
Gord pun akhirnya benar-benar sadar, ia membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat yang gelap gulita.
"Kenapa aku bisa terjerat di atas pohon? Tapi..... meskipun agak sakit dan pusing.... perasaan itu.... lumayan juga," ujarnya.
"Walah! Rupanya kau ketagihan dengan sensasi itu? Perlukah kau kubuat seperti itu lagi? Tidak kusangka kau punya gairah selain pada wanita. Kau tampak menikmati dirimu sendiri kan?" tanya Rasya sambil tertawa, ekspresi mesumnya membuat Gord merasa kesal.
"Kau ini! Membuatku malu di hadapan para wanita! Harga diriku benar-benar hancur!" ujar Gord terpuruk. "Nyatanya meskipun begitu, kau juga tampak menikmatinya," ujar Rasya, Gord tidak bisa membantah perkataannya.
"Lain kali jangan lakukan hal itu! Bagaimana jika itu terjadi pada Geni? dia masih anak-anak!" tegur Gord.
"Aku sudah memperhitungkannya. Aku melilit tubuhku dengan sedikit kencang, jika tubuh Geni yang berada dalam lilitan itu, ia akan langsung terlepas, namun beda ceritanya jika tubuhmu yang tersangkut di sana. Kau akan tercekik dan terpaksa menghirup aroma tanaman yang dapat membangkitkan birahi seseorang. Sayang sekali aku tidak bisa menyaksikan wajah bodohmu saat itu terjadi," ujar Rasya sambil tak bisa berhenti tertawa.
Gord merasa benar-benar kesal, ia tidak tahan dengan sifat orang-orang yang ada di sekitarnya, mulai dari Geni yang tampak bandel, Baraq yang mudah tersulut amarah, Alesse yang terlalu pintar untuk diajak berbicara, hingga Rasya yang memiliki sifat tidak normal. Menghadapi semua hal itu membuatnya kelelahan.
"Terserah kau lah, bahkan hanya dalam bentuk jiwa saja diriku sudah sangat kelelahan menghadapi kalian," ujar Gord kemudian memilih untuk tidur.
Di sisi lain Geni pun terbangun di sebuah ruangan. Ia tidak tahu saat ini berada di mana dan memutuskan untuk keluar.
Ia benar-benar terkejut karena melihat banyak orang sedang menyaksikan sebuah pertunjukan. "Aish! Tidak seharusnya aku berada di sini!" ujarnya kemudian mengangkat kaki dari tempat itu.
"Mau ke mana anak muda?" tanya salah seorang pria. "Aku harus segera pergi dari sini! Ada hal penting yang harus kulakukan! Aku harus menemukan cara agar Alesse bisa kembali!" ujarnya.
"Hmm? Aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi, sebaiknya kau tanyakan saja pada Sang Pertapa. Ia akan menjawab pertanyaanmu dengan memuaskan," ujar pria itu.
Geni hanya tersenyum lalu pergi. "Hish! Siapa lagi Sang Pertapa ini? Bodoh amat!" ujarnya kemudian pergi keluar pemukiman.
"Oke! Anggap saja ini seperti sedang mendaki!" ujarnya kemudian mengambil tongkat petir yang ada di punggungnya. "Wahai tongkat! Berubahlah menjadi peralatan untuk berkemah!" teriaknya, namun tidak terjadi apa-apa.
"Sayang sekali, tentu saja tidak semudah itu. Andai saja Alesse berada di sini, ia pasti bisa dengan mudahnya menggunakan tongkat ini," ujarnya dengan tatapan murung. Ia pun pergi menuju sebuah gua dan duduk di sana.
Setelah lama tertegun, perutnya pun mulai merasa lapar, ia bingung hendak pergi ke mana untuk mendapatkan makanan.
"Aish! Aku harus berbuat apa?" Geni benar-benar gelisah, ia tidak tahu benda apa saja yang bisa dimakan di tempat itu. Pada akhirnya ia tertidur dengan rasa lapar.
__ADS_1
Hujan pun mulai turun sedangkan warna rambut Geni tiba-tiba berubah menjadi biru, wajahnya tertutup oleh tudung kepala.
Kali ini Aqua yang mengambil alih tubuh Alesse. Ia terbangun karena perutnya terus mengeluarkan suara.
Karena masih hujan, ia hanya memeriksa keluar untuk mengetahui seberapa deras air yang berjatuhan.
Ia terdiam sejenak sambil menunggu, namun perutnya yang berbunyi sangat mengusik ketenangannya.
Sambil menatap langit, ia mencoba melakukan sesuatu. Ia mengangkat tangan kanannya lalu menengadahkannya ke langit, ia pun mengayunkan kembali tangannya ke bawah seolah sedang menarik sesuatu.
Setelah berkali-kali melakukannya, ia pun berhasil. Sepercik air baru saja keluar dari jalur arah jatuhnya.
Saat melihat air yang membasahi sebagian jubahnya itu, ia pun tersenyum. Sayang sekali karena tidak ada yang menyaksikan seperti apa senyumannya itu.
Sekali lagi ia menggerakkan tangannya. Kali ini gerakannya lebih kasar. Ia membuat genangan air yang ada di luar tiba-tiba berdiri seperti ombak yang hendak menghantam karang.
Setelah berhasil mengendalikan air, gerakan tangannya menjadi semakin halus. Sekarang ia dapat menginjakkan kaki keluar gua tanpa merasakan setetes hujan pun yang membasahi dirinya.
Merasa tanah yang dipijaknya semakin lunak, akhirnya ia membuat medan di sekitarnya menjadi beku. Saat itulah sepatunya tiba-tiba berubah menjadi lebih tinggi, terdapat mata pisau yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Ia menggerakkan kedua tangannya kembali, membuat aliran sungai tiba-tiba terbelah. Ikan-ikan pun terkapar karena tidak bisa berenang di tanah yang kering itu.
Aqua segera memungutnya lalu kembali ke gua. Setelah itu ia terdiam karena tidak bisa membuat api. Akhirnya ia mengunakan cara lain untuk memasak ikan itu. Ia mencoba mendidihkan air dengan menggerakkannya sedemikian rupa. Ia merebus ikan-ikan itu dengan air yang mendidih.
"Kapan terakhir kali aku merasakan makanan?" tanyanya sambil mulai menyantap ikan yang ia dapat. Kesendirian dalam gua itu adalah kenikmatan tersendiri baginya, ia bisa menatap langit tanpa perlu merasa terusik dengan orang-orang.
"Perasaan ini.... sudah sangat cukup untuk diriku seorang," ujarnya kemudian membaringkan diri karena suara hujan yang menenangkan, ia pun tertidur karena merasa kenyang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari tampak menyilaukan mata, hal itu membuat Bara langsung membuka mata. "Padahal aku sedang membaca buku, kenapa tiba-tiba terbaring di tempat seperti ini? Primitif sekali!" ujarnya. Sebagai bangsawan yang biasa tinggal di istana, ini adalah tempat terburuk untuk bangun dari tidur.
Ia pun berjalan tanpa arah, dan akhirnya sampai di sebuah desa yang tampak ramai. Mereka sedang melakukan ritual.
__ADS_1
"Wahai anak muda! Kenapa kau kembali lagi ke sini? Bukankah kau bilang ada sesuatu yang penting yang ingin kau cari?" tanya seorang pria.
"Aku?" Baraq mencoba menengok ke belakang, barang kali pria itu sedang berbicara dengan orang lain. "Aku sedang berbicara denganmu!" ujar pria itu.
"Maaf? Memangnya kita pernah bertemu?" tanya Baraq. "Tidak sopan! Aku tahu kalau kau adalah seorang bangsawan, dilihat dari pakaianmu itu. Tapi apakah harus seperti ini memperlakukan rakyat jelata?" tanya pria itu.
"Permisi! Memangnya aku kemarin hendak mencari sesuatu?" tanya Baraq. Pria itu semakin muak karena cara bicara anak itu tampak angkuh, akhirnya ia segera mengusirnya dari desa.
"Jika kau butuh sesuatu, jangan datang ke kami! Pergilah ke tempat sang Pertapa! Semoga saja ia masih sabar menghadapi bocah angkuh sepertimu!" ujar pria itu.
"Benar-benar penduduk yang aneh! Kalau mereka jadi warga kerajaanku, mungkin sudah kuratakan dengan tanah," ujarnya kesal, ia pun langsung pergi berlawanan arah dari desa itu.
Ia pun mendapati debu yang sangat tebal melaju ke arah desa. "Kebetulan sekali! Mungkin memang desa itu pantas mendapatkannya," ujarnya kemudian mengganti arah jalannya agar menjauhi kepulan debu yang bergerak ke arah desa. Ia hendak mengabaikan apa yang baru saja ia lihat.
Ia tidak menyangka kepulan debu itu akan menyusulnya, akhirnya ia pun memilih bersembunyi sedangkan kepulan debu itu mulai pudar.
Tampak ribuan prajurit sedang menyiapkan tempat untuk berkemah. Mereka hendak memyerang desa itu selagi mereka lengah.
"Pengecut sekali! Bagaimana bisa ribuan prajurit menyergap desa yang sedang lengah? Apakah mereka tahu kalau desa itu sedang mengadakan ritual lalu memutuskan untuk menyerang mereka? Harga diri mereka di mana? Ini bukan siasat atau cerdik! Ini namanya pengecut! Sayangnya ini bukan urusanku, biarlah desa itu rata dengan tanah," ujarnya kesal, ia berusaha mengabaikan apa yang akan terjadi.
"Hei, kau pernah dengar? Katanya banyak sekali gadis cantik dari desa itu. Kupikir saat ritual mereka dikumpulkan di suatu tempat. Bukankah hal ini menjadi sangat mudah? Kurasa malam ini kita akan sangat puas," ujar salah seorang prajurit.
"Bukankah kau punya seorang istri dan anak di rumah?" tanya salah seorang. Prajurit itu terdiam karena pertanyaannya.
Tak lama kemudian salah seorang lagi duduk bersama mereka. "Rumah ya rumah, medan perang beda lagi. Kau pikir pria setelah menikah akan kehilangan nafsu birahinya? Kita sudah sebulan lebih tidak kembali ke ibukota loh. Rata-rata pria yang sudah menikah di sini juga merasakan hal yang sama, mereka semua juga menginginkan wanita," ujar orang itu.
Baraq tak bisa berkata-kata setelah mendengar pembicaraan mereka. Rasa kesalnya membuat kilatan listrik menjalar di rambutnya dan membuatnya berdiri seperti duri.
"Hina sekali mereka ini! Aku tidak mengharapkan desa itu diratakan oleh mereka! Tapi apa yang bisa kulakukan?" Baraq mencoba mengeluarkan aliran listrik dari kedua tangannya, namun tampak ragu karena sebelumnya juga tidak berhasil.
Ia pun mencoba menarik nafas perlahan-lahan dan menyatukan kedua tangannya. Pada akhirnya ia dapat merasakan aliran listrik yang terus berputar di antara tangan kanan dan kirinya.
"Benar sekali! Seharusnya seperti ini! Seharusnya dari awal seperti ini!" ujarnya kegirangan hingga ia tidak bisa mengendalikan aliran listrik itu.
__ADS_1
Seketika sebuah petir dari langit menyambarnya tiba-tiba. Tentu saja orang-orang di sekitarnya terkejut karena mendapati petir di langit secerah itu.