
Alesse membaringkan diri di kasur. Setelah beberapa saat menatap langit-langit kamarnya, ia pun merasa ada yang ganjal. "Loh? Tongkatku? Tongkatku ke mana?" Alesse keheranan karena tidak ada yang mengganjal di punggungnya saat berbaring.
Ia pun mencari-cari di mana ia meletakkan benda itu. Setelah berdiri, ia dapat merasakan kembali bahwa tongkat itu melekat di punggungnya.
"Jawara, ada hal yang perlu kutanyakan!" ujar Alesse. Tongkat itu langsung berubah menjadi Jawara.
"Lagi-lagi dalam keadaan telanjang! Aku sempat tidak sadar saat mengajakmu ke pinggir jalan raya! Sepertinya banyak orang yang melihat!" ujar Alesse sambil menepuk jidat. ia pun langsung memakaikan baju pada benda itu.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Jawara. "Kenapa tongkat itu tiba-tiba menghilang saat aku membaringkan tubuhku di kasur?" tanya Alesse.
"Itu karena ia fleksibel. Saat hendak membentur sesuatu, tongkat itu akan berubah menjadi pelindung yang kokoh dan fleksibel. Jadi kau tidak perlu khawatir akan merasa sakit saat berbaring meskipun tongkat itu masih ada di punggungmu," ujar Jawara.
Esok harinya pun Alesse berangkat sekolah tanpa menyadari bahwa tongkat itu masih menempel di pundaknya. Tongkat itu menjadi kasat mata sehingga orang-orang juga tidak menyadarinya.
"Alesse, di depan sana sedang ada pembangunan, sebaiknya kau berhati-hati!" ujar Alex. Alesse tidak mendengarkan, ia masih mengawasi titik biru pada peta. Ia harus memastikan kapan titik itu akan berubah menjadi hitam agar ia bisa segera mendatanginya.
Mereka berdua pun berhenti di depan tempat pembangunan untuk menyebrang jalan. Sambil menunggu jalan raya menjadi sepi, mereka terus berdiam di tempat.
Secara tidak sengaja salah seorang pekerja melepaskan rantai yang menggantungkan balok besi di atasnya. Akhirnya balok besi beserta barang-barang yang ada di atasnya pun terjatuh ke bawah.
"Alesse! Awas!" teriak Alex sambil mengangkat kedua tangannya untuk menahan balok besi yang jatuh ke bawah. Ia berhasil menahan balok besi itu, namun barang-barang yang ada di atasnya terus berjatuhan.
Sebuah palu besar terus terjun ke bawah tepat di atas Alesse. "Tidak! Alesse menyingkirlah!" teriak Alex. Akhirnya Alesse merespon teriakan Alex dengan menengok ke arahnya.
Belum sempat Alex memberikan peringatan yang kedua kalinya, palu besar itu langsung mendarat di kepala Alesse.
"Aduh! Apaan sih?" Reaksi Alesse tampak seperti seseorang yang baru saja dipukul dengan sebatang lidi, ia tidak merasakan apapun yang menyakitkan.
Alex pun segera menjatuhkan balok besi itu lalu menghampiri Alesse. "Alesse! Kau baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?" tanya Alex sambil mengguncang-guncang tubuh Alesse. "Biar kuperiksa! Jangan-jangan ada yang terluka parah," ujar Alex panik.
"Aku baik-baik saja! Kau kenapa sih? Seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya saja!" ujar Alesse keheranan, ia tidak bisa berkata lebih banyak karena Alex hampir menangis karena mengkhawatirkannya.
Alesse pun mencoba memeriksa apa yang sebenarnya jatuh mengenai kepalanya. Saat ia mengetahui bahwa sebuah palu besar ada tepat di dekat kakinya, ia langsung terkejut bukan main.
__ADS_1
"Ya ampun! Ini terlalu mencolok sekali! Alex pasti akan berpikir bahwa aku adalah Elementalist! Sebaiknya aku harus berhati-hati agar tidak berhadapan dengan hal seperti ini lagi!" pikir Alesse.
"Bukankah palu itu tadi mengenaimu?" tanya Alex. "Tidak kok, itu langsung jatuh ke bawah, dan mengejutkanku," ujar Alesse. "Benarkah? Padahal aku benar-benar melihat benda itu tepat mengenai kepalamu," ujar Alex.
"Aish! Kau pasti salah lihat! Nih! Kepalaku baik-baik saja!" ujar Alesse sambil menunjukkan kepalanya. "Hmm! Sepertinya memang benar! Aneh sekali! Padahal aku tidak pernah salah lihat loh! Mataku benar-benar sehat dan tajam," ujar Alex.
"Mungkin karena kau terkejut dan sedang mengangkat balok itu sehingga kau tidak melihat dengan jelas! Lihatlah! Tidak ada tanda-tanda memar kan?" tanya Alesse.
"Benar sekali! Bahkan untuk Elementalist sepertiku, ketika terkena palu itu pasti akan mendapatkan memar meskipun akan sembuh beberapa menit kemudian," ujar Alex.
"Ya sudahlah! Ayo menyebrang sebelum ramai," ujar Alesse.
Seperti biasa, Alex selalu dikerumuni oleh banyak siswi dari SMP dan SMA. Alesse pun langsung menghindar. Kali ini pakaian dan tasnya tidak kotor lagi karena tongkat yang ada di punggungnya langsung berubah menjadi pelindung yang fleksibel dan menyingkirkan segala benturan dan goresan yang hendak menimpa Alesse.
"Sepertinya berguna juga tongkat ini di situasi seperti ini," ujar Alesse senang, ia langsung masuk ke dalam kelas dan mendapati Sanay mengawasinya dengan wajah waspada.
"Kau ini kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Hei, Alesse! Apakah kau adalah seorang Elementalist juga?" tanya Sanay tiba-tiba.
"Apa yang sebenarnya ia tanyakan? Apakah ia juga kebetulan melihat palu besar itu jatuh ke atas kepalaku?" gumam Alesse, ia terdiam seribu bahasa.
"Alesse! Alesse! Aku mendeteksi aliran listrik dari gadis itu. Sepertinya ia hendak meretasku!" Suara Jawara tiba-tiba terdengar di telinga Alesse.
"Maksudmu Sanay? Ia hendak meretasmu? Gimana caranya? Ia tidak memegang apapun loh! Tangannya tidak sedang memegang ponsel ataupun barang elektronik lainnya,," ujar Alesse.
"Itu bukan barang elektronik! Ia hendak meretasku dengan dirinya sendiri," ujar Jawara. "Apa maksudmu? Dengan dirinya sendiri? Maksudmu ia adalah robot juga?" tanya Alesse.
"Bukan begitu! Ia dapat memancarkan sinyal melalui otaknya dan mengendalikannya, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi," ujar Jawara.
"Tidak salah lagi! Sepertinya dia adalah Elementalist! Sebaiknya aku tidak berteman dengannya," ujar Alesse ia pun langsung duduk di bangkunya tanpa berbasa-basi dengan Sanay.
"Alesse! Dia masih terus berusaha meretasku! Jika terlalu lama dibiarkan, aku tidak bisa menahannya," ujar Jawara. "Alesse!" panggil Jawara sekali lagi.
"Kalau begitu pergilah menjauh dari sini, setelah pulang sekolah aku akan mencari solusi agar ia tidak mengganggu lagi," ujar Alesse.
__ADS_1
Akhirnya tongkat tak kasat mata itu berubah menjadi sehelai kertas. Alesse pun membuat sebuah pesawat mainan dengan kertas itu lalu pergi keluar kelas. Ia menerbangkannya lalu kembali ke dalam dan duduk di bangkunya.
"Loh? Menghilang ke mana itu?" Sanay tampak bereaksi setelah pesawat mainan itu terbang jauh dan keluar dari jangkauannya. Alesse pun bisa duduk dengan tenang sambil menunggu pelajaran.
Setelah pulang sekolah, ia segera ke kamar dan mendapati Jawara sedang mengutak-atik sebuah kipas. "Apa yang sedang kau lakukan? Dari mana kau tahu cara memakai baju itu?" tanya Alesse keheranan.
"Untuk kemudahan, aku juga menambahkan pakaian agar tidak dalam keadaan telanjang saat berubah," ujar Jawara.
"Baiklah, karena rumah sedang sepi, gimana jika kita pergi ke suatu tempat? Ada yang ingin kupastikan! Untuk itu aku ingin kau berubah menjadi sebuah kendaraan," ujar Alesse.
"Mode peniruan aktif!" Jawara langsung berubah menjadi sebuah tongkat. "Baiklah, kendaraan yang tidak terlalu mencolok." Alesse pun keluar rumah dan mencoba memikirkan apa yang ia inginkan. Seketika tongkat yang ada di tangannya mulai berubah menjadi sepeda motor.
"Nah! Langsung menuju ke tempat tujuan saja!" serunya sambil menarik gas dan meluncur di jalanan. Beberapa menit kemudian ia pun sampai di tempat tujuan.
"Loh? Ternyata kuburan!" ujar Alesse terkejut, ia pun tidak sadar kalau titik biru pada peta di ponselnya sudah menghilang.
"Argh! Sejak kapan ini terjadi? Jangan-jangan sudah ada orang yang datang ke sini?" Alesse tampak gelisah, ia pun segera menuju ke tempat titik biru itu berada.
"Sepertinya masih ada harapan!" ujar Alesse setelah melihat gundukan barang rongsokan. "Sepertinya ada sebuah unit yang sama denganku! Ia tidak berasal dari dunia ini," ujar Jawara sambil menunjuk ke arah gundukan sampah.
"Ambillah benda yang kau sebut sama denganmu itu," ujar Alesse, ia benci kotor. "Baiklah!" Jawara pun mulai mengorek-ngorek tumpukan sampah itu dan mengambil sepasang sepatu yang tampak bersih dan mulus meskipun berada di tumpukan sampah itu.
"Sepertinya benda ini bukanlah benda cacat. Ia termasuk kategori benda yang akan didaur ulang. Mungkin petugas pabrik melakukan suatu kesalahan hingga membuat unit ini terbuang," ujar Jawara.
"Jadi sepatu itu adalah produk bagus? Kalau begitu kita ambil saja!" ujar Alesse. Ia langsung mencoba sepatu itu.
"Aneh sekali! Kukira akan kebesaran, ternyata sangat pas!" ujarnya. Ia pun berdiri dan mencoba berjalan dengan sepatu itu. "Ini tidak membuat gerah. Sangat nyaman sekali! Mungkin sebaiknya aku berangkat sekolah dengan sepatu ini!" ujar Alesse. Seketika sepatu itu berubah warna menjadi hitam.
"Loh? Kenapa bisa berubah?" Alesse keheranan. "Itu adalah sepatu yang bisa berubah sesuai keadaan. Kau juga bisa merubahnya sesuai keinginanmu. Bisa dikatakan bahwa sepatu itu adalah versi lite dariku," ujar Jawara.
Karena penasaran, Alesse pun memikirkan sepatu roda. Tiba-tiba telapak sepatu itu mulai mengeluarkan lempengan besi dan karet. Setelah beberapa detik kemudian, mereka berubah menjadi roda.
"Oh! Sepertinya aku harus berlatih menggunakan ini juga!" seru Alesse sambil mencoba melangkah dengan sepatu itu. Sayangnya ia langsung terpeleset Jawara pun langsung menahannya agar tidak jatuh ke bawah.
__ADS_1
"Sebaiknya hati-hati. Saat aku sedang meniru tubuh manusia, tingkat keamanan yang kau dapatkan dariku akan berkurang, apalagi ketika jarak kita terlalu jauh. Aku tidak bisa menolongmu ketika melebihi radius 200 meter," ujar Jawara.
"Baiklah! Aku akan berhati-hati! Sepertinya sudah waktunya kita pulang," ujar Alesse. Mereka pun akhirnya pulang ke rumah.