Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Siapa Warden selanjutnya?


__ADS_3

"Kakaknya Alex? Kenapa ia mengirimiku surat seperti ini? Siapa dia sebenarnya? Kenapa harus keluarga Alex? Dari semua orang, kenapa malah ia yang memberikan surat itu padaku? Ini menjadi semakin jelas bahwa Alex adalah Warden! Dari semua orang juga hanya ia yang tertarik tentang pengendalian lima elemetal," gumam Ray, ia terus mondar-mandir di atas gedung.


"Mungkin sebaiknya kutemui dulu kakak Alex itu," ujar Ray, ia hendak melompat dari atap. "Tidak perlu melakukan itu, yang menulis surat itu sudah berada di sini," ujar salah seorang anak.


Ray pun menoleh ke sumber suara, ia mendapati seorang anak dengan sayap megah di punggungnya. "Kaa? Itulah kau? Kau yang menulis surat ini? Tapi kenapa kau memberikannya pada Alex? Kau membuat persahabatanku menjadi kacau!" ujar Ray kecewa.


"Persahabatan omong kosong! Kau bahkan mencurigainya sebagai Warden dengan penuh kebencian, apakah itu bisa disebut persahabatan?" tanya Kaa.


"Tetap saja! Kenapa dari semua orang, kau malah menyuruh Alex untuk memberikan itu padaku?" tanya Ray.


"Anggap saja sebuah kebetulan yang tak terduga," ujar Kaa sambil tersenyum. "Kebetulan tak terduga? Apa itu? Jangan-jangan...... dugaanku benar tentang Alex adalah Warden?" tanya Alex.


"Jika memang benar begitu, kau akan membunuhnya?" tanya Kaa. "Tentu saja! Aku akan balas dendam karena Warden telah membantai keluargaku! Kaum kita juga!" ujar Ray.


"Tidak semua Warden itu jahat, Ray! Sebagian mereka ada yang lahir tanpa tahu apapun. Kenyataan bahwa ia diberi beban berat untuk menjadi Warden itu sudah mengerikan, jika kau memindahkan kesalahan Warden sebelumnya kepadanya, itu sangatlah tidak adil! Kau tahu sendiri kan? Bahwa Alex adalah orang yang baik-baik? Dia masih sangat polos meskipun berwajah pria dewasa," ujar Kaa.


"Jadi memang benar kalau Alex adalah Warden!" Ray menyimpulkan. "Apakah menurutmu begitu?" tanya Kaa.


"Lalu siapa lagi? Siapa kira-kira yang paling besar kemungkinannya adalah Warden? Hanya Alex!" ujar Ray.


"Aku hanya bisa mengatakan hal ini, kau tidak boleh langsung bertindak hanya karena kesimpulanmu yang tidak pasti! Kau akan menyesal jika melakukannya!" ujar Kaa.


"Sepertinya kau sudah tahu siapa Warden sebenarnya!" ujar Ray. "Tentu saja, aku ini sudah hidup sejak dua ratus tahun yang lalu loh! Aku tahu persis seperti apa Warden itu," ujar Kaa.

__ADS_1


"Jadi siapa? Siapa Warden itu? Apakah bukan Alex? Apakah orang lain? Orang mana?" tanya Ray.


"Aku tidak bisa menjawab hal itu, aku hanya ingin kau terjebak dalam pertanyaanmu sendiri. Apakah Alex? Atau bukan? Mungkin saat kau tahu jawabannya, kau akan memandang Warden dari sisi yang berbeda," ujar Kaa.


"Kau benar-benar membuatku kesal! Bukankah kita sering bekerjasama dulu? Kita menyembunyikan manusia iblis dari pembantaian keji yang dilakukan Warden! Kenapa kau tidak mau memberitahuku?" tanya Ray.


"Karena aku tidak memihak Warden atau pun Dark Warden. Kau tahu? Kami, Chron dilarang untuk memihak salah satu dari dua kubu tersebut. Kami hanya memihak umat manusia secara keseluruhan! Kira-kira apa yang lebih baik untuk umat manusia, aku akan memihak itu," ujar Kaa.


"Bukankah memihakku juga memihak umat manusia?" tanya Ray. "Itu dulu, saat aku belum bertemu dengan Warden yang sekarang ini. Akan tetapi setelah bertemu dengannya, bahkan berbicara dengannya, aku tidak berniat memihakmu sama sekali!" ujar Kaa dengan ekspresi dinginnya.


Karena kesal, Ray langsung meraung keras, tubuhnya membesar dengan kepala yang berubah menjadi serigala.


"Kau telah membuatku kesal! Berani-beraninya kau membuatku sangat marah seperti ini!" teriak Ray. Ia langsung menghentakkan tangannya ke permukaan atap, membuat beton runcing mencuat keluar ke arah Kaa.


Keributan itu membuat jalanan terhenti sejenak. Orang-orang melihat ke atap dan menyaksikan asap menggumpal dari atas gedung.


Alex yang tampak berjalan tertatih-tatih itu pun berhenti sambil mendongakkan kepala. "Ada apa Alex?" tanya Tesla. "Sepertinya ada keributan di atas sana," ujar Alex.


"Kau sedang cidera! Sebaiknya jangan ikut ke sana!" ujar Tesla. Saat Alex terus menatap gumpalan asap itu, seorang remaja keluar dengan sayap megahnya.


Tepat setelah kepakan sayapnya, wajahnya pun terlihat di mata Alex. "Alesse?" secara spontan ia menyebutkan nama itu. Sedangkan di hadapan remaja itu, Ray tampak hendak menerkamnya.


Alex pun mencoba mengedipkan mata, ia berpikir sedang salah lihat. "Ada apa Alex? Jangan bilang kau akan bergabung dengan pria itu! Kita pulang ke rumahku saja! Abaikan dia!" ujar Tesla, ia menarik lengan Alex dengan paksa.

__ADS_1


Di sisi lain Ray masih berusaha mengejar Kaa, namun tetap tidak bisa menggapainya. Ia pun mulai berpencar menjadi dua dengan pakaian yang berbeda.


"Heh? Lihat ini! Ada dua Ray yang mencoba menangkapku! Kenapa tidak kau keluarkan lima pria sekaligus yang mirip denganmu?" tanya Kaa.


"Sesuai keinginanmu!" ujar Ray, kini empat Ray lainnya muncul dan siap menyergap Kaa. "Alpha! Lompatlah ke arahnya! Boulder, kau buat belenggu beton agar ia tidak bisa kabur! Lalu si biru dan si Merah! Jangan bertengkar di saat seperti ini! Si Angin! Buatlah ****** beliung untuk menutupi matanya!" ujar salah seorang Ray berpakaian coklat.


"Aku bukan Si Angin! Namaku Cryo!" bantah seorang Ray berpakaian putih. "Sepertinya sudah lama kalian tidak berkoordinasi dengan baik!" ujar Kaa, ia langsung meluncur ke arah Ray berpakaian coklat.


"Oops! Tidak boleh! Kau tidak akan pergi ke mana-mana," ujar Ray berpakaian hijau Army. "Kau menyebalkan seperti biasanya, Alpha!" ujar Kaa, ia pun mengepakkan sayapnya, membuat bulu-bulu berguguran. Saat itu juga ia membuat badai bulu lalu menghilang dari pandangan keenam Ray.


"Sepertinya ia sudah pergi, lain kali kita sergap di tempat yang sepi! Di sini sangat membahayakan," ujar Ray berpakaian coklat. Saat itu juga keenam Ray menjadi satu kembali. Ia pun pulang ke rumah untuk memberitahu Malfoy.


Sayangnya sesampainya di depan pintu, ia mendapati Tesla berkacak pinggang. "Kenapa kau datang ke sini?" tanya Tesla dengan wajah marah.


"Tesla! Bagaimana keadaan Alex? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Ray, ia sadar telah melakukan hal yang berlebihan.


"Setelah berniat membunuhnya, kau berani bertanya seperti itu? Kau pikir pantas?" tanya Tesla dengan wajah kecewa.


"Maafkan aku Tesla, saat itu aku tidak berpikiran jernih!" ujar Ray. "Memangnya kapan kau berpikiran jernih? Yang kau lakukan hanyalah bermain dan bersenang-senang! Kau pikir itu hebat? Lalu..... mencekik Alex? Kau tahu ia berusia berapa? Ia masih enam belas tahun! Ia tidak tahu apa-apa hingga pantas kau cekik seperti itu!" ujar Tesla.


Ray pun sadar setelah mendengar perkataan Tesla, ia pun ingat persis saat Kaa tidak sudi memihaknya sama sekali, tatapan prihatin yang Tesla tunjukan sama dengan Kaa.


"Pergi! Jangan pernah ke sini lagi! Kau bahkan bukan kakak kandungku! Kau bukan keluarga kami, dasar orang asing!" ujar Tesla kemudian masuk ke dalam dan membanting pintu.

__ADS_1


Mendengar perkataannya tentu saja membuat Ray semakin terpuruk, memang selama ini ia hanya menumpang di rumah Malfoy karena pria itu mengadopsinya. Setelah berpikir berkali-kali, ia pun sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa di rumah itu, hanya kebetulan diadopsi oleh Malfoy.


__ADS_2