
Alesse bangun dari tidurnya, ia mendapati Baraq yang sedang duduk di kursinya sambil membaca buku. "Kau tidak tidur semalaman?" tanya Alesse terkejut.
"Kupikir saat aku tertidur, aku tidak lagi berada di luar sini. Aku masih ingin membaca banyak buku di tempat kemarin. Aku tidak boleh meninggalkan tubuh ini terlebih dahulu," ujarnya dengan wajah pucat, tentu saja karena ia tidak tidur sama sekali.
"Sampai segitunya kau ingin membaca buku? Apa yang sebenarnya membuatmu tertarik?" tanya Alesse. "Ada banyak hal! Semakin banyak aku mempelajarinya, aku semakin sadar bahwa di sekeliling kita terdapat banyak sekali gelombang petir. Aku harus mencari banyak informasi agar bisa menciptakan dan mengendalikan gelombang tak kasat mata itu! Lalu aku mengetahui satu hal yang pasti, aku bukanlah pengendali petir, namun pengendali energi listrik!" jawab Baraq.
"Kami semua tahu itu, hanya orang-orang dari peradaban kuno yang menyebutnya petir," ujar Alesse. "Lalu ada satu hal lagi yang aku pelajari!" seru Baraq kemudian mengambil sebuah buku dan mulai menggambar.
"Apa yang kau gambar ini? kantong? Kenapa sangat panjang? Lalu pohon jelek ini apa?" tanya Alesse keheranan. "Itu bukanlah pohon! Aku menggambar belut listrik dan manusia," ujar Baraq. Alesse hampir ternganga mendengar penjelasannya. "Kau sebut gambar aneh ini belut dan manusia? Bagian mananya yang mirip dengan manusia? Bahkan anak kecil pun memiliki gambar yang lebih bagus," ujar Alesse.
"Yang jelas bukan itu intinya! Kupikir selama ini aku bisa mengeluarkan petir hanya ketika aku marah, aku pun tidak tahu persis dari mana petir itu berasal, aku hanya menyalurkannya saja dengan pengendalianku. Tapi setelah mempelajari banyak hal di sini, akhirnya aku tahu bahwa tubuh kita juga memiliki banyak aliran listrik!" ujar Baraq, bahkan ia langsung menunjukkan bagaimana ia bisa mengeluarkan kilatan listrik dari telapak tangannya.
"Itu adalah pelajaran mendasar. Rupanya pengendalian juga bisa menjadi kuat karena sugesti. Jadi, gimana caranya kau percaya bahwa manusia memiliki aliran listrik? Pada awalnya semua orang tidak akan memercayai itu," ujar Alesse.
"Seperti yang kau katakan! Tapi setelah mempelajari banyak hal tentang anatomi belut listrik, aku bisa melihat gambaran besar yang ada di tubuh manusia, bahkan aku bisa melakukan ini...... " tiba-tiba Baraq terdiam. "Apa yang sedang kau coba lakukan?" tanya Alesse.
Alesse merasa ada sesuatu yang memanggilnya. namun ia tidak mendengar apapun. "Apakah kau bisa merasakannya? Pasti ada sesuatu yang memanggilmu, bukan?" tanya Baraq.
"Aku tidak mengerti! Gimana caranya kau melakukan hal itu?" tanya Alesse. "Aku menyelaraskan gelombang suara yang kau terima dari gendang telingamu. Aku mencoba membuat gelombang yang serupa dan memasukkannya ke dalam kepalamu. Ini adalah tahapan awal menuju teknologi baru. Aku lupa apa sebutannya...... apakah orang-orang menyebutnya telepati? Berbicara tanpa harus bersuara, kupikir ini adalah terobosan terbaru dan lebih privasi dibandingkan dengan lempengan kotak yang srlalu kau bawa itu," ujar Baraq.
"Luar biasa! Dalam satu hari saja kau bisa memikirkan hal seperti itu. Kuharap sebaiknya kau tidak tidur dan terus membantuku mengerjakan beberapa hal! Aku yakin kau akan tertarik dengan banyak hal yang berkaitan dengan listrik!" ujar Alesse.
"Sepertinya kita mencapai kesepakatan yang sama-sama menguntungkan. Jika kau sangat menerimaku di sini...... baiklah, aku akan berperan sebagai Alesse mulai hari ini. Kau cukup tinggal di bawah dan mengerjakan apa yang kau inginkan. Aku akan belajar banyak hal lagi," ujar Baraq.
"Sekedar saran, kupikir kau sebaiknya mempelajari apa itu jaringan internet dan seperti apa cara menerjemahkannya. Jika kau berhasil, akan kutunjukkan sesuatu yang lebih menarik dibandingkan tempat penuh buku yang kemarin kau kunjungi," ujar Alesse.
"Baiklah, untuk hari ini aku akan pergi ke tempat bernama perpustakaan itu untuk mempelajari apa yang kau sarankan! Sebaiknya hal yang kau janjikan itu tidak membuatku kecewa," ujar Baraq.
Baraq pun pergi ke keluar rumah dengan jalan sempoyongan. Tentu saja karena ia tidak tidur semalaman. Sesampainya di perpustakaan. ia mulai mencari buku yang Alesse sarankan. Akan tetapi ia tertarik pada hal lain sehingga menunda bacaan untuk buku yang Alesse sarankan.
"Kau kembali lagi ke sini? Wajahmu pucat sekali! Perlukah aku mengingatkanmu untuk tidur?" tanya Irawan. "Daripada hal itu, apakah kau punya sesuatu yang dapat menghilangkan kantukku?" tanya Baraq.
"Tunggu sebentar, aku akan buatkan kopi untukmu," ujar Irawan. Beberapa menit kemudian ia pun datang membawakan secangkir kopi hangat dan Baraq mulai menyeduhnya. "Hmm! Ini sangat luar biasa! Kupikir tempat ini akan menjadi lebih baik jika kau menyediakan minuman ini untuk orang-orang. Tempat ini akan menjadi lebih menyenangkan," ujar Baraq. "Itu akan kupikirkan kapan-kapan. Inovasimu bagus juga," ujar Irawan.
__ADS_1
Baraq pun terus melanjutkan bacaannya sampai tengah hari berlalu. Matahari mulai condong ke barat dengan warna langit yang mulai kemerah-merahan.
Saat itulah Baraq mendapati Alex sedang berjalan ke suatu tempat. Ia semakin penasaran kemana perginya hingga pakaiannya selalu lusuh ketika pulang.
Ia diam-diam mengikutinya dan sampai pada suatu tempat di mana Alex sedang menarik barang-barang besar. "Anak itu.... apakah ia sudah gila? Untuk apa ia mengangkat perabotan besar itu?" tanya Baraq keheranan, ia langsung memeriksa ke sekitar barang kali ada orang lain.
Ia pun menemukan empat orang sedang duduk santai memerhatikan Alex yang sedang bekerja keras. Baraq pun yakin kalau keempat orang itu sedang memperbudak Alex.
Ia langsung menghampiri Alex dan menghadangnya. Keempat orang itu pun berdiri karena melihat pengganggu di antara mereka.
"Hei anak kecil! Kenapa kau berada di sini? Pergilah! Kau sangat mengganggu kami!" ujar salah seorang.
"Memangnya kalian berbuat apa sampai merasa terganggu dengan kedatanganku?" tanya Baraq. "Hei, Baraq! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alex.
"Bukankah itu yang seharusnya kutanyakan? Apa yang kau lakukan di sini? Siapa orang-orang itu?" tanya Baraq.
"Kami sedang membantu pembangunan di sini! Kau tidak boleh mengganggu!" jawab Alex. "Kami? Bukankah hanya kau yang membantu? Mereka tidak melakukan apapun!" ujar Baraq. "Tentu saja karena tidak ada yang sekuat diriku," ujar Alex.
"Apakah kau bodoh? Jika mereka memang tidak mampu melakukannya, seharusnya mereka tidak perlu menyanggupinya dan membuatmu mengerjakan semua ini!" tegur Baraq.
"Aku adalah kakak dari pria ini! Asal kalian tahu, yang paling berhak memerintah dan mengatur pria ini adalah aku dibanding kalian semua!" ujar Baraq.
Orang-orang itu menertawakannya. "Anak kecil ini adalah kakakmu, Alex? Kau bercanda?" tanya salah seorang. "Sepertinya kalian sangat meremehkanku. Perlukah kuberi pelajaran karena telah memperbudak adikku?" tanya Baraq.
"Kau? Memangnya kau bisa apa? Memukul kami dengan tangan kecilmu itu?" tanya salah seorang lainnya.
Baraq pun tersenyum. "Asalkan kalian tahu, aku sangatlah kuat loh!" ujar Baraq. "Heh? Lebih kuat dari adikmu?" tanya salah seorang lagi. Yang lainnya tampak tertawa terbahak-bahak.
"Tidak, aku bahkan lebih kuat daripada Raya Stephen, Elementalist yang mungkin selama ini kalian kagumi!" ujar Baraq. Orang-orang itu semakin tertawa terbahak-bahak. "Hei, Baraq! Kau terlalu berlebihan!" ujar Alex.
"Lebih kuat dari Raya Stephen katamu? Jika kau ingin menggertak, setidaknya jangan terlalu mengkhayal!" ujar salah seorang dari mereka.
Tak lama kemudian Andre pun datang di tengah perbincangan mereka. "Apa yang sedang kalian lakukan? Hei, Alex! Kenapa kau berhenti dari pekerjaanmu?" tanyanya.
__ADS_1
Seketika tatapan Baraq tertuju pada Andre, mata jingganya berubah menggelap seperti merah darah. "Siapa yang mengizinkanmu untuk berbicara!" ujar Baraq dengan tatapan dinginnya. Seketika Andre terjatuh dengan wajah yang membentur ke tanah, ia tidak bisa bangkit dari posisinya, badannya terbujur kaku.
"Hmm? Jadi ini adalah pemimpin kalian? Lemah sekali!" ujar Baraq sambil menghampiri Andre dan menginjak wajahnya. Selanjutnya ia kembali menatap ke empat orang lainnya yang masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
"Perlukah aku membuat kalian mengalami ini juga?" tanya Baraq. Tampaknya salah seorang mencoba kabur.
"Oi! Aku tidak mengizinkan satupun dari kalian untuk bergerak! Lancang sekali berbalik badan saat aku sedang berbicara!" ujar Baraq. Hanya dengan menatap orang itu, Baraq berhasil menjatuhkan pria yang mencoba melarikan diri. Sama seperti Andre, orang itu terbujur kaku di tanah seolah baru saja tersambar petir.
"Cih! Entah pengendalian apa yang kau miliki, sekarang kedua tanganmu telah digunakan untuk menahan mereka berdua! Kau tidak akan bisa melawan kami bertiga!" ujar salah seorang yang masih berdiri, mereka bertiga pun mencoba menyergap Baraq. namun Alex menghadangnya.
"Hentikanlah! Menurutku ini tidak benar!" ujar Alex. "Hei, Baraq! Kau juga hentikan! Lepaskan mereka berdua! kumohon!" pinta Alex. Di saat ia lengah, ketiga prang yang tersisa itu langsung menyerang dengan membabi buta, membuat Alex tak bisa banyak bergerak lagi.
"Kau salah orang karena bermacam-macam dengan kami! Kau pikir kau sangatlah hebat?" tanya salah seorang. "Setidaknya aku lebih hebat dari kalian yang mengeroyok satu orang lemah," ujar Baraq. Ia langsung membuat ketiga orang tersisa terjatuh ke tanah.
"A.. apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tubuhku terasa sangat berat? Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Andre.
"Tidak ada yang istimewa. Aku baru akan memberikan kalian pelajaran. Jangan salahkan jika setelah ini kalian tidak bisa menggunakan salah satu dari kedua tangan dan kaki kalian!" ujar Baraq, saat ini rambutnya mulai mengembang disertai aliran listrik kecil.
"Sudah cukup, Baraq!" ujar Alex, ia tampak kepayahan hanya untuk menghentikan Baraq yang bertindak sendiri. "Kau, lumayan tangguh juga!" ujar Baraq terkesan. Ia pun mencoba meredam apa yang hendak ia keluarkan. Seketika rambutnya yang mengembang kembali menjadi normal.
"Sebaiknya kalian tidak melakukan hal seperti ini lagi! Jika aku memergoki kalian, mungkin kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya!" ujar Baraq. Pada akhirnya ia pun pulang bersama Alex yang dipenuhi luka-luka.
"Aku tidak tahu kau sekuat itu! Apakah Alesse juga memiliki kekuatan yang sama? Apakah benar kau lebih kuat dari Ray?" tanya Alex.
"Tidak! Kau bercanda? Aku bahkan tidak lebih kuat darimu," ujar Baraq. "Tidak mungkin! Lalu gimana caranya kau bisa mengalahkan mereka?" tanya Alex.
Baraq pun berhenti berjalan. "Ini bukan tentang seberapa kuat dirimu, tapi bagaimana caramu memanfaatkan kekuatanmu sekecil mungkin untuk bisa mengalahkan mereka. Biar kuberitahu sebuah rahasia. Sebenarnya hanya butuh kekuatan sekecil ini untuk mengalahkan mereka!" ujar Baraq sambil memperagakan jari telunjuk dan ibu jarinya yang saling berhimpitan sehingga jarak keduanya sangatlah kecil.
"Kau pasti bercanda!" ujar Alex sambil tertawa. "Kau akan percaya jika kau yang melakukannya sendiri. Maka dari itu pelajarilah karakteristik pengendalianmu. Ini bukan hanya tentang kekuatan dan daya tahan. Aku tidka menyangka bahwa adik Alesse bisa sebodoh ini. Hanya bituh satu hari bagiku untuk memahami pola pikirnya," ujar Baraq. "Kau bisa sekuat ini karena Alesse?" tanya Alex tidak percaya.
"Benar sekali! Ngomong-ngomong, ini adalah rahasia kita berdua..... Alesse tidaklah selemah itu hingga perlu kau lindungi. Kupikir sudah saatnya kau mencari tahu cara menjaga dirimu sendiri! Kau terlalu naif sehingga banyak orang yang hanya ingin memanfaatkanmu," ujar Baraq.
Setelah selesai bicara, ia pun memejamkan mata. Sebenarnya itu terjadi karena ia terlalu kelelahan, ia menjadi tak sadarkan diri dan hampir terjatuh, namun saat itu tubuhnya langsung lenyap seketika.
__ADS_1
Alex tidak menyadarinya, ia terus berjalan dan butuh beberapa menit untuk menyadari bahwa ia berjalan sendirian.