
Cerita pertama adalah kisah seorang anak yang ingin hidup bebas. Ia hidup sebagai penggembala kambing di padang rumput yang sangat luas. Ia ingin menikmati kesehariannya itu selamanya.
Menggembala, tidur di atas rerumputan dengan santai, sambil sesekali naik ke atas pohon untuk merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus ke arahnya.
Ia adalah anak yang tampak sangat bahagia dan tidak peduli dengan pendapat orang lain. Ia juga selalu mengenakan dua helai kain sebagai pakaiannya layaknya seorang budak.
Akhirnya banyak orang yang mengiranya budak penggembala. Meskipun mendapatkan julukan seperti itu, ia tidak merasa terganggu sama sekali. Ia malah merasa senang karena masyarakat mengenalnya, meskipun dengan sebuah julukan.
"Singkat sekali! Ini tidak seperti cerita utuh! Apakah ada bagian yang sobek?" tanya Irawan. "Nah, itulah makanya kupikir tidak ada makna yang tersirat di dalamnya! Cerita ini belum selesai!" ujar Alesse.
"Gimana dengan cerita yang kedua?" tanya Irawan.
Cerita kedua adalah cerita tentang anak bodoh yang ada di sebuah kerajaan. Ia adalah Anak Pembawa Bencana. Apa saja yang ia lakukan selalu saja membawa celaka. Ia tidak pernah mengerjakan sesuatu dengan benar.
Anak yang menyedihkan ini terkadang membuat orang-orang iba, namun di sisi lain juga membuat orang-orang kesal.
Awalnya orang-orang baik akan merasa tertarik untuk membantu anak yang malang itu, namun setelah mereka ikut campur dengan urusannya, mereka akan berakhir celaka.
Keberadaannya di kerajaan itu seperti penyakit, ia mulai mengacaukan kehidupan masyarakat setelah berusia sepuluh tahun.
Setiap kali hendak bertindak, ia selalu melakukan hal ceroboh yang berakhir merugikan banyak orang. Namanya pun sampai terkenal di seluruh penjuru kerajaan.
Banyak orang-orang yang berupaya untuk membunuhnya juga, namun tetap berakhir dengan celaka. Siapapun yang berurusan dengannya pasti celaka, entah hendak membantunya ataupun membunuhnya.
Pada akhirnya kerajaan itu hancur saat peperangan karena anak ini diikutkan ke dalam peperangan.
Awalnya kerajaan hanya berniat untuk mengusir anak itu secara lembut dengan mengikutkannya ke dalam medan perang.
Sayangnya di medan perang pun ia masih sempat melakukan kecerobohan yang menimbulkan kericuhan dan kesalahpahaman antar pasukan. Akhirnya terjadi peperangan antar pasukan bahkan sebelum musuh menyerang.
"Sudah? Hanya sampai segini saja? Paman jadi penasaran kelanjutan dari cerita ini. Anak yang sangat malang!" ujar Irawan.
"Malang dari mananya? Itu salahnya sendiri. Entah karena bebal atau atau bodoh, bahkan orang gila pun tidak akan sampai membuat satu kerajaan hancur. Ia adalah anak yang berlagak bisa saja padahal tidak bisa melakukan apapun. Jika tidak mampu melakukan apapun sebaiknya diam saja. Jangan menambah kesusahan orang lain," ujar Alesse.
"Kalau diam saja, tidak makan atau minum, dia bisa mati!" ujar Irawan. "Lebih baik begitu daripada membawa kesialan pada orang lain!" ujar Alesse.
__ADS_1
"Mati seperti itu sangat menyiksa! Kenapa tidak suruh ia bunuh diri saja? Suruh ia minum racun dan sebagainya. Dengan begitu ia tidak perlu merasa tersiksa lagi," ujar Irawan.
"Masa bodoh dengan racun. Untuk makan dan minum saja ia selalu ceroboh, apalagi disuguhi racun. Mungkin saja ia malah membuat orang-orang keracunan," ujar Alesse kesal.
"Mana ada! Cerita ini terlalu dilebih-lebihkan! Tidak mungkin ada orang yang sangat ceroboh hanya untuk makan dan minum saja!" ujar Irawan tidak terima.
"Suka-suka yang buat cerita! Kalau sudah sial ya tetap sial! Ya ampun tidak kusangka anak di cerita itu juga sampai membuat kekesalan di dunia nyata!" ujar Alesse kesal. Irawan pun kembali tenang dan menyadarinya.
"Wah! Benar sekali! Padahal aku hanya ingin memihaknya saja, tapi kenapa kita berdua malah saling adu mulut? Seolah-olah kesialan anak ini berlaku untuk kita juga," ujar Irawan.
"Kalau begitu langsung ke cerita selanjutnya saja!" ujar Alesse.
Cerita ketiga mengisahkan seorang pria perkasa yang gagah berani. Ia selalu mengembara ke berbagai negeri untuk menantang orang-orang kuat berduel dengannya. Setiap ia kalah, ia pantang menyerah dan meminta mereka untuk mengajarinya.
Setelah menelusuri berbagai negeri, ia pun menjadi orang yang kuat. Ia selalu bergabung dengan pasukan manapun ketika berperang.
Ia juga selalu memilih barisan depan seolah siap mati kapanpun juga. Meskipun begitu, pasukan yang di pihaknya selalu meraih kemenangan. Sosoknya yang gagah berani dapat membuat semangat para pasukan bangkit. Ia dijuluki sebagai benteng hidupnya dewa perang.
"Yang ini lebih singkat dari yang lainnya," ujar Irawan. "Langsung lanjut ke cerita berikutnya saja," ujar Alesse.
"Tidak percaya? Lihatlah ekspresi datarnya! Sama persis denganmu, seolah baru bangun tidur," ujar Irawan.
"Sudahlah, paman ingin dengar lanjutan ceritanya atau tidak?" tanya Alesse. "Baiklah, apa ceritanya?" tanya Irawan.
Suatu hari, seorang gadis tampak berjalan cepat seperti diam-diam melarikan diri dari seseorang.
Ia menuju ke sebuah pasar di pesisir pantai dan menemukan berbagai hal yang menurutnya luar biasa.
Dengan sekantong mutiara yang ia dapatkan dari tempat tinggalnya, ia pun mulai membeli beberapa camilan dan memakannya.
Ia tampak kegirangan karena baru pertama kali memakan makanan yang manis dan lembut. Ia pun berlari ke sana kemari mencoba sesuatu. Mulai dari makanan, perhiasan, dan benda-benda menarik lainnya.
Senyumannya yang terpantul sinar matahari membuat orang-orang terpana melihatnya. Sayangnya gadis itu tidak menyadarinya dan terus berjalan keliling desa.
Tiba-tiba ia tersandung batu hingga jubah yang menutupi kepalanya tersingkap. Seorang pria segera menangkapnya sebelum terjatuh ke tanah. Pria itu adalah seorang putra bangsawan, entah kenapa ia langsung terpana saat melihat wajah gadis itu terkejut. Akhirnya ia mengajaknya berjalan di sekitar lalu melihat festival yang biasa digelar para nelayan.
__ADS_1
Saat senja tiba, pria itu menyatakan perasaannya, ia menunjukkan sebuah cincin safir yang sama persis seperti warna mata gadis itu.
Saat suasana hangat mereka terus berjalan, tiba-tiba seorang pria garang datang dan menarik lengan gadis itu.
Pria itu adalah ayahnya. Dengan wajah dinginnya pria itu menyuruh anaknya pulang. Ia menghukum gadis itu dengan mengurungnya di dasar lautan.
"Lagi-lagi hanya cerita singkat dan belum selesai! Lagian kenapa tiba-tiba gadis itu dikurung? Salah apa dia?" ujar Irawan. "Sebenarnya gadis itu adalah sebuah kutukan. Ia memiliki paras yang dapat memikat semua orang, bahkan ayahnya sendiri pun terpikat olehnya. Karena itulah sang ayah mengurungnya, di dasar lautan. Mungkin agar tidak ada orang yang jatuh hati padanya," ujar Alesse.
"Mungkin? Berarti itu hanya asumsimu saja! Di dasar lautan itu sangat kejam, ia bisa hancur lebur karena tekanan air di bawah sana," ujar Irawan.
"Paman pikir zaman dulu tahu tentang tekanan air? Namanya saja dongeng! Aku jadi semakin muak menceritakannya!" ujar Alesse.
"Tunggu dulu! Kau belum menyelesaikan dua cerita lainnya!" ujar Irawan. "Sudahlah! Aku sangat malas! Yang kelima adalah Legenda Hoodie Merah, menceritakan tentang seorang maniak gamer yang kerjaannya hanya bermain game hingga melegenda ke seluruh dunia. Sayangnya ia adalah anak yang malas dan jarang keluar dari kamarnya. Orang-orang menjulukinya Legenda Hoodie Merah karena hanya itu yang ia kenakan saat sesekali keluar dari rumahnya," ujar Alesse.
"Wah, sepertinya cerita yang satu itu berlatarkan dunia saat ini! Lalu yang terakhir? Cerita apa yang terakhir?" tanya Irawan.
"Argh! Yang terakhir adalah Rasya Si Berandal! Ia selalu berbuat jahil kepada warga desa hingga akhirnya di usir," ujar Alesse.
"Hmm? Rasya Si Berandal? Sepertinya dari semua cerita yang ada, hanya yang terakhir yang disebutkan nama aslinya. Sedangkan yang lainnya hanya julukannya saja," ujar Irawan.
"Begitulah, aku juga sempat curiga," ujar Alesse kemudian menutup bukunya.
"Sudah? Hanya begitu saja? Kukira ada hal yang lebih menarik," ujar Irawan kecewa. "Lalu, lembaran yang di tengah.... sepertinya belum kau baca! Ini ada sebuah peta loh! Sepertinya peta pulau ini" ujar Irawan.
"Aku belum berniat membaca sampai situ! Aku belum menyelesaikan mitos-mitos yang ada di halaman sebelumnya," ujar Alesse.
"Kau ini hanya tertarik pada ilmu pengetahuan saja! Sekali-kali pecahkan teka-teki yang ada di cerita dongeng itu. Hal itu lebih seru daripada membuktikan mitos dengan pengetahuan sains," ujar Irawan.
"Tidak, sampai aku bisa menemukan penyebab Alex bisa berubah seperti itu. Kenyataan bahwa ia bisa tumbuh dengan pesat adalah hal yang asing," ujar Alesse dengan wajah kesal.
"Ada apa? Kau iri dengan adikmu?" tanya Irawan. Alesse hanya terdiam mendengar perkataannya.
"Tidak apa-apa, jujur saja! Paman tidak akan memberitahu Alex kok," ujar Irawan. "Iya! Aku sangat iri dengan Alex! Ia bisa berubah seperti itu, ia juga bisa tumbuh lebih cepat dan kuat! Ia sangat bisa diandalkan di rumah. Sedangkan aku..... hanya anak kecil yang numpang di rumah mereka. Padahal aku adalah anak pertama, tapi entah kenapa rasanya aku paling tidak berdaya di sana," ujar Alesse kesal.
"Tidak memiliki keistimewaan seperti Alex, bukan berarti kau tidak berdaya, Alesse! Kau punya ilmu pengetahuan. Kau cepat memahami berbagai hal dan keadaan. Itu adalah hal yang istimewa! Kau tidak perlu berusaha terlalu keras hanya agar tampak setara dengan Alex! Kau punya sesuatu yang lain," ujar Irawan.
__ADS_1
Meskipun mendengar nasehat pria itu, Alesse tetap tidak setuju dengannya, ia langsung turun dari kursi lalu pulang tanpa sepatah katapun.