Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kenangan kelam


__ADS_3

"Kenapa kau selalu pergi ke antar dunia tanpa sepengetahuanku? sebenarnya apa yang telah terjadi akhir-akhir ini? Bukankah kau bilang masalah pengikut Warden sudah berhasil kau redamkan? Tidak mungkin mereka akan langsung bangkit dalam hitungan hari! Jadi, apa alasanmu pergi-pergi ke sana? Meskipun aku bukan ayah kandungmu, aku tetap merasa sangat khawatir!" ujar Malfoy saat mendapati Ray yang baru saja masuk kamar lewat jendela.


Ray hanya bisa meringis sambil menggaruk-garuk kepala. "Kau itu sudah tua, Ray! Kapan kau akan bersikap dewasa? Sebenarnya apa saja yang kau lakukan di sana? Bermain bersama wanita malam? Kau tidak bisa selamanya menuruti hawa nafsumu, Ray! Menikahlah dengan seseorang dan berbahagialah," ujar Malfoy.


Ray tampak enggan mendengarkan nasehatnya, ia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. "Apakah ia masih terus menghindar?" tanya istri Malfoy.


"Tidak usah pedulikan anak nakal itu," ujar Malfoy, ia juga tampak kesal karena Ray terus mengabaikannya.


Ray yang berada di dalam kamar sebenarnya tahu kalau Malfoy semakin membencinya. Ia hanya bisa menyandar ke dinding dengan pasrah lalu mengambil sesuatu dari sakunya.


Sebuah batu pahatan berbentuk seperti lentera, bagian tengahnya terdapat cahaya redup seperti api pada lilin yang terus berjuang untuk tetap menyala meskipun angin kencang menerpa.


Menatap batu lentera itu mengingatkannya pada kejadian tragis yang menimpanya dahulu. Ia juga mencoba memeriksa bekas luka di dadanya yang tidak pernah hilang meskipun ia bisa menggunakan kemampuan regenarasi.


Semua itu mengingatkan kepada sahabatnya dahulu yang ikut bertualang bersamanya, itu adalah masa-masa sebelum ia tak berdaya dan ditemukan oleh Malfoy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat itu Ray muda hendak mencari sebuah pusaka yang dapat mengungguli kekuatan Warden, kubu yang hendak melakukan genosida terhadap manusia ras iblis.


Namun sebelum bisa menggunakan pusaka itu, ia harus bisa mengendalikan semua elemental.


Ia pun berguru ke berbagai tokoh elementalist yang terkemuka di berbagai belahan dunia hingga bertemu salah seorang pemuda yang sebaya dengannya.


Ralph, itulah nama yang hingga saat ini membuat Ray terus merenung dengan sebuah penyesalan. Ralph menemani Ray bertualang ke antar dunia untuk menemukan pusaka serbaguna yang dapat membantunya mengalahkan Warden.


Dalam perjalanan itu mereka banyak berlatih, menyisir berbagai belahan dunia dan mengetahui berbagai hal yang tidak pernah diketahui di tanah kelahiran mereka.


Hingga suatu saat, mereka pun sampai di bumi Pallas. "Dunia macam apa ini? Kenapa langitnya begitu redup? Ini terlalu terang untuk disebut malam, namun terlalu gelap bila disebut siang," ujar Ralph.


"Mungkin mendung, sepertinya sebentar lagi hujan," ujar Ray. "Aku tidak melihat ada awan di atas sana," ujar Ralph.


Tak lama kemudian sebuah benda berbentuk piringan besar pun melayang di udara, ribuan benda itu bertebaran di udara.


"Sebenarnya di mana ini? Benda sihir apa itu? Sepertinya ada orang yang menungganginya layaknya menunggangi kuda," ujar Ralph, ia bisa merasakan keberadaan seseorang dalam piringan itu dengan pengendalian Alamnya.

__ADS_1


"Sepertinya tujuan kita hampir tercapai, Ralph! Jika orang-orang saja biasa menggunakan benda ajaib seperti itu untuk terbang ke angkasa, kuyakin ada benda pusaka yang lebih hebat lagi di sini!" seru Ray.


Mereka berdua pun terus berjalan tanpa tujuan yang jelas hingga suara sirine tiba-tiba terdengar di telinga mereka.


"Su.. suara apa itu?" tanya Ray waspada, bahkan cakar serigala di tangannya mendadak mencuat keluar.


"Entahlah, sepertinya itu muncul dari langit! Itu terus menggema di telingaku," ujar ralph.


Tak lama kemudian beberapa piringan melayang dan mengepung mereka. "Ray, ada apa ini?" tanya Ralph. "Tetap di belakang, aku akan melindungimu," ujar Ray.


Ralph pun langsung berposisi di belakang Ray, ia sempat berpikiran bahwa dirinya hanyalah beban bagi Ray, dan itu membuatnya murung.


"Ralph! Hei! Sadarlah! Apa yang kau pikirkan?" teriak Ray, sebuah peluru tampak melesat ke arah Ralph sedangkan Ray segera menghadang dengan tangan kirinya. Seketika sengatan listrik muncul pada peluru itu, membuat tangan kiri Ray mati rasa.


Selagi Ralph mengkhawatirkan lengan kiri Ray, sebuah jaring perak muncul membungkus mereka. Jaring itu terkait pada beberapa piringan yang melayang itu lalu mengangkatnya ke atas dan membawanya ke suatu tempat.


Ray dan Ralph dijatuhkan pada sebuah ruangan. "Te... tempat apa ini? Kenapa aku merasakan hal buruk pada tempat ini?" Ralph tampak panik.


Ray mencoba melangkah keluar dari garis merah yang mengelilingi mereka, seketika jemari kakinya terpotong, membuatnya berteriak kesakitan.


"Ray, hentikanlah! Kita tidak bisa keluar dari sini," ujar Ralph. Akhirnya Ray pun berhenti sambil berkonsentrasi untuk mempercepat kemampuan regenerasinya.


Beberapa orang berpakaian serba perak pun menyaksikan mereka berdua layaknya orang yang baru saja menemukan hewan langka.


Salah seorang juga mencoba menodongkan tongkat perak ke arah Ray. Saat itu Ray mendesis seperti kucing yang sedang terancam.


"Ray, apa yang kau lakukan? Sadarlah!" ujar Ralph sambil menepuk punggung Ray. Akhirnya Ray berhenti mendesis, cakar di kedua tangannya pun menyusut kembali.


"Sepertinya kalian adalah manusia yang sangat langka. Bagaimana kalian bisa berada di sini?" tanya salah seorang berbaju perak yang tampaknya adalah pemimpin orang-orang itu.


"Bagaimana kau bisa mengetahui bahasa yang kami gunakan?" tanya Ralph. "Oh, sepertinya kalian tidak tahu tentang perangkat ini," ujar orang itu sambil melepaskan sesuatu yang tampak tak kasat mata dari kepalanya.


Sekilas perangkat mirip earphone pun terlihat sangat jelas di tangan orang itu. Ia mulai berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami oleh Ray dan Ralph, namun setelah ia mengenakan kembali earphone itu, bahasanya pun dapat dipahami oleh keduanya.


"Ray, sebenarnya siapa orang-orang ini? Apakah mereka Dwarf? Tubuh mereka tampak sangat kecil," ujar Ralph.

__ADS_1


"Aku juga berpikir begitu, tapi bukankah Dwarf memiliki tubuh yang kekar? Mereka tampak seperti anak kecil berusia sepuluh tahun," ujar Ray.


"Tidak perlu membisikkan hal yang membuat kalian penasaran, kami bisa mendengar semua yang ingin kalian ucapkan dengan perangkat ini," ujar orang berbaju perak itu.


"Kau dengar itu? Ia bahkan bisa membaca pikiran kita dengan benda pusaka itu! Tempat ini dipenuhi hal-hal yang hebat!" seru Ray, ia pun berdiri tegak di hadapan mereka.


"Perkenalkan, namaku adalah Ray, seorang Dark Warden, aku pergi ke sini untuk mencari benda pusaka yang dapat membantuku menjadi lebih kuat," ujar Ray.


"Apa? Benda pusaka? Tidak ada hal kuno seperti itu di tempat ini. Kami semua, bangsa dwarf hanya hidup menggunakan teknologi mutakhir, kami tidak mengenal benda mistis seperti itu," ujar orang berbaju perak itu.


"Bohong! Aku tidak mengerti tekno..... apalah itu, kalau kalian bisa membaca isi pikiranku dengan benda seperti itu, berarti banyak benda pusaka hebat lainnya di sini, seperti piring yang terbang di udara itu!" ujar Ray.


"Jika kalian bangsa dwarf.... bukankah ras kalian dikenal sebagai pencipta benda-benda pusaka yang hebat?" tanya Ralph.


Orang berbaju perak itu hanya bisa tersenyum sinis. "Jangan samakan kami dengan ras kolot dari dunia kalian! Kami adalah manusia paling jenis di alam semesta, tidak ada bandinganya dengan kalian!" ujar orang berbaju perak itu.


"Lancang sekali kau! Berani-beraninya kau menganggap dirimu lebih tinggi dari Dark Warden!" ujar Ralph kesal.


"Jangan terpancing amarah, Ralph! Kita dengarkan perkataan mereka dahulu, mungkin mereka akan menujukkan benda pusaka terkuat kepada kita," ujar Ray.


"Sebelumnya, biarkan aku memperkenalkan diri, namaku Zass," ujar orang berbaju perak itu, ia mengisyaratkan sesuatu dengan jemarinya, seketika tanda merah di sekitar Ray dan Ralph pun lenyap.


"Kemarilah, tubuhmu tidak akan terpotong lagi," ujar Zass. Ray dan Ralph pun menghampiri Zass, mereka pun mendapati suatu kenyataan yang mengherankan, tubuh Zass sangatlah kecil, hampir tidak ada setengah tinggi badan Ray.


"Kami bukanlah ras Dwarf yang kalian kenal, kami adalah Z-Dwarf," ujar Zass. "Apa tadi? Z.... Z...? Dwarf? Bagaimana cara mengucapkannya?" Ray tampak kebingungan. Zass pun tertawa.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk mengucapkannya, ini bukan peradaban kalian sehingga beberapa hal belum bisa kalian eja," ujar Zass.


Tak lama kemudian orang berpakaian perak lainnya pun datang. "Perkenalkan, ini adalah istriku, Zwan," ujar Zass.


"I... istri? anak kecil ini?" Ralph benar-benar terkejut. "Apa yang kalian bicarakan? Aku bukan anak kecil! Bahkan tubuhku lebih besar dari Zass!" ujar Zwan menyangkal.


"Kenapa orang-orang di sini tampak sangat kerdil? Kenapa kalian memakai sesuatu yang berkilau itu? Sebenarnya apa yang kalian kenakan? Warnanya seperti perak," ujar Ralph penasaran.


"Oh, sebelum itu... sebaiknya kalian juga mengenakan beberapa, kasihan temanmu itu, kulitnya mulai meleleh," ujar Zass.

__ADS_1


Ralph pun baru sadar kalau kulit tangannya melepuh secara tiba-tiba.


__ADS_2