
Rasya tampak masih terbaring di kasurnya dengan tubuh telentang. Hendra pun mencoba membuka pintu kamar untuk membangunkannya.
Saat mendapati pria berpakaian serba hijau itu ia menjadi enggan untuk menghampirinya. "Apa yang barusan kulihat? Kenapa ada orang mengerikan di kamar itu?" gumamnya.
"Kau kenapa?" tanya Andin, ia hendak masuk ke dalam kamar, namun Hendra melarangnya. Pada akhirnya Rasya terbangun dari tidurnya dan melihat siapa yang sedang ribut-ribut di depan kamarnya.
"Ah! Kalian pasti ibunda dan ayahanda!" ujar Rasya. Andin dan Hendra merasakan firasat yang buruk dengan panggilan menjijikkan yang mereka dapatkan dari pria itu.
"Ehm, sepertinya sudah hampir matang," ujar Andin sambil pergi begitu saja meninggalkan Hendra.
"Wahai, Ayahanda! Apakah engkau hendak membangunkan daku pagi ini?" tanya Rasya. "Bisakah kau mengatakannya dengan bahasa yang biasa saja?" tanya Hendra. Rasya malah tertawa dengan suaranya yang menggelegar.
"Jadi, apa menu sarapan hari ini, ayahanda?" tanya Rasya. "Kau bisa lihat sendiri di dapur," ujar Hendra ia tampak malas menanggapi Rasya, apalagi saat ini ia tampak melekat di lengannya seolah tidak ingin lepas.
Setelah mereka bertiga duduk, mereka pun mulai menyantap makanan. "Ayahanda, ibunda! Makanan ini benar-benar luar biasa enak! Ini adalah makanan terenak yang pernah daku makan," ujar Rasya.
Andin merasa tidak tahan dengan caranya berbicara yang sangat menjijikkan. "Hei, pria homo! Setidaknya jika ingin berpura-pura menjadi Alesse, perbaiki caramu berbicara! Kau pikir ini zaman imperial tempat bangsawan tinggal?" ujar Andin kesal.
"Benar sekali! Aku tidak akan berbohong tentang keberadaanku ini, jadi......" Rasya memegang tangan kanan Hendra lalu mengusap-usapnya dan menciumnya.
"Bagaimana dengan wajahku, ayahanda? Apakah aku terlihat tampan?" tanya Rasya. Hendra tidak bisa mengelak dengan kenyataan itu bahkan wajah rupawannya sempat menbuatnya merasa iri.
"Ye.... yeah, menurutku itu biasa saja! Bukankah begitu, sayang?" tanya Hendra pada Andin. Kali ini Rasya berpindah ke arah Andin, ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Hendra.
"Bagaimana, ibunda? Apakah aku terlihat tampan? Mata indah ibunda pasti bisa menilai dengan benar," ujar Rasya, ia membuat Andin tersipu malu karena Gombalan nya.
"Hei! Maksudmu mataku itu jelek dibandingkan dengannya?" Hendra tidak terima, ia langsung menepis tangan Rasya yang menyentuh tangan Andin. "Apa yang baru saja kau lakukan pada istri orang?" tanyanya kesal.
"Aku hanya bercanda, tidak usah dimasukkan ke hati," ujar Rasya kemudian mulai menyantap makanan. Keberadaan pria itu benar-benar membuat Hendra gelisah.
Meskipun begitu, setelah selesai sarapan, tiba-tiba tubuh Rasya berubah. kini yang mengambil alih tubuh Alesse adalah Geni.
"Heh? Sudah selesai makan? Curang!" ujar Geni kecewa. Andin dan Hendra hanya menatapnya penuh heran.
"Bu... bukan apa-apa kok! Aku merasa sangat kenyang pagi ini," ujar Geni.
__ADS_1
Andin dan Hendra pun saling tatap dan menganggukkan kepala. Mereka mencekal lengan Geni lalu mewarnai rambutnya dengan warna hitam.
"Alesse, hari ini kau berangkat sekolah," ujar Andin tampak memaksa. Geni pun tak bisa mengelak, akhirnya ia terpaksa menuruti perkataan keduanya.
"Duh! Ya ampun! Hoodie ku tidak bisa kulepas, dan sekarang aku harus mengenakan seragam sekolah?" Geni merasa kesal, namun ia terpaksa melakukannya karena ia pikir akan gawat jika Andin dan Hendra mengetahui bahwa dirinya bukanlah Alesse, padahal keduanya justru sedang mengelabui dirinya agar merasa nyaman hidup sebagai Alesse.
Geni pun akhirnay berangkat sekolah layaknya anak-anak SMA pada umumnya. Karena dunianya paling dekat dengan peradaban bumi, ia pun bisa menyesuaikan diri.
"Ternyata sangat menyegarkan berada di sini," ujar Geni sambil menikmati perjalanannya.
Tak lama kemudian Sanay datang mengejutkannya. "Wah, siapa ini?" tanya Geni dengan wajah ramahnya. Sanay merasa aneh dengan perilakunya itu.
"Alesse, kau baik-baik saja?" tanya Sanay. "Tentu saja tidak, kau baru saja mengejutkanku," ujar Geni, ia masih tersenyum ramah. Sebenarnya ia sedang kebingungan karena harus menghadapi Sanay seperti apa. Ia tidak ingin gadis itu menyadari kalau dirinya bukanlah Alesse.
"Sanay, aku sedang tidak enak badan. Sebaiknya kita segera ke kelas," ujar Geni. "Tumben sekali," ujar Sanay, ia tampak tidak begitu peduli dengan sikap Geni.
Akhirnya Geni dapat menyelesaikan jam sekolah itu tanpa hambatan sama sekali, namun teman-teman Alesse memintanya untuk datang berkunjung.
"Huh, aku benar-benar kelelahan hari ini. Tidak kusangka berangkat sekolah akan sangat melelahkan!" ujar Geni. Ia tidak bisa membayangkan kalau keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah itu.
"Alesse? Ada keperluan apa ke sini?" tanya Probe. Geni merasa iba melihatnya seperti seorang tahanan yang tak terurus.
Tak lama kemudian Jawara mengambil alih robot itu. "Kau, bukan Alesse kan?" tanyanya. "Bagaimana kau tahu?" tanya Geni.
"Aku juga memerhatikan kalian selama ini, pembicaraan dan aktivitas sehari-hari. Menurutku ini tidak wajar. Tidak sesuai dengan perilaku Alesse yang kusimpan dalam data base," ujar Jawara.
"Baiklah! Akhirnya kau mengerti juga! Aku tidak tahu kemana perginya anak itu, tapi tolong! Bisakah kau bantu aku? Pergilah ke sekolah untuk menghadapi teman-temannya! Kuyakin itu lebih baik dari pada aku yang pergi ke sana," ujar Geni.
"Baiklah, jika ini demi Alesse, akan kulakukan," ujar Jawara, ia langsung beranjak dari tempat pengisian baterai dan naik ke atas untuk mengganti baju.
"Akhirnya masalah terselesaikan," ujar Geni. Ia pun terus menatap Jawara karena penasaran. "Hei, Jawara. Apakah kau selalu lapor semua hal yang terjadi kepada Alesse?" tanya Geni.
"Tentu saja. Aku akan melaporkan semua hal penting kepada Alesse dan menyaring kemungkinan informasi yang tidak diperlukan," ujar Jawara.
"Oke! Ini menjadi semakin sederhana! Kupikir sebaiknya kau tidak melaporkan hal ini juga. Dia tidak perlu tahu tentang percakapan kedua orang tuanya dengan kami," ujar Geni.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyetujuinya. Menurut penilaianku, informasi ini sangatlah penting dan Alesse harus tahu," ujar Jawara.
"Jawara. Karena kau robot, tidak semua hal bisa kau paksakan untuk Alesse. Dia adalah manusia, ada beberapa yang perlu ia ketahui dan ada beberapa yang tidak. Percayalah! Ini demi kebaikan Alesse. Jika kau memahami percakapan kami selama ini, kupikir kau akan mengerti," ujar Geni.
Jawara sempat terdiam, ia tampak sedang membuat program baru untuk laporan informasi. Ia juga mencoba menilai perkataan Geni sebanyak jutaan kali hingga akhirnya ia memutuskan untuk sependapat dengannya.
"Baiklah, aku akan merahasiakan ini dari Alesse," ujar Jawara. "Benar sekali! Itu keputusan yang tepat," ujar Geni.
Tak lama kemudian Andin membuka pintu kamar dan mendapati dua anak di dalamnya. Geni sempat panik, namun Andin tidak terlalu terkejut.
"Kalian sudah tahu tentang benda ini?" tanya Geni tidak percaya. "Tentu saja! Mana mungkin ada hal yang berkaitan dengan makhluk hidup bisa lolos dari elementalist Alam. Benda itu tidak memiliki tanda-tanda kehidupan sama sekali," ujar Hendra yang baru saja datang.
"Jadi..... kalian juga sudah tahu kalau aku bukan Alesse?" tanya Geni. "Benar sekali. Aku tidak menyangka ada kepribadian yang tampak seperti pemuda polos di dalam tubuh Alesse. Kau tampak seperti anak normal," ujar Andin.
"Be... benarkah? Aku senang mendengarnya," ujar Geni. Ia merasa tidak nyaman karena mereka berdua sudah menyadari kalau dirinya bukanlah Alesse. Ia tiba-tiba menjadi terdiam dan berbalik badan karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Tenang saja, tidak usah khawatir. Dua pria lainnya juga sudah kami ketahui. Bahkan kami sempat berbincang bersama," ujar Andin.
"Be..... benarkah? Kalau begitu... kami minta maaf karena mengambil tempat Alesse. Sejujurnya kami juga tidak tahu kemana ia pergi. Sudah beberapa hari ini ia tidak kembali ke tubuhnya," ujar Geni.
Mendengar perkataan Geni memang membuat Hendra dan Andin semakin risau, namun mereka juga tidak ingin membuat Geni merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Karena kalian tinggal di tubuh Alesse, maka kalian juga bagian dari Alesse. Tidak perlu merasa sungkan di sini," ujar Andin.
Akhirnya Geni pun mengangguk kemudian mengutak-atik Jawara agar terlihat lebih mirip Alesse.
Tak lama kemudian Hendra tampak bersiap-siap pergi ke suatu tempat. Geni tampak penasaran kemana pria itu hendak pergi, namun ia bingung hendak memanggilnya apa.
"Kau boleh memanggil kami ayah dan ibu kok," ujar Hendra, ia paham betul mata anak itu tampak dipenuhi rasa penasaran. Geni pun mengangguk senang, ia sendiri juga tidak ingat seperti apa rasanya memiliki orang tua.
"Ayah, mau pergi ke mana?" tanya Geni. "Memancing, kau mau ikut? Anak sepertimu tidak terlihat betah jika terus berada di dalam kamar," ujar Hendra. Geni mengangguk mantap, ia pun langsung melepas pakaiannya lalu keluar rumah bersama Hendra.
"Kenapa masih pakai hoodie itu? Tidak ganti baju yang lain?" tanya Hendra. "Baju ini tidak bisa lepas dariku," ujar Geni. Mereka pun terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
Hendra tidak pernah merasa seantusias ini saat berbicara dengan anak-anaknya. Apa yang dibicarakan Geni terasa satu frekuensi dengannya. Apalagi hobi-hobi yang dimiliki oleh Geni tampak banyak diterapkan oleh orang-orang biasa sehingga Hendra bisa mengajaknya berbincang-bincang.
__ADS_1