
"Hei, menyumbat telingamu dengan sesuatu adalah hal yang sia-sia! Dari awal keberadaan kami ini tidak ada secara fisik, mau kau tutup telingamu atau tidak, kau pasti terus mendengar suara kami," ujar Geni.
Meskipun sudah berkata begitu, Alesse masih mengabaikannya. Ia turun ke rubahanah untuk memeriksa beberapa bagian dari tubuh Jawara.
"Kupikir dia benar-benar tidak bisa mendengar kita," ujar Rasya. "Itu tidak mungkin! Kita bicara lewat kepalanya bukan telinganya," ujar Geni.
"Kenapa kalian ribut-ribut sendiri? Justru ia sengaja melakukan hal itu agar kalian diam dan tidak mengganggunya," ujar Gord.
"Tumben hari ini kau berkata bijak," ujar Geni. "Ka.... Kau mengejekku? Meskipun kau tinggal di dunia yang lebih maju, aku tetap lebih dewasa darimu! Jangan berlagak!" tegur Gord.
"Okong kosong apa itu? Kupikir usia kita sama saja. Bukankah kau baru berusia 17 tahun? Kalau begitu sama saja denganku!" ujar Geni.
"Dewasa tidak ditentukan oleh usia! Tapi seberapa pengalaman yang kau miliki! Memangnya kau pernah ikut berperang? Anak kecil manja sepertimu belum tahu apa-apa tentang kerasnya dunia ini!" ujar Gord.
"Kalian bertengkar seperti bapak dan anak saja. Lihatlah, Alesse tampak kesal karena pembicaraan kalian," ujar Rasya.
"Aku tidak bisa mengerti. Dari mananya yang kelihatan kesal? Ekspresi tampak datar seperti biasanya," ujar Geni.
"Dia berhenti beraktivitas saja sudah menunjukkan bahwa ia merasa kesal. Anak kecil sepertimu memang tidak tahu apa-apa," ujar Gord sambil mengacak-acak rambut Geni.
"Kalian berdua tampak akrab sekali! Membuatku iri! Bolehkah aku bergabung juga? Aku juga ingin mengusap-usap kepala Geni layaknya seorang ayah," ujar Rasya.
Geni mengelak, ia tampak enggan saat Rasya hendak menyentuh kepalanya. "Heh? Ada apa ini? Kenapa kau pilih kasih? Saat Gord mengacak-acak rambutmu, kau mengabaikannya. Tapi kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama? Kemarilah! Hanya sebentar saja!" ujar Rasya.
Alesse yang sembari tadi berusaha mengabaikan mereka pun akhirnya sudah tidak tahan lagi. Ia segera keluar dari rubanah yang pengap itu dan membuka jendela kamar untuk menghirup udara segar.
"Alesse, waktunya makan," ujar Andin, namun Alesse mengabaikannya. Setelah Andin menutup kembali pintu kamar, ia pun menghampiri mejanya dan merakit barang yang berhari-hari ini terus ia garap.
"Sebenarnya kau sedang membuat apa? Balok hitam putih ini untuk apa?" tanya Rasya. "Mayor dan Minor, ini seperti kunci piano," ujar Geni.
__ADS_1
"Piano? Apa itu? Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" tanya Rasya. "Aku hanya mengatakan itu mirip seperti piano. Kita tidak pernah tahu apa yang Alesse pikirkan," ujar Geni, ia sendiri ragu kalau sosok seperti Alesse bisa menggemari alat musik. Ia pikir orang sepertinya adalah orang yang buta nada.
"Kau tidak keliru kok, ini memang papan kunci piano," ujar Alesse. "Aneh sekali! Kenapa kau membuat benda seperti ini? Kupikir kau tidak tertarik dengan musik," ujar Geni.
"Aku juga sempat tidak tertarik. Aku bermain piano hanya untuk melatih kedua tanganku, aku juga ingin mengasah keseimbangan otak kanan dan kiriku," ujar Alesse.
"Wah luar biasa sekali! Aku kira selama ini hanya aku yang berusaha hidup ideal dengan menyeimbangkan kekuatan tubuh bagian kanan dan kiri, tapi aku belum sampai berpikir menyeimbangkan cara kerja otak! Kau benar-benar luar biasa, Alesse!" seru Geni.
"Sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan dari tadi? Ada apa dengan otak kalian? Apanya yang harus seimbang?" tanya Gord keheranan.
"Mungkin kalian akan mengerti saat menyaksikannya langsung," ujar Alesse.
Ia menekan salah satu kunci piano tersebut hingga sebuah nada muncul. "Whoa! Benda itu berbunyi! Itu sangat halus sekali!" seru Rasya terkesan.
Alesse pun menggunakan kedua jarinya untuk menekan beberapa kunci secara bergantian. "Wah! Itu benar-benar musik! Boleh kucoba?" tanya Rasya. Ia hendak menekan kunci piano itu, namun jemarinya tembus begitu saja.
"Sayang sekali. Sepertinya rasa penasaranmu membuatmu tidak sadar kalau kau tidak memiliki tubuh," ujar Geni.
"Menurutmu begitu? Gimana kalau seperti ini?" Alesse mengangkat kedua tangannya, bersiap menggunakan sepuluh jarinya untuk menari-nari di atas papan kunci itu.
Setelah jemarinya mendarat di papan kunci itu, sebuah nada beriringan muncul, menciptakan musik dengan tempo cepat. Seharusnya itu musik yang menggugah semangat, namun Alesse memainkannya dengan ekspresi datar.
"Luar biasa sekali, bagaimana caranya kedua tangan bisa bergerak secepat itu? Apakah ini mungkin? Ini benar-benar mustahil!" ujar Gord terkesan. "Ini adalah keterampilan dari pianis, di dunia kami hal seperti ini adalah hal yang wajar, namun..... Sepertinya Alesse tidak pantas memainkannya, genrenya tidak sesuai dengan sifatnya yang dingin dan datar. Kupikir kau akan memainkan musik yang tenang dan damai," ujar Geni.
"Aku belum menemukan musik tempo cepat dengan nada seperti itu, lain kali mungkin aku akan membuatnya sendiri," ujar Alesse.
"Jadi, musik yang kau mainkan saat ini bukan karyamu?" tanya Geni. "Tentu saja, kau pikir aku memainkannya karena suka? Aku hanya memanfaatkannya untuk melatih jemariku saja," ujar Alesse.
Tak lama kemudian Andin datang mendobrak pintu. "Alesse, makan!" ujarnya dengan nada tinggi. Akhirnya Alesse pun keluar dari kamarnya dan memeriksa apa yang dihidangkan di meja makan.
__ADS_1
"Sebaiknya jangan pilih-pilih soal makanan, Alesse!" ujar Hendra. "Sejak kapan aku pilih-pilih makanan?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya.
"Ekspresimu dan kata yang kau ucapkan sangat tidak cocok," ujar Hendra. "Jangan menjahilinya, biarkan dia makan! Aku sudah susah payah membujuknya keluar dari kamar!" tegur Andin.
Hendra hanya bisa menggaruk-garuk kepala saat Andin memarahinya.
Suasana ruang makan itu tetap dingin seperti biasanya. Alesse menaruh rasa curiga pada kedua orang tuanya itu. Ia merasa sesuatu sedang disembunyikan darinya.
"Apa yang sedang ayah dan ibu rahasiakan dariku?" tanya Alesse lugas. Seketika membuat Hendra tersedak karena terkejut.
"Ka... kami tidak menyembunyikan apapun kok. Kau baik-baik saja kan?" Hendra mencoba mengganti topik. Sayangnya Alesse tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaannya karena ia sendiri juga belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Alesse, besok Alex akan pulang ke rumah, mungkin sebaiknya kita bersiap-siap menyambutnya," ujar Andin, ia berusaha merubah topik pembicaraan mereka.
"Hmm.... Alex ya?" Alesse mencoba mendongakkan kepala ke langit-langit ruangan. "Apakah kau sangat ingin bertemu dengannya? Sudah lama sekali kita tidak makan bersama dengannya! Kami tidak sabar merasakan keluarga ini akan lengkap lagi!" seru Andin.
"Apakah ia akan membawa pulang seorang gadis lagi?" Hendra tampak penasaran. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Andin mencubit pinggang Hendra.
"Ma.. maaf! Aku cuma bercanda," ujar Hendra. "Tapi menurutku gadis itu cantik juga. Ia sangat antusias saat aku mengajarkannya beberapa resep makanan. Aku merasa senang bisa memiliki teman di dapurku," ujar Andin.
"Hmm..... gimana menurutmu, Alesse? Kenapa kau tidak bawa pulang seorang gadis saja? Ibumu tampak kesepian di dapur loh! Jangan mau kalah dengan Alex," ujar Hendra.
"Jangan mau kalah? Kupikir dari awal saja tingkatan kami sudah berbeda. Dia adalah Elementalist, sedangkan aku bukan siapa-siapa," ujar Alesse. Ia baru saja menyelesaikan makanannya, lalu beranjak dari kursinya untuk melanjutkan aktivitas.
"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Hendra. "Jangan memikirkan hal yang buruk! Dia memang selalu pergi setelah selesai makan," ujar Andin.
"Bukankah kita menjadi semakin jauh darinya sekarang? Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Semakin ke sini semakin susah untuk mendekatinya dan mengajaknya berbicara," ujar Hendra.
"Sst! Jengan keras-keras, nanti dia dengar!" tegur Andin.
__ADS_1
Meskipun mereka berusaha berbisik-bisik, Alesse sudah mendengar percakapan mereka sejak awal. Ia hanya bisa menyandarkan punghungnya pada dinding karena tidak tahu harus menanggapi perkataan orang tuanya seperti apa.