
Kaa mulai beradaptasi dengan kebiasaan Alesse, selagi tidak memiliki pekerjaan, hidup sebagai Alesse merupakan nikmat hidup baginya.
Ia dapat makan secara rutin setiap hari tanpa harus berburu di hutan belantara, ia juga dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu khawatir celaka.
Sayangnya ia tidak tahu sampai kapan akan hidup seperti itu, bahkan setelah enam bulan berlalu.
"Alesse, pokoknya jangan sampai orang-orang merendahkanmu! Aku tahu kau adalah orang yang jenius! Tapi bukan berarti kau bersikap acuh tak acuh saat orang-orang mengusikmu!" ujar Alex kepada Kaa.
Melihat tatapan Alex, Kaa merasa sangat bersalah. Ia merasa tidak pantas berada di posisinya yang sekarang ini. Akhirnya ia pun pergi menemui Sandy, Salsha, dan Sanay.
"Ada apa Kaa? Apakah kau baik-baik saja? Selama enam bulan ini pasti tidak ada yang curiga kan? Kau sudah cukup terbiasa dengan kehidupan Alesse! Pasti akan baik-baik saja!" ujar Sandy.
"Ini tidak seperti yang kalian kira, semakin lama dan semakin akrab dengan mereka membuatku tak sadar diri!" ujar Kaa. "Apa maksudmu? Apakah ada masalah di rumah?" tanya Salsha.
"Sepertinya lebih baik kita mencari Alesse yang asli! Aku tidak tahan melihat keluarganya itu. Mereka semua tampak melebihkan perhatian mereka hanya untuk anak bernama Alesse ini. Sepertinya anak ini sangat mereka sayangi. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka mengetahui bahwa Alesse menghilang," ujar Kaa.
"Kupikir juga lebih baik begitu! Sebaiknya kita mencarinya," ujar Sanay. "Kalian tidak perlu ikut mencarinya," ujar Kaa.
"Loh? Kenapa?" tanya Sanay keheranan. "Mungkin butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Untuk manusia biasa seperti kalian itu tidak mungkin! Kalian tidak bisa menghabiskan usia kalian hanya untuk mencari satu orang di antah berantah yang tiada ujungnya," ujar Kaa.
"Apa maksudmu tidak ada ujungnya?" tanya Sandy. "Sebenarnya selain Abyss, ada beberapa dunia lagi, untuk menelusuri dunia-dunia itu, butuh waktu bertahun-tahun lamanya! Aku bahkan baru bisa sampai ke Abyss setelah perjalananku selama tujuh tahun," ujar Kaa.
"Tujuh tahun? Itu tidak masuk akal! Dengan naik pesawat saja kita dapat mencapai ke seberang benua hanya dalam waktu beberapa jam saja!" ujar Salsha.
"Dunia kalian sangat berbeda dengan dunia lainnya! Tidak ada logam melayang seperti pesawat di sana, tidak ada mobil, motor, dan bahkan sepeda. Dunia lainnya kebanyakan masih menggunakan kuda dan kapal laut saja,"
ujar Kaa.
__ADS_1
"Berarti di sana masih primitif?" tanya Sanay. "Benar sekali, untuk menemukan orang tidak diketahui keberadaannya sangatlah susah, apalagi jika kalian tidak punya apa-apa, mungkin hanya bisa berjalan kaki untuk mengelilingi dunia," ujar Kaa.
"Tapi setidaknya kami akan mencoba mencarinya dulu! Abyss, benar sekali! Kami akan ikut mencari hingga ke Abyss, setelah itu jika tidak menemukannya juga, kami akan pulang dan kau terus melanjutkan pencarian," ujar Sanay. Kaa pun menghela nafas pasrah.
"Baiklah jika itu mau kalian. Hanya sejauh ini yang bisa kutawarkan," ujar Kaa. "Sepertinya kau mengalami banyak hal di perjalananmu selama tujuh tahun terakhir. Gimana kabar keluargamu sekarang?" tanya Sandy.
"Keluarga? hmm! Keluarga yah? Entahlah, terakhir kali aku berjumpa dengan keluargaku, itu sudah dua abad yang lalu, mereka mungkin sudah menyatu di tanah," ujar Kaa sambil tersenyum.
"Dua abad yang lalu? Sepertinya kau tidak bercanda saat mengatakan bahwa usiamu bisa mencapai ribuan tahun," ujar Salsha. "Memangnya kapan aku mengatakan bahwa itu bercanda?" tanya Kaa.
"Pantas saja kau pandai menilai orang," ujar Sanay. "Yeah, benar sekali! Aku memang pandai menilai seseorang. Terkhusus untukmu, jangan berputus asa tentang masalah keluarga. Teman-temanmu yang ada di sini juga termasuk keluargamu, jadi jangan membuat mereka khawatir! Jangan menjadi seperti anak bernama Alesse ini," ujar Kaa kepada Sanay.
"Memangnya ada masalah apa dengan keluargamu, Sanay?" tanya Sandy. "Yeah, ini rahasia kami berdua, seorang pria sebaiknya tidak perlu penasaran dengan hal itu," ujar Kaa sambil mengisyaratkan untuk tutup mulut.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu, Sanay," ujar Sandy. "Tidak masalah kok," ujar Sanay.
"Jadi, kapan kita akan mulai mencari Alesse?" tanya Salsha. "Sebaiknya saat liburan panjang saja, tinggal sepekan lagi hingga liburan kenaikan kelas tiba," ujar Kaa.
"Sayangnya, masalah utamanya adalah Alex, ia tidak mungkin mengizinkanku pergi ke rumahmu. Kalaupun mengizinkan, ia pasti akan bersikeras untuk ikut," ujar Kaa.
"Hmm! mungkin sebaiknya kita aktifkan Probe lagi untuk menyamar sebagai Alesse," ujar Sanay.
"Jika seperti itu, siapa yang akan melindungi kita dari para iblis itu? Kalian tahu? Aku sangat kewalahan saat menahan tubuh liar mereka," ujar Sandy.
"Andai saja jika kita meminta bantuan pada orang seperti Raya Stephen, Elementalist yang bisa mengendalikan 6 jenis pengendalian sekaligus pasti bisa melakukannya dengan mudah," ujar Salsha.
"Tidak perlu mencari orang-orang yang jauh!" ujar Sandy sebal. "Tunggu dulu! Kalian kenal Raya Stephen?" tanya Kaa. "Tentu saja! Eh, harusnya kami yang tanya begitu! Sepertinya kau merasa tidak asing dengan nama itu," ujar Sanay.
__ADS_1
"Ia pernah singgah di dunia ini? Kapan?" tanya Kaa. "Dia memang terus berada di sini, sebelum kami lahir hingga sekarang dia sudah berada di sini," ujar Salsha.
"Benarkah? Si rubah jantan itu tinggal di sini?" tanya Kaa. "Rubah jantan? Dia manusia serigala, Werewolf! Bukan rubah," ujar Salsha.
"Iya, aku tahu! Aku menyebutnya begitu karena ia sangat licik saat berjumpa dengan semua wanita. Ia akan menggoda mereka semua," ujar Kaa. Sandy pun tertawa terbahak-bahak.
"Apa-apaan dia itu? Apakah ia gigolo?" tanya Sandy. "Menurutku lebih ke buaya darat sih," ujar Sanay.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengajari kalian untuk menghinanya, dia seorang Dark Warden, ia menyelamatkan orang-orang dari berbagai dunia, ia adalah pahlawan! Lalu, dia bukan Werewolf, tapi manusia setengah serigala," ujar Kaa. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Bukankah sama saja?" tanya Sandy.
"Werewolf itu ada sendiri keberadaannya, berbeda dengan manusia setengah serigala yang merupakan salah satu bagian dari ras setengah binatang, Werewolf adalah julukan untuk manusia biasa yang berubah menjadi serigala utuh pada bulan purnama, namun karena perilakunya seperti manusia, contohnya berjalan sambil berdiri, ia disebut manusia serigala," ujar Kaa.
"Apakah itu mungkin? Serigala tidak bisa berdiri!" ujar Sandy. "Kau tidak tahu! Bagaimana jika ia terus mencoba berdiri dari kecil? Tentu saja ia bisa melakukan hal itu," ujar Kaa.
"Benar sekali! Struktur tulangnya yang masih lunak mungkin akan berubah, membuat kedua lututnya menjadi lebih stabil untuk berdiri. Tapi jika begitu bentuknya tidak seperti serigala asli!" ujar Salsha.
"Karena itulah, Werewolf sering dianggap monster mengerikan. Jika kalian melihatnya langsung pasti akan merasa jijik dan ketakutan," ujar Kaa.
"Sebaiknya kembali ke permasalahan tadi, gimana caranya kita pergi ke antah berantah itu?" tanya Sanay.
"Oh! Maaf, sepertinya aku banyak menjelaskan hal yang tidak penting! Untuk masalah iblis yang ada di sana, biar aku yang urus, aku akan menemani kalian berkeliling dunia Abyss lalu mengantarkan kalian pulang dengan selamat, setelah itu aku akan pergi mencari anak bernama Alesse ini," ujar Kaa.
"Tidak boleh begini! Jika hanya kau yang melawan para iblis itu, kami hanya terlihat seperti beban saja! Aku juga ikut membantumu melawan mereka!" ujar Sandy.
"Kami juga!" ujar Sanay. "Sebaiknya kalian tetap berada di jangkauan kami saja, jangan banyak bertingkah! Cukup diam saja! Kalian tidak tahu betapa liarnya mereka!" ujar Sandy dengan tatapan serius.
"Baiklah, untuk hari ini aku akan memeriksa Probe, Sanay bisa membantu menghidupkannya dari kejauhan kan?" tanya Kaa. "Tentu saja! Serahkan padaku!" ujar Sanay. Mereka berempat pun kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Kaa mendapati keluarga Alesse sedang berkumpul di ruang tengah. "Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini?" tanya Kaa.
Mereka bertiga langsung menatap Kaa secara serentak dengan mengernyitkan dahi. "Suasana macam apa ini? Apakah aku ketahuan? Apakah mereka sadar bahwa aku bukan Alesse?"