Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Atlas


__ADS_3

Lima anak itu, bersama Jawara langsung masuk ke pemukiman penduduk. Orang-orang langsung menatap mereka dengan wajah keheranan.


"Aku lupa, seharusnya kalian mengganti pakaian kalian dulu sebelum ke sini," ujar Kaa."Sudah terlanjur! Sebaiknya kita teruskan saja!" ujar Alesse.


Akhirnya mereka pun berhenti di sebuah rumah besar, seorang pria berusia dua puluh tahun muncul dengan wajah dinginnya. "Siapa kalian?" tanya pria itu. "Apakah dia yang kau sebut anak angkat itu? Tidak sopan sekali!" bisik Sandy.


"Bukan, seharusnya dia adalah cucuku," ujar Kaa. Ia langsung menghampiri pria itu.


"Wah, lihatlah! Siapa ini? Abel kesayanganku sudah besar!" ujar Kaa hendak memeluk pria itu, namun pria itu menahan dahinya dengan sapu.


"Siapa bocah ini? Kau tersesat nak?" tanya pria itu. "Ada ribut-ribut apa ini, Abel?" tanya seorang pria yang suaranya lebih berat. Ia langsung pergi ke depan rumah dengan sapu.


Setelah melihat Kaa, ia langsung menjatuhkan sapunya lalu menghampirinya, ia langsung memeluk Kaa erat-erat seperti seorang ayah yang baru bertemu putranya setelah bertahun-tahun.


"Ayah, dari mana saja kau selama ini?" tanya pria itu, membuat keempat anak lainnya yang menyaksikannya merasa mual.


"Hei, bukankah itu kebalik?" bisik Sandy. "Kupikir juga begitu," ujar Salsha.


"Ternyata anakmu tumbuh menjadi pria yang mirip sepertimu yah! Kasar dan dingin!" ujar Kaa."Hahaha! Maafkan anakku yang tidak sopan ini! Lalu, siapa mereka berlima? Anak-anakmu juga atau, cucumu?" tanya pria itu.


"Oh? Mereka? Mereka teman-temanku," ujar Kaa. "Eh? Teman?" Pria itu merasa tidak rela Kaa berteman dengan anak-anak.


"Teman-teman, perkenalkan! Ini Atlas, anak angkatku," ujar Kaa. Pria muda tadi terkejut saat mendengar pengakuannya itu.


"Sudah kuduga akan seperti ini! Balik saja yuk! Aku tidak tahan dengan cerita aneh ini," bisik Salsha. "Benar sekali, aku benar-benar tidak mengerti!" ujar Sanay.


"Salam kenal, paman! Namaku Alesse, dan ini saudara kembarku, Jawara," ujar Alesse sambil merendahkan kepalanya agar tampak sopan.


"Hmm? Anak kembar yah? Menarik sekali," ujar Atlas, ia mencoba melirik ke anak-anak lainnya dan langsung tersentak ketika berpapasan dengan Salsha. Begitu pula sebaliknya, Salsha langsung terkejut saat melihatnya.


"Wah! Ternyata dari teman-teman ayahku ada kerabat jauhku juga! Kau pasti si perebut ingatan yah?" tebak Atlas. Salsha benar-benar terkejut saat pria itu mengatakannya.


Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sedangkan teman-temannya menatapnya penuh tanda tanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia pun langsung lari meninggalkan teman-temannya.


"Tu... tunggu! Salsha! Kau mau ke mana?" tanya Sandy hendak mengejar, ia masih bingung apa yang sedang terjadi lalu segera menyusul Salsha.

__ADS_1


"Haduh, masalah apalagi ini?" keluh Alesse. "Jawara, kejar mereka berdua dan bawa ke sini," ujar Alesse. "Baiklah," ujar Jawara sambil berlari cepat.


"Paman, apa maksudmu dengan perebut ingatan?" tanya Sanay penasaran. "Itu adalah kemampuan tertinggi dari pengendali air yang bisa membekukan ingatan, membekukan jati diri seseorang. Orang yang dibekukan jati dirinya bisa kehilangan pengendaliannya, ia akan menjadi Origin, manusia yang tidak bisa mengendalikan elemen apapun," ujar Atlas.


"Wah, pasti mengerikan sekali, kau membuatnya sakit hati dijuluki seperti itu," ujar Alesse.


"Kita kesampingkan masalah ini, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, Atlas! Bagaimana dengan pergerakan pengikut Warden di sini?" tanya Kaa. "Di sini mereka tidak terlalu agresif, namun banyak yang memperjual belikan manusia iblis sebagai budak. Tidak lama lagi hingga desa ini diserang, lalu kami semua akan dibawa ke kota," ujar Atlas.


"Bagaimana kabar dari dunia lainnya?" tanya Kaa. "Aku mendengar dari penyintas Eva, kondisi di sana sudah semakin parah! Pengikut Warden mendirikan sebuah kerajaan dan melakukan ekspansi besar-besaran," jawab Atlas.


"Itu sudah tidak bisa dihindari lagi! Kita tidak mungkin melawan satu kerajaan!" ujar Kaa.


"Yang lebih parah adalah aliansi antar dunia! Pengikut Warden di Gordon dan Mehy telah mempublikasikan gerbang antar dunia sehingga mereka bisa pulang pergi kapanpun yang mereka mau," ujar Atlas.


"Kenapa bisa berkembang pesat seperti ini dalam tujuh tahun? Aku tidak mengerti!" ujar Kaa. "Mungkin karena keberadaan Warden telah datang! Para dukun juga banyak yang meramalkan hal itu, kami semua, para manusia iblis sedang dilanda kegelisahan!" ujar Atlas.


"Hmm! Sepertinya untuk saat ini kita memberantas pengikut Warden yang ada di sekitar sini!" ujar Kaa.


"Kami akan ikut membantu meskipun hanya sedikit, usia kami tidak selama kau," ujar Atlas. "Baiklah, kami akan pergi dulu ke tempat terdekat," ujar Kaa. Ia terdiam sejenak. "Atlas, di mana Anne?" tanya Kaa.


"Ti... tidak mungkin!" Kaa merasa terpuruk. "Ia pergi saat dini hari tanpa sepengetahuanku, ia mengejar para pengikut Warden yang menculik teman-temannya, aku tidak bisa menemukannya di manapun," ujar Atlas.


"Ada apa Kaa?" tanya Alesse, saat itu juga Jawara dan kedua anak lainnya sudah kembali.


"Cucuku, Anne hilang!" ujar Kaa pucat. "Hmm! Mungkin aku bisa bantu menemukannya!" ujar Jawara menimpali.


"Apa maksudmu?" tanya Kaa. "Jika dia hilang di Atlane, aku bisa mencarinya menurut data dari satu tahun sejak aku mulai memindai seluruh belahan Atlane ini," ujar Jawara.


"Apakah yang seperti itu bisa dilakukan?" tanya Atlas penuh harap. "Tentu saja, meskipun kemungkinan berhasilnya sekitar dua puluh persen," ujar Jawara.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi jika bisa menemukan putriku, tolonglah! Bantu aku!" ujar Atlas sambil berlutut di hadapan Jawara.


"Pemindaian selesai, aku akan mencari kecocokan DNA subjek dengan seluruh orang yang ada di Atlane ini," ujar Jawara.


"Gila! Itu mungkin akan sangat lama!" ujar Sanay. "Tenang saja, ini lebih cepat dari dugaanmu," ujar Jawara.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian ia berhenti mencari. "Maaf, sepertinya aku tidak menemukan apapun yang cocok dengan DNA mu," ujar Jawara. Atlas semakin terpuruk.


"Tapi aku menemukan kecocokan dengan DNA makhluk hidup yang sudah mati. Itu berada di Abyss, gadis yang membeku dalam es, DNA nya sangat cocok dengan subjek," ujar Jawara.


"Apa maksudmu? Kau menemukan putriku?" tanya Atlas penuh harap. "Alesse," panggil Jawara. Alesse pun tahu maksudnya, ia langsung mengambil tongkat yang ada di punggungnya lalu merubahnya menjadi sebuah kotak. Saat ia menekan tombol yang ada pada kotak itu, hologram pun muncul.


"Loh? benda apa ini? Kenapa muncul cahaya aneh?" Atlas keheranan, baru kali ini ia melihat benda itu.


Alesse pun melempar kotak itu ke tanah, membuat mereka semua terbungkus dalam ruangan kubus yang gelap. Hologram itu pun terlihat sangat jelas.


"Ini.... bukankah ini bongkahan es?" tanya Abel. "Lihatlah baik-baik, apa yang ada di dalamnya," ujar Alesse sambil memperbesar gambar di hologram itu.


Atlas yang melihat wajah gadis beku itu langsung tumbang. "Itu... itu benar-benar kakak! Itu adalah kak Anne!" ujar Abel kemudian segera menahan ayahnya yang hendak jatuh ke tanah.


"Jadi memang benar dia anaknya," ujar Sandy tidak menyangka. "Anne, putriku yang malang! Lihatlah, wajahnya tidak berubah sama sekali sejak ia menghilang!" ujar Atlas meratap.


"Untuk saat ini kita memang belum tahu solusinya, yang pasti, tubuh gadis itu belum rusak sama sekali! Kita bisa menghidupkannya kembali!" ujar Alesse serius.


"Apa? Menghidupkannya kembali? Kau bermain-main denganku? Bagaimana bisa wajah pucat yang membeku dalam es itu bisa hidup kembali?" bentak Atlas.


"Aku tahu kau tidak percaya hal itu, namun aku adalah buktinya! Aku juga pernah mati membeku dalam es, dan kebetulan sekali saat itu aku sedang bersama putrimu. Entah ia orang jahat atau bukan, tiba-tiba dia menusuk kedua telingaku dengan es runcing. Setelah itu aku tidak ingat apapun," ujar Alesse.


"Menusuk kedua telingamu dengan es? Itu adalah caranya merenggut ingatan seseorang! Bagaimana kau tahu?" Atlas tidak percaya.


"Tentu saja karena aku yang mengalaminya sendiri! Saat itu aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dia datang sambil mengatakan hal yang tidak jelas. Kupikir dia akan membantuku yang sedang tersesat, pada akhirnya ia hendak membunuhku dengan menancapkan es di telingaku," ujar Alesse.


"Dia tidak membunuhmu! Itu adalah cara untuk menghilangkan ingatan seseorang!" Atlas membantah.


"Tapi kenapa harus aku? Meskipun aku baik-baik saja hingga sekarang, kenyataan bahwa aku terbaring selama dua tahun tanpa melakukan apapun sangatlah mengecewakan! Aku menghabiskan hidupku dua tahun hanya untuk tidur karena dia melibatkanku! Mungkin saja ia yang membekukanku saat itu," ujar Alesse.


"Putriku adalah orang yang baik-baik! Ia tidak berbuat jahat!" ujar Atlas. "Kalau begitu tunggu saja! Aku akan menghidupkannya kembali dan menanyakan alasannya!" ujar Alesse. Ia berusaha menahan amarahnya, saat itu juga rambutnya berubah warna, bahkan baju yang ia kenakan ikut berubah. Saat itulah ia menjadi salah tingkah.


"Apa yang terjadi Alesse? Kenapa penampilanmu menjadi serba merah?" tanya Salsha keheranan.


"Bu... bukan apa-apa! Ayo kita lanjutkan rencana kita! Kemana kita akan pergi, Kaa?" tanya Alesse kemudian mengambil kotak hitam yang tadi ia lemparkan ke tanah. Seketika kotak hitam itu berubah menjadi Levy. Alesse pun masuk ke dalam bersama beberapa orang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2