Guardian : The Elementalist

Guardian : The Elementalist
Krisis personal


__ADS_3

Alesse tidak bisa menutupi rambut merah miliknya sedangkan hari ini adalah hari pertama untuk tahun ajaran kedua di SMA. Ia tidak mungkin berangkat dengan penampilan seperti itu atau seorang guru akan mendisiplinkannya.


"Kenapa kau tidak mau berangkat, Alesse?" tanya Hendra keheranan. Alesse terus mengencangkan penutup kepalanya dengan kesal.


"Tunggu dulu! Kalau matamu merah.... jangan-jangan rambutmu juga ikut memerah?" Hendra menyimpulkan, mencoba menyingkap Hoodie yang Alesse pakai, sekilas Andin pun melihatnya.


"Ya ampun Alesse! Kenapa kau masih mewarnai rambutmu? Hari ini sekolah loh!" tegur Andin.


Alesse semakin malas untuk berangkat sekolah karena penampilannya itu, ia pun meletakkan kepalanya di meja makan. Saat itulah tiba-tiba pakaian serba merah yang ia kenakan berubah menjadi jubah biru.


Andin yang menyaksikan hal itu pun terkejut. "A... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa.... kenapa bajumu tiba-tiba berubah?" tanya Andin.


Alesse yang tidak sadar akan hal itu pun sedikit terkejut. Pada akhirnya ia semakin


kesal melihat perubahan yang tidak sesuai kehendaknya itu.


Pakaian serba birunya berganti menjadi pakaian bangsawan abad pertengahan, bahkan warna rambut dan matanya ikut berubah menjadi jingga.


"Hei, i.... ini durasinya lebih cepat dari kemarin," ujar Hendra panik, ia mencoba menyentuh punggung Alesse, namun ia langsung tersengat arus listrik yang membuatnya terperanjat dari tempat duduknya.


"Loh? Ada apa?" tanya Andin keheranan. "Kok rasanya.... seperti kesetrum listrik," ujar Hendra.


"Apanya yang kesetrum? Memangnya ada listrik di mana?" tanya Andin keheranan sambil meraba-raba punggung Alesse, ia tidak mendapati apapun.


Akhirnya Hendra mencoba menyentuh punggung Alesse sekali lagi, ia juga tidak merasakan apa-apa.


"Hmm! Aneh sekali! Padahal aku yakin tadi ada sengatan listrik di sini," ujar Hendra.


"Gejala seperti itu.... sama seperti tuan Baraq, bahkan lebih parah dari itu. Dia bisa membuat sekelilingnya hangus karena petir yang mengitari tubuhnya," ujar Gord.


"Itu bukan petir, itu namanya arus listrik," ujar Geni. "Aneh sekali! Jika itu membuat sekitarnya hangus terbakar, kenapa pakaiannya tidak ikut terbakar?" tanya Alesse.


"Petir itu hanya mengitari sekeliling tubuhnya, ada jarak beberapa jengkal antara petir itu dengan tubuhnya sehingga pakaiannya tidak ikut terbakar. Lalu, pengecualian untukku juga, aku tidak akan terbakar meskipun berada di dekatnya," ujar Gord.


"Pantas saja dia tidak membencimu meskipun kau begitu bodohnya. Kau satu-satunya orang yang bisa berkomunikasi dengannya secara normal," ujar Alesse.


"Hei, Alesse! Jika kau terlalu lama berinteraksi dengan kami, kau akan melupakan dunia aslimu. Bukankah sekarang waktunya berangkat sekolah? Tubuhmu akan terlihat seperti orang melamun yang sedang menyia-nyiakan waktu," ujar Geni.

__ADS_1


"Benar juga! Aku tidak bisa terus seperti ini!" ujar Alesse, akhirnya ia kembali ke kesadarannya sedangkan kedua orang tuanya tampak kebingungan.


"Kalian kenapa?" tanya Alesse keheranan. "Kau dari tadi dipanggil tidak merespon. Lalu, rambut dan pakaianmu mulai berubah lagi loh," ujar Andin. Kali ini tubuh Alesse berubah wujud menjadi Geni.


"Baiklah! Hal seperti ini bukan masalah! Aku akan berangkat ke sekolah," ujar Alesse. Ia pun mengambil sepatu serbagunanya lalu memakainya. Seketika sepatu itu berubah warna menjadi merah.


"Hmm! Sepertinya sepatu ini juga ikut menyesuaikan kondisiku," ujar Alesse. "Yeah, karena ukuran kakimu dengan kakiku itu berbeda, sedangkan sepatu yang terpikirkan olehmu, mungkin hanyalah sepatu yang sedang kukenakan ini," ujar Geni sambil menunjukkan sepatu sneaker merah bermotif kobaran api.


"Seleramu aneh sekali," ujar Alesse. "Ini melambangkan identitasku loh! Aku ini pengendali Api, lagian mata dan rambutku juga berwarna merah, pakaianku juga harus khas seperti fisikku," ujar Geni.


"Terserah kau lah, mungkin sebaiknya kurubah warna sepatu ini jadi hitam agar tidak melanggar peraturan sekolah," ujar Alesse. Seketika sepatu yang ia kenakan berubah menjadi hitam.


"Sayang sekali rambut dan mata merahmu tidak bisa diapa-apakan lagi," ujar Gord.


"Kata siapa?" Alesse mengambil tongkat yang ada di punggungnya lalu merubahnya menjadi sebuah botol berisi cairan hitam.


"Seperti sihir saja! Apa yang tidak bisa dilakukan benda serbaguna itu?" tanya Gord terkesan.


"Entahlah, yang membuatku penasaran adalah siapa dan seperti apa cara membuatnya," ujar Alesse.


"Kalau dilihat dari cara kerjanya, itu seperti sains tingkat tinggi, bukan sihir. Itu mengandalkan prinsip elektromagnetik yang dapat memanipulasi kerapatan molekul," ujar Geni.


"Baiklah, aku mengerti! Banyak bicara dengan kalian membuatku melupakan sekolah," ujar Alesse.


"Bukankah anak jenius sepertimu tidak butuh sekolah?" tanya Geni. "Setidaknya aku ingin menyembunyikan jati diriku dari keluargaku. Aku tidak ingin membuat mereka cemas," ujar Alesse. Akhirnya ia pun berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sana, Sandy langsung menyapanya dari kejauhan. Secara spontan ia menyahut sapaannya.


"Apa yang barusan kulakukan? Aneh sekali!" Alesse sendiri kebingungan, ia tidak pernah menyapa balik orang yang menyapanya, namun hati ini tidak begitu.


"Yo, Alesse! Hari ini kau tampak bugar sekali," ujar Sandy sambil memperhatikan badan tegap Alesse.


Beberapa saat kemudian sebuah bola melambung ke arah Alesse. Sandy sempat memperingatkannya untuk menghindar, namun Alesse menangkap bola itu dengan tangan kanannya.


"Wah, cekatan sekali! Kupikir tanganmu tidak setangguh itu. Aku sempat mengira lenganmu akan patah setelah menghantam bola," ujar Sandy.


"Cih! Hal seperti ini bukan apa-apa," ujar Alesse sambil sedikit tersenyum menyombongkan diri.

__ADS_1


"Eh? Barusan kau tersenyum kan?" tanya Sandy terkejut. Raut wajah Alesse langsung berubah. "Tidak kok! Siapa yang tersenyum?" Alesse menyangkal.


"Tadi aku melihatmu menyombongkan diri!" ujar Sandy sambil tertawa. Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas sambil menunggu jam pelajaran olahraga dimulai.


"Alesse, tumben sekali hari ini kau memakai seragam olahragamu," ujar Salsha. "Benar sekali, para gadis yang di sana jadi memerhatikanmu loh!" ujar Sandy menggoda.


Selagi mereka membicarakan Alesse yang mengenakan pakaian olahraga, Sanay malah cemberut ml, ia langsung menarik-narik lengan Alesse agar pergi bersamanya seolah tidak ingin ada orang lain yang memerhatikan penampilan Alesse.


"Ada apa Sanay? Hari ini kau aneh sekali!" ujar Alesse keheranan. "Bukan aku yang aneh! Tapi kau! Kenapa malah pakai baju olahraga sih? Kan kesan imutnya jadi hilang!" ujar Sanay kecewa.


"Heh? Sejak kapan kau mengatur-atur apa yang aku pakai?" tanya Alesse keheranan. "Bukannya mengatur kok! Aku cuma sedikit kesal!" ujar Sanay.


Akhirnya bel pelajaran dimulai, semua anak segera melakukan pemanasan untuk berolahraga. Kebetulan hari itu guru olahraga tidak masuk sehingga mereka dibebaskan untuk melakukan olahraga apa saja.


Awalnya Alesse tidak terlalu tertarik, ia memilih diam di tempat sambil melihat permainan Sandy.


Melihat Sandy unggul di berbagai permainan karena fisiknya yang luar biasa, Alesse menjadi tidak tahan. Pada akhirnya ia ikut ke dalam permainan.


Ia mulai bermain dengan cekatan sambil melawan tim Sandy seolah itu adalah pertarungan antara dirinya dan Sandy.


Saking semangatnya, mereka berdua mengabaikan anggota tim masing-masing dan saling bersaing satu sama lain.


para siswa tampak menikmati persaingan panas antara keduanya. Bahkan para gadis yang biasanya tidak peduli dengan permainan siswa laki-laki, kini mereka saling bersorak-sorak untuk mendukung tim yang mereka pilih.


Puluhan menit berlalu, Alesse selalu mengungguli berbagai permainan, mulai dari voli, basket, bulu tangkis, hingga tenis meja. Baju olahraganya pun kini menjadi basah kuyup dipenuhi keringat.


Meskipun begitu Sandy tidak ingin menyerah, ia masih terus menantang Alesse untuk bermain. Pada akhirnya suasana koridor sekolah menjadi ramai. Karena saking ramainya, akhirnya Alesse tertegun sejenak.


"Ada apa, Alesse? Kenapa kau diam saja? Kemarikan bola yang kau pegang itu!" ujar Sandy.


Tubuh Alesse mulai berubah, pakaian olahraga yang awalnya pas di tubuhnya kini mulai menyusut, warna matanya yang merah pun berubah hitam seperti semula.


"Kenapa, Alesse?" Sandy kebingungan. "Tunggu dulu! Sejak kapan aku termotivasi untuk bermain hal seperti ini?" tanya Alesse keheranan, ia langsung meninggalkan lapangan karena sudah tidak berselera.


"Ya ampun! Pakaianku sampai basah kuyup begini!" ujar Alesse kesal, akhirnya ia pun langsung kembali ke ruang ganti untuk melakukan pendinginan, setelah itu ia mandi dan berganti baju.


"Hmm! Sepertinya tubuhku sudah kembali seperti semula, bahkan suasana hatiku juga," ujar Alesse, ia merasa damai kembali setelah mandi.

__ADS_1


Tak lama kemudian Sanay pun datang dan memeluknya dari belakang. "Ini baru Alesse! Kau yang tadi terlalu tinggi dan susah kupeluk!" ujar Sanay.


"Huh, bisakah kau hentikan hal itu? Aku bukan anak kecil loh," keluh Alesse. Sanay hanya senyum-senyum sendiri mendengar keluhan Alesse.


__ADS_2