Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Perjalanan menuju Atlane


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari masing-masing orang tua, akhirnya mereka berlima pun masuk ke dalam Levy.


"Entah berapa kali aku berada di dalam sini, ini sangat luar biasa!" seru Kaa. "Sudahlah! Tinggal bukakan saja gerbang menuju dunia lain!" ujar Alesse.


"Baiklah, pertama kita pergi ke Abyss dulu, seharusnya ada di sekitar sini," ujar Kaa sambil membuka-buka buku kusamnya.


"Kau dapat itu dari mana?" tanya Alesse. "Ini sudah ada di sisiku sejak aku mulai bisa berpikir kritis, mungkin saat usiaku dua belas tahun," ujar Kaa.


"Buku apa memangnya itu? Lusuh sekali," ujar Sandy. "Ini adalah buku pemandu yang dimiliki oleh beberapa orang tertentu, tidak semua memilikinya. Biasanya yang memiliki buku seperti ini adalah Warden, Dark Warden, dan Chron," ujar Kaa.


"Wah, berarti Ray juga memiliki buku seperti ini?" tanya Salsha. "Kau ini! Sepertinya yang ada di pikiranmu cuma Raya Stephen saja!" ujar Sandy sebal. "Apaan sih? Aku kan hanya bertanya," ujar Salsha.


"Kalian berdua ini bertengkar terus seperti suami istri," ujar Sanay. Setelah dikatakan seperti itu, Sandy dan Salsha pun terdiam sambil saling membuang muka.


"Raya Stephen memang punya buku seperti ini tapi isinya hanyalah ensiklopedia wanita," ujar Kaa. "Cih! Ensiklopedia wanita atau pornografi?" tanya Sandy.


"Kerjaanmu ini berburuk sangka saja! Jangan begitu sih! Jadi makin jelek kalau kau begitu, tahu!" ujar Salsha kesal.


"Ciye, akhirnya Salsha ngaku juga! Kau suka sama Sandy kan?" goda Sanay. Selagi yang lain sedang ribut, Alesse melamun sebentar.


Ruangan Levy berubah menjadi sangat cerah, sedangkan teman-temannya lenyap begitu saja.


"Hmm, kau juga bisa menyeretku ke alam bawah sadar rupanya," ujar Geni sambil duduk di kursi kemudi.


"Aku tidak sengaja melakukan ini, tapi apakah benar hanya Chron, Warden, dan Dark Warden saja yang memiliki buku kusam itu?" tanya Alesse ragu.


"Mungkin saja," ujar Geni. "Lalu kau ini apa? Bukankah kau juga memiliki buku itu? Lalu, kenapa Kaa tahu kalau aku bisa membaca pikiran orang lain?" tanya Alesse.


"Mungkin saja kau adalah salah satu Chron seperti yang ia jelaskan tadi, kemampuanmu adalah membaca pikiran orang lain," ujar Geni.


"Berarti aku bisa hidup sampai ribuan tahun juga?" tanya Alesse. "Mungkin saja, itupun jika kau tidak terbunuh," jawab Geni.


"Alesse! Hei, Alesse! Alesse! Bangun!" teriak Sanay. Alesse pun tersadar, sedangkan teman-temannya menatapnya keheranan.


"Ada apa?" tanya Alesse. "Bukan apa-apa, tiba-tiba warna rambutmu berubah hitam, sama dengan matamu. Itu aneh sekali!" ujar Sandy.


"Ini namanya teknologi, kalian tidak akan tahu apapun," ujar Alesse, namun Kaa sempat menahan tawa saat mendengarnya. Reaksinya tentu saja membuat anak-anak lainnya curiga.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Salsha keheranan. "Bukan apa-apa kok, seperti bunglon yang berubah kulit saja," jawab Kaa. Sandy pun ikut tertawa.


"Hampir saja! Kalau mereka sampai tahu, akan lebih rumit lagi keadaannya," ujar Geni. "Kau masih di sini?" bisik Alesse.

__ADS_1


"Tentu saja, sebenarnya kau tidak perlu berbisik-bisik seperti itu, cukup berbicara dalam pikiranmu saja seperti menggunakan telepati," ujar Geni.


"Berarti kau bisa membaca pikiranku?" tanya Alesse. "Tentu saja tidak! Telepati berbeda dengan membaca pikiran," ujar Geni.


"Jadi selama ini kau membodohiku? Aku bahkan sering menjawabmu dengan suara keras seperti orang gila!" ujar Alesse kesal. Geni pun tertawa


"Jika kau tahu lebih awal, sangat tidak asyik!" ujar Geni. "Kurang ajar kau! Andai saja kau punya tubuh, akan kuhajar habis-habisan!" ujar Alesse. "Dih! Menakutkan sekali!" ujar Geni.


"Kita mau ke mana Alesse?" tanya Sandy. "Eh, tempat ini....... bukankah ini arah menuju lokasi pengeboran yang ditutup itu?" tanya Salsha.


"Yeah, benar sekali, sebentar lagi sampai," ujar Alesse. "Pengeboran yang ditutup? Maksudmu kawasan lumpur yang menelan beberapa kecamatan itu?" tanya Sandy.


"Iya, tempat itu!" ujar Salsha. Tidak lama kemudian mereka pun berhenti tepat di atas semburan lumpur panas.


"Hei, Alesse! Bukankah ini berbahaya? Sepertinya sangat panas di bawah sana!" ujar Sanay. Asap hitam yang tebal dari lubang kawah itu tampak sangat mengerikan.


"Tenang saja, Levy bisa bertahan kok, lagian kita tidak akan sampai ke inti bumi," ujar Alesse kemudian menerjunkan Levy ke mulut semburan lumpur panas itu. Orang-orang pun menahan nafas saat mereka merasa akan terhempas.


Setelah beberapa menit berlalu, keadaan menjadi tenang kembali, namun mereka tak kunjung sampai ke dasar.


"Berapa lama lagi kita terjun di sini? Sepertinya kendaraan ini masih melayang di udara," ujar Salsha.


"Loh? Di mana ini? Pemandangannya segar sekali, bukit-bukitnya berwarna biru dan putih! Seperti di luar negeri saja!" ujar Salsha.


"Ini bukan di luar negeri lagi! Ini di luar bumi!" ujar Alesse. "Benar sekali! Selamat datang di Atlane! Planet biru yang memiliki suhu lebih rendah daripada bumi," ujar Kaa.


"Hmm, mungkin maksudmu suhu di sini sedang dingin! Ini seperti zaman es yang pernah dialami bumi," ujar Salsha.


"Yeah, anggap saja begitu. Aku sangat terkesan karena Alesse langsung membawa kita ke sini. Kupikir kita harus susah payah ke Abyss untuk membuka gerbang, ternyata kita sudah melewati tahap itu," ujar Kaa.


"Jadi, kita mau ke mana?" tanya Alesse. "Ke rumah anak angkatku," ujar Kaa. "Hah? Anak angkat? Memangnya siapa yang mau jadi anakmu?" tanya Sandy tidak percaya. Bagaimana pun juga, Kaa terlihat masih anak-anak, masih sebaya dengan Alesse.


"Tentu saja ada! Aku ini sudah hidup ratusan tahun loh!" ujar Kaa. "Baiklah! Baiklah! Tinggal tunjukkan saja di mana tempatnya!" ujar Alesse tidak sabar.


"Tunggu dulu! Sekarang aku juga tidak tahu kita sedang berada di mana," ujar Kaa sambil berusaha mengamati sekitar.


Alesse pun langsung menyodorkan sebuah hologram yang menunjukkan peta Atlane. "Bukankah lebih mudah seperti ini?" tanya Alesse.


"Wah! Gimana caranya kau dapat peta seperti ini Alesse?" tanya Sandy penasaran. "Tentu saja dengan mengelilingi dunia ini, butuh waktu hampir setahun untuk mengambil dan menyimpan peta pada dunia ini karena peradaban di sini sangatlah jauh dari kata modern," ujar Alesse.


"Hebat sekali, Alesse ini! Benar-benar giat sekali sampai memetakan dunia baru ini. Kalau aku mungkin sudah menyerah," ujar Sandy.

__ADS_1


"Baiklah, aku sudah menemukan tempatnya! Melihat navigasi yang sempurna ini membuatku sangat mudah menemukannya!" seru Kaa.


"Baiklah, kita akan langsung melesat ke sana," ujar Alesse. "Hei! Tunggu dulu, karena kita punya alasan liburan untuk pergi ke sini, setidaknya kita harus mengambil beberapa bukti dulu!" seru Salsha. Ia dan Sanay pun mulai mengambil gambar dan selfie bersama.


"Wanita benar-benar aneh," ujar Sandy sambil menggeleng kepala. "Sepertinya ada yang kurang deh! Kita butuh sesuatu yang tinggi seperti tiang, agar pemandangan ini tampak sempurna," ujar Sanay. Salsha pun langsung melirik Sandy.


"Apa?" tanya Sandy sambil menelan ludah, ia berfirasat buruk. Salsha pun langsung menarik lengannya.


"Kau, diam di situ! Jangan bergerak!" ujar Salsha. Sandy terpaksa menurutinya. Sanay dan Salsha pun mulai berfoto di kedua sisi Sandy.


"Hei, teman-teman, yang ada di samping kalian ini manusia, bukan patung loh," ujar Sandy. "Ah, berisik! Tinggal diam saja kok," ujar Salsha.


"Kau pasti penuh gairah sekali karena dikelilingi gadis, sangat mirip dengan Raya Stephen," ujar Kaa.


"Eh? Aku? Mana sudi disamakan dengan bule itu!" ujar Sandy. "Yang tidak sudi mungkin si Ray, tidak usah berlagak sombong! Setidaknya senang sedikit kek disamakan dengannya," ujar Salsha


"Kita sudah sampai di tempat tujuan," ujar Alesse. "Wah! Apa ini? Sebuah desa? Tradisional sekali! Ini benar-benar masih segar!" seru Sanay.


"Kita akan mencari tempat bersembunyi untuk keluar dari Levy ini. Kita tidak bisa tiba-tiba muncul di hadapan orang-orang," ujar Alesse.


Ia pun memilih semak-semak tinggi yang ada di padang rumput. Semua orang pun turun dari Levy.


"Loh? Probe juga ikut ke sini?" tanya Salsha. "Dia bukan Probe lagi Salsha, dia Jawara," ujar Alesse.


"Loh? Kenapa bisa begitu?" tanya Sandy keheranan. "Aku mengirimkan semua datanya di Probe agar bisa melakukan pengembangan secara mandiri. Lalu, sistem kerja Jawara sudah menyerupai manusia karena ia pernah meniru bentuk tubuhku. Ekspresi, perasaan, dan lain sebagainya mungkin sudah dibuat olehnya secara sintetis, dia bisa membuat keputusan sendiri," ujar Alesse.


"Hei! Bukankah itu berbahaya? Bagaimana jika dia memilih untuk memusuhi kita?" tanya Kaa. "Itu tidak akan terjadi selama aku memegang inti tubuhnya," ujar Alesse sambil merubah Levy menjadi sebuah tongkat.


"Sebenarnya benda ajaib apa itu? Kenapa bisa berubah-ubah?" tanya Salsha penasaran. "Ini bukan benda ajaib, hanya sebuah teknologi mutakhir yang cacat, yang bisa mengendalikan Kuark, penyusun atom dengan elektromagnetik yang teratur. Dengan begitu ini bisa menciptakan berbagai benda yang diinginkan jika kita membentuknya sesuai dengan kerapatannya," ujar Alesse sambil menunjukkan tongkat yang dapat berubah menjadi berlian itu.


"Wah! Kau bilang teknologi seperti itu cacat? Lihatlah! Ia berubah menjadi berlian! Kau bisa menjadi orang kaya jika menjual itu," ujar Sandy.


"Berlian tidak seberapa dengan teknologi cacat ini! Kau mungin bisa menjadi orang yang paling kaya di dunia jika memiliki benda ini dengan beberapa syarat," ujar Alesse sambil menunjuk kepala.


"Heh? Syarat? ada syaratnya segala?" Sandy keheranan. "Tentu saja! Namanya juga benda cacat! Untuk mengendalikan Kuark, dibutuhkan desain yang sangat rumit, mulai dari kerapatan, kelenturan, massa, volume, kondisi elektrolitnya, dan masih banyak hal lagi," ujar Alesse.


"Buset! Mana bisa aku menguasai semua hal itu," ujar Sandy. "Oleh karena itu, bukan sembarangan orang yang bisa memakainya," ujar Alesse.


"Lalu, gimana cara buatnya?" tanya Salsha. "Itu rahasia," ujar Alesse. Ia tidak ingin membuat penasaran anak-anak itu dengan mengatakan bahwa ia menemukan tongkat di tumpukan limbah sampah.


"Ayo turun, kita akan menemui anak angkatku!" ujar Kaa. Akhirnya mereka pun turun ke padang rumput, lalu pergi ke pemukiman.

__ADS_1


__ADS_2