanya Alesse tiba-tiba.


"Kau bercanda? Itu tidak lucu. Kau pikir kau ini siapa kalau bukan Alesse?" tanya Gord. "Bukan itu maksudku.... ingatan di kepalaku ini.... aku tidak bisa membedakannya, apakah ingatan Alesse yang masuk ke kepalaku atau ingatanku yang masuk ke kepala Alesse," ujar Alesse.


"Kau berbicara seolah-olah kau adalah Geni, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Gord keheranan.


"Aku juga bingung! Apakah ingatan kami bercampur aduk hingga kami tidak tahu identitas kami sendiri? Ini benar-benar mengerikan! Kau tahu? Aku mendapati beberapa ingatan masa kecil Alesse. Tentang adiknya, ia sangat menyayangi adiknya saat masih kecil, lalu perasaannya saat ini..... saat adiknya sudah semakin besar...... ia semakin....."


"Kau bercanda? Itu hanya cerita karanganmu saja," ujar Geni. "Lalu apa? Kenapa kau tidak langsung mengatakannya? Kau membuat kami salah paham!" ujar Rasya.


"Menurutku hanya kau yang salah paham," ujar Gord menyangkal pernyataan Rasya. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, seolah hal ini tidak boleh dikatakan, kupikir ini sebuah rahasia," ujar Geni. Gord dan Rasya tampak kecewa.


"Apa-apaan kau ini? Kenapa tidak langsung beritahu saja? Itu rahasia Alesse, bukan rahasiamu kan?" tanya Rasya.


"Masalahnya, aku masih ragu apakah aku Geni atau Alesse, aku tidak sebodoh itu membenerkan rahasia, apalagi saat ini aku tidak bisa membedakan mana ingatan Alesse dan mana ingatan Geni," ujar Geni.


"Wah! Kali ini kau berbicara seolah-olah kau bukanlah keduanya," ujar Rasya takjub, ia pun bertepuk tangan.


Geni pun kembali ke tempat duduknya lalu memeriksa layar monitor dan menekan beberapa tombol.

__ADS_1


"Kau tampak begitu mahir menggunakan benda ini, bukankah hanya Alesse yang bisa menggunakannya?" tanya Gord.


"Nah, itulah maksudku! Kalau aku saja bisa mengendalikan Levy, sudah jelas aku adalah Alesse. Lalu bagaimana aku akan menjelaskan hal ini?" tanya Geni sambil menunjukkan kobaran api di telapak tangannya.


"Whoa! Kau mengendalikan api dengan sempurna, tidak seperti di awal tadi," ujar Gord. "Benar sekali! Itu membuktikan kalau aku adalah Geni!" ujar Geni.


"Anggap saja begitu! Jadi sebaiknya kau beritahu! Apa rahasia Alesse yang coba kau sembunyikan?" tanya Rasya, ia terus mendesaknya agar membeberkan rahasia itu.


Geni pun berbalik badan da menatapnya dengan tatapan tajam seolah tidak setuju dengan permintaannya.


"Baiklah, Alesse-Geni, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Rasya. "Dia benar-benar membingungkan," bisik Gord pada Rasya.


Setelah lama dlm perjalanan, akhirnya Levy pun sampai di depan rumah. "Ibu, Ayah! Aku pulang!" seru Geni.


"Kenapa dia sangat antusias untuk berjumpa dengan orang tua Alesse?" bisik Gord keheranan. "Dia masih remaja, tentu saja masih membutuhkan kasih sayang orang tua," ujar Rasya.


"Padahal sejak kecil aku saja tidak ingat dengan kasih sayang orang tua," ujar Gord. "Kita semua memang tidak punya orang tua, dari awal saja sudah jelas kalau kehidupan kita ini tidak nyata. Aku tidak terlalu memikirkannya saat tiba-tiba terperangkap di pikiran Alesse, dari awal aku sudah tidak merasakan hidup," ujar Rasya.


"Tapi anak itu..... menurutmu apakah dia Geni? Bukankah dia lebih mirip Alesse?" tanya Gord. "Dua-duanya benar. Kupikir Geni menemukan cara merasukinya hingga tercipta fenomena aneh ini, lain kali aku ingin mencobanya juga," ujar Rasya.


"Kenapa kau ingin melakukannya juga?" tanya Gord. "Mengetahui semua isi pikiran Alesse.... bukankah itu terdengar sangat menarik? Kita bisa mengetahui rahasia apa saja yang disembunyikan di kepalanya," seru Rasya.


"Menurutku Alesse tidak akan tinggal diam, kau yakin ingin merasukinya tanpa niat jahat? Bisa-bisa ia semakin waspada terhadap kita. Aku tidak ingin kesadarannya tiba-tiba menghilang lagi, aku merasa tidak nyaman ketika kita terus berganti peran menjadi Alesse di hadapan orang tuanya," ujar Gord.


"Tentu saja, pria besar sepertimu pasti merasa harga diri telah hancur sampai masih makan hasil usaha orang tua," ujar Rasya sambil tertawa. "Pria sejati hidup dengan usahanya sendiri," ujar Gord dengan bangga.


"Saat mengatakan hal itu.... kau benar-benar terlihat menggairahkan," ujar Rasya. "Aku tidak ingin dengar itu dari mulutmu," ujar Gord sebal. Rasya pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2