
Ray mendapati tumpukan mayat dari manusia iblis, itu sudah berubah menjadi miasma yang mencemari udara sekitar.
Ia terus melangkah hingga mendapati mayat dengan darah yang masih segar. Ia pun sadar bahwa orang yang membuat kekacauan itu tidak jauh darinya.
Ia pun berlari dengan cepat sambil menelusuri jejak mayat-mayat segar itu hingga menemukan seseorang yang tampak sedang menggorok leher iblis.
"Apakah semua ini adalah perbuatanmu? Kenapa kau melakukan hal mengerikan ini?" tanya Ray.
"Alasanku sangat sederhana, aku benci semua hal yang tidak masuk akal dan berbau sihir, sama sepertimu! Tenang saja, aku juga akan segera membunuhmu. Keberadaan kalian yang menyalahi hukum alam..... aku akan membunuh kalian semua! Entah para elementalist ataupun makhluk-makhluk yang mengeluarkan aura menjijikkan seperti ini! Kalian sangatlah kotor. Lihatlah, bahkan setelah kalian mati pun masih tetap mencemari dunia ini!" ujar anak itu smabil menunjuk gumpalan kabut gelap yang merupakan miasma.
Setelah kabut perlahan hilang, akhirnya Ray dapat melihat jelas siapa yang sedang ia ajak berbicara. Ia sempat terkejut karena wajahnya sangat mirip dengan Kaa, namun sedikit lebih tua, ia juga merasakan sesuatu yang lain dari dirinya.
"Kau..... bukankah kau adalah Warden? Jadi sekarang kau adalah pemimpin baru dari aliran sesat itu? Inikah alasan para pengikut aliran sesat itu semakin banyak dan semakin menjadi-jadi?" tanya Ray.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Jika kau mengenakan pakaian seperti itu, aku hanya bisa mendapatkan satu kesimpulan. Kau pasti berasal dari bumi Earth! Tidak kusangka aku bertemu dengan orang bumi itu lagi selain sekumpulan remaja bodoh. Jadi, kali ini adalah seorang pria? Dan sendirian? Sepertinya keberuntungan ada di pihakku!" ujar anak itu kemudian mulai melesat dengan cepat ke arah Ray.
Ray sangat terkejut karena anak itu menerjang ke arahnya dari depan dan itu begitu cepat, ia hanya menggunakan tangannya untuk menahan serangan dari bilah pisau yang diayunkan anak itu.
"Sebaiknya jangan gunakan kebiasaanmu itu. Tubuh praktismu tidak akan bertahan melawan seranganku," ujar anak itu.
Ray sangat terkejut karena luka di tangannya tak kunjung beregenerasi dan terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan alihkan pandanganmu dariku, aku tidak sesepele itu," ujar anak itu. Kali ini ia menyayat punggung Ray. Untuk pertama kalinya Ray merasa sakit yang tak kunjung menghilang. Ia sempat jatuh tumbang karena tidak kuat menggerakkan tubuhnya dengan rasa nyeri.
"Heh? Semudah itu? kupikir kau adalah elementalist! Kalau begitu, aku akan mengakhiri hidupmu dengan cepat!" ujar anak itu.
Tak lama kemudian Aqhva muncul untuk menyelamatkan Ray dari tebasan maut. "Apalagi ini? Orang baru? Kenapa yang kutemui selalu saja orang-orang pengecut yang menyerang anak kecil secara bersamaan?" tanya anak itu.
"Aku tidak menganggap orang berbahaya sepertimu adalah anak kecil. Aku juga tidak peduli jika dijuluki pengecut," ujar Aqhva sambil tersenyum.
"Lihatlah, betapa percaya dirinya kau! Tapi aku tidak peduli, yang satu sudah tumbang, jadi kita bisa satu lawan satu," ujar anak itu.
Saat itulah Aqhva berubah menjadi Nevada, seorang wanita yang memiliki kemampuan untuk memindai kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, namun saat memindai tubuh anak itu, yang ia dapatkan adalah nihil.
"Menjijikkan sekali! Apakah ini adalah salah satu dari kemampuan kalian? Berubah dari pria menjadi wanita, wanita menjadi pria? Hukum alam mana lagi yang hendak kalian hancurkan? Peradaban akan hilang dari diri manusia jika kalian masih ada di dunia ini. Kau tidak keberatan jika dunia hancur hanya karena masalah kesehatan yang tidak ada obatnya? Apakah yang berhak sembuh dari penyakit hanya kalian para elementalist?" tanya anak itu.
Keduanya pun sampai di antah berantah. "Tadi itu nyaris saja! Kenapa kau membiarkannya menyerangmu?" tanya Aqhva keheranan. Ray masih syok karena darah di tangannya tak mau berhenti mengalir.
"Ada apa dengan tanganmu? Kenapa ini terus mengeluarkan darah?" tanya Aqhva keheranan. "Ini tidak mau berhenti jika aku terus bergerak, aku harus bagaimana?" tanya Ray.
Akhirnya Aqhva merobek beberapa lembar kain dari baju Ray lalu mengikat bagian luka di tangannya agar darah yang keluar tidak begitu deras.
"Tunggu dulu! Punggungmu juga terluka? Kenapa kau sangat gegabah?" tanya Aqhva, ia segera mencari sesuatu yang dapat memberhentikan aliran darah. Ia mengambil beberapa daun kemudian menumbuknya lalu mengolesinya pada luka itu.
__ADS_1
"A... apa yang kau lakukan?" tanya Ray. "Tentu saja mengobatimu. Ini akan membuat darah yang mengalir cepat membeku," ujar Aqhva.
"Sepertinya kau sangat paham tentang hal-hal ini," ujar Ray. "Tentu saja, aku hidup selama ribuan tahun. Aku masih ingat bagaimana dahulu elementalist hanyalah seorang badut yang melakukan pertunjukkan dengan pengendaliannya atau mungkin seorang petani yang hanya bisa membajak gundukan tanah kecil, atau menyirami tanaman dengan pengendalian airnya. Mereka tidak ada bedanya dengan orang biasa. Saat itu pengobatan seperti ini begitu populer setelah peperangan terjadi," ujar Aqhva.
"Bukankah para Elementalist Alam bisa melakukan regenarasi? Orang-orang juga bisa meminta bantuan para pengendali air untuk menyembuhkan luka dan penyakit mereka! Kenapa harus ada obat-obatan yang susah payah didapat lalu harus diolah agar bisa digunakan?" tanya Ray.
"Sepertinya yang dikatakan anak tadi ada benarnya. Keberadaan obat-obatan semakin langka karena keberadaan elementalist Air, namun tidak semua tempat ada elementalist Air yang bisa menggunakan kemampuan penyembuhan. Ini menyebabkan kesenjangan antara manusia biasa dengan para elementalist. Padahal sudah banyak kesenjangan yang ada saat para penyihir menunjukkan wajahnya di muka bumi," ujar Aqhva.
"Apakah harus membantai semua orang seperti itu? Tidak semua dari mereka ingin terlahir sengan kemampuan seperti itu. Sama seeprti manusia iblis yang tidak menginginkan lahir dalam Kondisi Terkutuk!" ujar Ray.
"Pada akhirnya semua menjadi hukum rimba. Yang kuat akan menang dan yang lemah akan kalah. Akan terus terjadi pembantaian sampai salah satu pihak memenangkannya. Seperti apa yang terjadi pada penyihir. Mereka sianggap sesat dan jahat sehingga keberadaan mereka hampir punah. Para manusia membantai mereka semua," ujar Aqhva.
"Apakah ini akan terjadi pada manusia iblis? Apakah mereka akan punah juga dan harus hidup dalam bayang-bayang?" tanya Ray.
"Mungkin akan lebih parah dari yang kau pikirkan! Anak kecil tadi, ia bahkan berniat membasmi semua Elementalist dan apapun yang berkaitan dengan sihir, mungkin tak terkecuali untuk keberadaan Chron dan ras magis seperti Elf, Dwarf serta yang lainnya," ujar Aqhva.
"Tidak kusangka Warden memiliki pemikiran yang sangat berbahaya! Sudah kuduga keberadaan mereka dari zaman dahulu sampai sekarang sangatlah mengancam!" ujar Ray.
"Eh? Kau mengatakan anak itu adalah Warden?" Aqhva kebingungan, ia pikir Ray keliru. "Tentu saja! Kau pikir hanya dirimu yang bisa menyadari keberadaan Warden? Aku bahkan sudah pernah membunuh Warden sebelumnya!" ujar Ray.
"Ehm, be.... benar juga! Keberadaannya sangatlah berbahaya! Kita tidak boleh lengah meskipun ia terlihat seperti anak kecil!" ujar Aqhva. Ia tidak mencoba menyangkal meskipun anggapan Ray salah terkait anak itu. Ia hendak memanfaatkannya untuk mengadu domba Warden dan Dark Warden.
__ADS_1
"Aku tidak akan lengah lagi, Aqhva! Setelah lukaku sembuh, aku akan menghadapinya dengan serius! Tidak bisa dipercaya bahwa aku sampai tersudutkan seperti itu oleh anak kecil. Ia sengaja mengincar bagian tubuhku yang dapat menimbulkan rasa sakit jika aku bergerak saat terluka," ujar Ray.
"Benar sekali! Kau harus berhati-hati! Warden saat ini tidak bisa diabaikan!" ujar Aqhva. Meskipun perkataannya sangat meyakinkan, ia masih cemas karena keberadaan anak itu yang bahkan dapat membuat Ray tumbang meskipun ia bukanlah Warden.