Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Status Warden


__ADS_3

Setelah Alex kembali ke Amerika, Alesse pun sibuk melakukan aktivitas di dalam kamarnya dan tidak keluar sama sekali.


"Kenapa ia tak pernah keluar dari kamar itu? Kenapa ia tidak mau makan di ruang makan?" tanya Andin.


"Mungkin masalah pubertas saja. Ada masanya anak laki-laki ingin menyendiri dari keramaian. Yeah, pokoknya itu sering terjadi sebelum mereka menjadi seorang pria," ujar Hendra.


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan ini? Menjadi seorang pria? Apakah tidak keluar kamar, tidak mandi selama berhari-hari termasuk bagian dari menjadi seorang pria? Kupikir hal menjijikkan itu hanya dilakukan olehmu!" ujar Andin kesal, ia mencoba mengetuk pintu untuk memastikan Alesse berada di dalam.


"Alesse, kau sudah makan? Ibu taruh makanannya di dekat pintu ya," ujar Andin. "Huh, andai saja jika teman-temannya datang dan menjenguknya. Kupikir ia akan pergi bermain demi mereka," ujar Hendra.


"Benar sekali, dia susah sekali berinteraksi dengan orang lain. Lebih tepatnya memilih menghindarinya," ujar Andin.


"Oh, sepertinya aku tahu alasannya! Kau ingat gadis dengan mata biru itu?" tanya Hendra. "Tesla?"


"Bukan! Salah satu teman Alesse yang cantik itu! Kupikir Alesse akan keluar dari kamar jika seseorang sepertinya mau mengajaknya pergi," ujar Hendra.


"Benarkah? Kupikir hanya kau yang melihat gadis itu. Mencurigakan sekali! Kau sudah beralih menjadi pedofil kah? Kau menyukai anak kecil?" tanya Andin. "Hei! Tidak mungkin! Aku hanya mengatakan ini tentang Alesse! Dia juga seorang laki-laki! Bahkan Alex saja berani membawa pulang seorang gadis, kau pikir Alesse berbeda? Dia lebih dewasa dari Alex, seharusnya lebih luas lagi pergaulannya," ujar Hendra. Andin tertawa sinis.


"Huh, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada Alesse. Itu hanya imajinasimu saja! Biarkan dia menuruti semua keegoisannya, setelah berurusan dengan seorang gadis, ia tidak bisa dan tidak boleh berbuat egois!" ujar Andin.


"Benar juga, aku tidak bisa membayangkan Alesse melakukan sesuatu demi seorang gadis. Seharusnya dia berbuat sesuatu yang lebih sensasional seperti Alex, kalau begini terus hidupnya bakal kurang menarik," ujar Hendra.


"Tidak usah mencampuri urusan hidupnya, biarkan ia jalani sendiri apa yang dia inginkan," ujar Andin.


Saat keduanya sibuk berdebat, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Andin pun membuka pintu rumah untuk memeriksa siapa yang datang.

__ADS_1


Hendra terkejut melihat siapa yang berada di balik pintu, ia mencoba memastikan ke kamar Alesse.


"Tidak perlu seterkejut itu. Aku bukan Alesse," ujar Kaa, wajahnya yang sangat mirip dengan Alesse membuat Hendra sempat kebingungan.


"Yeah, wajah yang sangat membuatku nostalgia. Sampai saat ini kau tidak berubah sedikitpun. Ini membuatku sadar kalau Alesse semakin menua dan itu membuatku sedikit sedih," ujar Hendra.


"Pertumbuhanku memang lebih lambat dari manusia biasa. Tapi kenapa kau merasa sedih saat Alesse tumbuh? Bukankah seharusnya kalian bahagia?" tanya Kaa keheranan.


"Benar sekali, aku tidak mengerti apa yang ada di kepala pedofil ini! Jika kau tertarik ada sesuatu, setidaknya jangan pada anakmu sendiri!" ujar Andin kesal.


"Aku tidak seburuk itu kok! Aku hanya sedih karena kita semakin jauh dari Alesse, padahal dahulu untuk berbicara dengannya sangatlah mudah," ujar Hendra.


"Namanya usia remaja memang seperti itu, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan selagi itu tidak buruk," ujar Kaa.


"Padahal hanya anak kecil, tapi gimana caranya kau bisa mengeluarkan kata-kata bijak itu? Sepertinya kau lebih paham tentang anak-anak daripada kami," ujar Hendra.


"Ma... maaf aku tidak bermaksud begitu," ujar Hendra panik, ia sempat menelan ludah. "Ada ribut-ribut apa ini?" tanya Alesse, kebetulan sekali ia keluar dari kamarnya, namun ia mendapati Andin dan Hendra panik dengan wajah pucat.


"Apa yang kalian coba sembunyikan?" tanya Alesse curiga. "Yo, Alesse! Apa kabar?" tanya Kaa.


"Kaa? Kenapa kau..... tunggu dulu! Kalian berdua mengenal Kaa?" tanya Alesse. "Be... begitulah," ujar Hendra, ia tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.


"Sepertinya banyak rahasia yang kalian sembunyikan dariku, entah kebenaran bahwa kalian adalah Elementalist, dan sekarang Kaa? Sepertinya dia menceritakan banyak hal pada kalian," ujar Alesse. Andin dan Hendra kepala karena merasa bersalah.


Di sisi lain Kaa merasa puas melihat reaksi mereka. "Rasakan itu! Salah kalian karena membuatku kesal," ujarnya.

__ADS_1


"Sudahlah! Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Alesse. "Kau tidak penasaran dengan teman-temanmu? Apakah mereka sudah pulang atau apakah mereka baik-baik saja, kau tidak penasaran?" tanya Kaa.


"Sebentar lagi liburan sekolah berakhir, aku sudah tahu kalau sekarang mereka sedang berada di rumah masing-masing. Aku tidak merasa butuh pertanyaan," ujar Alesse.


"Ye... yeah, setidaknya.... bukankah kau seharusnya penasaran dengan keadaan mereka?" tanya Kaa, ia sendiri makin kesal dengan jawaban Alesse yang tak bisa dibantah.


"Keadaan mereka? Kupikir mereka baik-baik saja. Jika tidak, mungkin kalian akan datang bersama ke rumahku untuk memberitahu apa yang sebenernya terjadi. Bahkan jika kau datang sendiri.... kalau terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, kau tidak akan menunjukkan wajah segar itu," ujar Alesse. Intonasi bicara dan ekspresi datarnya itu hanya bisa membuat Hendra menepuk dahi, ia tidak menyangka Alesse dapat membungkam Kaa dengan mudah.


"Jadi? Apa yang kau inginkan?" tanya Alesse. Kaa melirik ke arah Hendra dan Andin seolah memberi isyarat ingin berbicara empat mata dengan Alesse. Akhirnya keduanya pun kembali ke dalam rumah.


"Kau sudah menemukan jawaban tentang Warden?" tanya Kaa. "Yeah, meskipun aku tidak mendapatkan jawaban yang kuinginkan," jawab Alesse.


Kaa pun memegang kedua pundak Alesse. "Setidaknya jadikan periodemu ini berbeda! Jangan biarkan orang-orang terus memiliki kesan buruk terhadap Warden," ujar Kaa.


"Bukankah hal seperti itu adalah wajar? Kita hidup berdampingan dengan manusia, tentu saja ada yang benci dan ada juga yang mendukung. Menurutku tidak ada hal khusus yang harus kulakukan untuk merubah kesan mereka terhadap Warden," ujar Alesse.


"Kenapa perkataanmu terdengar pasrah sekali dengan keadaan sekarang? Apakah karena Atlas membencimu? Jangan ambil hati dari perkataannya, ia juga bingung!" ujar Kaa.


"Hmm? Padahal aku tidak terlalu peduli dengan perkataan pria itu. Aku hanya sedikit kesal saat itu karena tidak mengerti apa saja yang kalian bicarakan, namun setelah aku mendengar cerita tentang Warden, aku bisa memahami sedikit perbincangan kalian. Sekarang aku tidak memiliki masalah apapun dengannya. Kuanggap semua yang kulakukan untuknya sebelumnya itu hanyalah sebuah acara amal," ujar Alesse.


"Kali ini bukan tentang pendapat Atlas maupun dirimu, Alesse! Tak lama lagi, Ray akan mencari keberadaanmu, ia mungkin akan mengumpulkan masa untuk mengucilkanmu, atau bahkan memusnahkanmu dari dunia ini! Setidaknya ubahlah status Warden di dunia ini. Jangan sampai keberadaannya diwaspadai semua orang," ujar Kaa.


"Kenapa itu jadi tanggung jawabku? Perseteruan itu terjadi di antara Meith dan Mehyi, lalu beberapa periode selanjutnya karena mereka pemikiran mereka sangatlah kolot! Asal kau tahu saja, aku lahir di zaman modern ini, kau pikir aku akan berpikiran sempit seperti mereka? Banyak bertingkah hanya akan membuatmu semakin diperhatikan, semakin dicari-cari celah dan kesalahannya! Tunggu saja, bahkan orang seperti Raya Stephen pun akan jatuh karena orang-orang sibuk mencari kesalahannya! Kukira kau sudah hidup ratusan tahun, kenapa kau tidak sadar kalau manusia itu adalah makhluk yang tidak tahu berterima kasih?" tanya Alesse. Lagi-lagi Kaa tak bisa membantah perkataan Alesse.


"Tidak usah pedulikan aku. Aku punya cara sendiri jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan," ujar Alesse kemudian kembali ke dalam rumah lalu menutup pintunya.

__ADS_1


"Kau kenapa, Alesse? Kenapa tiba-tiba menutup pintu?" tanya Andin. "Pembicaraanku sudah selesai," ujar Alesse singkat, ia kembali ke dalam kamar untuk mengutak-atik barang yang ada di mejanya. Ia tampak tidak bosan melakukan hal itu setiap hari, seolah ingin menemukan hal baru dari eksperimennya.


__ADS_2