Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Geni


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak Alesse kembali dari antah berantah. Ia masih enggan untuk beraktivitas karena kepalanya terasa sakit.


"Hei, Jawara! Menurutmu hantu itu ada atau tidak?" tanya Alesse. "Hantu? Sosok supranatural dari seseorang yang sudah meninggal? Kudengar dari beberapa sosial media bahwa sosok hantu ini mengusik banyak orang yang masih hidup, namun aku tidak menemukan bukti fisik yang menunjukan bahwa hantu itu ada," ujar Jawara.


"Kau tahu? Beberapa hari ini suara Aqua dan Geni terus bermunculan di telingaku! Bahkan beberapa kali aku juga melihat wajah mereka yang samar-samar. Setiap itu terjadi, telinga dan mataku terasa sakit," ujar Alesse.


"Penglihatan dan pendengaran sangat rentan terhadap halusinasi, sepertinya fisikmu sedang tidak sehat! Tekanan darahmu terus menurun sejak kembali dari antah berantah. Meskipun angkanya sangatlah kecil, tapi grafik tekanan darahmu selama sepekan ini selalu menurun, tidak ada yang meningkat," ujar Jawara.


"Aku baik-baik saja, angka kecil seperti itu tidak akan mempengaruhi kesehatanku, sebaliknya dari kemarin halusinasi ini terus terjadi secara tidak wajar! Seperti ada yang sengaja mengusikku!" ujar Alesse.


"Siapa yang mengusikmu? Kau sendiri yang dari kemarin kupanggil, namun tidak menjawab," ujar salah seorang remaja.


Alesse pun menengok ke arah meja belajarnya, ia mendapati Geni sedang duduk santai sedangkan bekas luka di perutnya terus mengeluarkan darah.


"Sejak kapan kau di situ? Sepertinya jahitan di perutmu terlepas lagi, itu berbahaya loh!" ujar Alesse.


"Aku tidak merasakan ada yang berbahaya, lihatlah! Ini tidak sakit!" ujar Geni sambil menepuk bekas luka di perutnya.


"Alesse? Alesse! Alesse! Kau baik-baik saja?" teriak Jawara. Alesse pun langsung tersadar, hal pertama yang coba ia lihat adalah meja belajar, namun ia tidak mendapati Geni di sana.


"Kenapa kau melamun?" tanya Jawara. "Bukan apa-apa, aku baik-baik saja," ujar Alesse. Ia mengernyitkan dahi. Beberapa saat yang lalu ia merasa sedang berbicara dengan Geni, namun kenyataannya hanya ada Jawara seorang di kamarnya.


"Ada apa? Kenapa kau bingung?" tanya Geni, ia sudah berada di sisinya. "Apa-apaan ini? Kenapa kau tiba-tiba menghilang?" tanya Alesse.


"Aku tidak menghilang, aku tetap berada di sini, di sekitarmu. Sepertinya sekarang kita berada di alam bawah sadar," ujar Geni.


"Kenapa seperti ini? Kenapa kau muncul di alam bawah sadarku?" tanya Alesse. "Mana kutahu! Setelah kau membawaku ke kendaraan anehmu itu, aku tertidur pulas. Saat sadar, aku sudah berada di dekatmu, aku bahkan tidak bisa pergi menjauh darimu" ujar Geni sambil mencoba keluar dari kamar, sayangnya ada sesuatu yang menghalanginya.


"Lalu Jawara ada di mana? Bukankah ia seharusnya ada di sini?" tanya Alesse sambil menengok ke kanan dan ke kiri,ia tidak menemukan Jawara.


"Tentu saja ia tidak ada di sini, kita berada di alam bawah sadar, kamar ini adalah ingatan yang terakhir kau lihat, jadi aku tidak bisa melangkah keluar kamar ini karena penglihatan dan pendengaranmu hanya menjangkau kamar ini saja," ujar Geni.


"Jadi kau ini bukan halusinasi? Lalu di mana Aqua? Aku juga mendengar suaranya sejak kemarin," ujar Alesse.


"Aqua? Siapa itu? Aku belum pernah melihat ada orang lain di alam bawah sadar ini," ujar Geni. "Begitu kah? Sebaiknya kau jangan menggangguku lagi! Setiap kali mendengar suaramu atau melihatmu, telinga dan mataku menjadi sakit!" keluh Alesse.


"Berarti sejak tadi aku memanggilmu, kau bisa mendengarnya?" tanya Geni. "Tentu saja!" ujar Alesse. "Wah! Luar biasa! Sepertinya aku bisa berbicara denganmu tanpa harus memaksamu masuk ke alam bawah sadar," ujar Geni.

__ADS_1


"Memaksaku masuk ke alam bawah sadar? Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Alesse penasaran.


"Tidak ada hal khusus, aku hanya menunggumu melamun, berpikiran kosong, lalu aku bisa menarikmu masuk ke alam bawah sadar," ujar Geni.


"Kalau bisa seperti itu, lalu apa yang sedang kulakukan di alam nyata?" tanya Alesse. "Mungkin kau terlihat sedang duduk termenung dengan tatapan kosong," ujar Geni.


Seketika itu Jawara menepuk bahu Alesse, membuatnya tersadar kembali. Geni yang ada di sampingnya berubah samar, bahkan suaranya juga tidak lagi terdengar jelas, seperti telepon yang sinyalnya terputus secara perlahan.


Karena merasakan sakit kepala yang sangat hebat, Alesse pun mencoba memejamkan mata dan menutup telinganya, Geni yang samar-samar itu sudah lenyap.


"Kenapa kau bertingkah aneh, Alesse?" tanya Jawara keheranan. "Bukan apa-apa, sepertinya aku sedikit dehidrasi," ujar Alesse. "Kadar cairan di tubuhmu normal, Alesse! Kau tidak dehidrasi," ujar Jawara.


"Argh! Terserah aku! Aku yang merasakannya bukan kau," ujar Alesse kemudian pergi ke dapur untuk minum.


"Aneh sekali! Aku merasakan hormonmu meningkat secara drastis, sepertinya kau kembali bersemangat! Apakah ada hal yang membuatmu sangat penasaran?" tanya Jawara.


"Sst! Diam Jawara! Bisakah dalam tiga jam ini kau tidak mengusikku? Ada hal yang ingin kulakukan," ujar Alesse. Ia pun masuk ke dalam kamar dan duduk di kursinya. Ia pun mencoba mengosongkan pikiran.


"Kukira ada hal yang membuatmu semangat, kenapa kau malah duduk dan terdiam di situ? Apa yang kau pikirkan?" tanya Jawara.


"Sst! Bukankah sudah kubilang? Diam Jawara! Jangan ganggu aku!" ujar Alesse kemudian kembali fokus mengosongkan pikiran. Beberapa menit kemudian ia merasa terlelap, namun matanya masih terbuka lebar.


"Aku hanya perlu melamun untuk pergi ke sini, aku juga tidak tahu seperti apa cara kerjanya," ujar Alesse.


"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Geni. "Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang duniamu itu. Aku langsung terbawa kembali ke sini gara-gara bertemu teman-temanku di Abyss," ujar Alesse.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Abyss itu apa? Lalu apa maksudmu dengan dunia lain?" Geni balik bertanya.


"Kau tidak mengetahuinya? Menurutmu kita berada di mana sekarang?" tanya Alesse. "Tentu saja di alam bawah sadarmu," jawab Geni.


"Argh! Bukan itu maksudku! Kau pikir ini berada di planet apa?" tanya Alesse sekali lagi. "Tentu saja Nova! Di mana lagi? Sejauh ini hanya Nova yang dapat ditinggali di tata surya kita," ujar Geni.


"Hmm! Sepertinya orang-orang di Nova juga tidak tahu tentang keberadaan dunia lain!" Alesse menyimpulkan.


"Heh? Dunia lain? Omong kosong apa itu?" tanya Geni. "Kau tahu? Sekarang kita berada di planet bumi! Bukan Nova!" ujar Alesse.


"Planet bumi? Aku tidak pernah mendengar nama planet itu," ujar Geni. "Lalu? Kau kira aku masuk ke alam bawah sadarmu hanya untuk membicarakan omong kosong?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Sepertinya tidak mungkin sih, tapi aku benar-benar tidak sadar kalau ini berada di planet lain! Suasananya sama seperti di Nova, hanya saja langit di sini tampak lebih biru dan cerah! Udaranya juga lebih segar, kupikir ini adalah pelosok desa," ujar Geni.


"Meskipun ini desa, ini bukan pelosok! Justru ini adalah tempat yang padat penduduk!" ujar Alesse.


"Eh? Serius? warna langit di tempat yang padat penduduk tidak mungkin sebiru ini! Pasti akan lebih keruh," ujar Geni.


"Sudah kubilang! Ini adalah Bumi! bukan Nova! Di sini masih tahun 2023, sekitar dua puluh tahun lebih lambat dari Nova," ujar Alesse.


"Berarti sekarang aku berada di dunia lain?" Geni tidak percaya, ia terus menatap jendela yang tidak bisa ia buka, ia sangat penasaran.


"Andai saja aku bisa keluar dari sini," ujar Geni. "Lagian kenapa kau bisa terjebak di alam bawah sadarku?" tanya Alesse keheranan. "Entahlah mungkin ini adalah balasan karena aku menyalahi takdir yang ada di buku kusamku. Sekarang buku itu sudah lenyap, pasti ini adalah hukumanku," ujar Geni pasrah.


Alesse langsung terbangun dari alam bawah sadarnya. "Sudah lima jam berlalu, karena takut ada yang salah denganmu, jadi kubangunkan," ujar Jawara.


Alesse pun menengok ke arah Geni yang tampak samar-samar di jendela. "Alesse? Kau bisa melihatku?" tanya Geni, ia tampak terkesan.


"Bukan hanya melihat, suaramu bahkan mulai terdengar jelas!" ujar Alesse. "Kau bicara dengan siapa, Alesse?" tanya Jawara.


"Oh! Aku juga bisa mendengarkan perkataan kembaranmu itu! Ini luar biasa! Sepertinya aku terbebas dari alam bawah sadarmu!" seru Geni.


Alesse dapat melihat wajah remaja itu dengan jelas, sosoknya sudah terlihat nyata. Geni pun kegirangan, ia mencoba keluar dari kamar, namun tidak bisa.


"Loh? Kenapa ini? Kenapa aku tetap tidak bisa keluar?" Geni tampak kecewa.


Alesse mencoba untuk berdiri di depan kamarnya. "Cobalah! Mungkin saja kau bisa keluar," ujar Alesse. Geni pun mencoba melangkah ke depan pintu, ia dapat melaluinya dengan mudah.


"Wah! Ini luar biasa! Aku bisa keluar dari kamar itu!" seru Geni. "Seperti yang kau katakan, kau bisa pergi ke tempat-tempat yang terjangkau oleh penglihatan dan pendengaranku," ujar Alesse.


"Rasanya seperti penglihatanku adalah penglihatanmu, dan pendengaranku adalah pendengaranmu juga," ujar Geni.


"Lebih baik jika bisa disimpulkan seperti itu! Kau bahkan bisa melihat apa yang ada di belakangku kan?" tanya Alesse.


"Tentu saja! Aku bisa melihatnya dengan jelas," ujar Geni. "Asalkan berada dalam jangkauanku, entah aku sedang melihatnya atau tidak, kau tetap melihatnya? Ini sama saja memiliki mata di belakang kepala." Alesse menyimpulkan.


"Wah! Ini bisa sangat menguntungkan bagimu! Aku bisa memberitahumu apa yang ada di belakang saat kau melihat ke depan!" ujar Geni.


"Benar sekali! Aku tidak menyangka memiliki kelebihan seperti ini!" ujar Alesse.

__ADS_1


"Hei, Alesse! Sejak tadi kau berbicara dengan siapa?" tanya Jawara .Geni mencoba meraba-raba mata Jawara sambil cekikikan, namun Jawara tidak merespon apapun, ia memang tidak bisa melihat Geni.


"Bukan apa-apa kok, aku hanya sedang bergumam sendiri," jawab Alesse.


__ADS_2