
Alesse pun memakai sepatu rodanya untuk berkeliling sekitar kota. Ia hanya melihat-lihat tanpa memikirkan rencana kedepannya. Saat ini ia sedang mengalami kebuntuan, jalan pulangnya bahkan semakin samar-samar dari kenyataan.
Ia pun berhenti berjalan lalu tertawa dengan keras. "Sialan! Baru kali ini aku merasa terpojokkan!" ujarnya kemudian duduk untuk menghilangkan penat.
Jawara pun datang menghampiri Alesse. "Ada apa?" tanya Alesse. "Aku sudah beradaptasi dengan teknologi yang ada di planet ini. Sebagian besar informasi juga telah kudapatkan mengenai sejarah hingga berita-berita yang ada saat ini," ujar Jawara.
"Bagaimana dengan navigasinya? Apakah kau bisa menyelesaikannya?" tanya Alesse. "Tentu saja! Kita bisa menelusuri seluruh tempat di dunia ini hanya dalam sepekan, berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan Atlane karena peradaban di sini lebih maju. Aku juga mendapatkan navigasi sementara dari satelit," ujar Jawara.
"Hmm! Informasi penting apa yang saat ini kau miliki?" tanya Alesse. "Aku tidak bisa menilai apakah itu penting atau tidak, perkembangan peradaban di planet ini hampir sama dengan bumi, sayangnya di sini terjadi lebih cepat, bahkan tingkat polusi udara di sini lebih parah dibandingkan dengan bumi," ujar Jawara.
"Itu cukup membantu, setidaknya kita bisa pergi dari sini dengan menemukan titik hitam pada buku kusam," ujar Alesse sambil membuka ponselnya.
Buku kusam itu muncul dalam bentuk fisiknya. "Aduh! Ini sangat berat daripada yang terakhir kali!" keluh Alesse. "Mungkin halaman di buku ajaib itu semakin bertambah," ujar Jawara.
"Benar sekali! Di dalam sini sudah berisi lengkap tentang peta Atlane, tapi sayangnya tidak ada peta Nova di sini! Apa masalahnya?" Alesse semakin heran. Meskipun sudah berteriak berkali-kali pada buku itu untuk menunjukkan gerbang antar dunia di Nova, buku itu tetap tidak merespon.
"Aku lelah bersikap seperti orang gila seharian! Aku ingin beristirahat!" ujar Alesse. Akhirnya Jawara pun berubah menjadi Levy dan Alesse masuk ke dalamnya untuk tidur.
Keesokan harinya ia terbangun dengan rasa lapar. "Sial! Aku tidak punya uang dari dunia ini!" keluh Alesse. "Sebenarnya saat berkeliling kemarin, aku sempat menemukan banyak benda terbuang di jalanan. Sebenarnya orang-orang menyebutnya sebagai uang, tapi karena jatuh di celah sempit, mereka tidak menyadarinya," ujar Jawara sambil menyerahkan tumpukan benda yang disebut 'uang' itu.
"Hmm! Sama saja seperti di dunia kita. Uang kertas dan logam! Tapi gimana kau bisa memungut sebanyak ini?" tanya Alesse keheranan. Ia pun mencoba pergi ke sebuah kafe dan memesan sesuatu.
Saat ia membayarnya dengan uang yang ia dapat dari Jawara, orang-orang mulai memperhatikannya, seolah tindakannya itu sangatlah aneh. Karena tidak nyaman, ia pun memilih untuk membawa pulang makanannya.
"Tatapan mereka benar-benar aneh! Sepertinya membayar secara tunai di sini sudah jarang," ujar Alesse. Ia pun mulai menyantap makanannya.
"Bweh! Apa ini? Sangat mengerikan! Tengik sekali!" ujar Alesse sambil memuntahkan makanan itu.
__ADS_1
"Sepertinya aroma kejunya terlalu kuat," ujar Jawara. "Makanan orang Eropa memang tidak pernah cocok dengan mulutku!" ujar Alesse.
"Tapi ini bukan Eropa, ini bukanlah bumi yang kita kenal," ujar Jawara. "Aku hanya menyamakannya saja! Lihatlah, di sini hanya ada bule, mungkin mereka juga memandangku aneh karena bermata sipit, mereka jarang bertemu orang timur! Sebaiknya kita pergi dari sini! Kita cari saja tempat yang mirip dengan Asia," ujar Alesse.
Ia pun menerbangkan Levy setinggi seratus meter. "Kau menerbangkannya terlalu tinggi dari pada biasanya," ujar Jawara. "Mau gimana lagi? Lihatlah gedung-gedung menjulang tinggi itu, membuatku kesulitan untuk melihat apa yang ada di depan sana," ujar Alesse.
Levy pun melesat dengan cepat ke seberang benua. Setelah Alesse menemukan atap rumah khas Asia, ia pun memberhentikan Levy dan singgah di tempat itu.
"Ini benar-benar sesuai seleraku! Ikan bakar dengan kecap asin. Lalu ada nasi dan sambal asam, benar-benar khas rumah sendiri!" seru Alesse.
"Semakin lama, kepribadianmu menjadi sangat aneh. Dahulu kupikir kau hampir sama denganku, acuh tak acuh. Menanggapi semua hal dengan kepala dingin, sepertinya sejak berada di sini, kau jadi lebih emosional," ujar Jawara.
"Aku tidak bisa menyangkal kalau aku memiliki beberapa kepribadian, aku hanya mencoba untuk bersikap natural selagi tidak ada yang memperhatikanku. Aku tidak ingin dianggap sakit jiwa," ujar Alesse.
"Separah itu kah?" tanya Jawara. "Bagiku itu adalah masalah," ujar Alesse. Ia pun masuk ke dalam rumah makan dan duduk di kursi sambil melihat menu yang ada.
"Benar-benar tidak masuk akal sekali! Ia benar-benar ahli di berbagai bidang hiburan," ujar salah seorang pelanggan di rumah makan itu.
"Memang! Sayangnya dia pria, tidak terlalu menarik untukku!" ujar salah seorang lainnya. "Andaikan saja yang memborong semua kejuaraan itu adalah wanita, pasti sangat menarik!" seru pelayan, ikut menimbrung pembicaraan mereka.
"Bayangkan! Mulai dari aktor, gamer, atlet, dan bahkan koki, semuanya ia bisa lakukan," ujar pelanggan lainnya sambil memberikan uang tunai kepada pelayan.
"Hmm! Sang Legenda Hoodie Merah memang hebat! Semangat mudanya benar-benar ia maksimalkan dengan baik! Ia adalah remaja kebanggaan negara kita!" ujar salah seorang berjas hitam, ia tampak seperti seorang pejabat.
"Jawara, kau dengar itu? Legenda Hoodie Merah! Itu julukan yang sama persis seperti di cerita buku kusam!" bisik Alesse.
"Aku pernah dengar kau menceritakan hal itu, tapi bukankah seharusnya ia hanya maniak gamer? Kudengar kau mengatakan bahwa ia jarang keluar dari kamarnya. Tidak mungkin ada atlet yang jarang keluar dari kamarnya," ujar Jawara.
__ADS_1
"Ini sama anehnya seperti cerita gadis jubah biru, sebaiknya kita periksa juga!" ujar Alesse. Setelah selesai makan, ia pun pergi ke warung internet.
"Jawara, sambungkan otakmu pada komputer ini," pinta Alesse. "Baiklah, aku akan mencoba meniru sistemnya," ujar Jawara.
Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar komputer. "Aku sudah mendapatkan akses internet permanen, kita dapat menemukan informasi lebih banyak daripada saluran televisi dan satelit," ujar Jawara.
"Baiklah, cari Legenda Hoodie Merah," pinta Alesse. Jawara pun mulai menelusuri informasi tentang kata kunci itu.
"Aku menemukannya! Rumahnya sekitar sepuluh kilometer dari sini," ujar Jawara. "Wah dekat sekali! Kita langsung pergi ke sana saja!" seru Alesse.
Tiba-tiba, ia merasa beberapa orang terus memperhatikannya. "Jawara, bukankah ini aneh? Mereka terus memperhatikan kita! Kukira di sini berbeda dengan benua seberang, tapi ternyata sama saja," ujar Alesse dengan perasaan tidak nyaman.
"Kalau begitu, lebih baik segera masuk ke dalam Levy saja!" ujar Jawara. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke tempat yang sepi agar bisa menghilang dari pandangan orang-orang.
Setelah naik ke dalam Levy, Alesse pun langsung menerbangkannya menuju ke rumah Anak yang dijuluki Legenda Hoodie Merah itu.
Sayangnya setelah sampai di sana, ia hanya mendapati rumah besar yang kosong, tempat itu benar-benar sepi.
Meskipun begitu ia tetap mencoba masuk ke dalam dengan senyap. Sensor tidak bisa mendeteksi keberadaan Levy sehingga ia dapat masuk dengan mudah.
"Hmm! Benar-benar orang kaya! Lihatlah, ia punya apa saja," ujar Jawara. "Menjadi kaya seperti ini sangatlah mudah bagiku, sayangnya aku tidak tertarik," ujar Alesse.
"Yeah, jika dipikir-pikir lagi, anak itu memanfaatkan kemampuannya untuk memperkaya diri dan meningkatkan ketenaran!" Jawara menyimpulkan.
"Benar-benar ceroboh! Jika terus seperti itu, hidupnya mungkin akan berakhir dengan singkat. Seseorang mungkin akan mencoba untuk membunuhnya karena rasa benci," ujar Alesse.
"Benar sekali, untuk mencari orang sepertinya bahkan sangatlah mudah karena ia dikerumuni oleh banyak orang. Menurut navigasiku, ia sedang berada di studio untuk melakukan beberapa latihan. Sepertinya kali ini ia mencoba berperan sebagai musisi," ujar Jawara.
__ADS_1
"Kita langsung ke tempatnya saja, ada beberapa hal yang ingin kupastikan," ujar Alesse. Akhirnya ia pun membawa Levy keluar dari rumah itu dan pergi menuju ke studio.