Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Keberadaan yang tidak pasti


__ADS_3

Ray terus menatap batu lentera itu. Ia tidak menyangka dua puluh tahun telah berlalu begitu saja, namun ia belum bisa mengembalikan batu itu kepada pemiliknya.


"Ralph, banyak hal yang sudah terjadi saat kau tidak ada di sisiku. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Ku mohon! Sebenarnya kau ada di mana?" Ray terus menggenggam batu itu.


"Aku sudah menuruti perkataanmu, aku sudah memercayai perkataanmu. Apakah kau tahu? Ternyata Warden yang selama ini kita waspadai adalah seorang wanita cantik, aku bahkan pernah menikmati malam yang panas bersama. Aku berhasil mengalahkan Warden sesuai dengan harapanmu. Tapi kenapa kau tidak muncul juga? Aku harus mencarimu ke mana?" Ray merasa sangat putus asa, puluhan tahun berlalu membuatnya merasa tidak bisa mengharapkan keberadaan Ralph, ia merasa ingin menyerah mencarinya.


Ia pun beranjak dari posisi duduknya lalu mengayunkan tangannya ke belakang, ia hendak melempar jauh-jauh batu lentera itu. Sayangnya perasaan tidak rela terus menghinggapinya, membuatnya tiba-tiba terduduk dan menangis.


"Kumohon, Ralph! Jangan jadikan aku orang jahat yang tega membuang temannya sendiri!" ujar Ray.


Tak lama kemudian Alex datang menghampiri Ray. "Kenapa kau duduk di sini?" tanya Alex. Ray segera mengusap air matanya, namun Alex sudah terlanjur melihatnya baru saja menangis.


Alex pun terdiam, ia tidak bisa berkata-kata. Baru kali ini ia melihat wajah sedih Ray, padahal biasanya pria itu selalu terlihat enerjik. Wajah sedihnya membuat Alex memalingkan diri, berpura-pura tidak melihatnya.


"Kau sendiri kenapa ke sini?" Ray balik bertanya, suaranya agak melengking karena dia baru saja menangis.


"Oh, aku hendak menemui Tesla, ia menyuruhku segera datang. Kalau begitu, sampai jumpa lagi," ujar Alex kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Ray.


"Tunggu!" pinta Ray, seketika Alex berhenti melangkah, namun ia tidak ingin melihat wajah sedih pria itu.


"Jangan beritahu apapun tentang apa yang kau lihat pada Tesla ataupun Malfoy," ujar Ray. "Ba... baiklah," ujar Alex, tanpa sadar Ray sudah menghilang dari hadapannya.


Setelah pergi dari hadapan Alex, Ray pun merenung di atas benteng yang menjulang tinggi sambil menatap para iblis yang membuat kerusakan di bawah sana.


"Aku benar-benar sudah tidak memiliki semangat lagi untuk membasmi mereka. Apakah aku sudah mulai menua? Aku harus menemukan Ralph sebelum mati!" ujarnya kemudian terjun ke lubang Abyss.


Setelah beberapa detik kemudian, ia sudah berada di alam yang berbeda. Alam yang gersang dan suram, saat ini ia berada di bumi Abyss.


Ia pun terus berjalan hingga menemukan sebuah pemukiman, kemudian singgah di sebuah kedai untuk memesan minuman. Ia pikir alkohol adalah pilihan yang tepat untuk mengatasi kegalauannya itu.

__ADS_1


"Hei, kau pernah dengar cerita ini? Masa kelam Dark Warden! Kudengar ia berasal dari keluarga kerajaan yang runtuh 20 tahun yang lalu," ujar salah seorang bertudung kepala.


"Benarkah? Saat itu aku masih muda, aku tidak tahu apapun tentang berita-berita seperti itu," ujar salah seorang berkepala botak.


"Sama, saat itu yang kupikirkan adalah kerja-kerja, dan kerja. Aku harus memiliki rumah sendiri jika ingin memiliki seorang istri," ujar salah seorang dari ras binatang buas.


"Kudengar ia adalah seorang pangeran di sana," ujar orang bertudung kepala itu. "Serius? Berarti ia hanyalah seorang anak manja dari kalangan bangsawan? Wah! Aku tidak percaya dengan kenyataan ini! Bagaimana anak manja bisa menjadi Dark Warden?" ujar pria ras binatang buas.


"Aku pernah melihatnya secara langsung loh. Wajahnya memang rupawan bak seorang pangeran, tapi menurutku dia tidak manja. Lebih seperti orang yang keras kepala! Kau tidak tahu? beberapa bulan yang lalu ia baru saja memberantas para pengikut Warden hingga mereka berhenti bergerak lagi! Dia benar-benar maniak gila yang membantai orang-orang itu sendirian," ujar pria berkepala botak.


"Dia memang kuat dan keras kepala, tapi kalian tahu masa kelam apa hingga akhirnya ia mencapai kekuatan itu?" tanya pria beertudung kepala. "Apa itu?" tanya pria berkepala botak.


Pria bertudung kepala itu memberi isyarat kepada mereka berdua untuk mendekat. "Ia memgorbankan temannya sendiri untuk mendapatkan kekuatan itu," ujar pria bertudung kepala dengan suara lirih.


"A.... apa? Mengorbankan temannya? Maksudmu ia membunuh temannya sendiri?" tanya pria ras binatang buas.


"Aku pernah dengar ia dahulu berkelana dengan seorang pemuda yang sebaya dengannya. Jadi alasan pemuda itu saat ini tidak lagi ada di sampingnya adalah....."


Tiba-tiba saja suara meja di dobrak mengejutkan mereka. Seorang pria tinggi kekar dan tampan menghampiri mereka dengan terhuyung-huyung.


Sebenarnya ia bukan mabuk karena minuman alkohol itu, namun depresinya yang membuatnya seperti itu.


"Kuakui itu semua salahku! Aku gagal melindunginya. Tapi jika seseorang mengatakan bahwa aku membunuhnya, dia harus membayar mahal atas apa yang dia katakan! AKU TIDAK MEMBUNUHNYA! RALPH MASIH HIDUP! AKU PERCAYA ITU!" teriak pria itu kemudian pergi dari kedai sambil membanting pintu.


Orang-orang terdiam menyaksikan amukannya, sebagian masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, mereka masih kebingungan.


"Bu... bukankah pria tadi adalah Ray? Si Dark Warden itu?" tanya pria ras binatang. Pria bertudung kepala hanya diam sambil menurunkan tudung kepalanya agar wajahnya tak terlihat.


"Celakalah kita karena membicarakan hal yang buruk tentangnya!" ujar pria berkepala botak dengan wajah pucat.

__ADS_1


Di sisi lain, Ray langsung pergi ke tempat sepi. Di atas bukit yang tidak terdapat seorang pun di sekitarnya, ia berteriak keras untuk melampiaskan kekesalannya. "Ralph! Kau di mana?" teriaknya berkali-kali.


Setelah kelelahan, ia menuruni bukit dan mendapati sebuah gerbang antar dunia tiba-tiba muncul.


"Loh, Ray? Akhirnya ketemu lagi di sini," ujar Kaa yang baru saja keluar dari gerbang antar dunia itu.


Ray pun menghampirinya dengan wajah memelas, ia berlutut di hadapan Kaa lalu memegangi tangannya.


"Kaa, dari semua orang yang ada di dunia ini. hanya kau satu-satunya yang hafal berbagai tempat. Kumohon, bantu aku mencari Ralph!" ujar Ray.


Kaa yang awalnya ramah tiba-tiba menunjukkan tatapan dingin ke arah Ray. "Sepertinya kau sudah lupa dengan apa yang dulu pernah kukatakan. Sudah kubilang kalau aku tidak akan memihakmu lagi, aku tidak punya urusan denganmu lagi. Carilah sendiri! Jika tidak mampu, menyerahlah," ujar Kaa.


"Kaa, tolonglah! Ia sangatlah berarti bagiku. Jika aku menyerah sekarang, aku hanyalah orang jahat yang meninggalkan temannya sendiri," ujar Ray.


"Baguslah kalau begitu, terima saja julukan yang tertuju padamu itu. Semakin kau memohon padaku, semakin jelas tujuanmu meminta tolong. Kau tidak peduli keadaan temanmu itu, yang kau inginkan hanyalah membersihkan namamu dari tuduhan-tuduhan orang-orang terhadapmu!" ujar Kaa. Ray pun terdiam sejenak, ia tidak bisa menyangkalnya meskipun tidak setuju apa yang Kaa katakan.


"Bu... bukan begitu niatku, Kaa! Percayalah!" ujar Ray. Kaa hanya menghela nafas seolah mencoba bersabar menghadapi seorang anak yang tak kunjung dewasa.


"Tidak semua kesalahan di dunia ini dapat kau tebus Ray, kau juga tidak bisa berpaling dari kenyataan itu. Yang perlu kau lakukan adalah cukup menerimanya saja! Dua puluh tahun telah berlalu, namun tak ada kemajuan dalam pencarianmu. Jika kau merasa resah ataupun depresi, lakukanlah apa yang kau inginkan! Bukankah selama ini kau selalu begitu? Menghindari kenyataan dengan mencari hiburan wanita-wanita malam. Aku bahkan merasa jijik karena kau pernah berhubungan dengan Warden sebelumnya. Benar-benar tidak bisa dipercaya," ujar Kaa.


"Kau masih marah tentang hal itu?" tanya Ray. "Kau bercanda? Lagian siapa yang berani meniduri musuh dan menikmati malam yang panas bersama? Kewaspadaanmu benar-benar kurang, Ray! Kau sangat tidak masuk akal! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!" ujar Kaa.


"Kupikir hubungan kita sudah baik-baik saja sejak lama ini, kenapa kau tiba-tiba semakin membenciku?" tanya Ray.


"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak membencimu. Aku selalu membencimu, Ray! Aku hanya merasa kasihan dengan pemuda yang terlantar tanpa arah tujuan, namun sekarang kau bukan pemuda itu lagi, kau sudah tua! Sebaiknya rubah sifat keras kepalamu itu!" ujar Kaa.


"Apakah aku melakukan kesalahan yang lain? Hei, Kaa! Tolong beritahu aku! Kesalahan apa lagi yang telah kuperbuat hingga membuatmu kembali bersikap dingin padaku?" tanya Ray.


"Aku hanya akan berhenti membencimu jika kau berubah. Satu hal yang ingin kusampaikan, kuharap setelah ini juga kita tidak bertemu lagi," ujar Kaa.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Ray. "Jangan membuat permusuhan dengan Warden berikutnya! Sebaiknya kau ingat-ingat perkataanku ini. Jika aku melanggarnya, mungkin aku akan muncul untuk melawanmu juga," ujar Kaa memperingatkan. Ia pun pergi meninggalkan Ray.


__ADS_2