Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
The Sinister Noblesse


__ADS_3

Alesse langsung masuk ke dalam istana, sayangnya ia hanya mendapati ruangan yang amat besar dan kosong, gedung yang ia pikir sebuah istana itu ternyata hanyalah sebuah aula raksasa, hanya satu ruangan.


Ia sempat heran karena terdapat singgasana di ujung ruangan itu, akhirnya ia menurunkan Levy lalu keluar darinya.


"Cahayanya redup sekali! Padahal seharusnya sekarang sedang terang benderang," ujar Alesse. Ia mendapati ada banyak bekas tembok yang dihancurkan.


"Hmm! Jadi ini memang sengaja dibuat menjadi satu ruangan! Tapi untuk apa?" Alesse semakin curiga.


"Tidak kusangka kau bisa sampai ke sini juga!" ujar salah seorang anak yang tiba-tiba sudah duduk di singgasana yang ada di hadapan Alesse.


"Gila! Bagaimana ia bisa berada di situ? Padahal kursi itu masih kosong tadi!" ujar Geni terkejut. "Entahlah, aku hanya melihat kilatan petir menyilaukan dari jendela, lalu anak itu sudah berada di situ sejak aku membuka kedipan mataku," ujar Alesse.


"Kenapa tiba-tiba tertegun? Jangan-jangan kau terkejut karena wajah kita berdua sama?" tanya anak itu.


Alesse memang sempat terkejut dengan keberadaan anak itu.


"Siapa kau sebenarnya? Si Benteng Hidup Dewa Perang?" tanya Alesse. "Walah, sepertinya kau tahu rahasia dari julukan itu. Sayang sekali, aku bukan orang yang kau maksud itu," ujar anak itu yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Alesse sambil memegang dagu Alesse.


"Wajah ini..... indah sekali! Sayangnya warna dan bentuk rambutnya benar-benar jelek!" ujar anak itu.


"Hei! Kurang ajar sekali! Padahal warna rambutku juga hampir sama dengannya kok!" ujar Geni tidak terima, saat itu Alesse juga sedang menggunakan bentuk tubuhnya.


"Perkenalkan, namaku Baraq. Biar kutebak, kau pasti memiliki buku kusam yang sama denganku! Bukankah begitu?" tanya anak itu sambil menunjukkan buku kusam miliknya.


Alesse juga menunjukkan buku kusam yang ada di ponselnya dalam bentuk hologram. Saat itu pula Baraq terkejut.


"Loh? Kok punyamu berbeda!" ujar Baraq penasaran, ia bahkan sempat menghampiri Alesse dan mengamati ponselnya.


"Benda ajaib apa ini? Kenapa aku merasakan petir di dalamnya?" tanya Baraq penasaran. Geni tertawa mendengar hal itu. "Listrik ia sebut petir? Peradaban kuno memang sangat menggelikan!" ujar Geni.


"Ini bukan petir!" ujar Alesse, ia langsung memunculkan bentuk fisik dari buku kusamnya.


"Nah! Yang ini baru sama dengan bukuku!" ujar Baraq kemudian mengambil buku kusam yang ada di tangan Alesse.

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibaca! Sama seperti milik Gord!" ujar Baraq kecewa. "Jadi si Benteng Hidup Dewa Perang adalah pria itu?" Alesse tidak percaya.


"Yeah, benar sekali! Jadi, apa isi bukumu? Aku tidak menemukan penjelasan di buku kusamku bahwa aku akan bertemu dengan pemilik buku kusam lainnya, sepertinya kau juga menyalahi takdir yang dituliskan di buku itu. Biar kuberitahu, kalau kau menyalahi takdirmu dibuku itu, kau akan celaka!" ujar Baraq.


"Tidak kok, yang tertuliskan di buku ini bukanlah takdirku, tapi takdir kalian semua," ujar Alesse sambil tersenyum, Baraq pun langsung terkejut mendengar penjelasannya.


"Bo... bohong kan! Tidak mungkin takdirku tertulis di buku itu! Itu bukan takdirku!" ujar Baraq.


"Heh? Perlukah kubacakan?" tanya Alesse sambil membuka lembaran di buku kusamnya. "Seorang anak dengan penampilan khas, berwarna jingga. Aduh! Sepertinya aku baru saja menemukannya! Takdirmu itu," ujar Alesse. Ia pun melanjutkan bacaannya.


"Anak Pembawa Bencana, itu adalah julukanmu kan? Di sini dikatakan bahwa kau akan membuat semua orang celaka hingga akhirnya kerajaan tempat kau berada menjadi hancur lebur. Bahkan tidak ada yang sanggup melenyapkanmu dari dunia ini, sekali berurusan denganmu, mereka pasti celaka," ujar Alesse.


"Argh!" Baraq mulai emosi, kilatan listrik muncul di sekitar tubuhnya, rambutnya mulai mengembang.


"Kalau dilihat baik-baik, sepertinya cerita ini berbeda dari kenyataannya, apakah kau yang menyalahi takdir? Berarti kau yang akan celaka," ujar Alesse.


"Benarkah itu tuan? Kau yang menyalahi takdir buku itu? Padahal kau bilang bahwa aku yang menyalahinya," ujar Gord yang tiba-tiba muncul dari pintu istana.


"Oh? Sepertinya ada sesuatu di sini! Apakah ini reuni untuk orang-orang yang berwajah sama?" tanya Alesse. Gord dan Baraq terdiam.


"Meskipun dahulu sama, sekarang wajahku sudah berbeda dari kalian semua," ujar Gord. "Yeah, karena kehidupan kita berbeda, tentu saja wajah kita sedikit berbeda. Kalau begitu bisa kau ceritakan bagian mana dari kisahmu yang menyalahi takdirmu sendiri?" tanya Alesse.


"Aku ditakdirkan berkeliling dunia agar menjadi manusia terkuat. Akhirnya aku pun mengikuti alur di buku itu, hasilnya sesuai dengan di buku, setiap peperangan yang aku pimpin pasti berakhir dengan kemenangan. Buku itu tidak menyebutkan bahwa aku akan kalah dalam sebuah peperangan, buku itu mengatakan bahwa aku akan menjadi orang yang berjaya hingga hidupku berakhir ditelan usia," ujar Gord.


"Lalu kau kalah?" tanya Alesse. "Benar sekali! Aku kalah melawan kerajaan tuan Baraq, itu memang peperangan pertamaku untuk melakukan ekspansi ke wilayah musuh, bukan bertahan ataupun berperang di medan kosong," ujar Gord.


"Lalu kau kalah?" tanya Alesse. "Yeah, mungkin ini salahku karena mengusik kerajaan yang damai," ujar Gord.


"Menurutku pemikiran itu salah! Bukankah di bukumu tidak disebutkan peperangan yang kau pimpin itu upaya bertahan atau penyerangan kan? Berarti segala jenis peperangan seharusnya dimenangkan olehmu," ujar Alesse. Baraq sudah mulai kesal dengan pembicaraan mereka berdua.


"Baiklah! Baiklah! Aku yang menyalahi takdirku! Bukan si pria bodoh ini! Tapi kalian pikir itu adil? Bagaimana bisa buku konyol ini mengatakan bahwa aku adalah anak bodoh, ceroboh, dan sial? Mana yang baik untukku? Tidak ada! Bahkan saat kerajaan pria itu menyerang, dikatakan bahwa kerajaan tempatku hidup akan kalah hanya karena aku, padahal saat itu statusku adalah rakyat jelata yang hendak diusir dari kerajaan! Mana mungkin aku mau mengikuti takdir sampah seperti itu!" ujar Baraq kesal.


"Sebenarnya ini bukan salah kalian, Kepribadian kalian sendiri pun sudah menyalahi takdir yang ada di buku kalian. Misalnya kau, Baraq. Kau bukanlah anak yang bodoh ataupun ceroboh, kau hanya memiliki kesialan karena kilatan petir dari tubuhmu itu menyebar ke mana-mana. Itu juga alasanmu menghancurkan semua dinding ruangan di istana ini agar tampak seperti aula kan? Aku yakin kilatan petir itu sangat mengganggu dalam radius beberapa meter dari tubuhmu," ujar Alesse sambil menunjukkan rambutnya yang ikut berdiri karena aliran listrik dari tubuh Baraq.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Berarti bukan salah kami? Lalu bagaimana dengan Gord? Kupikir ia terus mengikuti takdirnya dengan mulus. Apanya yang menyalahi takdir?" tanya Baraq, ia mulai tenang.


"Yeah, yang ini sedikit sulit menjelaskannya. Gord, bukankah dikatakan di buku itu bahwa kau berkeliling dunia agar menjadi manusia yang paling kuat?" tanya Alesse. Gord pun mengangguk.


"Sayangnya yang kau lakukan bukanlah untuk menjadi yang paling kuat. Tujuanmu berkeliling dunia adalah untuk mengikuti takdir dari bukumu itu, bukan inisiatif dari dirimu sendiri," ujar Alesse.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" ujar Baraq.


"Dibandingkan dengan perjuangan berat mengelilingi dunia, Gord lebih terdengar seperti orang yang memanfaatkan panduan praktis yang ditawarkan oleh buku itu, ia tidak mendapatkan tantangan berat atau mengalami hidup yang menegangkan karena semua itu sudah tertuliskan di takdirnya. Dia terlalu percaya bahwa semua yang terjadi di buku itu menjadi kenyataan. Akhirnya ia tidak memerhatikan betapa kuatnya kerajaanmu, kalau ia tidak terlalu percaya dengan buku kusam itu, bisa saja ia menghindari peperangan, ia tidak perlu menghadapi resiko kekalahan dan akan terus berjalan sesuai takdirnya," ujar Alesse.


"Ja... jadi begitu, pada akhirnya kami berdua menyalahi takdir? Kupikir hanya aku seorang, aku juga sempat takut akan hal itu," ujar Baraq.


"Lalu bagaimana? Bukankah kau mengatakan, jika kita menyalahi takdir di buku ini, kita akan celaka?" tanya Gord panik.


"Bodoh! Aku hanya berbohong padamu," ujar Baraq kemudian duduk di singgasananya kembali sambil menghela nafas lega.


"Kata siapa bohong? Kalian akan celaka jika menyalahinya loh," ujar Alesse. "Be... benarkah begitu? Apakah kau juga mengalaminya? Ngomong-ngomong, kau juga belum menceritakan takdirmu," ujar Gord.


"Abaikan hal itu, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan! Apakah kalian memiliki orang tua kandung? Kapan kalian lahir?" tanya Alesse.


"Aku tidak pernah penasaran dengan hal itu, aku tidak mengetahuinya. Aku tidak memiliki ingatan masa kecilku sejak berusia delapan tahun," ujar Baraq.


"Aku juga," ujar Gord. "Eh serius tuh? Kok sama sepertiku juga!" ujar Geni. Saat mereka dibingungkan dengan kenyataan itu, tiba-tiba buku kusam milik Gord dan Baraq melayang di udara.


"Loh? Apa yang terjadi? Kenapa buku kami terbang?" tanya Baraq keheranan. "Inilah yang celaka yang kumaksud itu. Selamat tinggal..... eh, maksudku selamat datang," ujar Alesse.


"Tidak jelas! Memangnya apa yang celaka dari hal ini?" tanya Baraq. "Kalian akan lenyap dari dunia ini dan terjebak dalam alam bawah sadarku," ujar Alesse.


"Ja... jangan-jangan kau adalah pelahap?" tanya Baraq. "Pelahap? Apa maksudmu?" Alesse tidak mengerti.


"Itu seharusnya tertulis di bagian akhir dari halaman buku!" ujar Baraq hendak meraih bukunya.


"Benarkah? Aku tidak menemukan tulisan berbunyi 'Pelahap' di bukuku loh!" ujar Gord, ia juga hendak memeriksa bukunya. Mereka berdua pun langsung lenyap tertarik ke dalam buku mereka masing-masing Setelah berhasil menyentuhnya.

__ADS_1


__ADS_2