
Sandy sangat setuju dengan komentar Alex terhadap mereka. Ia juga enggan membunuh orang-orang yang bahkan tidak punya urusan apapun dengannya.
"Kenapa kau diam saja, Sandy? Bantu kami! Kau juga anak muda! Kita sudah kalah jumlah! Kenapa kalian malah terdiam di situ?" tanya Atlas.
"Dark Warden telah datang untuk menyerang!" teriak salah seorang. Saat itu juga sorakan yang amat keras terdengar dari segala arah.
Orang-orang tampak sangat siap untuk kedatangan Ray. Hal itu membuat Ray dan kelompoknya tersudutkan.
"Hahahaha! Meskipun kau adalah Dark Warden yang bisa mengendalikan semua elemen,kau tidak akan mampu menghadapi kami semua!" teriak salah seorang.
"Hei pemuda-pemuda bodoh! Kenapa kalian diam saja? Bantu kami!" teriak Boulder. Alex dan Sandy masih kebingungan.
Meskipun kelompok Ray tersudutkan, jelas-jelas mereka dengan mudahnya menumbangkan orang-orang itu.
Sandy yang awalnya ingin membantu pun menjadi ragu ketika melihat orang-orang itu tak berdaya melawan Ray. Bahkan beberapaorang tampak pasrah untuk menghadapi kematian mereka karena orang-orang di belakang terus berdorongan untuk menghadapi Ray.
"Argh! Dasar tidak berguna!" teriak Boltz, suaranya tampak menggema. Saat itu juga Boulder mengangkat tubuh Boltz dan melemparnya ke arah markas musuh.
Cryo pun tahu apa yang harus ia lakukan Ia membuat pusaran angin yang mengitari orang-orang yang bersamanya untuk melindungi mereka.
"Aku akan ikut membantu," ujar Frost. Baru kali ini ia membuka mulutnya, membuat orang-orang terkejut karena jarang mendengarnya berbicara.
Saat itu juga Frost mengendalikan genangan darah yang ada di sekitarnya agar ikut berputar bersamaan dengan pusaran angin yang dibuat Cryo.
"Apa yang terjadi di luar sana?" tanya Alex. "Sesuatu yang mengerikan! Sebaiknya kalian tutupi telinga kalian," ujar Alpha.
Alex dan Sandy masih dipenuhi tanda tanya, mereka pun mencoba menutup telinga dan saat itulah suara gemuruh terdengar sangat keras hingga memekakkan telinga.
Suara itu sangat keras layaknya suara gunung meletus yang terdengar dari jarak beberapameter saja.
Orang-orang berteriak kesakitan, bahkan Alex dan Sandy terus mengeluarkan darah dari mata, hidung, dan telinga.
"Hei! Kalian berdua baik-baik saja?" Kaa tampak panik, ia tidak menyangka reaksi kedua anak itu terhadap suara yang amat keras sangat memprihatinkan.
__ADS_1
Boulder pun akhirnya membuat lubang ke dalam tanah dan menyuruh Atlas dan Kaa memasukkan kedua anak itu ke dalamnya.
Suara gemuruh itu pun akhirnya berhenti setelah setengah jam lamanya. Cryo langsung menghentikan angin pusaran yang dibuatnya sehingga pemandangan mengerikan di luar pun terlihat jelas.
Sejauh mata memandang mereka hanya mendapati hamparan hitam seperti bekas ledakan, namun itu sangatlah besar. Bahkan terdapat bekas lingkaran hitam di langit seperti lubang besar.
"Ini lebih besar dari sebelumnya! Benar-benar mengerikan! Apakah kau tidak pernah melatihnya untuk menahan diri? Yang dia lakukan saat ini jelas-jelas merusak alam! Para Chron tidak akan tinggal diam saat mengetahui ini!" ujar Kaa.
"Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa seperti itu! Ini selalu terjadi saat ia terdesak, nasib baik kami tidak ikut tertelan olehnya! Sebelumnya juga Boulder dan Inferno ikut terhisap ke dalam kilatan petirnya. Jika itu terjadi pada kami semua, maka Raya Stephen akan musnah," ujar Alpha.
'Ini salahku! Karena kita kekurangan orang, kita sampai harus membuat Ray mengeluarkan semua tubuhnya untuk membantu kita. Mulai hari ini sebaiknya kau tidak menggunakan kemampuan menggandakan diri itu lagi. Kau belum bisa mengontrolemosimu dengan baik. Aku takut bukan hanya Boltz, tapi setiap dari kalian melakukan kesalahan yang sama," ujar Atlas.
Akhirnya dengan berat hati, Ray kembali seperti semula. Semua tubuhnya lenyap menyisakan satu orang.
Tak lama kemudian Alex dan Sandy sadar dari keadaan mereka yang kepayahan. Wajah mereka menjadi pucat pasi saat melihat hamparan hitam yang mengerikan itu.
"Di mana kita?" tanya Alex kebingungan. "Bukankah sudah jelas? Kita tidak berpindah sama sekali! Tempat ini yang berubah bentuk karena ledakan yang mengerikan tadi!' ujar Sandy. Ray hanya menundukkan kepala, ia merasa sangat bersalah karena memperlihatkan anak-anak muda itu dengan sesuatu yang mengerikan dari pada sekedar membantai manusia.
Alex sendiri tampak dipenuhi rasa kecewa karena orang yang selama ini ia kagumi ternyata seorang perusak.
"Aku tidak cocok berada di sini! Aku harus pergi! Aku harus pergi dari sini!" ujar Alex. Ia langsung berlari tanpa arah yang jelas, ia hanya berlari sekencang mungkin dan berharap orang-orang itu hilang dari pandangannya.
'Hei, Alex! Kembalilah!" teriak Kaa. Sayangnya Alex tidak mendengarkan, ia terus berlari menjauhi mereka.
Di sisi lain Sandy tidak tahu harus berbuat apa, tiga orang dewasa itu tampak sedang murung karena bencana besar yag baru saja terjadi, bahkan Ray tak peduli sama sekali meskipun Alex terus berlari menjauh dari tempat mereka.
"Ehm, aku akan mengejar Alex dan membawanya kembali," ujar Sandy. "Baiklah, kumohon padamu, Sandy!" ujar Atlas. SAndy pun mengangguk dan langsung berlari kencang.
Sayangnya setelah beberapa menit berlari, ia menyadari sesuatu lalu berhenti. Ia baru saja berlari ke arah yang tidak jelas, bahkan ia sempat ragu ia berada di arah yang benar untuk mengejar Alex karena tidak ada bekas pijakan di hamparan serba hitam itu.
"Argh! Bodo amat!" ujarnya kemudian terus berlari sambil meneriakkan nama Alex. Akan tetapi ia tak kunjung menemukannya, yang ada ia semakin tersesat karena tempat tiga orang dewasa itu sudah tidak terlihat lagi di hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Sudah lebih dari 30 menit! Kenapa Sandy tak kunjung pulang?" tanya Kaa. "Bagaimana jika mereka tersesat? Di tempat seperti ini...bukankah itu bisa gawat?" tanya Atlas.
Ray sembari tadi terpuruk pun mulai menyadarkan diri. Kita harus mengejar mereka! 30 menit adalah waktu yang cukup untuk berlari sangat jauh bagi pengendali alam! Kita harus cepat sebelum kehilangan jejak mereka!" ujar Ray panik.
Ia tidak menyangka bisa begitu ceroboh menghilangkan pengawasannya terhadap dua pemuda di tempat yang sangat berbahaya itu.
"Ti... tidak ada satupun jejak! Hamparan tanah ini sangat keras!" ujar Atlas. "Argh! Bagaimana jika Sandy tidak berhasil menyusulnya?" tanya Ray.
"Itu berarti dua anak itu bisa tersesat di tempat yang berbeda," ujar Kaa. "Argh! Kenapa keadaannya menjadi begitu rumit?!" Ray tampak sangat kesal dan terus mengacak-acak rambutnya.
"Tenanglah, Ray! Jika kau terus seperti itu mereka berdua tidak akan bisa ditemukan! Kita harus berpikir jernih dan mencari arah yang tepat!" ujar Kaa.
"Lalu? Kemana arah mereka berdua pergi? Hamparan tanah itu terlihat sama, semuanya!" ujar Atlas.
"Setiap orang pasti meninggalkan jejak! Entah sekecil apapun itu! Bahkan setetes keringat! Ray, cobalah untuk memeriksa hamparan tanah ini! Karena baru saja meledak, kuyakin belum ada jejak kehidupan selain dari mereka berdua," ujar Kaa.
Ray pun mencoba memeriksa dengan matanya, ia pun mendapati beberapa jejak kaki di hamparan tanah itu meskipun samar-samar. "Sepertinya itu bekas keringat mereka! Aku menemukannya!" seru Ray.
Akhirnya mereka pun mengikuti jejak keringat itu dengan bantuan penglihatan Ray.
Setelah lama berjalan, mereka mendapati sebuah jejak yang menyimpang dari arahnya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya mereka berdua pergi ke arah yang berbeda," ujar Ray.
Kaa mulai menggigit jari, ia mencoba berpikir keras untuk mencari solusi.
"Baiklah! Bisa kau tunjukkan kemana arah jejak satunya? Aku akan pergi sendiri dan kalian berdua bersama," ujar Kaa.
"Itu tidak mungkin! Kenapa kau pergi sendirian?" Atlas tampak menentangnya. "Tidak perlu khawatir, aku bisa membuka gerbang antar dunia dalam beberapa jam lagi. Aku akan langsung kembali jika situasinya tidak menguntungkan," ujar Kaa.
"Kau harus berjanji akan melakukanya!" ujar Atlas. Kaa pun tertawa. "Tidak seperti biasanya kau mengkhawatirkanku seperti ini," ujar Kaa.
"Tempat ini sangat berbeda dengan bumi lainnya! Kau harus berhati-hati! Tidak ada lagi Chron di pihak kami jika kau tiada," ujar Atlas.
"Baiklah, tenang saja! Aku akan kembali dalam keadaan baik-baik saja," ujar Kaa. Akhirnya mereka pun berpisah untuk mengikuti jejak yang bersimpangan itu
__ADS_1