
"Akhirnya aku bisa menggunakan pengendalianku......" Geni mencoba meninju ke udara, namun tidak keluar apapun dari kepalan tangannya.
"Loh? Kenapa tidak bisa?" Ia mencoba mengulanginya lagi, berharap kobaran api muncul dari kepalan tangannya. Sayangnya hal itu sia-sia, ia tidak bisa mengeluarkan api.
"Aneh sekali! Yang lain bisa menggunakan pengendalian, tapi aku tidak?" Ia benar-benar merasa kecewa. Ia pun sadar kalau tanah yang ia pijak adalah hamparan salju yang sangat luas.
"Atau mungkin karena suhu di sini dingin?" Geni pun mencoba berlari untuk menemukan hamparan yang tak tertutupi salju, sayangnya usahanya sia-sia.
"Huh! Membosankan sekali! Sekarang aku harus berbuat apa?" tanyanya dengan wajah kesal, ia langsung menendang sebuah batu yang terbenam di tanah. Tentu saja kakinya merasa kesakitan karena batu itu tetap bergeming di tempatnya.
"Argh! Sial sekali hari ini!" ujar Geni kesal. Tak lama kemudian tongkat di punggungnya tiba-tiba bergerak, membuatnya terkejut.
"Ya ampun, Jawara! Kukira ular!" ujarnya kesal. "Maafkan aku, sayangnya sebuah perangkat yang ada di unitku memberikan sebuah reaksi yang unik," ujar Jawara.
"Unik seperti apa? Perangkat macam apa Yang membuatmu tiba-tiba muncul seperti ini?" tanya Geni.
Jawara pun menunjukkan sebuah buku kusam milik Alesse. "Bu... bukankah benda ini yang selalu dipegang Alesse? Kenapa kau menyimpannya?" tanya Geni.
"Entahlah, namun teknologi dari buku ini sangat sinkron dengan sistem yang ada pada unitku, sehingga beberapa fitur otomatis terinstal di dalamnya. "Kau yakin itu bukan virus?" tanya Geni.
"Aku pastikan 100% fitur ini bukan virus. Meskipun bekerja di latar belakang, ia memberikan beberapa manfaat dan kesederhanaan sehingga aku menerimanya," ujar Jawara.
"Mendengar percakapanmu, seolah kau sedang membicarakan makhluk yang sama sepertimu. Apakah kalian sudah akrab?" tanya Geni.
"Sudah, kami langsung akrab di pertemuan pertama kami. Dia mengerti fitur tentang hologram dan berkali-kali menerapkannya, menurutku itu luar biasa untuk sebuah buku kusam," ujar Jawara. "Heh? Benar sekali! Kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari sampulnya saja," ujar Geni.
"Terima kasih atas nasehatnya,namun aku tidak setuju kalau aku menilai seseorang hanya dari sampulnya. Aku bahkan sekarang bisa melihatmu bukan hanya dari penampilannya saja. Aku tahu golongan darahmu, usiamu, kede DNA mu, volume paru-parumu, kecepatan detak jantungmu, nafasmu, bahkan ukuran kemaluanmu," ujar Jawara.
"Cih! Tidak usah disebutkan juga! Aku merasa seperti seseorang baru saja menelanjangiku!" ujar Geni kesal.
__ADS_1
Geni pun mulai membuka buku kusam itu, berharap ia bisa menemukan sebuah petunjuk, sayangnya ia sama sekali tidak bisa membaca isi buku itu.
"Benar juga, hanya Alesse yang bisa membaca ini. Aku benar-benar bodoh!" ujar Geni. "Kau ingin tahu semua isi buku itu? Aku punya semua rekaman yang Alesse ucapkan dari tiap lembarnya," ujar Jawara.
"Benarkah! Semua hal jadi semakin mudah! Kalau begitu beritahu aku dari awal hingga akhir," ujar Geni.
"Itu akan memakan waktu paling cepat 3 hari, itupun kalau kau tidak tidur dan makan," ujar Jawara.
"Baiklah! Baiklah! Kalau begitu..... beritahu isi dari halaman ini. Tampak gambar yang sangat menarik!" ujar Geni. Akhirnya Jawara menceritakan semuanya.
Setelah berjam-jam menceritakan isi buku itu, Geni pun terbaring di hamparan salju yang tak kunjung meleleh.
"Salah satu ceritanya....... hampir sama seperti yang kumiliki. Aku tidka menyangka bisa mengetahui beberapa cerita dari Aqua, Gord, Rasya, dan Baraq. Ternyata mereka semua juga punya masa-masa yang menarik hingga kelam. Sayangnya aku belum pernah bertemu dengan seorang lagi," ujar Geni, sambil memeriksa lembaran buku itu dan menunjuk sebuah gambar seorang anak.
"Si Budak Penggembala. Sepertinya dia punya cerita yang sangat menyenangkan," ujar Jawara. "Whoa! Hebat sekali kau bisa menilai hal itu!" ujar Geni terkesan. "Tentu saja, terdapat banyak ungkapan bahagia dan senang pada cerita anak itu," ujar Jawara.
"Berarti kita harus menemukan anak ini! Mungkin dia adalah kunci agar Alesse bisa kembali! Aku juga penasaran seperti apa kehidupan aslinya! Apakah ia benar-benar budak? Apakah ia benar-benar bahagia, atau jangan-jangan ia melakukan kerja rodi untuk mempertahankan hidupnya? Aku sangat penasaran!" seru Geni.
Sayangnya sebelum ia mulai beraksi ia dikejutkan oleh seseorang yang tampak sudah sangat tua, ia berjalan memegang obor dengan buku kusam di tangan kirinya.
"Wah! Buku itu! Sama seperti ini!" seru Geni. "Wah!Wah!Wah! Siapa yang datang ini? Kenapa aku tidak mengetahui hawa kehadiranmu?" tanya kakek tua itu.
"Bohong sekali! Lalu bagaimana kau bisa keluar dan mengejutkanku? Tahu dari mana?" tanya Geni. "Tentu saja dari suaramu yang memekakkan telinga. masa-masa muda sepertinya tampak begitu menyenangkan yah," ujar kakek tua itu sambil tersenyum ramah.
"Kenapa kakek berada di gua ini? Apakah kakek sendirian? Di mana orang-orang berada? Apakah mereka meninggalkan kakek di sini?" tanya Geni.
"Tidak-tidak! Aku datang ke sini atas kemauanku sendiri. Lagian aku tidak setua itu hingga harus ditemani seseorang," ujar kake tua itu sambil membuka jubah lusuhnya.
"Whoa gila! Tubuh kakek ini kekar sekali! Memangnya ada yang seperti ini? Aku baru tahu!" ujar Geni terkesan.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, aku sudah tidak peduli dengan penampilanku lagi sehingga tampak seperti tua renta, namun tubuhku masih kuat karena aku harus bertahan hidup," ujar kakek itu.
"Kenapa tidak memedulikan penampilan kek? Penampilan itu penting untuk kesan seseorangs aat pertama kali bertemu," ujar Geni. Kakek tua itu pun tertawa.
"Lihatlah, aku dinasehati oleh anak kecil," ujarnya sambil tak bisa berhenti tertawa. "Hmm! Aku bukan anak kecil, kakek!" ujar Geni kesal.
"Kau akan tahu jika hidup selama ribuan tahun. Penampilan tidak akan kau pedulikan lagi karena pada akhirnya hidup manusia itu sangatlah singkat. Kau tidak akan bersama dengan seseorang selamanya," ujar kakek tua itu.
"Whoa! Jika kakek hidup ribuan tahun, berarti kakek tahu banyak hal yang terjadi di dunia ini?" tanya Geni penasaran.
"Aku terkejut karena kau tiba-tiba percaya," ujar kakek itu terkesan. "Tentu saja! Di usia kakek yang seharusnya tua renta, tubuh kakek sangatlah kekar!" ujar Geni terkagum-kagum.
"Yeah, aku memiliki banyak waktu untuk melatih tubuhku sehingga menjadi seperti ini. Lalu untuk hal-hal yang terjadi di dunia ini, tentu aku mengetahuinya. Bahkan orang-orang menyebutku Sang Pertapa," ujar kakek itu.
"Whoa! Yang dibicarakan banyak orang! Sangat tidak bisa dipercaya! Aku mencari kemana-mana loh! Akhirnya kita bertemu juga," seru Geni sambil menjabat tangan kakek itu setelah mengambil obor dari tangannya.
"Hmm! Kakek ini.... Elementalist api?" tanya Geni. "Luar biasa! Bagaimana kau tahu?" tanya Kakek tua itu. "Terlihat dari bentuk kulit yang keras dan gelap ini. Pasti sering digunakan untuk mengeluarkan energi panas dalam tubuh! Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya sekarang! Apakah kakek bisa mengajariku?" tanya Geni.
"Aku tidak perlu mengajarimu, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan," ujar kakek itu sambil menggosok punggung tangan Geni.
"Whoa! Benar sekali! Ada cara seperti ini juga ternyata!" seru Geni kegirangan, ia langsung menggosok kedua telapak tangannya, setelah beberapa kali memutar lengannya, api pun mulai memancar dari kedua telapak tangannya.
"Whoa! Aku merasa sangat luar biasa! Whoa! Tidak bisa dipercaya!" seru Geni.
"Sepertinya kau sangat senang," ujar kakek itu. "Benar sekali! Terima kasih, kakek! Ternyata yang dikatakan orang-orang itu tidak salah! Kakek benar-benar hebat!" seru Geni.
"Kalau begitu pergilah, nak! Masih ada satu orang yang kau temui. Cukup jalan mengikuti arah pintu gua ini. Cukup berjalan lurus, kau akan bertemu dengannya," ujar kakek itu.
"Siapa kek?" tanya Geni. "Kau yang lebih tahu siapa yang hendak kau temui," ujar Geni. Akhirnya ia pun berpamitan untuk pergi meninggalkan kakek itu seorang diri.
__ADS_1
Setelah melambaikan tangan dan berjalan agak jauh, ia langsung menghela nafas. "Entah kenapa aku tiba-tiba merasa sedih. Ada apa yah?" tanya Geni keheranan. Ia pun terus berjalan sambil melamun hingga tak sadar kalau hamparan salju yang ia pijak telah berubah menjadi padang rumput yang sangat luas.