Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Undangan dari Guardian


__ADS_3

"Alesse! Tunggu aku!" ujar Alex sambil berusaha berlari menyusul Alesse. Ia tidak berani berlari dengan kecepatan harimau karena itu akan membuat celananya robek.


Alesse tampak meluncur santai dengan sepatu rodanya. Akhirnya ia tidak perlu kepayahan untuk berjalan kaki ke sekolah setelah berbulan-bulan berlatih, ia juga tidak perlu menaiki punggung Alex lagi.


Alesse langsung berhenti di depan gerbang karena melihat beberapa mobil mewah parkir di halaman sekolah.


"Ada apa Alesse? Kenapa kau berhenti?" tanya Alex keheranan. "Bukan apa-apa kok, sepertinya suasana sekolah menjadi aneh! Biasanya para siswi akan datang mengerumunimu, sepertinya hari ini tidak," ujar Alesse.


Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam kelas. "Eh! Kalian lihat tidak? Orang-orang dari Guardian datang ke sekolah kita loh!" seru salah seorang anak.


"Eh seriusan? Hebat! Bukankah Guardian itu di Amerika? Berarti yang datang ke sini adalah bule dong?" tanya anak yang lain.


"Tentu saja! Mereka bermata biru dan berwajah tampan! Sama seperti Raya Stephen!" seru anak lainnya. "Wah! Aku jadi ingin lihat!" Kelas itu tampak ramai dengan pembicaraan. Akhirnya bel berbunyi dan wali kelas masuk ke dalam ruangan.


"Selamat pagi anak-anak! Hari ini kita mendapatkan kabar gembira! Salah satu teman kalian mendapatkan undangan untuk belajar di luar negeri! Di organisasi Guardian!" ujar wali kelas.


"Wah! Alex! Ini pasti undangan buatmu!" seru anak-anak. "Benar sekali! Alex Jawara akan pindah sekolah di Amerika setelah mendapatkan izin dari orang tua," ujar wali kelas.


"Wah! Hebat! Alex akan belajar di luar negeri! Amerika! Wah! Bisa merasakan musim salju dong!" seru anak-anak lainnya.


Alesse tampak diam saja sambil membaca bukunya. Sebenarnya buku itu adalah Jawara yang sedang berubah, agar tidak dicurigai banyak orang, ia memilih bentuk buku yang biasa. Di buku itu, ia bisa mencari segala informasi dari internet layaknya sebuah ponsel. Dengan begitu ia tidak akan ketahuan sedang menggunakan alat elektronik.


"Hei Alesse! Kenapa kau diam saja? Sepertinya tiap hari yang kau lakukan hanyalah membaca buku," ujar salah seorang. Alesse hanya tersenyum ramah untuk menanggapi perkataan mereka seperti anak pendiam. Melihat Alesse tersenyum, anak-anak sekelas langsung terdiam.


"Barusan ia tersenyum kan? Ternyata wajahnya cukup manis untuk seorang laki-laki! Benar-benar berbahaya,"


"Senyumannya..... Benarkah dia ini laki-laki? Aku baru sadar kalau wajahnya seperti perempuan,"


"Alesse manis sekali! Ternyata bukan kakaknya saja yang rupawan, tapi ia juga sangat manis saat tersenyum! Kenapa baru menyadari hal ini? Alex sangat beruntung sekali punya adik manis sepertinya, apalagi ia juga sering menggendongnya ke sekolah! Andai saja aku juga bisa menawarkannya,"


Semua pikiran mereka terus menghujani telinga Alesse. Secara tidak sadar, mereka berhenti membahas kabar gembira Alex.

__ADS_1


"Eh? Kalian kenapa?" Alesse tampak ketakutan melihat tatapan anak-anak sekelas. "Bu.. bukan apa-apa kok! Pokoknya, kita semua sangat bangga dengan Alex!" ujar salah seorang anak.


Akhirnya sebelum pelajaran dimulai, Alex pun kembali mengemasi barang-barangnya untuk pulang.


"Alesse, maukah kau ikut pulang?" tanya Alex. "Kenapa? Aku masih harus ikut pelajaran loh," ujar Alesse.


"Lah! Jangan seperti itu Alesse! Kasihan kakakmu! Dia pasti ingin menatapmu untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi," ujar salah seorang.


Karena mereka terus menyudutkannya, akhirnya Alesse terpaksa ikut pulang ke rumah. Mereka berdua di antar menggunakan mobil mewah dengan beberapa bodyguard berjas hitam.


Setelah sampai di rumah, akhirnya Alex menjelaskan semua hal tentang undangan dari Guardian itu. Seorang perwakilan dari Guardian pun meminta Hendra dan Andin untuk menandatangani surat persetujuan.


"Akhirnya aku tidak akan berada di rumah untuk sementara waktu. Andai saja kau ikut denganku," ujar Alex dengan wajah murung. Alesse mengetahui isi hatinya. Adiknya tampak takut pergi dari rumah.


"Kasihan sekali! Meskipun badannya sebesar itu, ia tetaplah anak kecil berusia 13 tahun," pikir Alesse. Ia pun menyerahkan ponselnya pada Alex.


"Ini adalah ucapan selamat dariku. Ponsel yang kau miliki sudah ketinggalan jaman, itu sudah beberapa tahun yang lalu," ujar Alesse.


"Ta... tapi ini.... bukankah ini ponsel model terbaru?" Alex merasa tidak nyaman menerimanya.


"Benarkah? Terima kasih Alesse! Sepertinya kau memiliki banyak uang," ujar Alex sambil memeluk kakaknya. "Ini bukan apa-apa, kalau aku mau, mungkin aku bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia ini. Sayangnya aku tidak tertarik," ujar Alesse sambil tersenyum hangat.


Melihat wajahnya itu, Alex semakin merasakan tanda-tanda perpisahan yang akan ia alami. Ia semakin takut dengan hal itu. "Alesse, sepertinya detak jantung adikmu menjadi semakin cepat!" ujar Jawara.


"Alex! Kau memiliki tubuh yang besar, di luar sana tidak akan menerima keadaanmu dan memberimu perlakuan khusus seperti di rumah ini, kau yang harus menyesuaikan diri di sana. Meskipun baru 13 tahun, tanamkan pada dirimu bahwa kau bukanlah anak kecil lagi! Lihatlah ke cermin dan yakinkan bahwa kau adalah pria dewasa," ujar Alesse.


"Barang-barangmu sudah siap Alex," ujar Andin. "Baik bu," ujar Alex. Ia tampak berkaca-kaca, namun terus menahannya. Sesekali ia mendongakkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak mengalir.


Semakin merah matanya, Hendra menjadi iba, ia pun menghampirinya. "Tidak apa-apa anakku! Kau pasti baik-baik saja di sana," ujar Hendra sambil mengusap-usap bahu Alex.


"Tapi.... tapi...." Alex tidak bisa menahan air matanya, akhirnya ia terus menyekanya sambil terisak.

__ADS_1


"Aduh, anakku yang paling tampan! Jangan menangis dong! Kau sudah besar! Tidak apa-apa jauh dari orang tua! Kau juga perlu mengembara untuk masa mudamu. Jangan sampai semangat liarmu tertahan oleh rumah ini, kau punya cara sendiri untuk mengatasinya di sana. Jangan takut! Selalu ingat ayah! Ayah akan membelamu," ujar Hendra.


Andin tampak tersenyum melihat pemandangan seorang ayah yang merangkul anaknya itu. Ia ikut terharu dan akhirnya menangis.


"Baiklah, ayah! Ibu! Alesse! Aku pergi dulu!" ujar Alex. Ia pun masuk ke dalam mobil dan berlalu begitu saja. Sepasang suami istri itu tampak tak bisa berhenti menangis setelah mobil itu tak terlihat lagi di pandangan mereka.


Setelah melambaikan tangan, Alesse langsung kembali ke rutinitasnya yaitu membaca buku. "Kau tidak sedih ketika adikmu pergi begitu saja? Kau akan kesepian loh! Apalagi kau tidak pernah pergi main ke rumah teman atau sebagainya," ujar Andin.


"Pergi main? Rumah teman?" Alesse pun mulai memikirkan Irawan setelah mendengar perkataan Andin. Akhirnya ia pun tertarik untuk pergi ke perpustakaan.


Ia tidak menyangka perpustakaan usang itu sudah menjadi lebih baru. Ia pun masuk ke dalam perpustakaan itu, namun tidak menemukan Irawan. Ia pun bertanya pada seorang penjaga dengan foto Irawan.


"Oh, mas Irawan? Beberapa hari ini ia izin sakit. Tumben sekali ada yang mencarinya," ujar penjaga itu. Setelah mendapatkan alamat rumahnya, Alesse pun segera pergi ke rumahnya dan mengetuk pintu.


Seorang pria berwajah pucat pun membukakan pintu. Kumis dan janggutnya yang mulai tumbuh tampak tidak terawat. "Paman?" Alesse memastikan bahwa pria itu adalah Irawan karena dapat membaca pikirannya.


"Kau? Apakah kau adalah Alesse Jawara?" Tatapan layu pria itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki semangat hidup. "Ada apa ini? Kenapa paman seperti ini?" Alesse keheranan.


"Sepertinya ada yang salah dengan organ dalamnya, asam lambungnya terlalu tinggi hingga dinding lambungnya robek," ujar Jawara. "Akhirnya persiapan lima bulanku bisa diujikan sekarang juga!" seru Alesse dengan tersenyum jahat.


"Kau kenapa? Membuatku takut saja," ujar Irawan sambil mundur ke belakang, ia tampak tidak berdaya dan jatuh ke lantai.


Alesse pun mengambil tongkat yang ada di punggungnya. Tongkat itu langsung berubah menjadi sebuah ruangan kubus steril dengan berbagai peralatan bedah lainnya.


"Be.... benda apa itu?" Irawan terkejut. Sebuah lengan besi muncul lalu mengangkat tubuh Irawan dan membaringkannya pada dipan.


Alesse pun langsung bersiap-siap dengan membersihkan diri di ruangan sebelahnya. Ia pun langsung menggunakan peralatan medisnya dan menghampiri Irawan.


"Apa ini? Apa yang hendak kau lakukan?" Irawan langsung panik. "Tenang saja, kau akan baik-baik saja! Jawara, mari kita mulai!" ujar Alesse.


"Baiklah," ujar Jawara yang muncul dari sebuah monitor. Seketika beberapa lengan besi muncul, memulai persiapan layaknya tim operasi bedah.

__ADS_1


Alesse pun memimpin operasi itu, setelah Irawan tertidur karena bius, ia pun memulai operasi bedahnya.


Akhirnya setelah belasan menit berlalu, operasinya telah berhasil, keadaan Irawan pun menjadi lebih baik dari sebelumnya meskipun ia belum sadarkan diri.


__ADS_2