Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kubah putih di dasar laut


__ADS_3

"Wah, kukira hanya manusia bersirip seperti kalian yang tinggal di sini, ternyata ada manusia biasa juga!" Alesse terkesan.


"Oh, mereka adalah pengendali air, mereka tidak membutuhkan perubahan tubuh seperti kami," ujar As. "Perubahan tubuh?" Alesse penasaran. "Raya Stephen merubah tubuh kami agar dapat bertahan saat berenang di air. Jika kami berenang di bawah sini dengan tubuh biasa kami, mitosnya tubuh kami akan hancur berkeping-keping," ujar As.


"Heh? Sampai mengetahui hal itu.... sepertinya Raya Stephen orang yang lumayan pintar juga," ujar Alesse. As pun tertawa.


"Apanya yang salah?" tanya Alesse keheranan. "Raya Stephen itu sama sekali tidak pintar dalam hal seperti ini. Ia hanya pintar bertarung dan menggoda wanita saja, maaf!" ujar As sambil tak bisa menahan tawa.


"Eh? Seriusan? Jadi julukan mata keranjangnya pun sampai ke dunia lain? Pria itu benar-benar bejat sekali!" pikir Alesse dalam hati.


"Jadi dari mana kalian tahu, dan seperti apa caranya merubah tubuh kalian jika Ray tidak tahu apa-apa?" tanya Alesse. "Chron Kaa yang mengarahkannya. Raya Stephen menciptakan kubah ini juga sesuai arahannya," ujar As.


"Wah! Sepertinya hebat sekali orang bernama Chron Kaa ini!" seru Alesse, ia semakin penasaran. "Tentu saja! Lalu, namanya hanya Kaa saja, Chron adalah julukannya. Sepertinya kalian juga belum tahu tentang julukan ini," ujar As.


"Chron? Apa itu?" tanya Alesse. "Entahlah, kudengar mereka dapat hidup sampai ribuan tahun. Lalu, kalau kuingat-ingat lagi, Chron Kaa sangat mirip dengan kalian berdua," ujar As.


"Wah! Hidup ribuan tahun? Pantas saja ia bijak! Sampai menciptakan dunia di bawah laut seperti ini belum ada yang pernah memikirkannya!" ujar Alesse.


"Benar sekali, sayangnya Chron Kaa sudah tidak di sini lagi. Ia pergi tujuh tahun yang lalu karena salah satu Chron meninggal," ujar As.


"Salah satu Chron meninggal? Di mana? Gimana caranya ia tahu ada Chron yang meninggal?" tanya Alesse penasaran.


"Jumlah Chron di dunia ini hanya sedikit, tidak lebih dari seratus orang. Sesama Chron bisa mengetahui jika di antara mereka ada yang meninggal. Chron Kaa mengatakan bahwa ada Chron yang meninggal secara tidak wajar, ia mengatakan bahwa Chron itu mati terjebak dalam es," ujar As.

__ADS_1


"Tujuh tahun yang lalu? Terjebak dalam es? Alur ini sangat tidak asing!" ujar Alesse. "Tentu saja, bukankah itu dirimu? Terjebak dalam es tepat tujuh tahun yang lalu," ujar Jawara.


"Tidak-tidak, kau masih hidup! Chron Kaa mengatakan bahwa Chron itu mati," ujar As. "Begitu kah? Mungkin gadis itu," ujar Alesse.


"Gadis apa?" tanya As keheranan, ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Alesse. "Oh, bukan apa-apa. Di Abyss, aku menemukan seorang gadis terjebak dalam es," ujar Alesse.


"Abyss? Chron Kaa juga mengatakan bahwa ia hendak ke Abyss saat itu!" ujar As. "Wah, sayang sekali karena kami tidak berpapasan dengannya. Kira-kira cara untuk pergi ke Abyss seperti apa?" tanya Alesse.


"Entahlah, kami belum pernah pergi ke dunia lain, keberadaan dunia-dunia itu masih samar bagi kami, seperti dongeng belaka. Akan tetapi melihat kalian berdua yang memakai pakaian asing, apalagi tidak tahu tentang Warden dan Chron, pasti dari dunia lain!" ujar As


"Yeah, meskipun dari dunia lain, kami tetap kekurangan informasi! Sepertinya banyak yang harus dipelajari di sini!" ujar Alesse.


"Kalau begitu kalian bisa mulai berkeliling kota, mungkin orang-orang sedang penasaran ingin melihat wajah kalian yang mirip dengan Chron Kaa," ujar As.


"Benar sekali! Orang-orang di sekitar sini tampak sangat tinggi juga, mungkin tekanan mereka ketika tumbuh juga berkurang," ujar Alesse.


Mereka terus berjalan sedangkan orang-orang menyapa. Mereka berdua terhenti pada kedua patung yang ada di tengah kota. Alesse merasa ingin menghancurkan patung itu.


"Ada apa Alesse?" tanya Jawara keheranan. "Patung itu..... lebih mirip pria mesum tanpa pakaian!" ujar Alesse dengan perasaan jijik.


"Tidak sopan! Itu adalah patung Raya Stephen! Ia bukannya tidak memakai pakaian! Pakaiannya sangat ketat hingga seluruh lekukan tubuhnya yang perkasa terlihat," ujar seorang wanita.


"Sepertinya kau sama mesumnya seperti pria ini," ujar Alesse sambil membalik badan untuk memeriksa siapa yang berbicara dengannya.

__ADS_1


"Wah! Wah! Siapa ini? Kau sangat mirip dengan Chron Kaa! Patung yang ada di sebelah Raya Stephen," ujar wanita itu. Alesse pun mencoba melihat patung yang tampaknya sudah rapuh itu.


"Cih! Mirip dari mananya?" tanya Alesse kesal. "Tentu saja mirip, kalian berdua sama-sama pendeknya dengan Chron Kaa," ujar wanita itu.


"Meskipun sederhana, penampilanmu sangat modis sekali! Mengerikan!" ujar Alesse. "Tentu saja! Bukankah menarik? Aku mendapatkan saran ini setelah menjalani malam yang panas dengan Raya Stephen," ujar wanita itu dengan wajah memerah, ia sampai mengisap jarinya.


"Buset! Kalian berdua benar-benar serasi satu sama lain! Sama-sama mesumnya!" ujar Alesse merinding.


"Tetap saja malam itu sangat luar biasa! Kau tahu? Miliknya bahkan sampai memancar ke atap rumah! Benar-benar bergairah sekali! Oops! Kau masih kecil yah? Sepertinya tidak boleh mendengar perkataan ini! Lalau begitu selamat tinggal!" ujar wanita itu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kau lihat itu? Kenapa pria bejat sepertinya menjadi pahlawan di sini? Sungguh aneh sekali! Bukankah yang patut di sanjung adalah Chron Kaa? Bukankah dia yang mengarahkan pria bejat itu untuk menciptakan kubah ini?" tanya Alesse keheranan. Ia tidak terima.


"Aku tidak mengerti pemikiran manusia, secara logis memang seharusnya mereka lebih memuja Chron Kaa daripada Raya Stephen," ujar Jawara.


Setelah lama berada di tempat itu, Alesse memutuskan untuk kembali ke permukaan. Ia sudah muak mendengar pujian mereka terhadap Raya Stephen.


Ia pun memiliki tujuan baru setelah mendapatkan banyak informasi. Ia berniat mencari cara untuk kembali ke Abyss. Itu adalah satu-satunya rute agar ia bisa pulang ke rumahnya.


Setelah sampai ke permukaan, dengan ikan-ikan yang ia dapat dari kubah putih itu, ia pun mencoba membuat kompor di dalam Levy. Ia memasak ikan itu seperti yang As ajarkan padanya.


"Hmm! Harum sekali! Aku sudah tidak sabar hendak mencoba ini!" seru Alesse sambil menabur garam pada ikan-ikan itu.


"Apa yang akan kau lakukan lagi setelah ini, Alesse?" tanya Jawara. "Tentu saja, menemukan Chron Kaa! Orang bijak sepertinya pasti memiliki banyak ilmu pengetahuan ribuan tahun lamanya! Ini kesempatan kita untuk mengetahui betapa luasnya dunia ini!" seru Alesse.

__ADS_1


Setelah makan, Alesse langsung mengemudi Levy dan melaju dengan cepat di udara. Suasana hatinya semakin membaik karena banyak hal yang membuatnya penasaran.


__ADS_2