Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Liburan


__ADS_3

Sejak hari itu hingga lulus SMP, Alesse tidak menemukan titik hitam di peta. Berita tentang retakan Abyss di dunia juga sudah mulai reda, seperti masa pandemi yang sudah berakhir.


Setelah tidak ada hal yang membuatnya tertarik, akhirnya Alesse kembali ke perpustakaan, belajar dalam diam, bahkan ketiga temannya tidak bisa mendekatinya.


Alesse menjadi anak yang pendiam kembali, ia bahkan sudah jarang mengutak-atik Jawara dan Probe, seolah mereka dibiarkan terbengkalai.


Tiba-tiba suatu hari ayahnya pulang dengan memar di seluruh tubuhnya. "Ya ampun! Sayang! Apa yang terjadi padamu?" Andin langsung panik dan menghampiri Hendra.


"Bukan apa-apa kok, aku hanya terjatuh di tangga kantor," ujar Hendra. "Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku dihajar para preman dan uang gajianku diambil oleh mereka," pikir Hendra dalam hati.


Alesse yang sudah tidak pernah menunjukkan ekspresinya, kini menutup bukunya dengan kencang. Ia pun keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi pada ayahnya.


"Oh, Alesse! Kau tetap kecil seperti biasanya yah," ujar Hendra sambil tertawa bodoh. Ia sengaja melakukan itu untuk menenangkan suasana hati.


"Ayah kenapa?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya. "Bukan apa-apa kok, hanya jatuh di tangga," ujar Hendra. Ia pun hendak menuju ke kamar dengan kakinya yang pincang.


"Ayah, aku minta uang!" ujar Alesse terus terang. Sejauh ini Alesse terus menolak uang saku yang diberikan Hendra, baru kali ini ia meminta uang.


"Alesse! Kau tidak lihat ayahmu babak belur begitu?" tegur Andin. "Kata ayah itu jatuh dari tangga, bukan salahku dong," ujar Alesse dengan ekspresi datarnya.


"Tetap saja kau harus....."


"Sudahlah Andin, ini salahku karena tidak hati-hati. Jadi, ada apa Alesse?" tanya Hendra. "Minta uang," ujar Alesse.


"Oh? Oh iya, kau tidak pernah minta uang sebelumnya Setidaknya ayah harus memberimu...." Hendra pun teringat kembali kalau semua uangnya diambil oleh preman itu.


"Gimana ayah? Bukankah ayah baru gajian tadi?" tanya Alesse. "Bentar nak, ayah ingin mengambil sesuatu," ujar Hendra. Dengan jalan pincang, ia mencoba keluar rumah.


"Duh! Gimana ini? Jika aku tidak memberikannya uang akan lebih aneh lagi! Selama ini ia tidak pernah meminta uang, aku akan menjadi ayah yang jahat jika tidak memberikannya!" pikir Hendra.

__ADS_1


"Jadi, kau minta berapa?" tanya Hendra. "Aku harus mampir ke tetangga dulu untuk meminjamnya, aku tidak bis bilang kalau uangku dirampok oleh preman," pikir Hendra.


"Sudahlah! Ayah tidak ada uang kan?" ujar Alesse kesal. Ekspresi yang sudah lama terpendam, kali ini muncul lagi, dengan suasana yang buruk.


"Apa maksudmu Alesse? Ayahmu baru saja gajian tadi!" ujar Andin. "Lah, ibu tidak lihat gimana ia bisa babak-belur begitu? Itu jelas bukan jatuh dari tangga!" ujar Alesse. Suasana hatinya semakin memburuk karena ayahnya bersikeras untuk berbohong.


Hendra hanya bisa menangis karena tidak memiliki solusi lagi. "Andin, Alesse! Apa yang harus kulakukan?" ujarnya sambil tak bisa berhenti menangis. Ia berlutut di hadapan mereka berdua.


Dengan geram Alesse pun kembali ke kamar. "Jawara, kau masih di punggungku?" tanya Alesse. "Tentu saja," jawab Jawara. Seketika tongkat yang melekat di punggung Alesse pun terlihat.


Ia segera keluar rumah dan memakai sepatu rodanya. Ia pun meluncur di jalanan dengan tongkat yang berubah menjadi pemukul baseball.


"Kau masih memantau gerak-gerik ayah kan selama bekerja?" tanya Alesse. "Tentu saja, ia mengalami cedera fisik karena berhadapan dengan beberapa individu tak beridentitas," ujar Jawara.


"Anak zaman sekarang memang tidak bermoral! Di mana mereka berada?" tanya Alesse. "Seharusnya ada di gang sempit belakang perumahan. Mereka sedang menghitung uang," ujar Jawara.


"Sayang sekali! Mereka membuatku terbangun dari tidur yang panjang ini. Habislah mereka!" ujar Alesse. "Kau berbohong, kau tidak tidur panjang, kau tidur selama enam jam setiap hari. Itu adalah waktu yang normal," ujar Jawara.


Ia pun berhenti di mulut gang dan mendapati beberapa pria bertato sedang duduk membagi uang. Roda yang ada di sepatunya langsung bergeser ke samping, membuatnya tampak seperti sepatu biasa.


"Eh, buset! Kukira para remaja. Ternyata hanya om-om jalanan," ujar Alesse kecewa. Ia pikir akan bertemu dengan anak-anak dekil yang berwajah menyebalkan, namun ia malah berhadapan dengan pria-pria berwajah sangar.


Para pria bertato itu pun langsung menatap Alesse. Mereka langsung berhenti beraktivitas setelah mengetahui Alesse tetap diam menyaksikan mereka.


"Dih! Mereka ini manusia atau binatang? Kenapa wajah mereka seperti itu?" Alesse merasa jijik. "Wajah mereka tidak sebagus Alex," ujar Jawara. "Tepat sekali, akhirnya kau bisa menilai sesuatu, Jawara!" ujar Alesse.


"Hei gadis kecil! Sedang apa kau di situ?" tanya salah seorang pria. "Perkataan tidak bisa dimengerti. Aku tidak menemukan individu perempuan yang disebut 'gadis kecil', di sekitar sini," ujar Jawara.


"Mereka sedang memanggilku!" ujar Alesse. "Tapi, bukankah Alesse Jawara adalah individu berkelamin laki-laki?" tanya Jawara. "Manusia terkadang salah sangka jika sekedar melihat wajah saja," ujar Alesse. "Begitu kah? Berarti kemampuan menilaiku lebih unggul daripada mereka, aku merasa bangga sekali," ujar Jawara.

__ADS_1


"Terserah kau dah," ujar Alesse kesal, ia tidak mengerti kenapa Jawara menjadi semakin berisik.


"Bukankah dia agak tomboy? Lihatlah sepatu roda itu! Sepertinya agak mahal! Itu model terbaru! Yang bisa berubah menjadi sepatu biasa jika tombol di atas tumitnya," ujar salah seorang.


"Hei gadis tomboy! Apakah kau ingin bermain dengan kami?" tanya salah seorang. "Maaf sekali, aku mencium lembaran uang baru. Sepertinya berasal dari kalian," ujar Alesse.


"Oh? Maksudmu ini?" tanya salah seorang sambil menunjukkan lembaran uang. "Kalau kau mau, bermainlah dengan kami! Kami akan memberi beberapa lembar," ujar salah seorang.


"Hmm! Sepertinya yang memegang uang itu adalah pemimpin kalian! Baiklah, akan kumulai dari dia!" ujar Alesse. Roda di sepatunya kembali ke tengah telapak kakinya, membuatnya meluncur dengan cepat ke arah pria yang sedang memegang lembaran uang itu.


Alesse langsung mengayunkan pemukul baseball secara acak, membuat para pria itu tidak bisa menghentikannya.


"Akhirnya latihanku berguna juga! Saatnya menggunakan teknik berputar!" seru Alesse. Roda di sepatunya bisa berbelok ke segala arah. Hal itu membuat tubuhnya dapat berputar bebas sambil meluncur mendekati mereka.


Sembari berputar, ia terus mengayunkan pemukul baseballnya dan memporak-porandakan para preman itu.


Mereka semua pun terkena imbasnya karena gang sempit itu membuat mereka tidak bisa menghindar.


Alesse pun langsung merebut amplop dan lembaran uang yang diambil para preman itu. "Sebaiknya kalian jangan mengulanginya lagi! Jika kudengar kalian merampok uang orang lagi, siap-siap kaki kalian, lutut kalian, jemari kalian, dan..... tongkat kalian!" ujar Alesse sambil menodongkan pemukul baseball ke arah ************ salah seorang dari mereka.


Setelah mendapatkan kembali uang itu, ia pun langsung pergi ke rumah. Hendra dan Andin tampak menunggunya dengan perasaan khawatir.


"Dari mana saja kau Alesse? Sepatu roda siapa itu? Sejak kapan kau punya pemukul baseball?" tanya Hendra. Alesse tidak menjawab, ia hanya menyerahkan amplop berisi uang kepada Hendra.


"Loh? Loh! Ini amplop gajian ayah! Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Hendra terkejut. "Aku memungutnya di jalan," jawab Alesse singkat, ia enggan menjelaskannya.


"Heh? Jumlahnya kelebihan!Ini lebih banyak dari gajian ayah!" ujar Hendra. "Argh! Mana kutahu! Aku hanya mengambilnya saja!" ujar Alesse kesal kemudian kembali ke kamar.


"Jawara, kau masih mengawasi para preman itu kan?" tanya Alesse. "Tentu saja, aku bisa menayangkan rekaman cctv-nya jika kau mau," ujar Jawara. "Tidak perlu. Bilang saja kalau mereka membuat masalah lagi," ujar Alesse.

__ADS_1


Sejak itulah ia memiliki tujuan baru, yaitu memberantas para preman yang ada di sekitar rumahnya. Setidaknya hal itu membuat keamanan di lingkungan rumahnya menjadi aman selama liburan berlangsung.


__ADS_2