
Alesse mengepalkan tangannya dengan perasaan kesal. Ia tidak mengerti mengapa hari-harinya dipenuhi oleh luapan emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba menjadi lebih mudah marah, bahkan hanya karena sebuah perkataan dan perkara kecil.
Ia mencoba meredam amarahnya lalu berbalik badan menghadap Saxon. "Kau bilang apa tadi? Warden? Aku? Kau jelas-jelas salah menculik orang! Aku bukanlah Warden! Aku bukanlah penyihir seperti kalian!" ujar Alesse.
Saxon hanya tersenyum, ia menghampiri Alesse kemudian menyentuh pundaknya. "Semua pendahulumu juga mengelak seperti itu. Tenang saja, ini adalah hal biasa yang sering terjadi. Tidak mudah untuk memercayai orang juga. Siapapun tidak akan langsung percaya jika dikatakan bahwa dirinya adalah raja dari para elementalist," ujar Saxon mencoba meyakinkan.
Alesse langsung menepis tangan Saxon yang ada di pundaknya. "Kau tahu? Aku bukanlah elementalist," ujar Alesse singkat, ia membuat Saxon terdiam seribu bahasa. Ia pun langsung pergi dari kuil itu.
Ia terus berjalan tanpa tujuan, ia tidak sadar kalau dirinya sudah sangaat jauh dari kuil karena terlalu menikmati lingkungan sekitarnya.
"Tempat apa ini? Sangat hijau dan cerah! Benar-benar menyegarkan!" ujar Alesse, ia pun terus berjalan sambil memeriksa tanaman yang tampak asing baginya. Sesekali ia berhenti lalu memotret berbagai jenis tanaman itu menggunakan tongkat petirnya yang dapat berubah menjadi apa saja.
Karena terlalu menikmati keanekaragaman hayati di tempat itu, ia pun sampai ke sebuah pemukiman. Rumah-rumah yang terbenam di antara gundukan tanah itu membuatnya penasaran.
"Halo gadis cantik! Selamat datang di desa cinta ini," ujar seorang pria. Alesse terus menatapnya dalam diam. Bukan karena kesal, melainkan wajah pria itu tampak tidak asing baginya.
"Eh serius? Pria itu benar-benar mirip Gord!" ujar Geni. Alesse merasa sakit kepala karena suara Geni yang sudah lama tidak terdengar akhirnya muncul di kepalanya.
Setelah ia perhatikan baik-baik pria itu, wajahnya memang sangat mirip dengan Gord, sayangnya gaya berpakaiannya mengaburkan penilaian Alesse.
"Kenapa ia berpakaian seperti itu?" tanya Geni merinding. "Apa yang salah dengannya? Bukankah ia tampak gagah dengan pakaian seperti itu?" tanya Gord.
"Asal kau tahu saja, di peradaban kami.... orang yang berpakaian seperti itu hanya memberikan kesan satu hal," ujar Geni. "Kesan apa?" tanya Gord. "Dia homo," ujar Geni. Gord masih berpikir berkali-kali. namun tidak mengerti apa yang Geni katakan.
"Tidak usah sok berpikir segala! Kalau tidak tahu ya sudah. Tidak usah dipikirkan," ujar Alesse, ia hendak menghindari pria berpakaian hijau gelap itu.
Sayangnya pria itu tiba-tiba menahan bahunya, membuatnya terkejut. "Buset! Aku sampai merinding meskipun bukan aku yang disentuh olehnya," ujar Geni.
"Nona muda, kenapa kau mengabaikanku?" tanya pria itu dengan tatapan penuh gairah. "Lepaskan! Aku bukan perempuan!" ujar Alesse, ia makin muak karena pria itu menganggapnya sebagai seorang gadis.
__ADS_1
"Walah, mengejutkan sekali! Wajahmu benar-benar indah sampai mengaburkan pandanganku," ujar pria itu.
"Gombalan macam apa itu? Sebaiknya abaikan saja, Alesse!" ujar Geni.
"Maunya sih begitu, tapi ia terus mengikutiku!" ujar Alesse. Akhirnya seorang pria paruh baya pun datang.
"Rasya, kau menakuti pengunjung! Jangan membuntutinya seperti itu!" tegur pria paruh baya itu. "Heh? Jadi dia ini bernama Rasya? Jangan-jangan ia yang disebutkan dalam dongeng itu?" Alesse tampak tidak terima.
"Bukankah kau pernah cerita kalau Rasya si Berandal itu adalah anak kecil yang suka menjahili orang-orang pedesaan?" tanya Geni. "Ehm, benar sekali! Pasti ini orang lain! Pasti bukan yang diceritakan oleh dongeng itu!" ujar Alesse, ia tidak ingin satu kepribadian aneh menyusup dalam dirinya lagi.
"Ehm, permisi! Sepertinya aku sedang tersesat! Ini di mana yah?" tanya Alesse. "Ini adalah desa Cinta," ujar pria paruh baya itu. Alesse merasa jijik dengan namanya, ia hendak berpaling untuk keluar dari desa itu.
"Eith! Mau kemana? Kau tidak boleh seperti itu di hadapan tetua desa loh," ujar pria berpakaian hijau itu. Ia langsung menghadang dan sengaja membuat wajah Alesse menabrak dadanya.
"Rasya! Sudah kubilang, kau akan menakutinya!" ujar pria paruh baya itu kemudian menjauhkan Alesse dari pria berpakaian hijau itu.
"Maafkan dia nona muda. Di usianya saat ini, ia selalu membuat banyak masalah. Bahkan ia sampai dijuluki Rasya Si Penggoda di desa ini. Ia sering kali memikat banyak orang untuk tinggal di desa," ujar pria paruh baya itu.
Pria berpakaian hijau itu pun tertawa. "Tidak usah memujiku seperti itu, kakek! Lalu, anak ini bukan seorang gadis," ujarnya. Ia pun mengulurkan tangan kepada Alesse.
"Ada satu hadiah untukmu karena sudah berkunjung ke sini," ujar Rasya sambil mengambil sesuatu yang ada di rambutnya. Itu adalah sekuncup bunga mawar, ia memberikannya pada Alesse.
"Pemandangan macam apa ini? Alesse kau baik-baik saja?" tanya Geni saat memperhatikan Alesse yang tiba-tiba terdiam.
Alesse pun langsung menutup mulut dan menjatuhkan mawar itu. "Walah-walah! Kau menyadarinya? Hebat sekali!" ujar Rasya sambil tersenyum narsis.
"Apa yang dia lakukan, Alesse?" tanya Geni. "Hampir saja! Ia mencoba membuatku tidak sadar dengan udara ini. Ia menyebarkan racun!" ujar Alesse.
"Tidak usah sewaspada itu, aku hanya ingin membuatmu sedikit mabuk dan membawamu ke kamar untuk menginap," ujar Rasya.
"Dih! Pria itu benar-benar tidak waras," ujar Geni. "Kau pikir aku akan tertipu dengan trik licikmu?" tanya Alesse.
__ADS_1
"Ayolah! Ini bukan trik licik. Aku tidak berniat membuatmu membenciku. Percayalah! Aku bukan orang jahat!" ujar Rasya sambil membentangkan tangannya.
"Aku tidak bisa memercayaimu! Kau memaksaku tinggal di sini tanpa alasan!" ujar Alesse kemudian mengeluarkan tongkat petirnya. Pria paruh baya tadi pun segera lari sebelum kegaduhan terjadi.
"Begini, Alesse! Kau adalah orang pertama yang tidak sesuai dengan prediksiku! Selama ini semua hal, apa saja yang akan menimpaku, yang bertemu denganku, yang berhubungan denganku, semuanya tertulis di buku tua itu, namun hari ini tidak. Aku tidak pernah membaca bahwa diriku akan bertemu dengan seorang anak bernama Alesse. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku tidak sesuai dengan yang diprediksikan buku tua itu. Aku ingin kau tinggal di sini lebih lama, aku sangat penasaran seperti apa dunia yang berjalan tidak sesuai prediksi buku itu. Selama ini aku merasa bosan karena apa yang akan terjadi selanjutnya sudah tertulis di buku tua itu," ujar Rasya.
Alesse pun mencoba sabar dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia pun meletakkan kembali tongkat petir itu di punggungnya.
"Kau..... percaya dengan perkataanku?" tanya Rasya tidak menyangka. "Tentu saja. Buku tua yang kau maksud itu seperti ini kan?" tqnya Alesse sambil menunjukkan hologram dari buku yang ia miliki.
"Be... benar sekali! Itu sama seperti milikku! Bagaimana kau tahu?" tanya Rasya. "Tentu saja, karena aku juga memilikinya, " ujar Alesse.
Rasya pun mendekat lalu memegangi bahu Alesse. "Alesse! Sepertinya kita ditakdirkan untuk bersama!" ujarnya dengan tatapan penuh gairah.
"Aku ingin muntah. Seseorang, bisakah hentikan adegan ini dari mataku?" tanya Geni. Alesse pun kesal, ia memukul kepala Rasya dengan tongkat petirnya.
"Kau bercanda?" tanya Alesse. Rasya pun tertawa. "Maaf, aku terlalu senang karena tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Dari dulu aku mencoba merubah julukanku dari buku yang asalnya adalah Rasya si Berandal. Sayangnya meskipun aku berhasil merubahnya, masa depan yang dituliskan dari buku itu tidak pernah berubah," ujar Rasya.
"Tentu saja. Penggoda tidak beda jauh dengan berandal, bodoh!" ujar Alesse. Saking senangnya, Rasya tidak sadar kalau tubuhnya bercahaya dan semakin memudar. Ia larut dalam ketawanya hingga dirinya terhisap oleh buku yang ada di balik bajunya. Buku itu pun menghampiri Alesse dan masuk ke dalam dadanya.
"Ugh! Aku tidak pernah terbiasa dengan hal ini," ujar Alesse.
Tak lama kemudian seorang anak kecil datang berlari sedangkan penduduk desa mengejarnya. "Hei, Rasya! Awas kau! Dasar anak nakal!" teriak orang-orang.
Anak kecil itu tampak tertawa kegirangan sambil meledek orang-orang yang mengejarnya. "Begitulah seharusnya takdirku, namun aku merubahnya. Di dalam buku tertulis bahwa aku menggunakan pengendalian alam untuk menjadikan tubuhku tetap seperti anak kecil, namun aku memutuskan berbuat sebaliknya," ujar Rasya.
"Sekarang sudah ada yang menggantikanmu di desa ini. Saatnya pergi, " ujar Alesse. "Eh? Tunggu dulu! Kenapa kau tidak menjelaskan apa yang sedang terjadi padaku?" tanya Rasya.
"Hanya satu hal yang ingin kukatakan. Kau itu sudah mati," ujar Alesse singkat, membuat Rasya tercengang.
"Alesse, aku tidak ingin berurusan dengan pria itu. Bisakah kau membuat tabir antara aku dengannya?" tanya Geni. "Entahlah," ujar Alesse kesal, ia juga tidak ingin menerima Rasya di tempatnya.
__ADS_1
Rasya masih tampak bingung dengan apa yang terjadi, akhirnya Gord pun menunjukkan diri. "Oh, lihatlah sosok perkasa ini! Bagaimana kau bisa berakhir di tempat seperti ini?" tanya Rasya sambil menghampiri Gord, ia bahkan sampai meraba-raba lengan dan dadanya.
"Kau tampak sangat kekar sekali! Wajahmu juga tampan," ujar Rasya. Seketika keadaan menjadi terbalik, seharusnya yang bingung saat ini adalah Rasya, namun kenyataannya Gord dibuat bingung oleh kelakuannya.