
Jauh di bumi yang banyak orang tidak ketahui, Azzeal. Tempat ini dibagi menjadi dua benua besar.
Sebagian tampak seperti bumi biasanya, asri dan hijau, terkadang diwarnai oleh gurun pasir hingga padang salju.
Akan tetapi di belahan lainnya tampak suram seperti bumi Abyss. Tidak ada cahaya matahari yang masuk ke dalamnya. Benua ini diliputi malam abadi.
Banyak makhluk aneh yang tinggal di dalamnya, dan mereka beraktivitas tanpa perlu adanya cahaya matahari.
Meskipun begitu, tempat ini tetap hangat karena terhubung oleh banyak kawah yang terus mengeluarkan panas.
Di tempat inilah hidup seorang Raja Iblis, ia memerintahkan beberapa manusia iblis dan makhluk iblis liar lainnya.
Arrivan melangkah ke aula raja sambil menelan ludah. Rasa tunduk dan takutnya membuat jantungnya terus berdebar hingga terasa sesak di dadanya.
"Apa yang membuatmu datang kemari, Arrivan?" tanya salah seorang dengan aura gelap di sekitarnya. Ia adalah Grand Chaos, raja iblis yang masih duduk di singgasananya saat ini.
Usianya sudah sangat tua, ratusan tahun lamanya ia tak beranjak dari kursi itu, seperti vampir yang tertidur dalam peti mati, tidak makan, dan tidak minum.
"Yang mulia, aku mendapatkan kabar bahwa satu benua di Adraksh telah hangus dan rata," ujar Arrivan.
"Sudah lama sekali sejak pertikaian antara Mehyi dan Meith, apakah kali ini aku akan beranjak dari kursi ini untuk terakhir kalinya?" tanya raja iblis.
"Jangan mengatakan hal itu, Yang Mulia! Kau membuat kami semua sedih!" ujar Arrivan. Raja iblis pun tertawa.
"Aku sudah terlalu tua, Arrivan! Aku tidak memiliki tenaga yang besar seperti dulu. Lalu, sebaiknya kau tidak memanggilku Yang Mulia lagi. Hal itu membuatku sangat kesepian, apakah kau tahu nama asliku?" tanya raja iblis.
Arrivan hanya menggelengkan kepala. Menyebutkan nama raja iblis adalah hal yang tabu di tempat itu sehingga mereka semua tidak ada yang ingat nama pemimpin mereka.
"Lihatlah, betapa menyedihkannya diriku ini! Bukan hanya dari dunia luar, bahkan di sini pun namaku sudah terlupakan, hingga aku hampir melupakannya pula," ujar raja iblis. Arrivan hanya terdiam sambil menundukkan kepala.
"Panggil saja aku Aqhva," ujar raja iblis. "Tapi kami tidak pantas menyebutmu hanya dengan nama!" ujar Arrivan.
"Kumohon! Kalau begitu, hanya khusus dirimu saja yang memanggilku dengan sebutan nama," pinta Aqhva. "Ba... baiklah, yang mulia..... Aqhva," ujar Arrivan. "Aqhva saja, jangan menggunakan yang mulia. Tak lama lagi aku akan turun dari takhta ini," ujar Aqhva.
__ADS_1
"Jangan mengatakan hal itu, Aqhva! Kau membuatku sedih," ujar Arrivan. "Meskipun tidak kukatakan, begitulah kenyataannya. Aku sudah terlalu lama hidup di dunia ini, kau tidak perlu serakah berharap aku masih tetap berumur panjang. Banyak generasi Chron baru yang akan menggantikanku. Bahkan raja Chron sendiri sudah berganti takhta," ujar Aqhva.
"Raja Chron? Maksudmu Grand Order? Ba.. bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu?" tanya Arrivan.
Aqhva menunjukkan sebuah batu berbentuk lentera. "Apakah kau melihat sebuah cahaya?" tanyanya.
"Tidak, mana mungkin ada sebuah cahaya di lentera sekecil itu," ujar Arrivan. "Kau benar! Memang tidak ada cahaya dalam lentera ini, namun beberapa saat yang lalu ini masih mengeluarkan cahaya hingga akhirnya padam saat kita asyik berbicara," ujar Aqhva.
"Lalu, apa artinya itu?" tanya Arrivan. "Ini kudapat dari sahabatku, yeah! Dia adalah Grand Order. Ia bwrasal dari klan yang menggunakan batu lentera ini untuk mengetahui apakah seseorang sudah mati atau masih hidup," jawab Aqhva. Akhirnya Arrivan pun mengerti.
"Aku turut berduka cita jika itu sahabatku yang meninggal. Tapi dia adalah Grand Order, musuh kita semua," ujar Arrivan. Aqhva pun tertawa.
"Meskipun status kami sangatlah berlawanan, kupikir sangat tidak sopan jika absen di acara pemakamannya," ujar Aqhva.
"A... apa maksudmu? Kau akan pergi ke tempat itu? Bukankah itu sangat berbahaya? Kau tidak bisa pergi dengan tubuh seperti itu! Jika mereka mengetahui keadaanmu sekarang, mereka akan menyerang kerajaan kita!" ujar Arrivan cemas.
"Itu tidak akan terjadi," ujar Aqhva sambil tersenyum. Tiba-tiba tubuhnya yang tua renta berubah menjadi muda, lebih tepatnya ia berubah menyerupai Arrivan.
"Baiklah, Arrivan! Sampai jumpa lagi," ujar Aqhva kemudian keluar dari istana lewat jendela. Arrivan belum sempat mencegahnya pergi, akhirnya dia pun pasrah untuk tidak mengejarnya.
Aqhva dalam perjalanan menuju benua seberang, ke tempat kerajaan Grand Order berada, tempat berkumpulnya para Chron.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku akan berkunjung ke tempat itu. Meskipun orang itu sudah lama memusuhiku, setidaknya aku harus hadir di pemakamannya," ujarnya kemudian terbang lebih cepat agar sampai di tempat tujuan tanpa memakan banyak waktu.
Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya ia pun sampai di istana itu, namun ia terlambat. Pemakaman telah berakhir dan dilanjutkan dengan pengesahan pemimpin baru.
"Aneh sekali! Aku tidak mengenalnya! Apakah dia Chron yang baru terlahir?" tanyanya pada seseorang. Ia sendiri tampak sangat mudah berbaur karena orang-orang tidak menyadari bahwa ia adalah Grand Chaos.
"Benar sekali! Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan raja sebelumnya. Ia menujjuk seorang wanita muda untuk menggantikan takhtanya! Benar-benar tidak masuk akal! Padahal banyak dari kami yang sudah berumur dan lebih berpengalaman darinya," ujar salah seorang.
"Bukankah itu ide brilian? Aku percaya kalau keputusan seperti ini memang dibuat oleh orang itu," ujar Aqhva.
"Orang itu? Maksudmu raja sebelumnya? Kau mengenalnya? Ngomong-ngomong, kau bangsawan mana? Aku belum pernah melihat Chron semuda dirimu di sini. Apakah kau adalah anak seseorang yang aku kenal?" tanya orang itu.
__ADS_1
"Sebenarnya...... aku datang dari lintas dunia baru-baru ini" bisik Aqhva. "Lintas dunia? Wah! Kaua begitu kau pasti Si Juru Kunci Gerbang yang sangat terkenal itu? Anak muda yang mengembara berbagai dunia? Tidak kusangka bisa langsung bertemu denganmu! Ini adalah kesempatan yang luar biasa!" seru orang itu.
Orang itu pun mengeraskan suaranya untuk memberitahu keramaian tentang kehadiran Aqhva.
"Wahai semuanya! Sang Juru Kunci hadir di tengah-tengah kita! Tidak kusangka ia akan menyaksikan pengesahan raja baru meskipun datang dari dunia yang berbeda!" seru orang itu.
"Argh! Sial!" Aqhva tampak gelisah karena ia menjadi pusat perhatian. Orang-orang pun menatapnya dengan penuh keanehan, sebagian percaya, namun sebagian yang lain juga mencurigainya.
Wanita yang baru saja ditunjuk jadi raja itu pun beranjak dari singgasananya untuk memeriksa. Saat itulah Kaa tiba-tiba muncul dengan pusaran angin yang sangat menonjol. Orang-orang menyaksikan bagaimana gerbang antar dunia dibuka dan mereka tercengang.
"Maaf atas keterlambatannya. Ada beberapa hal yang sangat amat mendesak," ujar Kaa.
"Tu... tunggu dulu! Itu adalah Sang Juru Kunci! Lalu siapa pemuda itu?" tanya salah seorang keheranan. Sekali lagi Aqhva menjadi pusat perhatian. Orang-orang menatapnya penuh curiga.
"Tenanglah kalian semua!" ujar Wanita yang sembari tadi berdiri mencari kesempatan untuk melihat Aqhva.
Seketika Orang-orang menyingkir, memberinya kesempatan untuk melihat pemuda itu. Saat itulah wanita itu jatuh dari posisi berdirinya tepat setelah matanya bertatapan dengan Aqhva.
"Nevada! Kau baik-baik saja?" tanya Kaa, ia langsung terbang menghampiri wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya orang-orang.
"Pe... pemuda itu adalah Grand Chaos! Aku bisa merasakannya!" ujar wanita bernama Nevada itu. Orang-orang pun panik bukan main setelah mendengar perkataannya, namun mereka masih diliputi kebingungan.
Tu.. tunggu dulu! Bukankah Grand Chaos saat ini sedang tertidur di singgasananya? Kupikir selama beberapa ratus tahun ini ia tidak beranjak dari istananya karena sudah tua renta," ujar salah seorang.
"Hanya aku yang tahu kalau dia adalah Grand Chaos! Aku bisa mengetahui kemampuan apa saja yang dimiliki Chron! Dan dia adalah Chron yang memiliki kemampuan meniru kemampuan orang lain! Ia sedang menyamar!" ujar Nevada.
"Wah! Wah! Tidak kusangka ada Chron dengan kemampuan yang sangat merepotkan ini! Pantas saja Grand Order sebelumnya menunjukmu sebagai penerusnya. Kau pasti bisa dengan mudah menyatukan kehidupan para Chron di sini!" ujar Aqhva.
"Apa tujuanmu datang ke sini? Bukankah kau seharusnya tertidur di kursimu?" tanya Kaa. "Hmm! Benar sekali! Seharusnya aku tertidur di sana, namun sepertinya terjadi sebuah ledakan yang sangat dahsyat. Padahal itu terjadi di dunia lain, akan tetapi aku dapat mendengarnya. Bukankah itu luar biasa?" tanya Aqhva. "Kau belum menjawab pertanyaanku!" ujar Kaa.
"Maaf, aku malah mengatakan hal yang membuatku terbangun dari tidurku. Jika kau ingin tanya apa tujuanku ke sini, maka hanya ada satu jawabannya, yaitu membuat kalian semua tercerai berai! Aku tidak masalah jika kalian semua memusuhiku ataupun membenciku. Tapi tampaknya Grand Order kali ini banyak dibenci oleh pengikutnya, apakah aku benar? Selagi kalian bertengkar memperebutkan gelar Grand Order, mungkin aku akan menjadikan Warden dan Dark Warden sebagai mainan baruku. Mungkin akan menyenangkan, seperti yang terjadi ratusan tahun yang lalu," ujar Aqhva kemudian tertawa jahat.
Beberapa detik kemudian tubuhnya berubah menjadi lebih kecil, tepatnya menyerupai Kaa. "Selama tinggal anak-anak kecil yang manis, orang tua renta yang gemar tidur selama ratusan tahun ini akan memberikan kalian sedikit hiburan menarik! Nantikanlah," ujar Aqhva kemudian membuka gerbang antar dunia lalu masuk ke dalamnya. Ia menghilang sekejap mata di hadapan orang-orang.
__ADS_1