
"Alesse, keluarlah! Ayo makan!" ujar Alex sambil membuka pintu kamar. Secara reflek Alesse langsung bersembunyi di balik lemari, ia tidak ingin Alex menyadari ada dua orang di kamarnya.
"Hei, kawan! Bagaimana kabarmu?" sapa Rasya. Setelah melihat wajahnya, Alex langsung kembali menutup pintu kamar dengan keras. "Ada apa, Alex? Kenapa kau menutup pintu dengan kasar?" Tanya Andin keheranan, ia hendak membuka pintu untuk menyuruh Alesse makan.
"Ja.... jangan dibuka! Alesse sedang tidak normal hari ini! Itu bukan dirinya!" ujar Alex ketakutan. "Apa yang membuatmu begitu gemetaran? Bukankah kau sudah terbiasa melihat Alesse berubah seperti itu? Kukira kalian sudah pernah melihat organ dalam Alesse yang terbalik, bukankah ini saatnya kau bersikap wajar? Ia juga butuh makan loh!" ujar Andin.
Akhirnya Alex pun membuka pintu kamar dengan terpaksa. Rasya pun keluar kamar dengan senyuman. "Kau sangat segar bugar pagi ini, perlukah kita mandi bersama? Aku bisa menggosok punggungmu jika kau mau," ujar Rasya.
"O.. orang aneh mana yang mau mandi berduaan dengan orang lain?" Tanya Alex. "Heh? Kupikir itu dilakukan setiap orang untuk mengakrabkan diri. Tanpa menggunakan pakaian sama sekali, seolah tidak ada lagi rahasia di antara kita," bisik Rasya dengan wajah mesumnya. "Hei! Wajahmu terlalu dekat!" ujar Alex merinding.
"Wahai, Ibunda bukankah apa yang aku katakan itu benar?" tanya Rasya. "Tunggu dulu! Kenapa kau memanggil ibuku dengan sebutan Ibunda? Memangnya kau siapa?" tanya Alex tidak terima.
"Bukankah seharusnya begitu? Bagaimana pun juga tubuh ini adalah milik Alesse. Benarkan, ibunda?" tanya Rasya.
"I... ibunda itu agak aneh. Aku tidak keberatan jika kau memanggilku ibu saja. Lalu, mandi dan menggosok punggung itu bukan budaya orang sini, kami menganggapnya tabu. Apalagi kamar mandi kami tidak begitu besar hingga bisa buat mandi bersama-sama," ujar Andin.
"Heh? Begitukah? Terima kasih atas jawabannya Ibunda," ujar Rasya sambil menundukan kepala sejenak seolah menghormatinya. "Ti... tidak perlu seformal itu, aku bukanlah raja atau ratu," ujar Andin merasa tidak nyaman.
"Ada ribut-ribut apa ini? Cepatlah ke dapur! Aku juga lapar!" ujar Hendra yang tidak tahu menahu apa yang sedang terjadi. "Baiklah, ayahanda!" ujar Rasya.
"Walah! Bukankah ini Rasya? Sudah lama sekali kita tidak bertemu! Apakah kau sehat sehat, nak?" tanya Hendra, ia tampak begitu natural saat melihatnya.
__ADS_1
"Yeah, begitulah! Sebaiknya kita segera ke dapur dan makan sesuatu yang enak," ajak Rasya. Akhirnya mereka berempat pun mulai sarapan bersama.
"Hoh? Jadi mereka sudah terbiasa kondisiku! Sepertinya banyak hal yang tidak kalian beritahu saat aku tidak mengambil alih tubuhku dalam jangka waktu yang lama," ujar Alesse curiga.
"Y... yeah, lebih baik kau tidak tahu tentang hal itu juga," ujar Geni. "Kenapa?" tanya Alesse. "Kami tidak ingin itu akan memicu hal yang sebelumnya pernah terjadi," ujar Gord. "Hal sebelumnya yang kalian maksud itu...... saat aku tidak mengambil alih tubuhku dalam waktu lama?" tanya Alesse.
"Benar sekali! Kami kira jiwamu sudah mati dan kami harus bertanggung jawab atas tubuhmu, itu sangat merepotkan," ujar Geni.
Setelah selesai sarapan, Rasya pun kembali ke kamar. Alesse sudah menunggunya dengan ekspresi datarnya. "Ini bukanlah ekspresi datar yang biasanya. Apakah kau kesal?" tanya Rasya, ia kebingungan karena tidak tahu di mana letak kesalahannya.
"Ternyata kau tidak begitu pengertian, tidak seperti yang selalu kau ucapkan dari mulutmu itu. Jika kau merasa lapar dan ingin makan, kau pikir aku tidak butuh makanan juga?" tanya Alesse.
"Be.. benar juga, aku tidak memikirkannya sejauh itu. Mungkin sebaiknya aku kembali dan mengambil makan untukmu," ujar Rasya sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu, aku bukanlah pengendali air," ujar Rasya. "Tunggu dulu! Apakah kau juga bisa menggunakan pengendalianmu?" tanya Alesse penasaran. "Tentu saja, aku adalah pengendali alam," ujar Rasya.
"Berarti kau bisa melakukan apa yang dilakukan Alex dan ayah? Apakah matamu itu.... bisa melihat ke dalam tubuh makhluk hidup?" tanya Alesse. "Benar, bahkan sekarang aku dapat melihat seluruh lekukan tubuhmu dari ujung rambut hingga ke tumitmu, loh!" ujar Rasya. "Aku tidak menanyakan hal itu! Bisakah kau mengaburkan penglihatan mereka terhadapku? Mungkin mereka tidak sadar sekarang karena tidak menggunakan kekuatan mereka. Tak lama lagi mereka akan menyadari ada dua orang di kamar ini," ujar Alesse.
"Aku bisa melakukan suatu trik sederhana untuk itu, kau ingin mencobanya?" tanya Rasya. "Lakukan saja!" jawab Alesse. Seketika Rasya memetik jari, namun tidak ada hal yang spesial.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alesse keheranan. "Nah, selagi kau tidak terlihat sedang bergerak di hadapan mereka, mereka tidak akan menyadari keberadaanmu," jawab Rasya.
__ADS_1
"Begitukah? Sangat membantu sekali! Tapi bukan berarti aku bergantung dengan pengendalianmu! Ini tidak terhindarkan karena tiba-tiba tubuhku menggandakan diri," ujar Alesse kemudian turun ke rubanah.
"Hei, jangan lupa..... kau tidak boleh menunjukkan pengendalianmu pada Alex!" Ia menambahkan. "Kenapa?" tanya Rasya. "Mereka berpikir bahwa aku adalah pengendali air. Aqua dengan ceroboh menunjukannya pada mereka," ujar Alesse.
"Benarkah? Aqua menggunakan kekuatannya? Aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengannya! Sayang sekali karena aku tidak pernah bisa melihatnya lagi!" ujar Geni.
"Orang tuamu sudah tau kalau kau adalah Warden, loh!" ujar Rasya. "Apa? Kenapa mereka bisa tahu?" raut wajah Alesse yang datar langsung berubah drastis dan menjadi pucat.
"Benar sekali, ada satu rahasia yang tidak kau ketahui. Kami juga tidak menduganya. Mereka berhubungan baik dengan Kaa, namun adikmu tidak tahu apapun tentang hal itu, ia tidak di sini," ujar Geni.
"Berarti meskipun ia berhubungan dengan Kaa, ia tidak tahu kalau Kaa juga akrab dengan ayah dan ibu?" tanya Alesse. "Begitulah yang terjadi. Keluarga ini benar-benar rumit dan penuh rahasia pada setiap orangnya. aku sempat muak melihat sandiwara kalian," ujar Gord. "Pada akhirnya ini semua berawal dari Alesse, andai saja ia tidak sembunyi-sembunyi dan berlagak misterius, kupikir ini tidak akan terjadi," ujar Geni.
Setelah laam mereka berbincang, Alex datang mengetuk pintu. Alesse segera menutup pintu rubanah dan membiarkan Rasya yang menangani adiknya.
Ia pun masuk ke dalam Levy dan merebahkan diri di atas dipan yang disediakan di sana. "Pasti melelahkan sekali hidup seperti ini," ujar Geni. "Kira-kira sampai kapan akan terus begini? Aku tidak peduli asalkan tidak ada yang mengganggu penelitianku dan eksperimen lainnya. Aku ingin membuat sesuatu yang mirip dengan tongkat serba guna ini," ujar Alesse sambil menunjukkan tongkat yang selalu melekat pada punggungnya itu.
"Kupikir itu lebih dari sekedar sains, Alesse! Aku rasa ada kaitannya dengan sihir yang istimewa," ujar Geni. "Bodoh sekali! Entah sihir atau apapun itu, kita hanya perlu memanfaatkannya saja, kan? Jika memang bisa dijadikan teknologi mutakhir, kupikir itu tetaplah sains," ujar Alesse.
"Sepertinya pola pikirmu sudah banyak berubah ya! Padahal dahulu kau sangat keras kepala dan benci terhadap unsur fantasi yang berbau sihir," ujar Geni.
"Awalnya kukira unsur fantasi seperti sihir itu hanyalah keistimewaan yang melekat pada diri seseorang, seolah sejak lahir sudah ditentukan seberapa derajat dan batasan kita. Seperti halnya elementalist. ada orang yang memiliki kemampuan tersebut dan ada pula yang tidak. Bukankah itu sangatlah mendiskriminasi? Kita sudah terlalu banyak didiskriminasikan oleh keberagaman ras, standar kecantikan, ketampanan, kekayaan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kehormatan. Seolah tidak cukup untuk menindas orang-orang yang lahir dengan ketidakberuntungan, tapi jika sihir itu adalah sebuah objek layaknya sumber daya alam, kupikir itu adalah sains yang bisa dimanfaatkan oleh semua orang tanpa pandang bulu," ujar Alesse.
__ADS_1
"Maniak Sains selalu saja punya kata-kata yang menyegarkan telinga orang-orang ya!" ujar Geni sambil tertawa. Alesse pun beranjak dari dipan dan mulai mengerjakan proyeknya.