
Ray dan Ralph terus berjalan tanpa henti sedangkan orang-orang di dalam piringan perak itu terus memerhatikan mereka dengan penuh keheranan.
"Aku merasa tidak nyaman! Sepertinya sejak tadi kita terus diperhatikan orang-orang!" ujar Ralph. "Hmm! Benda yang Zwan berikan ini benar-benar luar biasa! Lihatlah lukisan ini, Ralph! Bukankah tampak sangat nyata?" tanya Ray terkesan sambil menunjukkan hologram yang muncul dari sebuah kotak di tangannya.
"Benda pusaka yang wanita itu bicarakan terlihat seperti tongkat biasa. Tapi kenapa bentuknya berkelok-kelok menyerupai petir?" tanya Ralph keheranan.
"Sudah dipastikan lagi! Itu adalah benda pusaka yang kita cari-cari, Ralph! Elemen yang paling Warden kuasai adalah petir, jika kita punya pusaka itu, mungkin kita bisa mengunggulinya!" seru Ray.
"Sebelum itu, sampai kapan kita akan terus berjalan seperti ini? Aku tidak melihat ada satupun orang yang berjalan di sini! Mereka semua menungangi piringan perak itu untuk bepergian. Lihatlah! dalam hitungan detik mereka bisa melesat sangat jauh!" ujar Ralph.
"Kalau begitu, perlukah kita terbang?" tanya Ray. "Benar sekali! Kenapa tidak dari tadi kau menyuruhku melakukannya?" tanya Ralph kesal, ia segera mengeluarkan sayap megah dari punggungnya lalu terbang di udara.
Saat ia mulai mengepakkan sayapnya, tiba-tiba piringan yang berlalu lalang di langit pun tampak bergerak acak, seolah terkejut karena benda besar tiba-tiba menghalangi jalur mereka.
Karena suasana kacau, piringan yang lebih besar lagi pun datang mengepung Ray dan Ralph.
"Wahai anak muda, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencari masalah di sini? Kemana kalian akan pergi?" tanya Zass yang nampaknya berada di salah satu piringan besar itu.
"Maaf Zass, tapi kami benar-benar memerlukan benda pusaka itu!" ujar Ray. "Benda yang kau bicarakan itu bukanlah benda pusaka! Benda itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini! Tidak perlu kau cari-cari lagi! Keberadaannya bisa menghancurkan dunia!" ujar Zass.
"Itu tergantung siapa yang memakainya kan? Percayalah! Yang kuinginkan hanyalah mengalahkan Warden dan menghentikan semua perselisihan ini!" ujar Ray.
"Itu semua hanyalah alasan bodoh! Setelah mengalahkan Warden, apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan dengan benda berbahaya itu? Bukankah kau bilang sendiri kalau usiamu tak beda jauh dengan manusia biasa? Setelah kau pergi, siapa yang akan bertanggung jawab atas keberadaan benda berbahaya itu? Bagaimana jika orang-orang mencarinya setelah kau mati? Bagaimana jika mereka menggunakannya untuk menghancurkan dunia?" tanya Zass.
__ADS_1
"Yang perlu kulakukan hanyalah mengalahkan Warden! Setelah itu akan kukembalikan benda ini pada tempatnya! Kudengar di sana ia bisa benar-benar hancur seutuhnya," ujar Ray.
"Semua benda hal yang ada di bumi ini memang tidak ada yang kekal, anak muda. Begitu juga dengan benda itu, namun manusia seiring berjalannya waktu akan terus mencari pengetahuan, mencari cara bagaimana caranya menciptakan benda itu kembali. Setelah itu terjadi, apa yang akan kau perbuat? Kau tidak bisa apa-apa karena sudah membusuk dalam tanah! Kami sebagai bangsa yang menciptakan benda itu tidak mengizinkan akses untuk pembuatan atau pemakaian teknologi itu lagi!" ujar Zass, ia dan beberapa orang yang mengemudikan piringan mulai menembakkan jaring ke arah Ray, namun Ray menggunakan pengendalian anginnya untuk memporak-porandakan mereka.
"Cara yang sama tidak akan mempan padaku lagi! Aku tetap akan mengambil benda pusaka itu! Aku janji hanya akan menggunakannya untuk mengalahkan Warden, setelah itu akan kukembalikan ke tempat ini lagi," ujar Ray.
"Sepertinya kami tidak bisa menghentikanmu lagi. Terserah kau ingin berbuat apa, tapi jangan kau kembali ke sini lagi. Kami tidak lagi menerima benda itu di sini. Kami tidak ingin bumi kami jadi medan perang kalian untuk memperebutkan benda penghancur itu!" ujar Zass. Ia beserta orang-orang lainnya pun pergi meninggalkan keduanya.
Ray dan Ralph melanjutkan perjalanan menuju ke wilayah Kesesatan Abadi. Saat istirahat, Ralph mencoba menatap sebuah pernik yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Benda itu tampak seperti batu pahatan berbentuk lentera. Terdapat cahaya kecil pada lentera itu.
"Benda unik apa itu, Ralph?" tanya Ray. "Oh, ini? Ini adalah penanda jiwa. Semua orang di klan ku selalu membawa ini," ujar Ralph.
"Wah, luar biasa sekali! Itu mirip seperti benda pusaka," ujar Ray. "Tentu saja, klanku berasal dari Dwarf juga dan teknik pahatan ini diwariskan secara turun temurun. Ini juga sebuah bukti bahwa aku berasal dari klan," ujar Ralph.
"Ternyata banyak hal yang tidak kuketahui tentangmu, sebaiknya kita banyak berbincang-bincang dalam perjalanan ini," ujar Ray semangat.
Setelah berhari-hari terbang di angkasa, akhirnya mereka menemukan sebuah pulau tanpa piringan yang melayang di udara. Hanya terdapat ribuan eskavator yang mengangkut barang-barang usang menuju ke sebuah tempat.
"Sepertinya ini wilayah hijau yang dimaksud Zwan," ujar Ray sambil menunjukkan benteng berjajar dari tumpukan barang-barang rongsokan. Cat hijau membuatnya terlihat seperti penanda wilayah.
"Ray, perlukah kita datang ke sini?" tanya Ralph. Semenjak Zass mengabaikan mereka berdua ia menjadi tampak ragu-ragu.
__ADS_1
"Ada apa? Kita membutuhkan pusaka itu untuk mengalahkan warden," ujar Ray, ia mulai memasuki wilayah hijau dan memeriksa barang yang tampak seperti tongkat itu.
"Sepertinya perkataan Zass ada benarnya, Ray. Apakah tidak ada cara lain untuk mengalahkan Warden?" tanya Ralph.
"Satu-satunya cara adalah aku harus lebih kuat darinya! Aku harus lebih unggul darinya! Kau tahu sendiri kan kalau orang itu tidak bisa diajak berbicara?" tanya Ray. Ralph pun terdiam, ia tidak ingin membuat Ray marah, apalagi saat itu nada bicaranya mulai tinggi.
"Kudengar kotak ini bisa mencarikan benda yang kita inginkan. Seperti apa caranya?" tanya Ray pada Ralph.
Ralph pun menunjukkan caranya sesuai arahan yang Zwan berikan. Sebenarnya ia tidak setuju dengan keinginan Ray.
"Ray, apakah kau benar-benar ingin menjadi kuat?" tanya Ralph. "Tentu saja! Hanya dengan itu aku bisa melindungimu, melindungi semua orang!" ujar Ray.
Akhirnya Ralph tidak bisa berkata-kata lagi, apalagi sejauh ini Ray memang selalu melindunginya, sedangkan ia sendiri selalu menjadi beban bagi Ray, selalu membuat pergerakan Ray menjadi terbatas.
Setelah menyisir wilayah hijau, benda mirip tongkat itu tak kunjung ditemukan. "Argh! Kenapa tidak ada di sini?" tanya Ray kesal, ia masih mencoba mengorek tumpukan rongsokan. Ralph tahu kalau itu sia-sia, namun ia hanya bisa diam.
Selagi Ray sibuk mengorek tumpukan sampah, Ralph mendapati kotak pemberian Zwan itu menunjuk ke sebuah arah di zona merah. Ia hendak menyembunyikan hal itu, namun Ray terlanjur menyaksikannya.
"Be.... benda pusaka itu.... ada di sana!" seru Ray, ia hendak melewati batas wilayah hijau dan merah, namun Ralph segera mencegatnya.
"Tunggu dulu, Ray! Kau tidak ingat perkataan Zwan? Jika kita tidak menemukannya di zona hijau, sebaiknya kita menyerah!" ujar Ralph.
"Apa? Menyerah? Apa maksudmu? Benda pusaka itu tepat di depan kita, Ralph! Kenapa kita harus menyerah? Kita tidak perlu mencarinya lagi! Itu jelas-jelas ada di depan mata kita!" ujar Ray sambil menujuk-nunjuk ujung benda yang tampaknya mirip dengan yang ditunjukkan kotak hologram itu.
__ADS_1
"Ray, Sadarkan dirimu! Tempat itu berbahaya! Zwan sudah memperingatkan kita!" ujar Ralph. "Aku tidak bisa menyerah begitu saja! Ini hanya sebentar! Setelah aku mendapatkan benda itu, aku akan terbang dan segera ke sini. Kau di sini saja jika takut," ujar Ray.