
"Sepertinya lebih baik aku mengunjungi beberapa tempat di dunia lain," ujar Ray. "Kau hanya beralasan! Kau pasti hanya bosan dengan wanita-wanita yang ada di sini kan?" ujar Malfoy.
"Tidak sopan! Aku tidak berniat seperti itu!" ujar Ray. "Kebohonganmu sangat terlihat dengan jelas! Aku melihat kamarmu dan menemukan plafon yang basah berbau pandan, kau bahkan sampai tidak bisa menahan hasrat seksualmu sampai tongkatmu tegang seperti itu," ujar Malfoy sambil menunjuk ************ Ray. Ray pun menutupinya dengan wajah malu.
"Sepertinya aku harus menjauhkan Tesla darimu," ujar Malfoy. "Lalu apa yang harus kuperbuat? Jika aku melakukan sesuatu seperti itu di sini akan mengakibatkan skandal, aku tidak tahan!" ujar Ray.
"Kalau begitu, menikahlah!" ujar Malfoy, sayangnya Ray memalingkan wajah. "Lihatlah, betapa tidak dewasanya dirimu! Yang kau inginkan hanyalah kenikmatan semata, kau tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatanmu," ujar Malfoy. Ray sudah tidak tahan mendengar perkataannya, ia langsung pergi meninggalkan Malfoy.
Ia pun terjun ke dalam retakan Abyss kemudian berlari secepat kilat ke sebuah tempat, seolah ia benar-benar hafal semua jalan yang ada di antah berantah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sudah berapa bulan kita berada di Atlane?" tanya Alesse. "Mungkin sudah sekitar lima bulan," ujar Jawara. "Sepertinya Sanay akan murka jika tahu begini! Kita sudah berkeliling ke berbagai benua, namun tetap tidak menemukan tempat yang dapat membawa kita pulang," ujar Alesse.
"Masih ada tempat lagi yang belum kita datangi!" seru Jawara. "Apa? Di mana? Kita bahkan sudah memiliki peta dunia ini tapi masih ada yang belum di kunjungi?" Alesse keheranan.
"Kau terlalu terpaku pada tempat yang ada manusianya, Coba kita menelusuri dengan sudut pandang lainnya," ujar Jawara.
"Argh! Andai saja buku kusam dapat menunjukkan di mana tempatnya seperti retakan Abyss itu!" keluh Alesse.
Seketika ponselnya berdering, itu adalah hal yang langka, mengingat di peradaban seperti ini tidak mungkin ada yang menelponnya.
Akhirnya Alesse memeriksa ponselnya dan buku kusam pun muncul dari layarnya. Peta bumi pada lembaran buku itu berubah menjadi peta Atlane. Sebuah titik hitam pun terlihat pada sebuah pulau.
"Ya ampun! Kenapa tidak dari dulu? Buku ini sangat menyebalkan!" ujar Alesse. "Itu karena kau tidak pernah memintanya," ujar Jawara. "Memang logisnya seperti itu, tapi apakah ia tidak pengertian? Kita sampai berkeliling dunia selama lima bulan ini!" ujar Alesse kesal.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke lokasi titik hitam itu berada. Alesse kecewa karena titik hitam itu berada di tempat yang tidak sesuai pikirannya.
"Apakah ini masuk akal? Buku kusam ini menggiring kita ke pasar! Apa yang kita dapat di tempat seperti ini?" ujar Alesse kesal. Saat ia sibuk berbincang-bincang dengan Jawara, tiba-tiba seorang pria tua datang menghampirinya.
"Sepertinya kalian memiliki raga yang tersesat, salah datu dari kalian tidak memiliki jiwa, dan satunya lagi adalah jiwa yang bereinkarnasi secara tidak wajar! Ia bereinkarnasi, namun seperti tidak bereinkarnasi," ujar pria tua itu.
"Kakek ini bicara apa? Apa maksudmu bereinkarnasi tapi tidak bereinkarnasi? Plin-plan sekali perkataanmu! Kami tidak tertarik menganut ajaranmu!" ujar Alesse kesal.
"Plin-plan katamu? Kuyakin kau juga tahu sendiri apa maksudnya. Jiwa yang bereinkarnasi seharusnya tidak hidup dengan raga yang ia tinggali sebelumnya. Jika ia hidup dengan raga yang sudah mati itu, artinya ia bangkit dari kematian, tapi tidak untukmu, kau hidup kembali sebagai orang baru, dengan kenangan yang tak menghilang sedikitpun," ujar kakek tua itu.
Alesse teringat dengan bisikan yang ia dengarkan dari buku kusam, bisikan itu juga mengatakan bahwa ia sudah mati, dan dirinya yang sekarang bukanlah Alesse Jawara.
"Jadi gimana? Apa yang kau inginkan dari kami? Jika kau tahu tentang jiwa dan omong kosong lainnya, lalu kami harus apa?" tanya Alesse.
"Aku yakin bukan aku yang menginginkan sesuatu darimu, tapi kau yang menginginkan sesuatu. Bukankah begitu?" tanya kakek tua itu.
"Ikutlah denganku, kau akan mendapatkan yang kau inginkan," ujar kakek tua itu. Mereka berdua pun menurutinya dan pergi ke sebuah kuil di tengah-tengah pasar.
"Kenapa ada tempat seperti ini di sini? Jangan bilang kau hendak menyuruhku menyembah berhala-berhala itu?" tanya Alesse. "Tentu saja tidak, hal yang kau inginkan adalah ini," ujar kakek tua itu sambil menggeser patung raksasa yang ada di tengah aula.
"Jawara, bantu dia," ujar Alesse setelah melihat pria tua itu kepayahan mendorong patung. Jawara pun mengangguk dan mendorongnya dengan mudah.
"Kekuatanmu sangat luar biasa sekali nak! Kau berasal dari ras apa?" tanya kakek tua itu. "Bukan ras apa-apa, kami hanya manusia biasa!" ujar Alesse.
Sebuah gerbang pun terlihat, kakek tua itu langsung membukanya sedangkan di dalamnya terlihat sangat hitam pekat.
__ADS_1
"Apa ini? Membuatku sangat mual saat melihatnya!" ujar Alesse. "Ini adalah gerbang menuju ke dunia lain, kalian mungkin bisa menemukan jalan pulang di balik gerbang ini," ujar pria tua itu.
"Benarkah? Kau tidak menipu kami kan?" tanya Alesse. "Tentu saja tidak, silahkan masuk dan temui kebenarannya," ujar kakek tua itu.
Akhirnya Alesse dan Jawara memasuki gerbang itu tanpa pikir panjang. Mereka terus berjalan, namun tidak menemukan ujungnya.
"Sampai kapan kita akan terus seperti ini? Kakiku mulai pegal!" keluh Alesse. "Aku tidak bisa memprediksinya, waktu di sini menjadi sangat kacau! Aku tidak bisa menentukan berapa lama kita sudah berjalan," ujar Jawara.
Secara tidak sadar mereka sudah berada di gang perumahan. "Sepertinya kita berhasil kembali!" seru Alesse. "Benar sekali! Gedung-gedung bertingkat dan rumah modern ini..... sepertinya kita berada di bumi," ujar Jawara.
Alesse pun mencoba memeriksa ponselnya dan mencoba menelpon Sanay. Beberapa detik ia menunggu, tidak ada jawaban darinya. Saat itu pun ia menyadari bahwa tidak ada sinyal di ponselnya.
"Apa maksudnya ini? Kenapa aku tidak bisa menelpon Sanay?" tanya Alesse keheranan. "Mungkin kita perlu provider yang mendukung di negara ini," ujar Jawara.
"Memangnya kau tahu kita di mana?" tanya Alesse. "Entahlah, pemindaiku belum berjalan dengan baik karena gerbang tadi. Selain waktu yang kacau, sepertinya ada radiasi yang mengganggu beberapa fitur," ujar Jawara.
Mereka pun terus berjalan, Alesse mencoba pergi ke sebuah kafe untuk menumpang Wi-Fi. "Kenapa tidak tersambung? Aneh sekali! Wi-Fi di sini tidak ada yang terdeteksi pada ponselku!" ujar Alesse kesal.
"Alesse, sepertinya ada yang tidak beres dengan navigasinya! Tempat ini...... tidak ada di belahan bumi manapun," ujar Jawara.
"Apa maksudmu? Ini jelas-jelas bumi! Kota metropolitan seperti ini hanya ada di bumi! Tidak mungkin di Atlane ada tempat seperti ini!" ujar Alesse.
"Kita juga tidak berada di Atlane, kita berada di dunia yang berbeda lagi. Aku mencoba memindai kondisi geografis di sini, tidak ada satupun yang cocok dengan bumi atau Atlane," ujar Jawara.
Alesse pun mencoba menanyakan sesuatu pada bar tender di kafe tersebut. "Sekarang di sini tahun berapa, tanggal berapa, bulan apa, dan planet apa?" tanya Alesse.
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya? Sekarang tahun 2045, bulan Arch, tanggal 25, kita berada di planet Nova," jawab bar tender itu dengan wajah keheranan.
Alesse pun mencoba keluar kafe dan melihat sekitar. "Benar sekali, Jawara! Kita tidak berada di bumi yang kita kenali!" ujar Alesse.