Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Kapan Alesse pulang?


__ADS_3

Probe terus menunggu di kamar, karena ia hanyalah robot, ia tidak bosan terus duduk di kasur. Setiap satu jam ia memindai ruangan, memastikan apakah Alesse sudah kembali atau belum.


"Alesse! Kenapa kau malah mengunci diri di kamar? Seharusnya kau banyak ngobrol dengan Alex! Ia pasti punya banyak cerita yang membuatmu penasaran!" ujar Hendra.


"Maaf ayah, aku sedang sibuk, mungkin besok aku akan bicara. Hari ini tidak dulu," ujar Probe. Meskipun ia robot, ia merasa tertekan karena terus dipanggil oleh keluarga Alesse, akhirnya ia mencoba memindai ruangan setiap satu menit, berharap Alesse segera pulang.


Sayangnya hingga tengah malam berlalu, Alesse tak kunjung datang. Akhirnya esok pagi, ia terpaksa berangkat sekolah menggantikan Alesse.


Ia keluar kamar saat Alex sedang mandi dan pergi ke sekolah tanpanya. Ia pun sampai di kelas dan menjumpai Sandy.


"Kemana Alesse?" tanya Sanay yang juga ikut menghampiri. Tentu saja ia tahu karena seluruh tubuh Probe dipenuhi aliran listrik.


Probe menggeleng. "Alesse mengatakan bahwa ia akan kembali dalam sehari, ini sudah 12 jam lewat," ujar Probe.


"Hmm! Sebenarnya apa yang dia lakukan? Ini seperti saat di SMP dulu," ujar Sandy. "Oleh karena itu aku minta bantuan padamu," ujar Probe, ia menunjukkan laci yang ada di perutnya.


"Hei! Jangan di sini! Kalau ada yang lihat gimana?" tegur Salsha sambil ikut mengerumuni Probe agar tidak terlihat orang lain.


"Aku tidak bisa terus seperti ini di rumah, Alex pasti kan menyadari kalau aku bukan Alesse," ujar Probe.


"Jadi begitu! Sepertinya dia tahu kegunaan dari pengendalianku," ujar Sandy. "Memangnya apa?" tanya Sanay. "Kalian ingat sulap yang kumainkan dulu? Itu sebenarnya hipnotis, memanipulasi perhatian seseorang," ujar Sandy.


"Kalau begitu, bisakah kau buat ini terlihat seperti manusia?" tanya Probe sambil membuka laci itu.


"Kaktus? kenapa ada kaktus di dalam perutmu?" tanya Sanay keheranan. "Alesse bilang bahwa ini agar Alex tetap mengira aku adalah makhluk hidup, agar tidak membuatnya curiga, namun jika berhadapan dengannya langsung,mungkin ia tahu kalau aku bukan Alesse," ujar Probe.


"Baiklah kalau begitu mulai kurubah saja energi hidupnya agar terlihat seperti manusia," ujar Sandy.


"Hei! Hei! Ada apa ini? Kalian merundung kakakku?" tanya Alex tiba-tiba. Dengan tubuh harimaunya, ia mencengkeram bahu Sandy.


"Ti... tidak kok, kami adalah temannya," ujar Sandy gagap. Sanay dan Salsha terkejut mendengar perkataan Sandy yang kaku itu.

__ADS_1


"Teman dari mananya? Kalian bahkan sampai melepaskan kancing bajunya!" Wajah Alex tampak seperti harimau yang hendak menerkam mangsa. Mereka bertiga pun hanya bisa menelan ludah, mereka terintimidasi olehnya.


"Alesse! Jangan dekat-dekat mereka! Kau duduk denganku saja!" ujar Alex, ia pun merebut bangku Sandy yang ada di sisi Alesse.


"Kau membuat mereka takut loh, seperti hewan buas saja," ujar Probe. "Lain kali jangan dekat-dekat mereka! Kudengar kau baru masuk SMA kemarin kan? Awal tahun saja sudah parah begini! Apakah kau baik-baik saja waktu SMP?" tanya Alex.


"Aku baik-baik saja," ujar Probe. "Pokoknya jangan menjauh dariku, oke?" ujar Alex. "Baiklah," ujar Probe. Ia tampak terlalu hidup karena Sanay mengendalikannya, jika saja robot itu menjawab pertanyaan Alex sesuai sistemnya, maka ia akan langsung ketahuan bahwa ia adalah robot.


Setelah pulang sekolah, Probe duduk di kasur Alesse. Terdiam sangat lama. Sanay pun mencoba mengendalikannya dari jauh untuk menengok ke cermin. Ia memanfaatkan kamera yang ada di mata Probe untuk mengawasinya lewat cermin.


"Hmm! Apakah dia akan terus duduk seperti itu menunggu Alesse?" Sanay penasaran,ia terus mengawasi Probe lewat cermin itu hingga akhirnya ketiduran. Ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo? Sandy? Ada apa?" tanya Sanay. "Sanay, kau bisa memanggil Probe kan? Ini sudah lebih dari 24 jam! Apakah Alesse sudah di rumah?" tanya Sandy lewat telepon itu.


"Sebentar, biar kuperiksa," ujar Sanay ia pun kembali pada kamera Probe namun mendapati ruangan yang gelap gulita.


"Probe? Probe! Apakah kau di sana?" panggil Sanay. Seketika lampu ruangan menyala, robot itu sudah berada di basemen.


"Loh? Kenapa kau turun ke bawah jika Alesse belum pulang?" tanya Sanay keheranan. "Waktuku sudah habis, Alesse hanya menyuruhku melakukan pekerjaannya untuk satu hari saja," ujar Probe.


"Jika Alesse belum pulang, kau harus terus menyamar menjadi dirinya! Mungkin ia akan terlambat atau sebagainya!" ujar Sanay. Ia pun langsung mengabari Sandy.


"Halo? Sandy! Alesse tak kunjung kembali juga!" ujar Sanay. "Ini baru sehari, mungkin ia masih mengerjakan sesuatu," ujar Sandy. "Tapi tetap aneh karena ia hanya menyuruh Probe menyamar hanya sehari saja," ujar Sanay khawatir.


"Aku juga sempat merasa ganjal, tapi kita tunggu dulu besok, kau bisa bujuk Probe untuk berangkat ke sekolah lagi jika Alesse belum pulang," ujar Sandy.


Sanay semakin takut dengan apa yang terjadi pada Alesse. Hingga keesokan harinya, ia berangkat ke sekolah dengan wajah pucat. Semalaman ia tidak bisa tidur karena mencoba mencari Alesse dari berbagai rekaman CCTV.


Sesampainya di kelas, ia mendapati logam penuh aliran listrik itu duduk di bangku Alesse. "Kenapa? Kenapa ia tak kunjung pulang juga?" tanya Sanay tiba-tiba sambil memukul meja Alesse karena kesal.


Tiba-tiba Alex mengangkat tangannya. "Apa yang kau lakukan? Siapa suruh memukul meja kami?" tanya Alex dengan wajah marah. Kali ini ia dalam rupa manusia biasa sehingga ekspresinya sangat terlihat.

__ADS_1


"Tidak, bukan apa-apa," ujar Sanay kemudian berbalik badan. "Kau, jangan-jangan kau adalah ketua kelas kami sewaktu SMP?" tanya Alex.


"Kalau memang benar, apa masalahmu?" tanya Sanay. "Oh! Jadi seperti ini rupa dari seorang ketua kelas? Merundung teman sekelasnya, begitu kah?" tanya Alex.


Sanay semakin kesal dengan ucapannya, rambutnya tiba-tiba mulai mengembang. Kilatan listrik terus bermunculan di sekitar telinganya.


Sebelum Alex menyadari hal itu, Sandy dan Salsha segera membawanya pergi dan menenangkannya.


"Apa yang kau lakukan? Jika kau marah seperti itu sekelas akan menyadari kalau kau adalah Elementalist!" ujar Sandy. "Tenanglah Sanay, saat ini Alesse sedang tidak ada. Jika ia sudah pulang, ia bisa meluruskan keadaan ini," ujar Salsha.


"Tapi nyatanya ia belum pulang sampai sekarang!" ujar Sanay gelisah. "Tenanglah Sanay! Kita tunggu lagi, mungkin satu hari lagi ia akan pulang. Ia bersama Jawara jadi akan baik-baik saja," ujar Sandy.


Setelah tenang, ia pun kembali ke dalam kelas. "Namamu, Sanay kan? Bisa bicara sebentar saat istirahat nanti? Sendirian saja!" ujar Alex dengan wajah dinginnya.


Akhirnya setelah istirahat tiba Sanay pergi ke atap, beberapa menit kemudian Alex datang menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Sanay. "Kau, Elementalist kan? Aku sengaja mengajakmu berbicara sendirian di sini," ujar Alex. "A.... apa maksudmu? Elementalist? Omong kosong macam apa ini?" Sanay mencoba bersandiwara.


"Jangan bohong! Saat kau marah tadi, itu mengingatkanku pada seseorang. Rambut yang tiba-tiba berdiri ke atas, tidak ada orang normal yang seperti itu saat marah," ujar Alex.


"Sepertinya kau salah lihat! Mana rambutku yang mengembang itu? tidak ada! Rambutku baik-baik saja! Jangan-jangan seseorang yang kau ingat itu adalah pacarmu? Pantas saja kau selalu membayangkan yang aneh-aneh!" ujar Sanay, ia hanya berbicara acak.


Tiba-tiba ekspresi serius Alex pun berubah kacau, entah malu atau kenapa, ia menjadi gagap bicara.


"Heh? Sepertinya orang itu benar-benar pacarnya! Tentu saja, gadis-gadis di luar negeri pasti banyak yang memikat hatinya," pikir Sanay, perkataannya sudah mematahkan kecurigaan Alex.


"Kenapa? Apakah aku benar? Sepertinya kau benar-benar pacaran! Apakah Alesse tahu hal ini?" tanya Sanay.


"Di.... diam kau! Pokoknya jangan dekat-dekat dengan Alesse lagi! Jika kau merundungnya lagi, aku tidak akan segan-segan!" ancam Alex kemudian pergi.


Sanay menghela nafas lega karena ia berhasil mengelabuinya. "Alesse, kapan kau akan kembali? Kami sangat mengkhawatirkanmu!" ujar Sanay sambil menatap langit.

__ADS_1


__ADS_2