
Beberapa prajurit langsung mencegat Alesse. "Siapa kau? Kenapa datang ke sini?" tanya prajurit dengan tegas. "Bukankah dia masih anak-anak? Kenapa bisa berada di medan perang?" bisik salah seorang prajurit.
"Sepertinya seorang gadis! Perlukah kulaporkan pada kapten?" bisik prajurit lainnya.
Mereka tampak kebingungan hendak melakukan apa sedangkan Alesse sudah tidak sabar. "Aku hendak bertemu dengan kapten kalian itu," ujar Alesse.
Pemikiran para prajurit itu menjadi liar. "Heh? Kau ingin menggoda kapten kami? Jangan bilang kau datang dari pihak musuh!" ujar salah seorang prajurit sambil menodongkan pedangnya ke arah Alesse.
Alesse pun mengangkat tangan. "Kalau begitu, silahkan periksa saja, aku tidak membawa senjata apapun," ujar Alesse.
"Hei, Alesse! Apa yang kau lakukan?" tanya Sandy, pada akhirnya para prajurit itu langsung mengepung mereka berlima.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian datang bersama ke sini?" tanya prajurit dengan waspada.
"Yeah, maafkan kami! Kami adalah petualang, kebetulan kami melewati wilayah ini, kami hendak melaporkan bahwa kami bukanlah musuh," ujar Kaa.
"Hmm! Mencurigakan sekali!" ujar salah seorang prajurit. "Sebaiknya kita antarkan mereka pada kapten. Biar dia yang memutuskan untuk membantai mereka semua atau tidak," ujar prajurit lainnya.
"Benar sekali! Kapten adalah Benteng Hidupnya Dewa Perang! Ia pasti bisa memutuskan dengan bijaksana!" seru salah seorang prajurit.
Alesse pun merasa tidak asing dengan julukan itu, ia langsung membuka buku kusam yang ada di ponselnya.
"Ada apa Alesse? Apa yang kau temukan?" tanya Kaa penasaran. "Sudah kuduga! Benteng Hidup Dewa Perang, ini adalah julukan salah satu tokoh dongeng yang ada di buku kusamku!" ujar Alesse.
"Eh? Kenapa ada cerita dongeng di buku kusam? Aneh sekali!" ujar Kaa. "Lah? Terus isinya apa? Apakah berbeda dengan milikmu?" tanya Alesse.
"Sangat berbeda! Punyaku berisi petunjuk untuk menjalani kehidupanku, ini juga berisi tentang solusi yang bisa ditawarkan untuk masalah besar yang kuhadapi, meskipun tidak semua masalah," ujar Kaa.
"Hei, kalian berdua ini sedang bicara apa sih? Kenapa berbisik-bisik?" tanya Salsha keheranan. "Bukan apa-apa kok," ujar Kaa sambil tersenyum ramah.
Akhirnya kedua tangan lima anak itu diikat dan digiring ke tenda besar. Mereka pun ditundukkan di hadapan kursi yang di tutupi tirai. Seorang pria tampak sedang duduk di kursi itu namun rupanya samar-samar karena cahaya tenda yang remang-remang dan tirai yang menutupinya.
"Kapten, kami mendapati sebuah rombongan yang mengaku sebagai petualang, mereka meminta izin untuk singgah karena perjalanan panjang mereka," ujar seorang prajurit melaporkan.
"Jadi dibalik tirai ini adalah pria yang dijuluki sebagai Benteng Hidup Dewa Perang? Aku jadi penasaran!" ujar Alesse dalam hati.
"Apa-apaan dengan julukan alay itu? Menjijikkan sekali! Memangnya ia segagah apa sampai dijuluki seperti itu?" tanya Geni dengan perasaan geli.
"Dia tercatat di buku kusamku loh! Sama sepertimu, kau juga tertulis di buku kusamku sebagai Legenda Hoodie Merah," ujar Alesse. "Wah! Berarti pria ini juga memiliki wajah yang sama sepertimu? Seperti kita?" tanya Geni.
__ADS_1
"Entahlah, kita adalah remaja, bukan pria dewasa. Di buku kusamku terlihat sketsa pria dewasa meskipun samar-samar wajahnya, sepertinya tidak akan mirip! Aku tidak bisa membayangkan tubuhku dipenuhi oleh tumpukan otot, itu benar-benar menjijikkan! mengerikan!" ujar Alesse.
Akhirnya Pria yang sedang mereka bicarakan pun langsung berdiri, ia bahkan mulai membuka tirai untuk memeriksa siapa yang ada di balik tirai itu.
Sanay langsung terpana melihat wajahnya, wajahnya bahkan tiba-tiba memerah. "Aku nggak salah lihat kan? Dia barusan tersipu malu melihat pria itu loh!" ujar Alesse dalam hati.
"Benar sekali! Sepertinya dia benar-benar terpana oleh wajah pria itu. Memangnya kenapa?" tanya Geni.
"Kuharap gadis itu bisa menemukan pasangan yang layak saja, bahkan Sandy dan Salsha pun saat ini saling mencintai.
"Sepertinya Sanay menyukaimu loh," ujar Geni. "Sayangnya aku tidak tertarik," ujar Alesse.
"Lalu kau tertarik dengan siapa?" tanya Geni. "Tidak ada satupun yang membuatku tertarik," ujar Alesse.
"Mungkin karena belum saatnya, pemikiran setiap orang bisa berubah, asalkan ia tidak berprinsip untuk mempertahankan pemikiran itu," ujar Geni.
"Apakah lebih baik aku berprinsip seperti itu?" tanya Alesse. "Jangan, lebih baik biarkan dirimu mengalir apa adanya. Toh kepribadianmu sedang tidak stabil. Hari ini kau terlihat dan terdengar sedingin es," ujar Geni.
"Aku malah tidak mengerti apa maksudmu itu, memangnya kau bisa merasakan dingin hanya dengan melihat dan mendengar?" tanya Alesse. "Terserah kau dah! Sepertinya kau belum mengerti," ujar Geni.
"Hei! Alesse! Alesse! Sadarlah!" ujar Kaa sambil mengguncang-guncang punggung Alesse.
Ia pun memeriksa siapa yang berdiri di hadapannya itu, ternyata pria yang sembari tadi ia bicarakan dengan Geni.
Sontak pria itu langsung terkejut melihat wajahnya, namun langsung menjaga sikap agar terlihat berwibawa.
"Ehm! Ada tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan rupanya," ujar pria itu. "Tidak kapten, yang benar tiga anak perempuan dan dua anak laki-laki," ujar salah seorang prajurit.
"Sepertinya hanya aku yang menyadari bahwa anak di depanku ini adalah anak laki-laki," ujar pria itu, akhirnya prajurit tadi meminta maaf.
"Penilaianmu bagus sekali, aku sangat terkesan," ujar Alesse sambil menegakkan tubuhnya, ia terus berekspresi datar, membuat pria itu mengerutkan dahi.
"Ja.... jadi, ada urusan apa kalian ke sini?" tanya pria itu. "Saat ini kami sedang tersesat, bolehkah kami ikut bersama kalian pergi ke kerajaan?" tanya Alesse.
"Ehm! Entahlah, kami bahkan tidak tahu apakah kalian ini penyusup atau bukan," ujar pria itu sambil memberi isyarat pada para prajurit.
Seketika mereka langsung menodongkan pedang mereka ke arah Alesse. "Hei! Apa yang kalian lakukan? Kenapa asal menuduh? Mana buktinya kalau kami penyusup? Kami adalah petualang biasa!" ujar Sanay tidak terima.
"Asal menodongkan senjata sebelum perkenalan, bukankah kau seharusnya menyebutkan namamu terlebih dahulu?" tanya Kaa.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya kita harus bersikap sopan. Perkenalkan, namaku Gord, puas?" tanya pria itu.
"Nah, seharusnya begitu, perkenalkan juga, namaku Kaa, lalu Di sampingku ini adalah Alesse, Sandy, Sanay, dan Salsha," ujar Kaa.
"Wajah kalian berdua sangat mirip! Apakah kalian bersaudara?" tanya Gord. "Bukan, hubungan kami hanyalah sesama petualang," ujar Kaa.
Saat itulah Gord langsung memberi isyarat kepada prajuritnya. Seketika Kaa dan Alesse dipisahkan dari tiga anak lainnya.
"Hei! Kau mau bawa Alesse ke mana?" tanya Sanay. "Ini bukan urusanmu! Tahan mereka berdua dan bawa ke ibukota sekarang juga!" ujar Gord. Akhirnya para prajurit langsung bergerak cepat membelenggu Alesse dan Kaa lalu memasukkan mereka ke dalam kereta kuda berjeruji besi. Salah seorang prajurit langsung naik ke atas kereta dan memacu kudanya menuju ke kerajaan.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kemana kau membawa Alesse pergi?" tanya Sanay. "Loh? Apa peduli kalian? Kupikir hubungan kalian hanya sebatas petualang saja," ujar Gord.
"Tenanglah Sanay! Untuk saat ini sebaiknya kita diam dulu untuk menyusun rencana. Kupikir Alesse akan baik-baik saja," ujar Sandy.
Akhirnya Sanay pun menarik nafas dalam-dalam. Sandy mengajaknya keluar dari tenda itu.
Sayangnya Sanay langsung berbalik badan lalu menghampiri Gord, bahkan menatapnya dengan tatapan penuh benci. "Apa yang kau mau? Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak membelenggu kalian bertiga," ujar Gord.
Sanay pun langsung menginjak kaki Gord dengan kesal kemudian pergi dari tenda itu. Gord pun merintih kesakitan sedangkan para prajurit langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi, kapten? Kau baik-baik saja?" tanya salah seorang prajurit. Gord seketika langsung tertawa.
"Aku sempat lengah, kupikir ia hanya gadis biasa, ternyata dia adalah Elementalist petir. Sempat-sempatnya ia menginjak kakiku dengan kaki mungilnya, ternyata ia juga mengeluarkan petir. Benar-benar gadis yang menarik," ujar Gord sambil mengusap-usap kakinya yang gosong.
"Apa yang barusan kau lakukan, Sanay?" tanya Sandy keheranan. "Bukan apa-apa," ujar Sanay dengan wajah sebal.
Akhirnya mereka bertiga pun duduk di sebuah batu besar, sedangkan terik matahari membuat mereka semakin berkeringat.
"Andai saja ada Levy di sini!" keluh Salsha sambil mengibaskan tangannya.
Tak lama kemudian seorang prajurit menghampiri mereka sedangkan Sandy langsung menghadang dengan waspada.
"Kapten mempersilahkan kalian untuk tinggal di tenda kami yang ada di sana," ujar prajurit itu sambil menunjukkan sebuah tenda yang batu saja di bangun.
"Apakah itu aman? Kalian mau ke sana?" tanya Sandy. "Argh! Lebih baik berteduh daripada berjemur di sini!" ujar Salsha kesal, ia langsung menghampiri tenda itu tanpa pikir panjang. Akhirnya Sandy dan Sanay mengikutinya.
"Hmm! Sepertinya pria itu baik juga sampai menyediakan tenda untuk kita," ujar Sandy. "Baik dari mananya? Dia menculik Alesse loh! Kita bahkan tidak tahu di mana dia sekarang," ujar Sanay kesal.
"Kupikir Alesse juga baik-baik saja di sana," ujar Sandy.
__ADS_1