Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Pengadu Domba


__ADS_3

"Menyedihkan sekali! Kenapa kau hidup di tempat yang hanya berisi cahaya redup ini? Sepertinya hidupmu sangat menyiksa," ujar salah seorang yang suaranya tampak sangat tidak asing.


Alesse pun menoleh ke belakang dan mendapati Aqhva berada di hadapannya. Ia baru saja keluar dari pusaran angin yang ada di dinding.


"Kaa? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Alesse. "Ehm, aku sebenarnya sangat kerepotan juga untuk bisa sampai di sini," ujar Aqhva.


"Tunggu dulu! Kau...... kau bukan Kaa!" ujar Alesse mulai bersikap waspada, kali ini tubuhnya berubah menjadi Gord. Ia tidak memiliki kesempatan untuk melepas bajunya sehingga membiarkannya robek, ia tidak ingin memperlihatkan celah pada orang yang tidak ia kenal.


"Apakah ini adalah salah satu dari kemampuanmu? Menarik sekali! Dari tubuh yang rapuh, kau bisa berubah menjadi sosok yang sangat kuat. Mungkin itu juga bisa berguna untukku," ujar Aqhva. Saat itulah tubuhnya berubah dari Kaa menjadi tubuh Alesse.


"Loh? Kenapa ini? Kukira akan langsung berubah menjadi pria kekar itu, ternyata aku masih perlu banyak belajar untuk mengunakannya," ujar Aqhva.


Alesse merasa aneh karena ada orang lain berbicara menggunakan wajahnya, apalagi ekspresinya itu tampak sangatlah asing.


"Kau... sangat menjijikkan," ujar Alesse berterus terang. "Tenanglah! Aku di sini bukan untuk melawanmu, justru aku hendak membantumu," ujar Aqhva sambil tersenyum, saat itu juga tubuhnya berubah dari tubuh Alesse menjadi sosok berambut panjang dengan telinga yang runcing.


"Siapa lagi yang hendak ia tunjukkan?" tanya Geni penasaran. "Bagaimana? Bukankah sosok ini tampak tidak asing bagimu?" tanya Aqhva pada Alesse.


Tubuh Alesse lamgsung kembali seperti semula saat matanya bertatapan dengan mata Aqhva. "Mehyi...... " jawab Alesse, ia sendiri tidak mengerti mengapa menyebutkan nama itu.


"Benar sekali, Alesse! Ini aku! Mehyi!" ujar Aqhva. "Tidak, kau bukan! Mehyi sudah mati," ujar Alesse. "Kau harus memercayai apa yang kau lihat," ujar Aqhva. Ia pun berubah wujud menjadi sosok lainnya kemudian memancarkan sesuatu ke sebuah papan dengan telunjuknya.


Seketika papan itu memperlihatkan tanah gosong yang tak berujung. Alesse merasa tidak asing dengan apa yang ia lihat. "Tunggu dulu! Benda yang berwarna ungu gelap itu!" Alesse mencoba memastikannya dengan lempengan kristal yang ia temukan di tubuh Alex.


"Mengerikan sekali! Apakah benda seperti ini tersebar di tanah gosong itu?" tanya Alesse. "Benar sekali! Itu adalah ulah Dark Warden," jawab Aqhva.

__ADS_1


Alesse tidak begitu bereaksi dengan jawaban Aqhva. Karena merasa tidak penting, ia pun melanjutkan aktivitasnya memasukkan beberapa bagian mesin ke dalam tubuh Jawara.


"Eh? Kenapa kau mengabaikanku? Kau tidak marah?" tanya Aqhva. Ia tidak mengerti kenapa Alesse bersikap tidak peduli terhadapnya.


"Kau berharap apa padaku? Melawan Dark Warden? Lalu apa? Apa yang aku dapat darinya?" tanya Alesse.


"Apa maksudmu? Bukankah tugas Warden adalah menjaga keseimbangan dunia? Kau tidak sadar apa yang dilakukan oleh Dark Warden itu? Ia membantai semua manusia biasa hingga satu benua menjadi rata dengan tanah! Ia mungkin akan meratakan dunia lainnya hingga manusia iblis yang tersisa," ujar Aqhva.


"Oh, begitukah? Aku mengerti sekarang! Kenapa tidak kau saja yang menghentikannya? Kau terlihat begitu peduli dengan dunia ini. Kenapa tidak kau saja yang melawannya? Bukankah kau bisa meniru kemampuanku? Atau mungkin kau bahkan bisa meniru kemampuannya? Kalau begitu kau adalah orang yang tepat untuk melawannya! Jadi, silahkan angkat kakimu sekarang juga dari rumahku!" ujar Alesse, emosinya kembali meluap-luap karena aktivitasnya diganggu. Tubuhnya berubah menjadi Baraq, kilatan listrik terus bermunculan hingga lampu yang remang-remang berubah terang seperti hendak meledak.


Aqhva pun terpaksa keluar dari rumahnya dengan gerbang antar dunia, ia tidak menyangka akan diusir begitu saja.


"Sial! Sayang sekali karena aku tidak bisa membunuhnya. kemampuannya sangat berguna untuk ditiru! Jika aku membunuhnya sekarang, yang bisa kutiru hanya cangkangnya saja," ujar Aqhva kesal. Ia mencoba menarik nafas panjang.


"Ada apa dengan kemampuan ini? Kenapa aku tidak bisa menggunakannya pada Dark Warden?" Aqhva kebingungan dan akhirnya menyadari sesuatu. Sekitar tubuh Ray dikelilingi oleh aura gelap yang pekat di udara, itu membuatnya tidak terlihat jelas saat Aqhva mencoba untuk memantaunya.


"Sangat berbeda dengan Warden tadi, kenapa pria ini terlihat sangat kuat? Sepertinya kekuatannya bukan main-main! Ia bahkan bisa meratakan satu benua," ujarnya kemudian berusaha mencari tahu di mana keberadaan Ray sebenarnya.


Aqhva semakin kesulitan karena Ray tinggal di tempat yang padat penduduk. Setiap kali ia berjalan, orang-orang selalu menatapnya dengan tatapan aneh. Tentu saja karena pakaiannya yang tampak kusam dari peradaban yang berbeda.


"Ini sangat tidak mudah! Kenapa ia tinggal di tempat menjenuhkan ini? Udara di sini sangat panas dan menyesakkan!" keluhnya sambil mencari tempat untuk berteduh.


Setelah duduk sejenak di sebuah toko, tiba-tiba seseorang dari dalam menegurnya dan mengusirnya.


Aqhva tidak menduga mendapatkan perlakuan seperti itu, tidak pernah ia temukan sebuah kedai yang akan mengusir pelanggan secara kasar seperti itu selama hidupnya.

__ADS_1


"Tempat apa sebenarnya ini? Kenapa orang-orang di sini sangat kasar sekali?" tanyanya keheranan, ia masih belum menyadari betapa anehnya dirinya di antara orang-orang itu.


Pada akhirnya ia menyimpulkan hal lain yang membuatnya marah. "Apakah seperti ini sikap para manusia biasa? Sebegitu bencinya mereka terhadap manusia iblis? Begitukah? Mereka tidak sadar meskipun manusia biasa dan manusia iblis adalah makhluk yang sama? Menarik sekali! Sepertinya aku bisa membuat keributan yang lebih besar di sini!" ujarnya kemudian mengambil sebuah taring yang ada di sakunya.


"Sepertinya orang-orang tidak ada yang tahu bagaimana mereka menjadi manusia iblis. Aku terpaksa melepas taringku karena tidak mungkin berjalan-jalan dengan tubuh tua renta itu. Kuharap ini masih berfungsi," ujarnya.


Ia pun memakai taring itu pada mulutnya lalu mencari seseorang yang dapat dijadikan targetnya. "Sempurna sekali! Pria berbadan besar itu, aku akan membuat semua perjuangannya tidak sia-sia," ujarnya kemudian mendatangi pria kekar yang baru saja keluar dari gedung olahraga.


Tanpa ragu-ragu ia langsung menggigit lehernya, membuat darah mengalir deras dari leher pria itu. Orang-orang pun berteriak ketakutan, mereka segera berlari tunggang langgang melihat kejadian yang mengerikan itu.


"A... apa yang terjadi? Ke... kenapa aku berdarah?" Pria berbadan besar itu kebingungan, ia tidak mengerti apa yang terjadi karena luka di lehernya telah tertutup kembali seolah tidak pernah ada, hanya noda darah yang tersisa di tubuhnya.


Saking bingungnya apa yang terjadi, sedangkan orang-orang terus menjaga jarak darinya. Ia pun merasa ketakutan, bahkan detak jantungnya tiba-tiba berubah hingga ia merasa darah dalam tubuhnya mendidih.


"A... ada apa ini? kenapa seperti ini? To... tolong! Aku tidak bisa..... aku tidak bisa ber... nafas!" ujar pria itu, namun orang-orang malah menjauhinya meskipun ia sudah jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Akhirnya pihak keamanan datang menghampirinya untuk mengecek kondisinya.


Tak lama kemudian Ray datang untuk memperingatkan orang-orang agar menjauh dari pria yang tak sadarkan diri itu.


"Hmm? Sepertinya aku tidak perlu bersusah payah untuk mencarinya. Rupanya Dark Warden adalah seorang pria muda! Atau mungkin usia aslinya tersembunyi di balik wajahnya itu. Tidak ada yang pasti sampai aku benar-benar memastikannya," ujar Aqhva kemudian menghampiri Ray yang tampak kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa ada manusia iblis di sini. Itu adalah ulahku, aku yang membuatnya berubah menjadi manusia iblis," ujar Aqhva.


"Apa maksudmu? Bagaimana kau tahu tentang manusia iblis?" tanya Ray, ia merasa tidak nyaman karena banyak orang memerhatikannya. Ia pun sadar bahwa Aqhva bukan berasal dari bumi Earth, terlihat dari pakaiannya yang lusuh.


"Sebaiknya kita berbicara di tempat lain," ujar Ray kemudian mengangkat pria yang tak sadarkan diri itu ke bahunya lalu pergi ke tempat sepi. Aqhva pun mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2